
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Siang itu, Zira baru saja menyelesaikan kelasnya dan lonceng istirahat pun sudah berbunyi. Baru saja rasanya ia membereskan buku-buku yang ada diatas mejanya, tiba-tiba Intan berteriak heboh hingga membuat semua orang terkejut mendengar teriakannya.
"Hei, ada apa denganmu?!" gerutu Yesika menatap sahabatnya dengan kesal.
"Zir.. kau masuk base sekolah.." ucap Intan pelan hingga membuat semua orang yang ada di kelas langsung membuka akun sosial media masing-masing karena ingin mencari tau apa yang terjadi.
NEO_BASE
Guys! Ada hubungan apa ya Kak Gibran dengan Zira?
Keterangan tersebut ditujukan pada beberapa foto yang diambil secara diam-diam saat Zira dan Gibran masih bersama dulu. Entah dari mana admin base sekolah mengetahui informasinya, namun terlihat bahwa ada seseorang yang mengabadikan momen itu secara diam-diam.
Zira hanya diam terlebih ketika ia membaca begitu banyak komentar termasuk hate coment yang tertuju padanya karena memang ini pertama kalinya Gibran, si idaman para perempuan tiba-tiba diisukan dengan seorang gadis yang tak lain adalah putri tunggal Dirgantara.
@netizenjulid.01 "Walaupun dia putri tunggal Dirgantara, tapi Kak Gibran nggak cocok dengannya."
@netizen "Wow, berita yang membuat semua orang terkejut. Bagaimana bisa Ketua OSIS dan putri tunggal pemilik perusahaan ternama?"
Dan ada begitu banyak lagi hate coment yang memang tertuju pada Zira karena menurut mereka, dirinya dan Gibran tidak cocok dalam segi apapun. Terlebih ketika ada beberapa orang yang mengenal Zira dengan gadis malam yang suka balap liar.
Ah, terbongkar disaat semuanya sudah selesai.-Zira.
Semua mata tertuju pada Zira seolah meminta penjelasan atas berita yang baru saja di-posting hingga membuat seisi sekolah terkejut.
"Zir?" Kaizer memanggilnya membuat Zira hanya menoleh tanpa menjawab.
"Pantas saja kau malas menanggapi semua lelaki yang berusaha mendekatimu" ucap Kaizer terkekeh pelan.
Zira menggeleng pelan. "Bukan seperti yang dipikirkan, aku dan Kak Gibran beberapa kali bertemu hanya membahas sesuatu tentang sekolah."
Mendengar hal itu, semua teman-teman Zira hanya ber-oh-ria saja sedangkan Kaizer masih menatap gadis itu dengan penuh curiga.
__ADS_1
"Hei, jangan melihat sahabatku seperti itu" gerutu Intan seraya menatap Kaizer dengan tatapan mematikan.
"Zira, ayo ke kantin daripada berbicara dengan si jomblo."
Maudy mengajak Zira, bukan mengajak tetapi menarik gadis itu agar menjauh dar Kaizer. Jika dipikir-pikir, sebenarnya Maudy itu adalah sepupu Kaizer dan mereka memang sering berbicara santai di kelas karena memang mereka adalah teman sekelas.
"Zira.."
Suara itu, adalah suara Diego yang memanggilnya.
"Kak Diego, maaf tapi kami sedang ingin pergi ke kantin" ucap Yesika memotong pembicaraan Diego yang bahkan belum membuka mulut kembali.
"Kalian duluan aja, aku akan menyusul sepuluh menit lagi."
"Zir?!"
"Hei, jangan!"
Zira tersenyum tipis melihat kekhawatiran ketiga sahabatnya karena mereka tau Zira tidak pernah berbicara dengan lelaki manapun selain teman sekelasnya.
"Aku akan menyusul, percayalah."
"Kak Gibran?" tebak Zira yang membuat Diego mengangguk pelan.
"Aku nggak tau bagaimana hubungan kalian tapi sepertinya lebih dekat dari yang ku bayangkan. Gibran sedang mencari siapa informan yang memberikan informasi itu kepada admin base sekolah, dan sepertinya akan diusut lebih lanjut."
Zira sedikit terkejut mendengar kabar dari Diego bahwa Gibran akan mengusut lebih lanjut berita tentang hubungan mereka.
"Kak, bisa minta tolong untuk menahan Kak Gibran?"
"Bisakah aku tau apa alasannya?" tanya Diego balik bertanya.
Zira mengangguk pelan seakan mengerti mengapa Diego perlu bertanya hal itu. "Kalau memang Kak Gibran ingin mengembalikan nama baiknya itu bagus, tapi nggak perlu sampai ikut mengembalikan nama baikku, aku nggak masalah."
"Tapi Gibran juga mencari siapa orang dibalik akun-akun hate coment itu."
"Kak.. tolong tahan Kak Gibran.."
"Gibran pasti sangat mencintaimu."
__ADS_1
Deg.
"A-apa maksud Kak Diego?!"
"Setelah melihat base sekolah, yang pertama dipikirkannya itu keadaan mu bagaimana. Aku rasa kalian memang perlu berbicara."
Zira menggeleng cepat. Bagaimana bisa ia berbicara dengan Gibran setelah beberapa bulan ini mereka sudah sangat asing dan tidak pernah sekedar berkirim pesan?
"Nggak seperti yang Kak Diego pikirkan, aku dan Kak Gibran memang nggak ada hubungan apapun. Jika Kak Diego masih ingin membahas ini, aku permisi."
*****
Bugh
Bugh
Bugh
Lelaki itu memukul seseorang dihadapannya tanpa ampun seolah melepaskan semua emosi yang sudah ia tahan selama ini.
Setelah merasa sudah cukup untuk meluapkan emosinya, lelaki itu melepas paksa kerah baju yang ia tarik sebelumnya.
"Apa yang ada di pikiran mu?! Bagaimana bisa kau menyakiti Zira?! Aku tidak akan pernah memaafkan mu jika terjadi sesuatu pada Zira hanya karena balas dendam Ibu mu!"
Leo berteriak keras di hadapan Gibran yang sudah tak berdaya. Gibran hanya bisa terdiam karena untuk bernafas pun rasanya susah sekali karena Leo, asisten Andra itu tiba-tiba mendatanginya dan memukulnya.
"Jangan pernah berharap bahwa kau tidak akan bertanggung jawab atas apa yang kau lakukan! Aku tidak akan pernah membiarkan mu bahagia jika kau sudah membuat hidup Zira menderita! Harusnya sejak awal, aku tidak merestui kalian."
Setelah mengatakan itu, Leo pergi meninggalkan Gibran yang dipenuhi dengan tanda tanya besar. Gibran benar-benar terkejut ketika melihat Leo yang memukulnya dengan membabi-buta bahkan tidak memberikannya kesempatan untuk sekedar bernafas.
Jujur saja, Gibran tidak mengerti kenapa Leo yang hanya berstatus sebagai asisten dan sekretaris pribadi keluarga Dirgantara melakukan hal yang bahkan melebihi dari Andra yang sebagai ayah kandung Zira.
"Aku bisa apa jika semua orang sudah membenci ku? Aku merindukan mu, By.."
*
*
*
__ADS_1