
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Ketika melihat yang lain sudah mulai menuju kamar masing-masing, Andra pun segera berpamitan dengan keluarga yang masih tersisa.
"Hei, jangan kasar" ucap Delon ketika Andra berpamitan ingin kembali ke kamar bersama sang istri.
Plak.
Om Deddy segera memukul pelan kepala anaknya yang sangat jahil sedangkan Arra susah menunduk karena malu.
Andra hanya menanggapi dengan senyum tipis seraya menggandeng lengan sang istri untuk berjalan menuju lift khusus yang akan membawa mereka menuju lantai atas.
"Sayang, kau lelah?" tanya Andra basa basi.
Arra mengangkat kepalanya agar bisa menatap sang suami. "Nggak, Mas. Hanya sedikit pegal di bagian kaki" ucap Arra tersenyum tipis.
Selama pesta, Arra memang tidak banyak bergerak karena ia cukup lelah dengan hanya berdiri menyambut para tamu. Sedangkan Andra harus berjalan kesana kemari menemui para tamu undangan dan rekan kerjanya yang sudah hadir dalam pesta mereka.
"Ingin Mas gendong?" tawar Andra yang membuat Arra segera melotot.
"Hei, Arra berat."
Andra tertawa pelan. "Masa? Tubuh kecil begitu" ucap Andra sedikit mengejek.
"Loh?! Mas jangan body shaming dong" gerutu Arra dengan kesalnya.
Belum sempat Andra menjawab, pintu lift terbuka dan mereka pun keluar bersama.
"Kan faktanya seperti itu" ucap Andra tertawa.
Arra menatap sang suami dengan kesal. "Huh, mentang-mentang tubuhnya sangat sempurna" gumam Arra yang membuat suaminya tertawa seketika.
Entah sadar atau tidak, Arra dengan polosnya memuji tubuh sang suami padahal saat bersama, untuk sekali pun ia tak pernah mengatakan atau memuji suaminya. Jangankan memuji, memanggil "Sayang" pun sangat jarang.
Presidential Suite
Kedua pengantin pun berjalan masuk menuju kamar mereka. Arra benar-benar terkejut ketika melihat dekorasi kamar yang sangat mewah ditambah tiba-tiba terdengar alunan musik yang indah membuatnya berkali-kali melotot tidak percaya.
__ADS_1
Andra segera menjulurkan tangannya dihadapan sang istri.
"Kenapa, Mas?" tanya Arra tertawa.
"Hei, Mas sedang romantis" gerutu Andra dengan wajah kesalnya.
Arra yang masih tertawa mulai menyambut tangan sang suami.
"Selamat datang di kamar kita, Sayang" ucap Andra tersenyum tipis seraya menggenggam erat tangan sang istri lalu membawanya masuk lebih jauh menuju kamar.
Arra hanya bisa terkekeh pelan melihat suaminya. Tak lama kemudian, Andra meminta Arra untuk duduk di kursi yang ada di depan meja rias.
"Kenapa, Mas?" tanya Arra mengerutkan keningnya heran.
Andra tersenyum tipis. "Mas bantu" ucap Andra pelan seraya mulai melepaskan mahkota dan beberapa jepitan yang ada di kepala istrinya dengan hati-hati.
Arra tersenyum tipis seraya mulai membersihkan make up yang ada di wajahnya sedangkan Andra sudah fokus untuk menata rambut sang istri.
"Selesai" ucap Andra senang yang membuat Arra tertawa pelan.
"Hei, mengapa Mas senang sekali?" tanya Arra disela-sela gelak tawanya.
Andra tersenyum tipis. "Mas selalu ingin punya anak perempuan. Pasti seru jadi cinta pertama anak sendiri" ucap Andra menatap Arra.
"Lalu, bagaimana ketika Zero lahir?" tanya Arra pelan.
Andra terkekeh pelan. "Tentu saja Mas sangat senang. Sejak bayi, Zero sudah menjiplak Mas" ucapnya yang membuat Arra tersenyum tipis.
Keduanya terdiam dengan Arra yang tiba-tiba menunduk lalu kembali membuka suara. "Mas, apa Arra boleh bertanya?"
Andra mengerutkan keningnya heran karena tiba-tiba istrinya meminta izin untuk bertanya. "Tentu, Sayang" ucap Andra seraya mengelus pucuk kepala Arra dengan lembut.
"Apa Mas sangat menyayangi mantan istri Mas Andra?"
Akhirnya, pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Arra hingga membuat Andra terdiam sejenak.
Sebenarnya, Andra tidak ingin membahas tentang masa lalunya bersama sang istri karena ia tau bahwa akan ada hal yang bisa saja menyakiti Arra dan Andra tidak mau hal itu terjadi.
Makanya, ia hampir tidak pernah membahas tentang masa lalunya kepada sang istri karena ingin menghargai perasaan Arra.
Jika dipikir-pikir, bagaimana pun tidak akan bisa dipungkiri bahwa ia tidak mencintai Tania. Dulu, ia sangat mencintai mantan istrinya dan Andra tidak akan pernah bisa menutupi fakta itu. Mau bagaimana pun semuanya sudah berlalu.
Karena melihat istrinya menunduk, Andra membalikkan kursi hingga Arra bisa menatap matanya.
__ADS_1
"Sayang, kalau Mas bilang Mas nggak pernah mencintai mantan istri Mas, berarti itu semua bohong, kan?" Seketika, Arra mengangguk pelan ketika mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut sang suami.
"Mas pernah sangat mencintai mantan istri Mas. Dengar, pernah ya bukan masih" ucap Andra seraya menatap sang istri dengan tatapan penuh arti.
"Tau nggak kenapa Mas nggak pernah atau jarang mau membahas tentang masa lalu Mas? Karena Mas tau mau mengelak bagaimana pun kau pasti akan sakit mendengarnya dan Mas nggak mau itu terjadi. Seperti yang kau katakan pada Mas untuk melupakan tentang kejadian Ibu tiri Mas karena itu pasti akan membuat Mas sakit. Apa Mas juga boleh meminta mu untuk melupakan tentang masa lalu Mas karena itu akan membuat mu sakit."
Ada senyum yang mengembang di wajah Arra ketika ia mendengar ucapan Andra yang membuat hatinya sangat tersentuh. Ah, sebenarnya tanpa Arra bertanya pun sudah terlihat bahwa Andra sangat mencintainya sehingga tidak mempunyai waktu untuk memikirkan hal lain termasuk masa lalunya. Namun, Arra masih perempuan yang ternyata juga perlu kalimat yang keluar selain perlakuan untuk meyakinkan hatinya.
Perempuan memang sedikit melelahkan, bukan?
*****
Baik Andra maupun Arra kembali saling diam dan sedang dalam posisi saling canggung. Entah apa yang membuat keduanya terlihat malu-malu saat ini.
"Sayang" panggil Andra membuka suara.
Arra hanya menoleh seraya tersenyum canggung membuat Andra tak bisa menahan tawa sehingga kamar dipenuhi oleh gelak tawanya.
"Hei, kenapa suasananya canggung?" tanya Andra yang membuat Arra hanya senyum-senyum malu.
Andra tau bahwa sang istri pasti sedang gugup dan takut karena ini pertama kalinya ia berdekatan dengan lelaki bahkan sekarang, mereka sudah berada di kamar yang sama.
Andra tidak memaksa Arra untuk langsung berhubungan dengannya karena ia juga menyadari bahwa gadisnya masih cukup muda. Jadi wajar saja jika ia sangat takut sekarang.
Andra terkekeh pelan seraya mengelus pucuk kepala Arra dengan lembut. "Mas nggak pernah memaksa kalau belum siap. Santai saja, jangan takut seperti itu. Seolah Mas menjadi terdakwa saja" ucap Andra yang membuat Arra sukses tertawa seketika.
"Arra takut karena satu kamar dengan Om pedo."
"Heh."
"Hahahaha."
Andra terpesona melihat tawa sang istri yang benar-benar sangat tenang dan damai sehingga tanpa sadar ia mendekatkan dirinya pada Arra membuat gadis itu terdiam seketika.
Karena tidak melihat penolakan dari istrinya, Andra kembali mendekatkan dirinya hingga bibir keduanya bersentuhan. Arra yang tidak mengerti harus berbuat apa hanya bisa diam seraya mengikuti permainan sang suami hingga lumayan lama mereka terbuai oleh suasana.
Hingga tiba-tiba
"Mami! Mami!"
*
*
__ADS_1
*