
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Setelah selesai bersiap-siap, Zira turun untuk sarapan bersama keluarganya karena ia sudah ditunggu oleh Andra juga Arra.
"Anak Papi semakin cantik aja, mau kemana?" tanya Andra basa basi.
Mendengar hal itu Zira tertawa kecil. "Ucapan Abang benar, Papi semakin tua leluconnya semakin nggak bisa diimbangi. Papi kan tau kalau Zira mau les mingguan, basa basi banget."
"Basa basi aja dulu" gumam Andra.
"Zira nggak bisa mengimbangi lelucon Papi, biarkan Mami aja."
"Mami juga nggak lama lagi menyerah."
"Loh? Sayang?" rengek Andra karena istrinya saja sudah tidak mau membelanya. Bukan tidak mau, memang sejak dulu Arra selalu berpihak kepada anak-anak dibandingkan suaminya.
"Oh iya, Zira punya kabar baik untuk Mami dan Papi" ucap Zira yang membuat kedua orang tuanya kembali fokus padanya.
"Kabar baik apa, Sayang?"
"Minggu depan Zira mewakili sekolah untuk lomba debat tingkat sekolah dalam acara memeriahkan ulang tahun sekolah tetangga sebelah" ucap gadis itu membanggakan diri.
"Wah, benarkah? Bolehkah Mami ikut menonton?" tanya Arra bersemangat yang membuat Zira mengangguk mantap.
"Bagus, nggak sia-sia Zira setiap hari berdebat dengan Abang."
Plak
"Mas!" tegur Arra.
"Papi! Masalah perdebatan Zira dan Abang setiap hari itu nggak masuk di topik lomba debat nanti."
"Ya siapa juga yang bilang masuk?"
"Mas!"
"Dasar Papi tua!" ucap Zira kesal.
__ADS_1
*****
Diego bersama dengan Erfan dan beberapa temannya mulai mengumpulkan beberapa tabungan yang mereka miliki dengan tujuan agar bisa mengumpulkan biaya untuk pengobatan Gibran. Tentu saja tanpa sepengetahuan lelaki itu.
"Pulang sekolah kita ke rumah sakit" ucap Diego mengajak teman-temannya.
Erfan mengangguk setuju. "Dokter bilang bahwa kemungkinan Gibran akan sadar hari ini. Semoga aja dia sadar disaat kita sudah disana."
"Aku masih nggak habis pikir kenapa bisa dia menyembunyikan penyakit separah itu?"
"Aku lebih nggak habis pikir dengan kita.." lirih Diego pelan.
Mendengar hal itu, beberapa temannya menatap kearahnya dengan tatapan heran seolah bertanya apa maksud dengan pernyataan Diego tersebut.
"Benar, kan? Satu pun dari kita nggak ada yang menyadari bahwa Gibran mempunyai riwayat sakit parah, padahal pasti ada beberapa kali gejala yang muncul disaat dia bersama dengan kita."
Diego benar, harusnya mereka lebih peka terhadap keadaan sekitar mengingat bahwa sahabat mereka itu mengidap penyakit yang cukup parah dan tentu saja pasti ada gejala yang muncul saat mereka bersama.
"Aku merasa bersalah dengan Gibran.. aku selalu mengejeknya tidak terurus karena putus dari Zira."
"Aku juga pernah mengejeknya seperti itu."
"Sudah-sudah. Jangan memikirkan hal lain, kita harus fokus pada kesembuhan Gibran dulu. Setelah itu kita bersama-sama untuk meminta maaf untuk semua ejekan kita" ucap Erfan yang membuat semuanya mengangguk setuju.
*****
"Loh?! Kok Uncle Leo ada disini?!" tanya Zira terkejut karena ia baru saja berpapasan dengan Leo, asisten Papi nya.
"Sengaja, Uncle mau menonton mu" jawab Leo singkat.
Zira menatap lelaki itu dengan tatapan curiga. "Uncle pasti sedang berkencan, kan?! Dimana wanitanya? Zira mau berkenalan."
"Hei, nggak ada! Jangan membuat pernyataan aneh seperti itu."
"Uncle ini aneh! Wajah tampan dan dompet tebal tapi nggak punya kekasih. Apa Uncle nggak kepikiran untuk menikah dan mempunyai anak yang lucu?"
Zira benar-benar masih tidak habis pikir mengapa asisten Andra itu tidak mau menikah padahal umurnya sudah sangat matang untuk masuk dalam jenjang pernikahan. Apa lagi yang ia pikirkan? Rumah? Leo sudah memiliki apartemen yang besar. Mobil? Bahkan lebih dari satu. Karir? Sudah sangat terjamin. Lalu, apa?
"Uncle masih suka perempuan, kan?"
Uhuk uhuk uhuk
Mendengar pertanyaan yang tiba-tiba dari mulut Zira, Leo yang saat itu sedang minum air mineral pun langsung terbatuk-batuk saking terkejutnya.
__ADS_1
"Eh—Uncle kenapa?" tanya Zira panik seraya memukul pelan punggung Leo.
"Harusnya Uncle yang bertanya, Zira kenapa bisa-bisanya berpikir seperti itu? Tentu saja Uncle masih suka perempuan."
"Ya kan Zira bingung aja, kenapa sampai sekarang Uncle malas berpacaran? Apa yang harus Uncle pikirkan lagi disaat semuanya sudah terjamin?"
"Nggak mau memikirkan pasangan" jawab Leo singkat.
Jawaban Leo selalu sama ketika ada yang menanyakan pasangan padanya. Bukan karena ia penyuka sesama jenis, tentu saja tidak! Leo itu normal dan sangat normal, hanya saja ada satu rahasia besar yang membuatnya berpikir seribu kali untuk menjalin hubungan.
Zira menatap Uncle nya dengan tatapan heran. Untuk sekarang, Zira masih belum paham apa yang terjadi pada Leo. Bahkan, gadis itu takut jika nantinya ia akan terlalu fokus pada karir sehingga tidak ada waktu untuk berkencan seperti yang dilakukan oleh pria tua dihadapannya.
*****
"Kalian duluan aja, aku mau mampir membeli buah-buahan" ucap Diego saat mereka sudah sampai di parkiran sekolah.
Mendengar itu pun Erfan dan yang lainnya mulai melajukan motornya menuju ke rumah sakit dimana Gibran sedang dirawat.
Tak butuh lama untuk mereka sampai karena jarak antara sekolah dan rumah sakit cukup dekat, hanya memakan waktu sekitar sepuluh menitan saja.
"Di ruangan apa?" tanya salah satu temannya.
"Ruang Anggrek, nomor 17."
"Berarti lantai 3?"
Erfan mengangguk seraya tetap berjalan menuju lift yang akan mengantarkan mereka menuju ruangan Gibran.
Tanpa diketahui oleh yang lainnya, Diego berhenti di pinggir jalan cukup lama karena entah kenapa ia merasakan hal yang aneh pada dirinya sendiri. Lelaki itu merasa takut untuk bertemu dengan sahabatnya. Semakin dekat jaraknya dengan rumah sakit, semakin pula jantungnya berdegup kencang yang membuat Diego tetap memaksakan diri untuk melanjutkan perjalannya.
Baru saja rasanya ia menginjakkan kakinya pada ruangan itu, tiba-tiba bingkisan buah-buahan yang dibelinya terjatuh dari tangannya.
"Apa yang terjadi?!" tanya Diego dengan nafas yang memburu.
Lelaki itu menatap pemandangan dihadapannya dengan tatapan tidak percaya. Sahabatnya yang terbujur kaku dengan kain yang sudah menutupi tubuh hingga wajahnya.
"Gibran menyerah pada dunia.." lirih Erfan pelan.
Deg.
*
*
__ADS_1
*