Cewek ABG & Duda Keren

Cewek ABG & Duda Keren
S2 : Kabar Buruk


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Rumah Utama


Mobil baru saja terparkir dengan rapi di halaman rumah utama membuat sang pemiliknya segera keluar.


"What's up guys?!"


Tanpa melihat pun orang sudah tau bahwa itu adalah Andre sekeluarga. Wait, sekeluarga?! Ya, Andre sudah menikah dan mempunyai satu orang gadis cantik yang bernama Avilya yang baru saja menginjak usia 5 tahun.


"Hei, sudah datang?" sapa Arra seraya mencium pipi Novi.


Wait, wait, wait.. Novi?! Andre?! Sekeluarga?! Jangan-jangan.. Benar sekali, Andre menempatkan hatinya di pelabuhan terakhir yaitu Novi, sahabat Arra.


Keduanya menikah saat Andre sudah lulus kuliah dan memiliki pekerjaan tetap. Sebenarnya, tidak ada yang menebak bahwa kedua orang yang tidak pernah berbicara dan jarang sekali berkomunikasi tersebut bisa-bisanya mengabarkan semua orang bahwa mereka akan menikah segera.


Andra sendiri tidak pernah menyangka bahwa gadis pendiam seperti Novi bisa membuat jantungnya berdebar sangat kencang.


"Dimana Kak Andra?" tanya Andre seraya memakan camilan yang ada di atas meja.


Jangan lupakan bahwa dirinya adalah Andre, yang dulunya sebagai seorang anak SMU yang selalu merebut susu cokelat milik Zero, yang akan marah dan merajuk ketika Andra memarahinya, dan yang akan melakukan hal di luar akal sehat manusia.


"Masih di kamarnya. Oh ya, apa Kak Galuh hari ini akan terlambat?"


Memang, biasanya saat mereka berjanji akan berkumpul bersama, hanya Galuh yang akan terlambat dengan alasan dirinya terlambat bangun.


"Kak Maureen pasti sudah menyiramnya dengan air. Bisa-bisanya dia memiliki suami kebo seperti Kak Galuh."


Arra hanya tertawa mendengar ucapan Andre karena memang itu faktanya. Maureen, istri dari Galuh yang berprofesi sebagai dokter kandungan, juga sebagai dokter pilihan saat Arra melahirkan Zira, akan selalu menyiram Galuh dengan air jika pria itu tidak bangun-bangun.


"Hei, sepertinya hanya Kak Leo yang belum menikah."


Plak.


Novi memukul paha suaminya dengan cukup keras. Andre ini memang perlu ajaran bahasa yang baik dan benar karena mulutnya benar-benar tidak memiliki rem. Ia adalah sosok yang akan selalu berbicara blak-blakan, entah itu menyakiti orang atau tidak namun ia berbicara dengan jujur.


"Loh? Aku benar, kan? Memangnya Kak Leo sudah menikah?"


"Jangan berbicara seperti itu. Kalau-kalau ada Kak Leo disini, nanti kau akan dijadikan sate."


Tentu saja ucapan Novi mengundang gelak tawa Arra hingga tawa tersebut terhenti ketika melihat sosok seseorang yang berdiri di belakang Andre.

__ADS_1


"Tuh kan."


Andre berbalik dan menatap mata yang seolah sudah siap untuk menerkamnya. "Aku hanya bercanda, Kak."


"Apa bercanda nya lucu?"


"Kata Ayah, kalau pria tua cepat emosi maka akan lama bertemu jodoh."


"Sial."


*****


Semuanya sudah berkumpul di ruang keluarga seraya menunggu kedatangan Gibran yang katanya akan menjadi calon kekasih cucu perempuan pertama dan anak terakhir perempuan di keluarga Dirgantara. Semua orang sudah tidak sabar melihat sosok tersebut.


"Apa kekasih mu tampan?" tanya Andre yang membuat Zira menatapnya kesal.


"Uncle, Kak Gibran bukan kekasih ku. Lagian, siapa yang mau berpacaran juga?" gerutu Zira dengan wajah kesalnya.


Andre tertawa seketika. Dalam hatinya, ia tak pernah membayangkan bahwa saat ini telah tiba. Dimana yang dulunya ia menjaga bayi tersebut, belajar membantu Arra menggantikan popoknya dan sudah terbiasa jika tiba-tiba bayi itu mengompol saat ia menggendongnya. Namun sekarang, bayi itu sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan bahkan sudah dewasa.


"Kau ini berpacaran saja taunya, padahal dulu Uncle yang selalu menggantikan popok mu."


"Aunty, apa Uncle Andre mempunyai permasalahan dengan gedang telinga nya? Aku baru aja bilang kalau aku nggak berpacaran."


Ucapan Zira membuat semua orang tertawa. Hingga tawa itu terhenti saat mereka menatap Zero yang berlari turun dari tangga.


"Mami, maaf.. Zero harus ke rumah sakit karena katanya Bunda sakit. Maaf, Zero nggak bisa ikut makan bersama.."


Setelah mencium pipi Arra dan mencium punggung tangan kedua orang tuanya, Zero berlari ke rumah rumah dengan raut wajah khawatir.


"Mas, kita nggak mau menyusul Zero..?" tanya Arra pelan.


Andra tersenyum tipis seraya mengelus pucuk kepala istrinya. "Sayang, semuanya sudah berkumpul dan Gibran juga sedang dalam perjalanan. Kalau ada sesuatu pasti Zero akan menghubungi kita, jadi jangan terlalu khawatir."


Benar saja, sepeninggalnya Zero, Gibran pun mengetuk pintu rumah utama walaupun pintu rumah tersebut sudah terbuka dengan sangat lebar.


"Selamat malam" ucap Gibran yang membuat semua orang menoleh kearahnya.


"Loh?! Dompet hitam?!"


Andre terkejut ketika melihat Gibran lagi.


"Hah? Uncle kenal Kak Gibran?" tanya Zira mengerutkan keningnya heran.


Andre mengangguk pelan. "Dia si dompet hitam yang pernah ku ceritakan itu."


Semua orang mengangguk pelan ketika mengerti ucapan Andre. Beberapa hari yang lalu, Andre pernah mampir ke rumah Andra untuk menceritakan kejadian malam itu. Ia pergi ke supermarket untuk membelikan camilan anaknya, saat sedang memilih tiba-tiba Andre melihat dompet milik seseorang yang terjatuh. Dengan segera ia berlari mengikuti orang itu yang ternyata sedang membagikan makanan untuk kucing-kucing jalanan.

__ADS_1


Andre terdiam. Sosok itu benar-benar malaikat karena hampir jarang melihat ada anak muda yang peduli dengan sekitar. Begitulah ia mengenal sosok si dompet hitam.


"Eh—selamat malam, Tuan." Gibran menunduk sopan ketika ia melihat Andre.


"Hei, dia benar-benar calon kekasih Zira?"


"Kak Galuh juga heran, kan? Bagaimana bisa manusia sopan sepertinya menyukai singa?"


Plak.


"Uncle Andre!"


"Hahahaha."


Gibran tersenyum tipis. Sebelumnya, ia tak pernah merasakan kehangatan ini. Jangankan bercanda seperti ini, berkumpul saja tidak pernah. Ada getaran hebat dalam hati Gibran saat ia melihat bagaimana harmonis nya keluarga Dirgantara yang menyambutnya dengan sangat baik.


Arra menatap Gibran dengan tatapan lembut. Sungguh, wanita itu sangat bangga melihat Gibran yang tumbuh sendiri. Benar-benar hampir mirip dengan dirinya.


"Nak Gibran" panggil Arra yang membuat Gibran menoleh.


"Semoga betah ya di keluarga ini."


Gibran hampir menangis. Ia benar-benar merasakan kehangatan dan kenyamanan walaupun dirinya baru pertama kali berkumpul bersama keluarga besar Dirgantara.


Arra melihat itu, mata yang sudah berkaca-kaca seolah menahan diri agar tidak menangis. Gibran berusaha keras untuk tidak mengeluarkan air mata.


"Kak Gibran, jangan menangis.." ucap Zira pelan.


Gibran tersenyum tipis. Tatapan mata yang penuh cinta ia perlihatkan pada gadis yang sedang malu-malu itu. Entah kenapa, perasaan Gibran tidak pernah berkurang dan bahkan selalu bertambah setiap harinya pada Zira, seorang gadis yang menangis hanya karena susu strawberry.


Ponsel Andra berdering dengan nama kontak Son.


"Halo, ada apa?"


"..........."


"Apa?!"


"Kenapa, Mas?" tanya Arra terkejut melihat raut wajah suaminya yang berubah seketika.


"Tania meninggal."


Deg.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2