
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Hari itu Andra sudah berjanji untuk bertemu dengan Arra di panti asuhan dan disinilah ia berada bersama dengan Zero yang merengek untuk ikut hingga melewatkan jam kelasnya hari ini karena ia merindukan Arra.
Selama di perjalanan, Zero benar-benar diam dan tenang di kursi belakang membuat Andra sesekali menatapnya melewati cermin.
"Kenapa mobil ini sangat sepi sekali?" gumam Andra yang membuat Zero hanya menoleh sebentar lalu kembali memakan cokelat batangan yang ia bawa.
"Zero, bersihkan dirimu. Mami akan terkejut melihatmu yang seperti badut" ucap Andra ketika melihat wajah Zero memang sangat belepotan.
Zero benar-benar tidak menghiraukan apa yang diucapkan Andra bahkan ia kembali memakan cokelat nya seolah-olah sedang mengejek Andra.
"Lap dengan tissue basah yang ada di tas itu" ucap Andra kembali yang membuat Zero hanya menatapnya dengan kesal.
"Bersihkan wajahmu atau nggak jadi bertemu Mami?"
Zero mendengus kesal ketika diancam seperti itu. "Ish dacal Papi celewet cekali" gerutu Zero seraya membersihkan wajahnya menggunakan tissue basah yang baru saja ia ambil dalam tasnya.
Tak lama kemudian, mobil pun sampai di halaman panti asuhan membuat Zero segera membuka pintu dan berlari keluar dengan cokelat batangan yang masih tersisa di tangannya.
Andra yang melihatnya pun hanya bisa menggeleng pelan seraya mengambil beberapa paper bag yang berisi camilan yang dibawa Zero dari rumah dan beberapa makanan ringan yang sempat mereka beli selama di perjalanan dan tak lupa juga untuk membawa tas Zero.
Zero segera mengetuk pintu berkali-kali. "Mami.. Mami.." teriaknya dengan keras.
Salah satu anak panti yang mengenal suara Zero pun segera membuka pintu. "Hai, Zero" ucapnya saat pintu sudah dibuka.
"Hayyiee Kak Dion, Mami dimana?" tanya Zero bersemangat.
"Kak Arra ada di dalam" jawab Dion singkat.
"Kak, ayo kita mam cokat. Cebental ya."
Dengan segera Zero berlari kembali menghampiri Andra dan mengambil paper bag yang ia isi dengan camilan dari rumah dan juga tas yang ia bawa lalu kembali berlari menghampiri Dion.
"Zelo ada banyak mam" ucap Zero bersemangat.
__ADS_1
Dion tertawa. "Baiklah, Kak Dion panggil yang lain dulu."
"Hu'um, jannan lupa bawa alas ya" ucap Zero tersenyum.
Andra benar-benar bersyukur ketika anaknya tidak memilih-milih dalam berteman terlebih ketika ia memperlakukan semua anak panti sama seperti dirinya membuat Andra bangga terhadap apa yang dilakukan Zero.
Zero adalah anak yang sangat pintar dan selalu berbagi. Ia tak pernah datang dengan tangan kosong ketika menuju panti asuhan. Tak jarang ia selalu memberikan pakaian, mainan, makanan, bahkan buku-buku pelajaran yang Andra belikan untuknya kepada anak-anak yang ada di panti asuhan.
Zero juga tidak pernah pelit dalam berbagi ilmu yang ia dapatkan dari Mr.Eldo dan ia akan menjadi anak yang paling ceria ketika bersama yang lainnya. Zero memang tidak terlalu banyak mempunyai teman karena di lingkungan rumahnya, ia jarang keluar terlebih ketika Andra sangat sibuk di kantor. Jadi ia lebih sering menghabiskan waktunya untuk bermain bersama anak-anak panti asuhan.
Andra tertawa ketika melihat Zero yang sudah tidak sabar untuk bermain bersama. Ia pun segera berjalan masuk ke dalam panti asuhan.
"Nak Andra" panggil Ibu Dian ketika ia melihat Andra yang sudah duduk di ruang tamu.
"Ibu, apa Arra ada?" tanya Andra sopan.
Ibu Dian pun segera memanggil Arra bertepatan dengan anak-anak yang keluar membawa beberapa alas untuk mereka bermain.
Zero yang sedang menunggu di luar pun senang ketika melihat teman-temannya sudah berkumpul dan mereka pun segera meletakkan alas tersebut di bawah pohon yang besar, tempat mereka bermain biasanya.
Andra tidak akan khawatir ketika Zero bermain bersama yang lain karena ada beberapa dari mereka yang sudah besar yang akan membimbing dan menegur adik-adiknya ketika mereka sedang bermain bersama.
Panti asuhan pun memiliki sekitar hampir dua puluhan anak-anak dari TK hingga SMA dan anak yang paling tua disana adalah Arra.
Andra tersenyum seraya menggeleng pelan. "Ini, minta tolong letakkan piring, Sayang" ucap Andra seraya memberikan paper bag yang berisi makanan ringan dan kue-kue yang ia beli tadi.
"Sebentar." Arra pun segera membawa paper bag tersebut kembali ke dapur meninggalkan Andra dan Ibu Dian berdua di ruang tamu.
"Bu, Andra ingin meminta restu" ucap Andra pelan yang membuat Ibu Dian menoleh.
"Tolong berikan restu untuk pernikahan Andra dan Arra."
Ibu Dian tersenyum seraya menggenggam tangan Andra. "Ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian. Sudah cukup banyak masalah yang dilewati hingga sekarang. Kalian berhak bahagia."
"Secepatnya Andra akan menghalalkan anak Ibu" ucap Andra mantap.
"Jadi, ingin menikah kapan?" tanya Ibu Dian tersenyum.
"Dua minggu yang akan datang. Ibu tidak perlu melakukan apapun karena Andra yang akan mengurus semuanya. Andra hanya meminta Ibu Dian sehat selalu."
"Apa kau sudah memantapkan hati untuk memperkenalkan Arra pada keluarga mu?" tanya Ibu Dian tersenyum.
__ADS_1
Andra mengangguk. "Karena itulah Andra kemari untuk menjemput Arra agar bisa makan malam bersama. Ah, Andra juga rencananya ingin menyatukan panti asuhan Ibu dan Ibu Rina sehingga kita bisa berkumpul bersama" ucap Andra memberitahukan keinginannya.
"Ya Tuhan, Nak. Itu pasti akan sulit" ucap Ibu Dian terkejut.
Andra tersenyum tipis. "Bu, Andra mempunyai orang yang bisa melakukan apapun."
"Ah, Nak Leo. Kapan ia menikah?"
"Kak Leo nggak suka perempuan, Bu" jawab Arra tiba-tiba membuat Andra dan Ibu Dian tertawa.
"Ibu, jangan khawatir jika ada berita yang mengatakan bahwa Leo menyukai Andra." Andra pun menanggapi.
"Astaga, kasihan sekali Nak Leo" ucap Ibu Dian terkekeh pelan.
Sedangkan di tempat yang jauh disana ada seorang pria yang tidak sengaja menggigit lidahnya saat makan.
"****! Siapa yang sedang membicarakan ku?" gumamnya pelan.
*****
Malam pun tiba dan mobil Andra baru saja sampai di halaman rumah Ketua membuat Arra sedikit gugup karena ini pertama kalinya ia akan diperkenalkan pada keluarga calon suaminya.
"Ra, cepatlah, aku lapar" ucap Andre membuyarkan lamunan Arra.
Andre yang sedang bersama Zero yang berada di kursi belakang pun membuka suara karena melihat Arra belum keluar dari dalam mobil.
"Kau gugup?" tanya Andra seraya menggenggam tangan Arra.
Arra pun tersenyum seraya keluar dari mobil membuat yang lainnya pun segera keluar mengikutinya.
Saat membuka pintu, terlihat bahwa Ketua dan Nyonya Besar sudah menunggu.
"Masuklah" ucap Ketua tersenyum tipis.
Andra segera membawa Arra masuk dan menggandengnya menuju ke sofa yang kosong diikuti oleh Andre dan Zero dibelakang. Astaga, mereka benar-benar seperti anak-anak Andra dan Arra.
"Selamat malam Ketua dan Nyonya Besar" ucap Arra sopan seraya berjalan mendekat dan mencium tangan keduanya membuat semuanya terkejut.
Ada senyum yang mengembang di wajah Ketua ketika Arra mencium tangannya karena kedua anaknya memang sudah tidak pernah lagi melakukan hal seperti itu.
*
__ADS_1
*
*