Cewek ABG & Duda Keren

Cewek ABG & Duda Keren
Delon?


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH yađŸ„°đŸ˜...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading GuysđŸ„°đŸ˜˜!!!!


*****


Arra menatap jalanan yang sangat ramai, suasana yang sangat indah namun dihatinya tidak. Ia merasa sungguh sesak, hanya bisa tersenyum pahit untuk memperlihatkan senyum palsunya dan mengatakan ia baik-baik saja namun jauh di lubuk hatinya, ia sakit.


Kata sambutan Nyonya Besar masih berputar jelas di pikirannya membuatnya berkali-kali menghela nafas. Ia merasa seolah sangat tertampar dengan kenyataan yang ada. Siapa yang akan percaya dengan keberuntungannya bisa menaklukkan hati seorang Andra? Ia bahkan tidak mempercayainya sekarang.


“Aku terlalu larut dalam suasana sehingga lupa diri”.


Seharusnya Arra sadar jika ia dan Andra sungguh tidak akan pernah bisa bersama. Pria kaya yang menjadi idaman semua kaum hawa mencintainya yang hanya anak yatim piatu? Arra bahkan sekarang sedang menertawakan dirinya karena bodoh mempercayai hal yang sangat tidak mungkin.


“Aku..aku benar-benar bodoh..”. Ucapan terakhir yang keluar dari mulutnya sedetik sebelum ia terjatuh dan tak sadarkan diri.


*****


Andra mengendarai mobilnya menyusuri jalan kota yang saat ini sudah mulai gelap dengan perasaan khawatir ketika ia tidak mendapati calon istrinya dimana pun. Ia sudah mencari kemana-mana namun nihil, Arra benar-benar seolah ditelan bumi.


Saat ini, Andra benar-benar sangat kacau karena ia merasa bersalah jika Arra menghilang seperti ini. Apa yang akan dikatakan Ibu Dian sedang menari-nari diatas kepalanya. Andra takut jika suatu saat ia tidak akan mendapatkan kembali restu dari Ibu Dian, bahkan ia benar-benar takut jika hubungannya dengan Arra berakhir sekarang. Sungguh, pikiran itu tiba-tiba hinggap di otaknya membuat Andra semakin khawatir.


Saat sedang menyusuri jalanan kota, ponsel Andra berdering menandakan sebuah panggilan masuk yang ia harapkan itu dari calon istrinya. Namun ternyata, nama Andre terpampang jelas di layar ponselnya.


“Bagaimana?” tanya Andra ketika panggilan tersebut terhubung.


Terdengar helaan nafas berat dari seberang membuat Andra yakin bahwa tidak ada kemajuan dalam pencarian Arra hingga malam ini. “Belum ada kabar hingga sekarang.”


“Lalu? Kau menelfon kenapa?”


“Jika Kak Andra masih di luar, bisakah berhenti di danau? Novi mengatakan jika itu tempat favoritnya dan Arra”


“Danau mana?”


“Danau tempatku pertama kali bertemu Arra. Aku akan mengirimkan lokasinya”


Dengan segera, Andre mengirimkan lokasi danau yang dimaksud membuat Andra pun melajukan mobilnya dengan harapan ia akan menemukan kekasihnya disana.


*****


Arra mengerjapkan matanya berkali-kali, menatap sekelilingnya, dan berusaha untuk mengingat apa yang terjadi dengannya beberapa jam yang lalu.


“Kau sudah sadar?”. Seorang pria yang umurnya sedikit lebih tua dari Arra berjalan mendekatinya.

__ADS_1


Arra menatapnya dengan raut wajah yang sulit dijelaskan. “A-apa aku ada di rumah sakit?”


“Ya, kau pingsan dijalan, jadi aku membawamu ke rumah sakit. Kata dokter, kau hanya kelelahan. Setelah infus mu habis, sudah boleh pulang.”


“Maaf merepotkan mu dan terima kasih sudah mengantarkan ku” ucap Arra seraya berusaha untuk mendudukkan dirinya.


Karena melihat Arra yang sedikit susah, pria itu dengan cepat membantunya membuat Arra sedikit terkejut. “Maaf, aku melihatmu susah jadi refleks membantu”


“Maafkan aku, tapi aku sedikit takut dengan orang asing” ucap Arra jujur membuat pria itu terkekeh pelan.


“Aku tau dan maaf membuatmu takut”. Sebenarnya, saat sedang memeriksa keadaan Arra, ia tak sengaja melihat bekas luka yang ada pada jari-jari tangannya membuat pria itu segera bertanya apa yang terjadi.


Dokter pun mulai mengamati bekas luka itu dan dapat dipastikan itu luka yang dibuat sendiri hingga pria itu sadar bahwa gadis kecil yang ada dihadapannya ini mengalami gangguan kecemasan.


“Maaf, aku tadi memeriksa tasmu untuk mendaftarkan dan membayar perawatan mu. Salam kenal Arra”


“Astaga, berapa biaya nya? Aku akan menggantikannya” ucap Arra dengan tangan yang langsung mengambil tas yang ada di meja


“Hahaha sudahlah. Aku ikhlas membantumu”


“Tidak, tolong katakan berapa biayanya”


“Aku tidak ingin diganti dengan uang” ucap pria itu yang membuat Arra terkejut lalu menatapnya dengan tatapan khawatir


Pria itu terkekeh ketika melihat Arra yang khawatir. “Aku membutuhkan tenaga mu. Aku ingin membuka bisnis makanan tapi tidak mempunyai ide bagaimana harus melakukannya. Jadi, apa kau mau bekerja denganku?”


Arra benar-benar mematung ketika kalimat yang keluar dari mulut pria itu diluar akalnya. Ia mengira pria itu akan meminta sesuatu yang tidak bisa ia kabulkan namun ternyata pria itu memberikannya pekerjaan.


“A-apa?!”


“Aku mengajakmu bekerja sama”


“Bukannya kita baru bertemu hari ini?” tanya Arra mengerutkan keningnya


“Ya, dan aku mempercayaimu”


Akhirnya setelah berpikir lama, Arra setuju untuk bekerja sama dengan pria itu karena ia tidak ingin bergantung pada bantuan Andra lagi.


“Kau tidak ingin bertanya namaku?”


“Astaga, maafkan aku. Aku sungguh lupa. Apa kita boleh berkenalan?” tanya Arra ragu


“Delon. Salam kenal, Arra”


“Ah, salam kenal juga Pak Delon” ucap Arra dengan sopan

__ADS_1


“Hei, apa aku terlihat sangat tua?” tanya Delon tidak terima


“Tidak, bukan seperti itu. Hanya saja tidak sopan jika aku memanggil nama” ucap Arra dengan cepat


“Aku tidak ingin dipanggil Bapak, panggil Koko saja”


“Koko?” ulangnya mengerutkan kening.


“Ah, keluarga ku selalu memanggilku begitu, Ko Delon.”


Apa dia keturunan chinese?-Arra.


“Baiklah, Ko”


*****


Andra segera keluar dari mobil ketika dirinya baru saja sampai di danau yang dimaksud Andre. Berkali-kali ia berteriak memanggil nama Arra, berharap ia akan melihat sosok gadis kecilnya di danau yang tidak terlalu luas itu. Andra benar-benar merindukannya.


“Sayang, kau dimana?” ucap Andra gusar ketika ia tak menemukan siapapun di danau.


Andra benar-benar takut sekarang, ia takut akan apa yang terjadi nantinya, ia takut jika hari ini adalah hari terakhir ia bertemu Arra, ia takut akan semua hal negatif yang ia pikirkan. Bukankah lebih menyakitkan jika perpisahan tiba-tiba tanpa ucapan selamat tinggal?


*****


Arra sekarang sudah berada di panti asuhan milik kenalan Ibu Dian yang dimana Delon memaksa untuk mengantarnya membuat Arra mau tak mau harus menerima tumpangan Delon.


“Arra, aku membutuhkan nomor ponselmu” ucap Delon yang membuat Arra tersadar akan ponselnya yang sengaja ia matikan sejak kejadian pagi tadi.


“Maaf, Ko. Aku tidak mempunyai ponsel” ucap Arra berbohong karena ia tidak ingin mengaktifkan ponsel pemberian Andra sekarang.


“Ah, baiklah. Aku akan berkunjung lagi untuk membahas bisnis kita”


“Terima kasih banyak untuk semuanya. Dan maaf telah merepotkan”


“Tidak masalah. Sepertinya aku harus pulang”


“Hati-hatilah saat mengemudi”


“Sampai bertemu kembali, Arra”


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2