
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Semua orang menunggu dengan cemas karena menatap pintu masuk UGD masih belum terbuka dan Galuh masih belum keluar memberikan kabar.
"O, mau pergi kemana?!" tanya Andra ketika melihat Leo yang sudah bersiap ingin pergi.
Semua orang menatap Leo seolah mengetahui lelaki dingin itu akan pergi kemana mengingat Leo yang sama seperti Andra bahkan lebih menyeramkan ketika marah.
Andra langsung mengajak sang asisten untuk berbicara empat mata di tempat yang lumayan jauh dari tempat Arra berada.
"Jangan melakukan apapun sebelum aku memerintah mu!" ucap Andra menatap sang asisten dengan tatapan tajam.
Leo mengerutkan keningnya heran. "Dia sudah membuat Zira menderita! Apa yang kau pikirkan?!"
Mendengar hal itu, Andra menghela nafas panjang. "O, aku juga sangat menderita ketika melihat gadis kecil ku seperti sekarang. Siapa yang tega melihat anak perempuannya menyakiti dirinya sendiri hanya karena orang baru? Bahkan, semut pun sebisa mungkin ku hindari untuk tidak menyakiti Zira.."
Leo terdiam mendengar ucapan Andra terlebih ketika pria tua itu sudah menunduk seolah ia benar-benar tersakiti melihat keadaan sang anak.
"Aku sungguh sakit ketika melihat keadaan Zira dan tidak berhenti menyalahkan diriku sendiri atas semua yang terjadi. Andai saja tidak ada urusan antara aku dan Gladis, mungkin putri kecil ku tidak akan menderita atas hal yang tidak diperbuatnya.."
"Maka dari itu aku akan melakukan sesuatu untuk membalas apa yang terjadi pada Zira! Aku tidak bisa berdiam diri seperti ini." Leo bersikukuh untuk melakukan sesuatu terhadap Gerren yang bisa dipastikan bahwa karena lelaki itu, Zira jadi seperti sekarang.
"O, aku hanya ingin anakku bahagia dan lepas dari trauma nya.."
"Kau bisa tetap bersama dengan Zira. Aku yang akan melakukan semuanya dan menanggung semua resiko dari apa yang ku perbuat."
Setelah mengatakan hal itu, Leo pergi meninggalkan Andra yang hanya bisa menatap kepergiaannya.
Andra adalah orang yang sudah cukup lama mengenal Leo bahkan lelaki itu sudah berdiri lama di sebelah Andra sehingga Andra pun bisa mengetahui bahwa Leo tidak akan membiarkan siapapun yang mengusik keluarganya. Entah apa yang akan diperbuat olehnya.
__ADS_1
*****
Gibran berjalan gontai menjauh dari rumah Zira ketika mendengar dari sang satpam bahwa keluarga Dirgantara melarang siapapun untuk berkunjung terlebih jam sudah menunjukkan waktu larut malam.
Setelah memukul Gerren sampai lelaki itu pingsan, Gibran pergi dari rumah Gladis menuju ke rumah Zira untuk memastikan bahwa kekasihnya baik-baik saja. Namun, mendengar ucapan satpam membuat Gibran hanya bisa menghela nafas panjang.
"Pak, saya izin untuk menunggu disini, ya?"
"Apa tidak sebaiknya Nak Gibran kembali ke rumah saja dan besok kembali lagi?"
Satpam tersebut khawatir terlebih ketika ia melihat keadaan Gibran yang tidak baik-baik saja. Sebenarnya, sang satpam tau apa yang terjadi di ruma Dirgantara karena mengingat dirinya yang diikat paksa oleh orang suruhan Gladis ketika dirinya dan Gerren memasuki kediaman Andra dengan sesuka hati.
"Pak, apa setiap manusia diberikan takaran kebahagiaan yang sama rata?" tanya Gibran yang membuat sang satpam terdiam pelan.
Gibran duduk di pos satpam dan menatap langit malam yang sangat indah malam ini. "Sepertinya aku belum menemukan takaran kebahagiaan yang sesungguhnya."
"Nak, semua makhluk hidup yang ada di dunia ini mempunyai takaran kebahagiaan masing-masing. Sebenarnya, yang Bapak ketahui dari definisi kebahagiaan adalah sangat sederhana. Ketika kita merasa bahwa kita dihargai, ketika kita merasa bahwa kita disayangi dengan tulus, atau ketika kita merasa pendapat kita didengarnya, itu definisi bahagia yang sangat sederhana. Coba sekarang Bapak minta Nak Gibran untuk kembali sejenak dan pergi ke masa lalu. Ada banyak alasan Nak Gibran bisa tersenyum. Mungkin saja karena Nak Gibran memenangkan lomba di kelas, atau ketika tim sepakbola yang Nak Gibran sukai menang dalam pertandingan? Dan yang lebih mungkinnya, Bapak yakin ketika Nak Gibran bertemu dengan Nak Zira" ucap sang satpam tersenyum tipis.
Mendengar hal itu, Gibran terdiam. Ia tidak menyadari bahwa kebahagiaan yang dimaksud sangatlah sederhana. Ketika ia berhasil mendapat es milo kesukaannya tanpa mengantri pun Gibran sangat bahagia. Lalu, mengapa bisa pertanyaan itu tiba-tiba muncul di kepalanya?
Setelah mengobrol cukup lama dengan satpam rumah Zira, Gibran pun permisi untuk pulang karena memang sudah sangat larut malam.
Di perjalanan pulang, Gibran merasa dirinya benar-benar sangat lelah dengan semua hal. Entah dengan kebisingan yang ada di pikirannya, atau entah dengan tubuhnya yang lelah karena sudah memukul kakak kandungnya sendiri.
Gibran pun merasa semakin lama pandangannya semakin kabur dan kepalanya terasa sangat berat hingga akhirnya ia tidak sadarkan diri.
*****
Gibran membuka matanya perlahan ketika ia merasakan matanya terkena sinar lampu di sebuah tempat. Ia menatap sekitar dan ternyata dirinya sedang berada di rumah sakit.
"Nak, kau sudah bangun?!" Seorang pria paruh baya berdiri dan menatap Gibran dengan sangat khawatir.
"Apa Bapak yang mengantarkan ku ke rumah sakit?" tanya Gibran pelan.
Pria itu mengangguk. "Sebentar, akan ku panggilkan dokter."
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu, pria itu berlari keluar untuk memanggil dokter dan memberitahukan bahwa pasiennya sudah sadar.
Tak lama kemudian, seorang lelaki muda dengan memakai jas dokter bersama dua orang perawat berjalan masuk ke ruangan Gibran.
"Selamat pagi, Gibran! Apakah kepalanya sangat pusing?" tanya dokter tersebut ramah.
Gibran mengangguk pelan karena memang benar kepalanya sangat pusing sekarang.
"Baik, kita periksa dulu."
Gibran hanya diam ketika dokter tersebut memeriksa keadaannya. Cukup lama ia diperiksa dan terlihat jelas raut sang dokter yang berusaha untuk terlihat biasa saja. Entah apa yang terjadi pada kesehatan Gibran.
"Setelah infusnya habis, Gibran bisa pergi ke ruangan saya karena ada sesuatu yang harus saya bicarakan. Gibran bisa membawa wali jika ada."
Gibran menggeleng pelan. "Sendiri boleh, dok?"
"Baiklah kalau memang walinya tidak dapat hadir. Oh ya, bapak ini adalah supir ojek online yang mengantar Gibran ke rumah sakit."
"Terima kasih banyak, Pak" ucap Gibran pelan sedangkan pria tersebut hanya tersenyum tipis.
*****
"Sebenarnya ini perlu dibicarakan dengan wali pasien yang bersangkutan" ucap dokter.
Gibran menggeleng pelan. "Saya tidak punya siapapun, dok. Jadi tolong beritahukan saya saja. Apakah saya punya penyakit serius?"
"Maaf jika harus mengatakan ini, Gibran menderita penyakit tumor otak yang cukup parah."
Deg.
*
*
*
__ADS_1