
Karena ada ide dari readers, sepertinya nama Zira lebih cocok untuk jadi adiknya Zero. Jadi, author revisi nama baby Ziva menjadi baby Zira.🤭
Thank youuu readerss yang udah kasih ide🤍.
*****
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Keluarga Andra sudah kembali ke rumah setelah dua hari ibu dan bayi dirawat di rumah sakit. Pagi ini, suasana di rumah utama sangat ramai karena tangisan baby Zira yang membuat semua orang panik.
Arra yang baru saja selesai mandi pun langsung berjalan cepat menuju ke box bayi. Ia sangat panik mendengar tangisan sang anak karena ia tidak tau apa yang terjadi dengan baby Zira yang tiba-tiba menangis.
"Sayang, hei ada apa?! Kenapa menangis anak pintar?!" tanya Arra dengan raut wajah paniknya.
Karena melihat tangisan anaknya tak kunjung reda, Arra pun belajar untuk menggendong baby Zira dengan sangat hati-hati dan memberikannya ASI.
Sebelumnya, Arra tidak pernah menggendong anak bayi terlebih bayi yang berumur 0 bulan. Di rumah sakit kemarin pun jika anaknya menangis, Andra akan segera mengambil alih baby Zira dan membaringkannya di dada Arra agar bayi mereka bisa meminum ASI.
Arra berjalan mendekati tempat tidur dan duduk di ujung kasur seraya baby Zira yang masih menyusui padanya. Tatapan Arra tertuju pada wajah sang anak yang benar-benar seperti malaikat. Kulit putih bersih, bulu mata melantik, alis yang sangat rapi, hidung mancung, lesung pipi di kedua wajahnya, dan bibir tipis.
"Bagaimana jika ada lelaki yang berkunjung ke rumah untuk menemui mu?" tanya Arra terkekeh pelan.
Pikiran Arra sudah jauh ke depan. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana raut wajah kesal Andra jika anak perempuannya sudah bisa jatuh cinta dengan lelaki lain nantinya.
"Nak, jadilah anak yang baik dan pintar. Mami menyayangi Zira" ucap Arra lalu mencium pucuk kepala sang anak.
*****
"Loh? Sayang? Zira menangis?" tanya Andra saat ia baru saja masuk kembali ke kamar utama.
Andra saat itu baru saja menyelesaikan meeting via online karena dirinya memang belum kembali ke kantor setelah beberapa lama.
"Adik haus ya?" tanya Andra yang membuat Arra mengangguk pelan.
"Zero masih belajar, Mas?"
__ADS_1
Andra mengangguk. "Sayang nggak lupa kan hari ini hari apa? Tentu aja Zero semangat karena pelajaran bahasa asing."
"Astaga, dengar itu, Sayang. Adik mau seperti Abang Zero?" Arra memulai pembicaraan dengan sang anak.
"Sayang, kenapa Zira cantik sekali? Bagaimana jika ada lelaki yang datang melamarnya?"
Damn. Ucapan Arra benar, kan? Andra saja sudah membayangkan bagaimana putri cantik mereka tiba-tiba mempunyai banyak tamu lelaki.
"Mas, Zira aja baru keluar tiga hari yang lalu" ucap Arra mengingatkan.
"Sayang, waktu itu terus berputar. Nanti nggak akan terasa tiba-tiba Zira udah bawa pacar aja ke rumah. Mas nggak bisa membayangkan kalau itu benar-benar terjadi."
Arra terkekeh pelan mendengar khayalan Andra yang sudah sangat jauh. Bagaimana bisa suaminya sudah memikirkan tentang pacar sang anak padahal anak mereka saja baru berusia tiga hari?
"Sayang, gimana kalau Zira kita jodohkan aja dengan Leo?"
Plak
"Mas kalau ngomong itu hati-hati dong. Masa Leo harus jadi kakek-kakek tunggu Zira gede?!"
"Sayang, Mas lebih percaya jika Zira bersama Leo."
"Astaga, pria tua ini."
*****
"Mami" teriak Zero yang membuat Arra terkejut seketika.
"Biar Mas aja."
Cup.
Andra segera berlari ke kamar Zero karena mendengarkan teriakan sang anak.
"Ada apa?"
"Papi, thenapa Untel Andle da mau teman adik?!" tanya Zero dengan wajah kesalnya.
Andre yang saat itu sedang tiduran disebelah baby Zira pun terkejut seketika. "Apa?!"
"Zelo benal, kan? Kalau Untel mau teman adik, Untel Andle pasti gendong adik."
__ADS_1
Mendengar ucapan Zero, Andre bahkan Andra pun melongo seketika. "Hei, Zira kan sedang tidur lalu untuk apa Uncle menggendongnya?" tanya Andre heran.
Bagaimana Andre tidak heran, sepertinya setiap yang ia lakukan selalu salah dimata Zero. Lihatlah sekarang, ia tiduran dan diam saja disalahkan.
"Kak, Zero ada masalah apa denganku?" tanya Andre dengan wajah kesalnya.
"Entahlah, mungkin karena wajahmu."
"Hah?!"
Ucapan Andra malah membuat Zero tertawa seketika hingga tawa mereka membuat baby Zira menangis karena terkejut.
"Zero, jangan tertawa seperti itu, adik ketakutan" ucap Andra pelan seraya menggendong anaknya dengan hati-hati.
Andre hanya melihat interaksi antara ayah dan anak perempuan tersebut. Diam-diam Andre berdoa semoga inilah kebahagiaan sesungguhnya untuk Andra. Andre tau bahwa kakaknya memang sangat menginginkan seorang anak perempuan dan akhirnya impian itu terwujud.
Senyum indah tak pernah lepas dari wajah Andra ketika ia menatap bayi kecilnya. Bahkan mata itu tidak bisa berhenti berbinar saat melihat bagaimana gemasnya baby Zira saat sedang tidur.
"Kak, kalau aku nikah sekarang gimana?"
"Heh."
*****
Hari-hari Arra berubah 180 derajat setelah melahirkan gadis cantik itu. Setiap malam ia dan Andra tidak pernah absen bergadang karena bayi kecil mereka selalu menangis entah karena lapar, pantatnya basah, atau pun karena merasa tidak nyaman.
Seperti malam ini, pasangan suami istri tersebut baru saja tidur nyenyak setelah menidurkan bayi mereka yang sempat menangis karena pantatnya basah, dan lihatlah sekarang baby Zira menangis lagi hingga membuat Andra terbangun dari tidurnya.
Dengan segera Andra beranjak dari tempat tidur menuju box bayi untuk memeriksa keadaan sang anak. Ternyata pantat Zira basah lagi sehingga membuat Andra harus mengganti pakaian anaknya.
Selagi mengganti pakaian Zira, tatapan Andra tertuju pada sosok mungil yang sedang tertidur nyenyak di tempat tidur utama. Ada senyum tipis yang terukir di wajah Andra ketika melihat wajah damai Arra yang sedang tidur.
"Cantik sekali. Mami cantik sekali, kan? Cantik cantik cantik" ucap Andra seraya terkekeh pelan.
Ah, Andra tidak tau apa alasan dirinya jatuh cinta setiap saat kepada sang istri. Ia menyukai semuanya, ia suka perlakuan Arra, ia suka sifat Arra, ia suka ocehan Arra, ia suka wajah kesal Arra, ia suka senyum Arra, semuanya, Andra suka semua yang ada pada istrinya.
Siapa yang pernah menyangka bahwa duda itu terjebak dengan seorang siswa SMU yang seolah langut dan bumi perbandingannya?
*
*
__ADS_1
*