Cewek ABG & Duda Keren

Cewek ABG & Duda Keren
S2 : Perlahan


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Gibran menggandeng tangan Zira untuk masuk lebih dalam ke ruang OSIS dimana hanya tersisa mereka berdua saja.


Sejak tadi Zira hanya menunduk karena sangat malu terhadap lelaki itu.


"Sebentar."


Gibran berjalan mengambil tas miliknya lalu duduk kembali disebelah Zira. Tangannya bergerak untuk memberikan sebotol minuman.


"Kak.. aku malu.. jangan liat aku" ucap Zira menutup wajahnya dengan tangan membuat Gibran terkekeh pelan.


Sebenarnya, Gibran juga merasa sangat gugup berhadapan dengan gadis itu. Ini pertama kali untuk mereka bisa berdekatan langsung bahkan duduk berdampingan.


"Cantik" ucap Gibran tersenyum tipis.


Hal itu malah semakin membuat Zira malu. "Kak, jangan diserang tiba-tiba dong."


Zira benar-benar lucu bahkan sangat lucu di mata Gibran. Bagaimana lelaki itu tidak jatuh cinta terhadapnya? Semua yang dilakukan Zira membuat Gibran jatuh cinta.


"Oh iya, maaf ya aku jadi ganggu Kak Gibran rapat.."


"Kok tau aku disini?"


"Aku nggak cari Kak Gibran, tadi nggak sengaja buka ruang OSIS.."


Zira memutar otak mencari alasan agar Gibran tidak mengetahui pasti apa yang baru saja terjadi padanya.


Gibran tersenyum tipis melihat raut wajah gadis itu. "Zira Leorra Dirgantara.."


"Kok ngeselin sih?! Ketahuan banget ya kalau bohong?"


Seketika gelak tawa Gibran terdengar. Bagaimana bisa ia berhadapan dengan gadis polos ini?


"Huh, iya-iya ini aku mau ngomong juga" gerutu Zira dengan wajah kesalnya.


"Saya belum mengatakan apa-apa" ucap Gibran santai.


"Hei, jangan seperti itu. Aku-kamu aja, jangan saya-saya!"


"Kenapa?"


"Nanti aku jatuh cinta."


Gelak tawa kembali terdengar di ruang OSIS. Gibran benar-benar tidak habis pikir bagaimana bisa Zira dengan santainya mengatakan hal-hal seperti itu.


"Tadi aku menghindar dari seseorang, jadi lari masuk ke sekolah lagi tapi nggak sadar kalau aku malah ke ruang OSIS."

__ADS_1


Zira kembali memulai ceritanya agar membuat Gibran mengerti ada apa dengan gadis itu.


"Kamu mau ceritanya ditanggapi atau hanya mau didengar?"


"Kak Gibran, sopan kah begitu? Kalau mau nyerang itu kasih aba-aba dulu soalnya hati aku mudah salting."


"Serius, by."


"Ayo maju aku nggak takut, aku baru beres vaksin dosis tiga kemarin."


****. She so cute.-Gibran.


*****


"Dia siapa, by? Kok kamu menghindar?"


"Tolong ya Tuan Agaskara. Nama aku itu Zira bukan by!"


"Panggilan kesayangan."


"Dih? Kak Gibran sakit ya?"


Dengan polosnya Zira menempelkan tangannya pada kening lelaki tersebut membuat Gibran terkekeh pelan.


"Ayo lanjut lagi."


"Apanya? Ceritanya?"


"Stress."


Zira menceritakan semuanya, ralat bukan semua tetapi hanya sebagian. Gibran pun mengerti bahwa mereka terlalu cepat jika harus menceritakan semuanya tentang kehidupan masing-masing.


Zira hanya menceritakan bahwa ada seseorang yang sangat ia benci karena membuat masa lalu nya menjadi sangat kelam. Zira sudah berusaha sekuat mungkin untuk menghindar namun sekarang lelaki itu malah sengaja bertemu dengannya di sekolah.


"Pasti berat ya selama ini nggak ada tempat cerita. Saya tau kalau kamu pasti nggak pernah mau cerita ke Tante Arra."


"Aku bukan saya." Ralat Zira yang membuat Gibran terkekeh pelan.


"Iya-iya, aku. Aku mungkin belum tau pasti gimana perasaan kamu dan gimana cerita itu yang mungkin malah akhirnya bikin kamu jadi trauma dan luka nya belum sembuh, tapi aku bakal jadi orang yang maju paling depan buat bilang kalau aku bangga sama kamu. Setiap orang itu punya cerita hidupnya masing-masing dan pasti ada trauma berat di balik rasa sakit yang ada, tapi nggak semua orang bisa bertahan di masa sulit itu. Kalau kamu udah bisa bertahan selama itu, berarti nantinya kamu harus hadapi trauma itu. Mau pergi kemana pun dan mau menghindar sejauh apapun, yang namanya masalah itu cepat atau lambat harus dihadapi."


"Kak.. aku takut.. aku nggak mau lagi berhubungan sama dia.. aku nggak mau.."


"Aku izin peluk ya?"


Karena melihat Zira hanya diam, Gibran memberanikan diri kembali merengkuh tubuh gadis itu. Air mata Zira kembali mengalir saat ia merasakan hangatnya pelukan Gibran.


"Pengaruh dia di hidup kamu pasti besar sampai bikin kamu jadi seperti ini.. gapapa, jangan takut.. ada aku.."


"A-aku takut.. aku takut Mami dan Papi tau.. aku takut mereka kecewa.. aku takut ditinggal.."


"Sstt, udah ya tenangin diri dulu.. semua orang itu wajar kalau pergi dari hidup kamu karena ada fasenya people come and go. Kamu harus bisa kembali menjalani hidup ada atau tanpa orang itu.."


Gibran tidak menjanjikan bahwa dirinya tidak akan meninggalkan Zira. Ia sendiri tidak tau bagaimana kejutan semesta pada akhirnya. Ia tidak mau memberikan harapan lebih kepada gadis itu jika akhirnya bukan seperti yang diharapkan.

__ADS_1


"Aku ada disini.. jangan takut.."


Detik itu, Zira memutuskan untuk perlahan membuka hati untuk sosok Gibran Agaskara.


*****


"Mas.." panggil Arra pelan saat melihat Andra yang sedang sibuk dengan laptopnya.


"Sini." Andra menepuk pelan ruang disebelahnya agar sang istri duduk didekatnya.


Arra berjalan perlahan mendekati sang suami. "Sedang sibuk?"


"Hanya memeriksa berkas. Ada apa, Sayang?"


"Nggak, hanya penasaran aja apa alasan Mas memberikan kesempatan kepada Gibran" ucap Arra tersenyum tipis.


Andra terkekeh pelan. "Bukannya dia yang paling sopan diantara yang lain selama ini?" tanya Andra yang membuat Arra mengangguk.


"Tapi, hanya dia yang tidak pernah dekat bahkan akrab dengan Zira."


"Mas lebih suka, agar Zira juga bisa fokus kalau nggak berpacaran di sekolah."


"Mas Andra pasti sudah memeriksa semuanya tentang Gibran" ucap Arra yang membuat Andra tertawa canggung.


Istrinya benar-benar dukun. Bagaimana bisa ia menebak dengan tepat? Arra benar, Andra sudah mengetahui latar belakang lelaki yang berani meminta izin ke rumahnya.


"Gibran anak yang baik namun kurang beruntung di keluarga."


"Astaga, ada apa dengannya?"


"Broken home, Sayang. Ibu nya meninggal dunia dan Ayah nya sibuk sendiri."


"Ya Tuhan, kasihan sekali anak itu.."


"Dia tumbuh dengan sangat baik tanpa bantuan siapapun. Saat pertama bertemu aja, Mas udah punya feeling kalau Gibran itu orang yang baik."


"Jadi, udah nggak mau menjodohkan Zira dan Leo?" tanya Arra yang mengundang gelak tawa sang suami.


Ternyata, istrinya masih mengingat hal itu. Dimana sejak Zira kecil selalu ingin ia jodohkan dengan Leo yang sampai sekarang masih menjadi bujang lapuk.


"Ayo ajak Gibran makan malam bersama."


"Tentu, Sayang. Minta Zira untuk mengajaknya nanti."


"Mas, janji dulu jangan memasang wajah galak. Bisa-bisa Gibran ngompol di celana."


"Hahaha baiklah-baiklah."


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2