
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Zira hanya diam seolah memasang telinganya untuk mendengar semua ucapan yang keluar dari mulut Gibran dengan sesekali menggenggam tangan kekar lelaki itu seolah memberikan rasa nyaman padanya.
"Ada begitu banyak cerita yang belum bisa ku ceritakan pada mu. Aku takut jika bersama ku, nantinya kau akan semakin terluka."
Zira menggeleng pelan. "Jika dilalui bersama-sama, pasti ada jalan keluarnya, Kak."
Tidak, Gibran menolak. Tidak segampang itu untuk masuk ke dalam kehidupan seorang Gibran Agaskara yang sejak awal sudah dipenuhi dengan tinta hitam. Kehidupan Gibran benar-benar gelap dan ia tidak mau jika gadis yang ia cintai ikut merasakannya.
"By, nggak semudah yang dibayangkan."
Zira kembali kekeh dengan keputusannya. "Kita belum mencobanya, tapi kenapa Kak Gibran sudah duluan menyerah? Apa benar kalau Kak Gibran memang nggak mencintai ku?"
"Hei, apa aku harus mencium mu di depan semua orang untuk membuktikan perasaan ku?"
Plak
Zira refleks memukul lengan Gibran karena sangat malu dengan pertanyaan lelaki itu.
"Tapi aku serius, Kak. Aku mau mencoba masuk ke dalam kehidupan Kak Gibran dan akan berusaha untuk selalu menggenggam tangan Kak Gibran. Bukankah dalam sebuah hubungan itu diperlukannya kerjasama dua belah pihak?"
Gibran terdiam. Ia masih tidak yakin untuk membawa Zira masuk ke dalam kehidupannya namun Zira lagi-lagi mencoba untuk meyakinkannya bahwa jika mereka bersama, maka semuanya akan baik-baik saja.
"Sebentar."
Bukannya menjawab ucapan Zira, Gibran malah beranjak dari tempat duduknya berjalan mendekati taman bunga dan mengambil sesuatu. Tak lama kemudian, ia kembali dengan sebuah gelang yang dibuat dari akar pohon.
Gibran memasangkan gelang tersebut pada tangan kanan Zira. "1 September Gibran Agaskara dan Zira Leorra Dirgantara resmi berpacaran."
Deg.
Ucapan Gibran benar-benar membuat Zira sangat malu bahkan mungkin wajahnya sudah memerah seperti tomat. Tidak perlu diherankan lagi jika lelaki itu akan melakukan apa saja di luar akal sehat manusia.
"Officially Gibran-Zira?" tanya Gibran seraya mencium punggung tangan sang gadis.
__ADS_1
"Kak.. bisa berhenti nggak? Aku sepertinya akan pingsan sekarang" lirih Zira pelan seraya menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Gibran tertawa. Apa yang baru saja ia lihat itu benar-benar lucu. Zira benar-benar terlalu menggemaskan. Ah, gadisnya.. kekasihnya.. miliknya..
*****
Andra saat itu baru saja pulang dari kantor bersama dengan Leo karena ada beberapa urusan yang masih harus diurus olehnya sendiri. Memang, sebenarnya usia Andra sudah tidak muda lagi untuk mengurus perusahaan milik keluarga, tapi karena memang si pewaris masih bersekolah, jadilah Andra yang masih harus menghandle semuanya.
Baru saja ia masuk ke dalam rumah, tiba-tiba ia melihat sang anak lelakinya sedang duduk santai menonton televisi di ruang keluarga.
"Hei, sejak kapan pulang? Kenapa nggak ada kabar? Ada masalah apa?"
Bermacam-macam pertanyaan yang keluar dari mulut Andra karena memang ia sendiri tidak mengetahui kepulangan sang anak. Zero terkekeh pelan melihat seluruh anggota keluarganya yang sama hebohnya ketika melihat kedatangannya.
"Sepertinya bukan waktu yang tepat untuk membicarakannya sekarang" ucap Zero tersenyum tipis.
Seolah mengerti akan maksud sang anak, Andra pun segera membuka suara. "Malam ini mengobrol lah di ruangan Papi."
Deg.
Arra terdiam ketika ia mendengar jelas bahwa memang ada sesuatu yang membuat Zero kembali ke Indonesia secara tiba-tiba. Ia bertanya-tanya apa yang terjadi dan mengapa Zero seolah ingin menutupinya dari Arra?
"Eh—Mami?!" panggil Zero sedikit terkejut ketika melihat Arra yang berjalan mendekati mereka.
"Tumben sekali pulang cepat, Mas?"
Andra tersenyum tipis. "Hari ini bukan hari yang melelahkan karena Mas hanya memeriksa beberapa berkas saja."
"Ah begitu, ya sudah sekarang Mas mandi dulu. Arra baru saja selesai membuat pudding."
"Posisi Mas memang sejak dulu sudah tergantikan oleh Zero" gumam Andra seraya berjalan melewati Arra.
Arra yang mendengarnya pun sedikit bingung. "Loh? Maksud Mas Andra bagaimana?"
"Karena Mami pasti membuatkan pudding kesukaan Zero." Zero yang mendengar Papi nya berkata begitu pun segera paham dan tertawa. Bisa-bisanya Andra masih cemburu pada Zero sampai sekarang.
"Oh begitu. Kan Zero baru pulang ke rumah, masa Arra nggak mempersiapkan makanan atau camilan kesukaannya?" tanya Arra heran.
Leo yang ikut mendengar pembicaraan keluarga Andra pun membuka suara juga. "Sadarlah, kau itu memang nggak pernah menang dari Zero."
"Hei, yang jomblo diam saja."
__ADS_1
"Sialan."
*****
Malam ini Andra menepati janjinya meluangkan waktu agar bisa mengobrol bersama anak pertamanya yang kembali ke Indonesia tanpa sepengetahuan siapapun.
Tok tok tok
Terdengar ketukan pintu dari luar.
"Masuk."
Tak lama kemudian, Zero pun masuk ke dalam ruang kerja Andra.
"Ingin berbasa-basi dulu atau langsung saja?" tanya Andra.
Zero terkekeh pelan. "Langsung. Setelah ini aku harus menghabiskan waktu untuk bermain game."
"Dasar, belum berubah sama sekali." Andra pun tertawa menanggapi ucapan sang anak.
Zero sedikit mengubah posisi duduknya dan menatap Andra dengan wajah serius. "Aku kembali karena mengetahui apa yang terjadi pada Zira."
Andra diam. Ia tau jika anaknya belum selesai berbicara, walaupun sedikit terkejut tapi Andra kembali memilih untuk diam.
"Beberapa hari terakhir, aku benar-benar merasakan hal yang sangat aneh dan selalu memikirkan Zira. Tapi ketika aku bertanya, Zira selalu bilang bahwa dirinya baik-baik saja. Mungkin ini terdengar sangat salah dan aku benar-benar minta maaf karena aku mengirim seseorang untuk membuntuti Zira, sampai akhirnya aku tau tentang berita itu. Tanpa pikir panjang, aku langsung mencari tiket penerbangan ke Indonesia lalu menemui Gibran untuk meminta penjelasan padanya. Dan ya, aku cukup terkejut mendengar apa yang keluar dari mulut Gibran karena baik dirinya dan Zira adalah korban."
Andra mengerutkan keningnya heran seolah belum mengerti maksud Zero ketika ia mengatakan bahwa Gibran juga korban.
"Aku hanya ingin memberikan sedikit bocoran saja, setelah ini silahkan Papi bertanya lebih lanjut pada Gibran."
Tok tok tok
Sebelum Andra kembali membuka suara, pintu ruangan diketuk dari luar.
"Masuk."
Terlihatlah Arra yang masuk ke dalam ruang kerja Andra bersama Gibran.
Deg.
*
__ADS_1
*
*