Cewek ABG & Duda Keren

Cewek ABG & Duda Keren
S2 : Tania


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Kamar Zira


Arra mengetuk pintu kamar anaknya yang membuat Zira membukakan untuk sang Mami.


"Sedang sibuk?" tanya Arra yang membuat Zira menggeleng pelan.


"Aku sedang menonton drama, Mami. Ada apa?"


"Bisakah Zira mengajak Gibran untuk makan bersama malam ini?" tanya Arra yang membuat Zira mengerutkan keningnya heran.


"Siapa yang berulang tahun?"


"Hanya ingin makan bersama aja."


"Mami.. Kak Gibran ada bikin kesalahan dengan Papi..?" tanya Zira pelan yang membuat Arra tertawa seketika.


"Hei, nggak bukan begitu. Mami hanya ingin memasak dan makan bersama Gibran. Anak itu sangat baik dan pintar jadi sebagai ucapan terima kasih aja."


"Oh, aku kira Kak Gibran melakukan kesalahan dan akan digorok malam ini."


"Astaga, jangan memikirkan hal lain. Calon kekasih Zira akan baik-baik aja."


"Mami?! Dia bukan calon kekasih ku" teriak Zira dengan wajah malu.


Arra tertawa melihat anak gadisnya sudah besar sekarang. "Jangan mendahului Abang."


"Jangan menggoda ku seperti itu, Mam."


"Baiklah-baiklah."


*****


Zero mendengus kesal ketika dirinya baru saja pulang dari kampus dan teriakan Zira sudah terdengar bahkan saat ia baru membuka pintu rumah utama.


"Bisakah kau berhenti berteriak?!" gerutu Zero yang sedang leha-leha di sofa ruang keluarga.


Zira melihat ke lantai bawah. "Hei, Abang habis melakukan apa? Hayo, kenapa terlihat sangat lelah?"


"Pikiran mu, Zira!"

__ADS_1


"Loh? Aku kan bertanya dan nggak mikirin apa-apa. Abang pasti memikirkan hal jorok."


"Jangan sok tau."


Zira segera berlari menuruni tangga untuk duduk didekat Zero.


"Sudah punya pacar?"


Pletak.


Pertanyaan konyol macam apa itu? Memikirkannya saja Zero tidak pernah. Rasanya berpacaran itu angat rumit karena kau harus bertanggung jawab atas perasaan seseorang dan Zero sangat malas untuk itu. Ia bukan tidak percaya cinta, namun ia cukup malas karena hal itu sangat merepotkan.


"Bagaimana kabar Gibran?"


"Kenapa tanya aku? Tanya sendiri aja lah."


"Bisa-bisa dia mengompol kalau aku tiba-tiba mengirimkannya pesan" ucap Zero yang mengundang gelak tawa Zira.


"Kata Mami, hari ini mau makan bersama Kak Gibran."


"Gibran melakukan kesalahan?"


Benar, kan? Tidak heran lagi jika mereka adalah anak Andra. Apa semenakutkan itu wajah Andra hingga tidak terlihat raut ketulusan sedikit pun?


"Tun kan, Abang juga pasti memikirkan hal itu. Aku juga heran, kenapa Papi nggak marah disaat Mami mengajak Kak Gibran makan bersama."


"Faktor bucin."


*****


Zira memang terlihat galak dan menyebalkan namun ia memiliki rasa kepekaan yang sangat tinggi sehingga ia bisa tau dengan jelas jika Zero sedang tidak baik-baik saja.


"Aku bertemu Bunda.."


Zira terdiam. Memang, topik pembicaraan tentang Tania terasa sangat sensitif di rumah ini.


"Anehnya aku nggak pernah takut kalau kehilangan Bunda.." Zero menghela nafas berat.


Trauma masa kecilnya masih ia rasakan yang membuatnya tumbuh menjadi lelaki yang sangat takut kehilangan. Zero akan selalu berusaha untuk berkomunikasi dengan orang-orang terdekatnya agar tidak ada yang meninggalkannya. Saat Andra sedang berada di luar kota pun Zero setiap hari mengirimkannya pesan hanya untuk memberi perhatian kepada pria tua tersebut.


Karena masa kecil yang sangat kelam, merasakan bagaimana rasanya hidup sendiri dan tidak diperhatikan membuat Zero tumbuh menjadi lelaki yang sangat terbuka dengan keluarganya. Ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan Arra dan Andra yang memberikan ruang tersendiri untuk anak-anaknya bercerita.


"Kalau Mami.. aku bahkan nggak tau gimana rasanya jauh dari Mami.." ucap Zero terkekeh pelan.


Zira mengangguk. Ia mengerti bagaimana kakaknya tersebut tumbuh. Tak pernah ada rahasia yang dirahasiakan dalam keluarga ini. Apapun itu selalu diusahakan untuk dibicarakan bersama. Bahkan, saat keduanya masih kecil pun Arra selalu mengajak mereka untuk berbagi pendapat jika ada masalah keluarga.


"Abang menyapa nya?"

__ADS_1


Zero menggeleng pelan. "Dia yang menghampiriku. Seperti biasa, meminta uang" ucap Zero terkekeh pelan.


"Astaga.. mengapa Bunda seperti itu..?"


"Sebenarnya, aku sangat malu berada di keluarga ini. Semakin dewasa, aku semakin berpikir bahwa aku hanyalah anak dari seorang wanita yang selalu bermain pria di luar sana."


Plak.


"Aku akan melaporkan Mami kalau Abang berpikir seperti itu lagi" gerutu Zira dengan wajah kesalnya.


Zero tertawa kecil. Adiknya memang akan selalu marah jika ia mengeluarkan kata-kata yang aneh.


"Mau mengelak bagaimana lagi? Memang gen Bunda ada di tubuh ku."


"Do you love Bunda..?"


"I don't know. I am just grateful that she gave birth to me in this world. I am thankful that Papi is so kind and I am grateful that I met Mami." (Aku tidak tau. Aku hanya bersyukur karena dia melahirkan ku di dunia ini. Aku bersyukur karena Papi sangat baik dan aku bersyukur karena bertemu Mami.)


"Say thank you to Bunda. I am sure, deep down, she must really miss you." (Katakan terima kasih kepada Bunda. Aku yakin, jauh di dalam lubuk hatinya, dia sangat merindukan mu.)


Zero terdiam mendengar ucapan Zira. Ia tidak tau apakah ucapan itu memang benar atau hanya untuk menenangkannya. Ia pikir, Tania tidak akan seperti itu mengingat apa yang dilakukannya sudah sangat buruk sejak dulu. Kapan ia memperhatikan Zero? Makanan kesukaan Zero pun sepertinya ia tidak pernah tau. Bahkan Tania hanya bertemu Zero untuk meminta uang dan pergi setelahnya.


"Kapan-kapan, coba minta izin dengan Mami untuk bertemu Bunda. Berbicara santai aja dan katakan bahwa Abang sangat berterima kasih sudah dilahirkan. Aku akan menemani Abang."


Zira ada benarnya juga, selama ini Zero memang tidak pernah mengucapkan terima kasih kepada Tania.


*****


Kamar Zero


Lelaki itu berbaring menatap langit-langit kamarnya seolah memikirkan ucapan Zira terakhir kali. Apa sudah saatnya bagi Zero untuk mengucapkan ucapan yang tidak pernah ia pikirkan sama sekali sejak dulu?


Zero sedikit ragu, ia takut semuanya tidak sesuai dengan ekspektasi nya. Meminta Tania untuk bertemu bahkan mengirimkan pesan singkat untuk wanita itu, tidak pernah ia lakukan. Bukan karena dirinya dilarang oleh Arra dan Andra, namun karena memang keputusan dari Zero sendiri.


Ia tidak mau memberikan kesempatan untuk Tania memperbaiki diri karena memang wanita itu tidak pernah mau memperbaiki dirinya hingga Zero tidak pernah mau mendekatinya.


"Huh, rasanya sangat berat.." ucap Zero pelan seraya memijat pelipisnya.


Ting.


Ponsel Zero berdering menandakan sebuah notifikasi pesan dari seseorang yang tidak ia kenal.


Unknown Number


Kamar no. 12, Rumah Sakit Permata Hati. Bunda mu sedang sakit.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2