Cewek ABG & Duda Keren

Cewek ABG & Duda Keren
S2 : Pergi


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


"Nak Gibran silahkan duduk" ucap Arra lembut.


Gibran hanya diam namun ia mengikuti langkah Arra yang semakin dekat dengan meja dimana Andra dan Zero sedang berbicara.


"Lama sekali kekasih Zira ini" ucap Zero tertawa.


Andra masih terkejut melihat kedatangan Gibran, namun ia semakin terkejut ketika mendengar Zero yang menyebut Gibran sebagai kekasih anak perempuannya.


"Apa yang terjadi?! Siapa yang memintanya untuk datang kemari?! Dan Zero, apa yang kau katakan?!" Andra sedikit meninggikan suaranya karena seolah sedang dipermainkan disini.


Arra pun segera duduk di sebelah sang suami dan mengelus pelan lengan Andra. "Mas, jangan emosi terlebih dahulu sebelum mendengar penjelasan."


"Ingin menjelaskan apalagi?" tanya Andra menatap Gibran dengan tatapan tajam.


"Hei, duduklah." Zero menepuk pelan sofa yang ada di sebelahnya dan meminta Gibran untuk duduk.


"Aku yang memintanya untuk datang kemari karena masalah ini nggak akan cepat selesai jika nggak dibicarakan bersama seperti ini. Papi boleh mempersiapkan semua pertanyaan yang ingin Papi tanyakan kepada Gibran selagi anaknya ada disini. Tapi sebelum itu, tolong dengarkan apa yang ingin Gibran sampaikan."


Setelah seolah diberikan kesempatan untuk berbicara, Gibran pun mulai menjelaskan tentang semua yang terjadi. Sebelumnya ia benar-benar meminta maaf kepada semua orang terutama kepada Andra dan Arra selalu orang tua kandung Zira karena sadar atau tidak sadar dirinya memang menyakiti anak gadis mereka.


Gibran mulai berbicara dengan menceritakan bagaimana ia bisa menyukai sosok Zira sebelum Gladis memberikannya perintah untuk menghancurkan hidup gadis itu. Baik Andra maupun Arra hanya diam menyimak kalimat apa yang keluar dari mulut Gibran.


Setelah merasa cukup, Gibran menyelesaikan penjelasannya dan ditutupi dengan permintaan maaf lagi.


Tiba-tiba ruang kerja Andra benar-benar sunyi seolah tidak ada satupun orang di dalamnya. Hanya terdengar suara jarum jam dinding dan helaan nafas berat.


"Jika kau sudah kesulitan sejak awal, harusnya kau meminta bantuan kami" ucap Andra membuka suara.


Gibran menggeleng pelan. "Saya tidak mempunyai keberanian untuk membicarakan semuanya, Tuan."


Ah, Gibran kembali bersikap formal dihadapan keluarga Dirgantara.

__ADS_1


"Tapi kau berani mengatakannya sekarang."


"Karena Tuan Zero lah yang memberikan saya keberanian untuk mengutarakan apa yang saya rasakan selama ini. Saya tidak menyangkal bahwa saya memang menyakiti Zira, namun saya benar-benar mencintainya."


"Nak Gibran.." Arra memanggil lelaki tersebut hingga membuat Gibran mengangkat kepala menatapnya.


"Maafkan kami para orang tua yang sudah mengusik kehidupan mu.. maafkan kami jika Nak Gibran harus menjadi korban atas apa yang tidak Nak Gibran lakukan.."


"Tidak, tolong jangan seperti ini. Saya yang bersalah disini, saya yang terlalu lancang untuk menaruh harapan pada Zira." Gibran menggeleng pelan, ia benar-benar merasa tidak enak ketika melihat Arra yang meminta maaf padanya.


Setelah acara bermaaf-maafan, Andra kembali membuka suara. "Jadi, jelaskan apa maksud Zeo menyebut mu sebagai kekasih Zira?"


Gibran berdehem pelan sebelum ia membuka suara menjawab ucapan Andra. "Zira mengetahui semua yang saya ceritakan kepada Tuan Zero melalui salah satu teman akrab saya yang ternyata diam-diam merekam semuanya. Setelah kejadian itu, teman saya berpikir bahwa Zira mungkin harus mengetahui itu dan saya dilabrak Zira di depan umum. Sebenarnya, saya benar-benar tidak mau jika Zira masuk secara sukarela dalam kehidupan saya, namun Zira bersikukuh dan mengatakan bahwa semuanya pasti baik-baik saja jika dilalui bersama. Jadi, saya sangat memohon maaf karena mengajak Zira memulai hubungan."


Gibran menjelaskan tanpa rasa takut. Ia mengatakan semuanya dengan sangat lancar membuat Zero dan Arra tersenyum menatapnya, sedangkan Andra masih diam memikirkan ucapan Gibran.


"Saya disini ingin menjelaskan semuanya sekaligus ingin meminta izin jika Tuan Andra mengizinkan saya dan Zira untuk berpacaran, tapi jika memang saya tidak mendapatkan izin tersebut maka saya tidak akan memaksa dan belajar untuk menjauhi Zira. Saya tidak ingin menyangkal bahwa kehidupan saya benar-benar sangat gelap, tapi saya berani berjanji bahwa saya akan menjaga Zira bagaimanapun situasinya."


Semua orang benar-benar terkejut mendengar ucapan Gibran. Siapa yang menyangka bahwa lelaki yang berstatus sebagai siswa akhir tersebut memiliki pemikiran yang sangat luas.


*****


Gladis mendobrak pintu rumah dimana Gibran tinggal. Wanita paruh baya tersebut berteriak penuh emosi ketika mendengar bahwa Gibran tidak bisa melepaskan Zira. Informasi tersebut diketahuinya dari salah satu informan yang melihat Zira dan Gibran masih bersama sampai sekarang.


"Gibran!" teriak Gladis penuh emosi.


Wanita tersebut berlari kesana kemari melemparkan barang apa saja yang ada dihadapannya untuk sekedar melampiaskan semua kemarahannya saat ini.


Ketika sampai di kamar Gibran, Gladis pun segera membuka pintu kamar tersebut dan hal yang dilihatnya benar-benar semakin membuatnya emosi.


Gibran pergi. Kabur dari Gladis. Lelaki itu membawa semua barang-barangnya tanpa menyisakan apapun yang bisa dipastikan bahwa Gibran memang sengaja untuk pergi meninggalkan Gladis.


"Anak kurang ajar! Aku akan membunuh mu!"


*****


Zira benar-benar terkejut ketika mendapati kekasihnya yang berada di halaman rumahnya dengan membawa sebuah koper besar.


"Kak Gibran?!" teriak Zira dari atas balkon kamarnya.

__ADS_1


Memang, saat itu Zira sedang bersiap untuk tidur karena besok pagi ia harus berangkat ke sekolah. Namun, sebuah pesan singkat dari Gibran membuatnya segera berlari menuju balkon kamar.


Gib👿


By, boleh keluar sebentar? Keluar dari balkon aja.-Gibran


Tak pikir panjang, Zira segera berlari menuruni tangga untuk membuka pintu rumahnya dan menghampiri Gibran.


"Kak?! Apa yang terjadi?! Mengapa Kak Gibran kabur?! Atau Kak Gibran diusir ya?!"


Gibran terkekeh pelan. Ini salah satu alasannya bahagia bersama Zira karena entah kenapa hanya dengan mendengar ocehan gadis itu saja membuatnya senang.


"Kak Gibran Agaskara?! Aku tuh nanya kok nggak dijawab?!" Zira benar-benar emosi karena Gibran malah tertawa dan tidak menjawab pertanyaannya.


"Kok sama pacar sendiri emosi sih, By?" tanya Gibran lembut seraya mengelus pucuk kepala gadisnya.


"Duduk dulu, ayo. Emosinya bisa ditunda dulu, kan?"


Gibran pun menggandeng tangan Zira dan membawanya menuju kursi yang ada di teras rumah keluarga Dirgantara.


"By, kalau aku minta izin peluk, boleh nggak?" tanya Gibran ragu.


Zira terdiam. Tidak biasanya Gibran tiba-tiba meminta izin untuk memeluk kecuali lelaki itu benar-benar lelah. Beberapa bulan pendekatan, Zira sedikit mengetahui bahwa sebenarnya Gibran itu adalah lelaki yang sangat manja.


"Ayo, charger tenaga dulu" ucap Zira tersenyum tipis seraya merentangkan tangannya membuat Gibran tersenyum lalu merengkuh pelan tubuh mungil sang kekasih.


Cukup lama keduanya saling berpelukan tanpa mengucapkan kata apapun. Hanya terdengar helaan nafas panjang milik Gibran yang membuat Zira perlahan mengelus punggung lelaki tersebut.


"Ehem."


*


*


*


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2