
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH yaa😘!!!
Author sayang Readers🥰!!!
Happy Reading!!!
*****
"Ehem...Ehem"
Zero pun berdehem yang membuat Andra gelagapan menjauhkan tangannya dan berdiri membuat Leo tertawa melihat tingkah bos nya itu
Tak lama kemudian, karyawan yang diutus Leo untuk membeli pakaian Zero pun datang lalu Arra membantu Zero untuk mengganti pakaian
"Tuan, pemilik restoran berpesan agar gunakan saja kamar mandi di ruangan ini dan saya sudah membeli semua peralatan mandi" ucap sang karyawan sopan
"Terima kasih banyak"
"Dan ini atmnya, Tuan" ucap karyawan lalu memberikan kembali atm Leo dan pamit pergi
Sedangkan Arra langsung membawa Zero untuk masuk ke dalam kamar mandi agar memandikan bocah itu meninggalkan Andra dan Leo yang sama-sama berdiam diri
"Leo"
"Ada apa, Pak?"
"Aku ingin menemui Gladis, tolong jangan katakan kepada Arra dan Zero" ucap Andra yang hendak pergi namun teriakan Leo menghentikan langkahnya
"ARRA?!"
Bughhh
Saat Leo berteriak memanggil Arra, dengan refleks Andra menendang kaki asistennya dengan cukup keras
"Sebentar, Kak"
Terdengar teriakan dari dalam kamar mandi
"Kau ingin mati, O?" ketus Andra lalu kembali duduk disebelah Leo karena pasti Arra akan keluar
"Ada apa, Kak Leo?" tanya Arra dengan setengah badan yang keluar dari kamar mandi
"Tidak apa-apa Arra, lanjutkan saja"
"Pak Andra ingin pergi menemui Gladis"
Buugghhh
Lagi-lagi Andra menendang kaki Leo dan Arra sempat melihatnya hingga membuat gadis itu keluar dari kamar mandi
"Sayang, gosok gigi dulu ya" ucap Arra kepada Zero lalu berbalik menatap Andra dan Leo yang hanya diam
"Kenapa, Kak?"
"Pak Andra ingin pergi menemui Gladis"
"Gladis? Siapa--oh wanita tadi? Kekasih Pak Andra ya?" tanya Arra lalu menunduk
Entah kenapa saat menyebut bahwa Gladis adalah kekasih Andra membuat hati Arra tiba-tiba merasa sesak hingga dengan refleks ia menundukkan kepalanya
"APA??!! Jangan bercanda, untuk apa aku memiliki kekasih yang kasar sepertinya" ketus Andra dengan raut wajah kesal
"Aku ingin menemuinya agar dia bisa meminta maaf pada kalian"
"Tidak, jangan, Pak" ucap Arra yang tanpa sadar berlari mendekati Andra dan bahkan memegang tangan pria itu
"Eum, maksud saya jangan menemuinya sekarang karena Zero pasti membutuhkan Bapak" ucap Arra lalu melepaskan tangannya dari tangan Andra dan menjauh sedikit membuat Andra tertawa seketika melihatnya
"Kamu cemburu saya menemui perempuan lain?" goda Andra yang membuat wajah Arra memerah seketika
"Mami"
Syukurlah.-Arra
"Mami datang"
Untunglah Zero tiba-tiba berteriak dari kamar mandi hingga membuat Arra tidak menjawab ucapan Andra dan berlari menemui Zero di kamar mandi
Melihat hal itu membuat Andra tanpa sadar tersenyum karena tingkah polos Arra
__ADS_1
"Bapak, masih sehat?"
"Astaga, keluarlah pesan makanan sana" ketus Andra saat masih ingat bahwa ada Leo disebelahnya
"Bapak menyukai Arra?"
"Berhenti bertanya-tanya, O"
"Perjuangkan, Pak"
"Dia masih sekolah. Tunggu lah setelah lulus"
"Jadi Bapak akan serius dengannya?"
"Tergantung sikapnya dengan Zero"
"Pak, memilih pasangan itu jangan hanya dilihat dari sikapnya dengan Zero, lihat juga bagaimana sikapnya dengan Bapak dan keluarga Bapak. Bapak akan mencari Ibu sambung Zero sama saja Bapak menjadi istri yang akan merawat Bapak juga nantinya"
"Astaga, Leo. Bagaimana bisa aku mencari istri sedangkan aku saja tidak memiliki perasaan dengan wanita?"
"Saya tau Bapak menyukai Arra"
"Kau gila, O?"
"Pak, berhenti menyangkal perasaan Bapak. Saya tau Bapak trauma karena pernah gagal membangun rumah tangga namun itu bukan menjadi alasan untuk Bapak tidak bisa menerima wanita untuk merawat Bapak terlebih merawat Zero"
"Akan ku pikirkan setelah hak asuh Zero ada padaku"
"Baiklah saya permisi, Pak" jawab Leo lalu keluar ruangan
Beberapa menit kemudian, Zero dan Arra sudah keluar dari kamar mandi dan mendekati Andra yang sedang fokus menatap ponselnya
"Papi...Papi, Zelo danteng, kan?"
"Waduh anak siapa ini? Ganteng banget nih" goda Andra lalu mengangkat Zero tinggi-tinggi membuat bocah itu sangat senang
"Danteng dong kan Papi Zelo uga danteng" ucap Zero yang membuat Andra gemas hingga menghujaninya dengan ribuan ciuman
"Papi tudah, Zelo capek teltawa" gerutu Zero yang meminta diturunkan
Lalu Andra pun menurunkannya dan bocah itu tentu saja berlari memeluk Arra
"Zero, jangan peluk-peluk Mami" tegur Andra yang membuat Zero menoleh kearahnya
"Lalu Papi peluk siapa?"
"Hahaha...Papi mau peyuk Mami uga ya?"
"Makanya kamu jangan lengket terus sama Mami"
"Kacian, cana peyuk Untel Leo" ucap Zero yang membuat Andra mendengus kesal sedangkan Arra hanya tersenyum mendengar perdebatan Ayah dan anak
"Eum, Arra? Bisa kita berbicara berdua?" tanya Andra salah tingkah
"Da bica, Zelo mau Mami mam Zelo jadi Papi da bica belbicala belcama Mami" ucap Zero yang menghalang Arra dengan merentangkan tangannya
"Astaga anak ini" gerutu Andra kesal membuat Arra tertawa melihatnya
"Bapak ingin berbicara apa?"
"Mami, Zelo da mau Mami bicala belcama Papi" ketus Zero dengan wajah kesalnya
"Kenapa, Sayang?"
"Nanti Papi pasti mau ambil Mami bial bica peyuk-peyuk. Awas kalau Papi peyuk-peyuk Mami" ancam Zero yang membuat Andra dan Arra tertawa seketika
"Nanti kalau Zero tidur, Papi culik Mami ah biar bisa peluk-peluk"
"Papi, da boleh"
"Terserah Papi dong"
"Nanti Zelo minta bolgol cama Untel Leo bial bolgol tangan Zelo dan Mami telus kuncinya Zelo buang bial Papi da bica buka bolgolnya"
"Oh ya? Lalu bagaimana Mami sekolah?" tanya Arra yang membuat Zero berbalik dan menatapnya
"Mami da bica ya cama-cama Zelo telus? Papi kan banyak duit"
"Sayang, Mami harus menyelesaikan sekolah"
__ADS_1
"Campai kapan?"
"Beberapa bulan lagi"
"Ish bebelapa bulan itu lama, Mi"
"Jadi Zero mau apa?"
"Mami tinggal belcama Zelo dan Papi"
Belum sempat Arra menjawab, tiba-tiba pintu terbuka dan masuklah Leo yang mengatakan bahwa pesanan mereka sudah siap
Tentu saja saat mendengar bahwa ada makanan, Zero terlihat sangat antusias bahkan mengajak Leo cepat-cepat pergi ke meja makan tanpa menghiraukan Arra dan Andra yang masih berada di dalam ruangan
"Oh iya selagi Zero tidak ada, Bapak ingin bicara apa tadi?"
"Apa kamu tidak bisa menuruti permintaan Zero?"
"Permintaan yang mana, Pak?"
"Tinggal bersama kami"
"Astaga, Bapak. Itu akan menjadi fitnah nantinya"
"Maksud saya, menjadi Ibu sambung Zero dan menikah dengan saya"
Deg
"Ba-Bapak bercanda, kan?"
"Saya tidak bercanda, Arra"
Lama Arra menatap lekat mata itu dan mencari kebohongan di dalamnya namun sayang dia tidak melihat kebohongan itu.
"Pak, saya masih sekolah"
"Ya, saya tau"
"Bagaimana bisa Bapak menikahi gadis SMU?"
"Tentu saja bisa jika kamu menerimanya"
"Astaga, Bapak. Maksud saya--"
"Hahaha...Saya tau maksud kamu, seperti yang kamu lihat Zero sangat lengket denganmu bahkan selalu memintamu untuk tinggal bersama kami. Hal itulah yang membuat saya berpikir untuk memintamu menjadi Ibu sambung baginya"
"Bapak ingin menikahi saya hanya untuk menjadi Ibu sambung Zero?"
Terdengar perih saat Arra bertanya begitu, dia juga tidak tau perasaan apa yang dialaminya namun mendengar Andra yang ingin menikahinya hanya untuk menjadi Ibu sambung Zero membuat hatinya sangat sakit bahkan saat ini matanya berkaca-kaca menatap Andra
"Arra, ada apa? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Andra dengan raut wajah khawatir
"Jika Bapak mencari wanita untuk dijadikan istri hanya untuk menjadi Ibu sambung Zero dan karena saya sangat menyayangi Zero, maaf Pak saya tidak bisa. Bapak bisa menjadikan saya baby sitter tanpa menikahi saya"
"Arra--"
"Saya tidak bisa menikah dengan Bapak jika hanya itu alasannya karena setelah menikah tanggung jawab saya ada pada suami dan pastinya saya harus menjadi istri yang baik. Namun jika sejak awal Bapak tidak menginginkan istri, untuk apa Bapak mengajak saya menikah? Terlebih saat pernikahan yang tidak ditumbuhi cinta"
"Bukankah cinta bisa hadir setelah pernikahan?"
"Ya, Bapak benar. Cinta bisa hadir setelah pernikahan seperti orang-orang yang dijodohkan, namun kembali lagi dengan alasan Bapak meminta saya menjadi istri, saya benar-benar tidak bisa menerima Bapak karena saya tau Bapak masih ragu bukan untuk membuka hati lagi?"
Pertanyaan Arra membuat Andra diam seketika karena itu benar-benar membuatnya kalah telak
"Saya tau, Pak. Maka dari itu saya mohon, sebelum Bapak mencari istri dan menjadikan seorang wanita sebagai Ibu sambung Zero, tolong pulihkan dahulu hati Bapak dan berdamai lah dengan masa lalu karena jika Bapak masih terjebak dalam masa lalu maka akan sulit nantinya jika Bapak ingin membangun hubungan"
Dia bahkan lebih dewasa dariku.-Andra
"Bisa kah kamu membantu saya untuk memulihkan hati?"
"Saya akan membantu Bapak jika Bapak membutuhkan bantuan saya dan untuk masalah Zero, Bapak jangan khawatir karena saya tulus menyayanginya tanpa menginginkan status, kekayaan, bahkan kekuasaan Bapak"
"Bagaimana jika kita berpacaran saja?"
"Astaga, Bapak sudah tidak waras ya?" gerutu Arra kesal karena Andra masih saja mengajaknya membangun hubungan
"Hahaha...Baiklah saya tidak akan bertanya lagi" ucap Andra disela-sela gelak tawanya.
*
__ADS_1
*
*