
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Hari mulai gelap dan sebuah mobil hitam baru saja terparkir rapi di garasi rumah utama dengan seorang pria yang keluar membawa tas kantornya.
Saat itu, Andra pulang sedikit terlambat dari biasanya karena harus menyelesaikan masalah yang terjadi dan tentu saja menghukum Gladis.
Andra mengerutkan keningnya heran ketika ia baru saja masuk ke dalam rumah utama. Rumah yang seolah-olah sepi dan tidak berpenghuni membuatnya seketika tersadar bahwa istrinya pasti sangat kesal padanya.
Ia berjalan menuju kamar anak sebelum mendengar ocehan sang istri namun ternyata di kamar Zero tidak ada siapapun bahkan ruangan tersebut gelap gulita.
"Mereka dimana?" gumam Andra pelan.
Langkahnya pun semakin mendekat kamar utama yang dimana ternyata ia melihat suasana yang sama dengan kamar anak. Kamar utama benar-benar sepi bahkan lampu kamar pun tidak menyala.
"Ah, dia pasti akan mendiami ku" ucap Andra pelan seraya kembali ke lantai bawah.
Untung saja ia berpapasan dengan Ibu Leli hingga membuatnya langsung bertanya dimana anak dan istrinya.
"Nak Arra sedang berada di halaman belakang bersama Zero, Tuan" ucap Ibu Leli dengan sopan.
Halaman belakang? Hari saja sudah semakin gelap, mengapa mereka malah bersantai di halaman belakang? Bagaimana jika keduanya masuk angin?
"Sudah berapa lama, Bu?"
"Sekitar satu jam yang lalu. Sepertinya ada hubungan dengan berita itu karena tadi saya melihat Nak Arra menonton Tuan Andra di televisi. Saya sudah beberapa kali meminta Nak Arra untuk kembali dan makan malam namun ia menolak."
Benar, kan? Istrinya pasti sangat marah sekarang.
Andra bergegas pamit untuk mencari istri dan anaknya. Tentu saja setelah mencuci tangan karena Arra akan semakin marah jika tau Andra tidak mencuci tangan setelah kembali dari luar.
__ADS_1
Langkah kaki Andra semakin mendekati halaman belakang yang dimana terlihat istrinya sedang bercerita bersama sang anak dengan Zero yang berbaring di pangkuan Arra dan memegang robot ditangannya.
"Sayang" panggil Andra pelan seraya mengelus pucuk kepala Arra.
Arra hanya menoleh seketika lalu kembali fokus bercerita dengan sang anak. "Lalu, akhirnya Mami berteman baik dengan Aunty Novi dan juga Aunty Kelly."
Ah ternyata dia sedang menceritakan bagaimana pertemuannya dengan kedua sahabatnya.
"Mami, apa Onty nna baik cama Mami?" tanya Zero yang juga tidak menghiraukan kehadiran Andra.
Arra mengangguk pelan seraya tersenyum tipis. "Mungkin jika Aunty Novi dan Aunty Kelly nggak mau berteman dengan Mami, Mami nggak akan punya teman."
"Thenapa?"
Andra hanya bisa menghela nafas berat melihat istri dan anaknya yang sedang mendiaminya sekarang.
"Karena Mami belum terbiasa dengan orang baru jadi sedikit susah berinteraksi" jawab Arra seadanya.
"Sayang, Mas pulang loh."
"Mami?"
"Thenapa Papi cangat nakal? Jannan bawa adik dekat-dekat Papi agi."
"Heh." Andra sangat frustasi sekarang.
*****
Kamar Utama
Arra baru saja kembali dari kamar Zero untuk membacakan dongeng sebelum tidur. Ia berjalan mendekati tempat tidur karena ingin segera membaringkan tubuhnya tanpa memperdulikan sang suami yang sedang sibuk mengotak-atik laptop.
"Sayang" panggil Andra untuk kesekian kalinya.
Entah sudah yang ke berapa ucapan-ucapan yang keluar dari mulutnya yang tidak satu pun dijawab oleh Arra.
__ADS_1
Andra tau jika marahnya Arra akan seperti ini. Berusaha diam dan menghindar agar tidak menimbulkan perdebatan untuk keduanya. Padahal Arra tidak tau bahwa tindakannya sangat menyakiti Andra. Pria itu lebih suka jika istrinya mengoceh selama apapun asal jangan mendiaminya seperti ini.
Ketika melihat istrinya yang benar-benar tidak memperdulikannya, Andra beranjak dari tempatnya untuk mendekati sang istri yang bergegas tidur.
Dengan lembut tangan itu bergerak mengelus perut buncit Arra dan naik untuk mengelus wajah cantik istrinya. "Sayang, Mas kan sudah bilang berkali-kali, jangan diam kalau sedang marah, mau berjam-jam pun Arra marah, Mas akan mendengarnya. Jangan seperti ini dan menghindar dari Mas" ucap Andra pelan seraya tersenyum tipis ketika melihat Arra yang berusaha untuk menutup matanya seolah-olah sudah tertidur nyenyak.
Andra tidak menyalahkan Arra yang bersikap seperti ini. Ia akan berusaha sekuat mungkin untuk memahami istrinya terlebih usia mereka terpaut cukup jauh. Selama ini, ia sudah cukup berusaha agar bisa memahami jalan pikiran Arra.
"Mau bercerita sebentar? Atau adik sedang lelah? Kalau begitu, tidur aja. Mas peluk ya?"
Andra naik ke atas tempat tidur dan berbaring disebelah istrinya agar bisa memeluk tubuh mungil sang istri dengan nyaman. Tak lupa juga tangannya mengelus perut Arra dimana disana sedang tertidur nyenyak bayi perempuan mereka.
Tanpa Andra ketahui bahwa wanita itu diam-diam menangis. Arra memang tidak tidur karena hanya ingin menghindar dari Andra, namun ketika melihat perlakuan suaminya, air matanya tiba-tiba keluar tanpa permisi.
Andra sudah berusaha untuk mengajaknya berbicara namun pria itu tidak memaksa Arra untuk mendengarkan penjelasannya. Andra bahkan memeluknya dan menidurkannya karena tau bahwa dirinya lelah dengan perut buncit.
Isak tangis Arra semakin terdengar hingga membuat Andra yang memejamkan mata langsung melotot karena panik. "Sayang?! Hei, kenapa?!"
Andra segera menghapus jejak air mata di wajah istrinya dan berkali-kali mencium pucuk kepalanya membuat tangisan Arra semakin terdengar jelas.
"Sayang?! Ada apa hm?! Ada yang sakit?!"
Arra menggeleng pelan. "Mau peluk.." ucapnya yang mengundang gelak tawa Andra.
Sebenarnya setelah hamil anak pertama, tak jarang Andra melihat istrinya menangis. Entah karena hal serius, hal sepele, atau bahkan tanpa alasan. Walaupun istrinya sering menangis, Andra tetap saja sangat panik saat hal itu kembali terjadi.
Andra ingat dulu saat kandungan Arra masih muda, istrinya meneleponnya dan menangis membuat Andra yang saat itu sedang berada di kantor benar-benar panik. Ia segera pulang ke rumah karena takut istrinya kenapa-kenapa, namun ternyata istrinya menangis hanya karena ada kecoa mati di taman belakang.
Arra menangis karena ia kasihan dengan kecoa tersebut. Ia berpikir bahwa kecoa itu juga mempunyai hak untuk hidup namun dirinya tanpa sengaja menginjak kecoa itu dan membuat serangga tersebut mati.
Kalian tau berapa lama ia menangisi kecoa yang ia injak? Tiga hari. Tiga hari Andra selalu mendengar isak tangis Arra yang mengasihani kecoa mati.
Benar-benar menggemaskan.
*
__ADS_1
*
*