Cewek ABG & Duda Keren

Cewek ABG & Duda Keren
S2 : Trauma Zira


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Brakk


Zira terkejut ketika mendengar pintu ruangan dibuka paksa oleh seseorang.


"Uncle Leo?!" teriak Zira saat melihat sosok yang ada dihadapannya sedang berdiri dan menatapnya tajam.


Zira segera memeluk Leo dengan sangat erat seolah mengatakan bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja. Leo pun membalas pelukan Zira dan mengelus punggung gadis itu dengan sangat lembut.


"Jangan menangis. Uncle akan memberi pelajaran dengan siapapun yang berani mengusik mu."


Zira mengangguk pelan dengan air mata yang sudah mengalir membasahi wajahnya. Dengan perlahan, jari tangan Leo bergerak untuk mengusap jejak air mata Zira.


"Jangan mengeluarkan air mata mu hanya demi lelaki brengsek sepertinya."


*****


Malam itu Zira berpamitan dengan Arra untuk pergi ke pesta ulang tahun teman sekelasnya. Karena Arra cukup mengenal baik teman-teman sekelas anaknya dan Zira juga sudah sering pergi ke pesta teman-temannya, akhirnya malam itu Arra kembali memberikan izin kepada sang anak dengan catatan bahwa Zira harus pergi diantar oleh salah satu supir keluarga Dirgantara.


Sesampainya di tempat pesta, Zira menjadi pusat perhatian semua orang. Banyak yang mengagumi gadis itu karena tubuhnya yang ideal dan wajahnya yang benar-benar cantik. Tak jarang jika banyak lelaki yang ingin memilikinya, namun mereka akan langsung ciut mendengar marga gadis itu. Siapa yang berani mendekati Zira saat Andra dan Zero sudah memasang benteng yang sangat tinggi?


Sebenarnya, sudah banyak upaya yang dilakukan teman-temannya untuk mendekati Zira dengan bertamu ke rumah, meminta izin untuk menonton film bersama, meminta izin untuk berjalan-jalan, meminta izin untuk makan di luar, bahkan meminta izin untuk serius dengan gadis itu. Namun, semuanya ditolak oleh Andra dan Zero.


Zira pun bukan tipe gadis yang mudah jatuh cinta, ia bukan tipe gadis yang akan tergoda ketika melihat pria tampan. Gadis itu hanya gadis biasa yang tidak pernah memikirkan cinta, persis seperti Arra dulu sebelum Andra masuk dan mengusik hidupnya.


"Zira!" teriak salah satu temannya yang membuat Zira segera berjalan kearahnya.


"Hei happy sweet seventeen, baby. You look so beautiful" ucap Zira setelah mencium kedua pipi temannya tersebut.


Zira mungkin dikenal dengan gadis galak dan emosional, namun ia akan bersikap 1000 kali lebih baik ketika ada yang baik padanya. Karena itulah ia mempunyai banyak teman.

__ADS_1


"Zir, Kak Gibran sepertinya masih menyukai mu."


Oke sesi ghibah dimulai.


Zira tersenyum tipis. Ia sudah sering mendengar dari teman-temannya bahwa lelaki yang bernama Gibran itu menyukainya. Namun, Zira tidak tertarik sama sekali.


"Nah loh, embat aja kali, Zir. Penerus tunggal itu" celetuk yang lain.


"Tapi ya apa dia nggak capek? Sepertinya sudah hampir dua tahun aku mendengar dia menyukai Zira."


"Yup, aku sudah pernah mengatakan bahwa dia benar-benar hebat jika bisa menaklukkan putri Dirgantara."


"Hei, jangan seperti itu" ucap Zira terkekeh pelan.


Tak lama kemudian, sosok yang menjadi topik pembicaraan pada gadis pun berjalan mendekati Zira. Ini pertama kalinya mereka melihat Gibran mendekati Zira secara langsung. Biasanya lelaki itu hanya akan tersenyum saat tidak sengaja berpapasan dengan Zira.


"Zira Leorra Dirgantara? Bisakah kita berbicara sebentar?"


Dih, kalau ngomong kan nggak perlu disebut lengkap juga namanya.-Zira.


"Disini aja nggak bisa, Kak?"


"O—okay. Lima menit?"


"Of course."


Mereka pun berjalan sedikit menjauh dari kerumunan Hinga berhenti di ujung tempat pesta.


Zira menatap lelaki itu seolah memintanya untuk segera bertanya karena ia merasa tidak enak jika harus pergi terlalu lama dari teman-temannya.


"Gimana dengan surat-surat dari aku?" Pertanyaan Gibran membuat Zira mengerutkan keningnya heran.


"Maksudnya?"


"Setiap satu bulan sekali di tanggal 13, kamu pasti dapat surat dengan amplop berwarna blue mint dengan nama pengirim A. Itu dari aku."


"Loh?! Itu dari Kak Gibran?! Tapi kenapa nama pengirimnya A bukannya G?"

__ADS_1


Zira memang mengetahui tentang surat yang diceritakan. Awalnya ia sedikit bingung dengan surat yang dikirimkan ke alamat rumahnya setiap satu bulan sekali di tanggal yang sama. Itu bukan tanggal kelahiran Zira atau pun tanggal penting namun entah kenapa akan selalu saja ada kiriman surat untuknya.


Gibran tersenyum tipis. "Agaskara. Gibran Agaskara."


"Eh—astaga maaf, Kak. Aku nggak tau kalau semua surat itu dari Kak Gibran" ucap Zira sedikit menyesal.


Ia benar-benar tidak tau bahwa surat-surat itu dari Gibran. Surat-surat yang akan dikirimkan padanya memang akan selalu ia baca, namun surat dari Gibran sepertinya cukup melekat di memorinya. Surat dengan amplop berwarna biru mint tersebut hanya berisi tentang pengakuan Gibran akan perasaannya dengan singkat dan jelas.


"Karena kamu udah tau kalau surat itu dari aku, jadi gimana dengan jawaban terakhir dari surat itu?"


Zira pun masih mengingat isi surat terakhir pada bulan ini yang baru beberapa hari yang lalu dikirimkan padanya.


Zira Leorra Dirgantara, sepertinya saya benar-benar jatuh cinta dengan anda. Bagaimana dengan perasaan anda? Apakah bersedia menjadi Mrs.A?


"Kak.. kita kan nggak pernah dekat.." ucap Zira pelan.


Gibran mengangguk karena ia sendiri pun tau betul bahwa dirinya dan Zira memang tidak pernah bertegur sapa saat bertemu.


"Kak Gibran mungkin pernah dengar dari orang-orang kalau Papi dan Abang aku menyeramkan.. ada begitu banyak effort dari orang yang pernah mau deketin aku tapi nggak ada satu pun yang berhasil buat sekedar dekat sama aku.. aku juga bukan tipe orang yang bisa jatuh cinta semudah itu.. aku mau kalau sekali aku jatuh cinta, cinta itu akan berlangsung sangat lama.."


Ah, sepertinya Gibran akan mendengar penolakan dari gadis dihadapannya.


"Aku benar-benar menghargai usaha Kak Gibran karena mengirim surat setiap satu bulan itu cukup melelahkan apalagi nggak pernah dibalas sama aku.. aku hargai itu semua, Kak.. tapi untuk menjalin hubungan, aku belum siap.. kalau kata Mami, aku itu masih anak kicik."


Lihat? Bagaimana bisa Gibran tidak jatuh cinta dengan gadis itu? Zira masih bisa bercanda untuk mencairkan suasana agar tidak terlalu canggung. Percayalah bahwa Gibran tidak akan pernah bisa memarahi gadis dihadapannya.


"Kak Gibran.. kalau mau, kapan-kapan boleh coba berhadapan sama Papi dan Abang" ucap Zira sedikit tertawa.


Ia hanya melontarkan candaan agar suasana tidak secanggung itu. Namun, ketika melihat anggukan mantap dari Gibran, Zira sangat menyesal sudah membuka suara.


"Kalau besok gimana?"


Kak.. becanda doang..-Zira.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2