
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Zero tertawa ketika melihat wajah Andre yang sudah sangat pasrah tersebut.
"Aku ingin melanjutkan S2 di luar negeri, Uncle" ucap Zero pelan.
Andre yang masih mendengarnya pun kembali membuka suara. "Melanjutkan dimana?"
"Mungkin London? Aku sudah mempersiapkan berkas untuk beberapa universitas di London."
"Persiapannya sekitar berapa persen?"
"Ku pikir 50%. Hanya menunggu pendaftaran di buka dan berkas fisik juga tempat tinggal disana."
Andre mengangguk pelan. Ia mengerti bagaimana rasanya mempersiapkan semuanya sendiri terlebih ketika ingin merantau ke negeri orang karena ia sendiri pun pernah merasakannya saat melanjutkan S2 di Swiss.
"Sudah dibicarakan dengan Papi, kan?" tanya Andre yang membuat Zero mengangguk pelan.
"Jika aku nggak diterima di kampus itu, sepertinya aku akan pindah negara ke Belanda" ucap Zero terkekeh pelan.
"Wow, semakin jauh ya."
Zero tersenyum tipis. "Ingin mencari suasana baru."
*****
Satu bulan kemudian
Dan, benar saja yang dikatakan oleh Andra saat itu ketika Zero sempat meragukan pilihan pertamanya yaitu kampus di London. Terbukti bahwa lelaki itu berhasil diterima dan berkuliah disana walaupun ia sempat tidak percaya diri.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Andra ketika ia baru saja pulang dari kantor.
Baik Arra dan Zira sudah duduk di sebelah Zero dengan raut wajah yang tidak bisa di tebak. Hari ini memang saat yang ditunggu-tunggu oleh mereka karena hari ini adalah hari pengumuman kelulusan pendaftaran kampus impian Zero.
Zero menggeleng pelan seraya menghela nafas berat membuat Andra sudah bisa menebak bahwa anak lelakinya tersebut gagal.
"Masih bisa dicoba di kampus yang lain, atau kalau mau coba lagi daftar saat gelombang kedua di buka" ucap Andra seraya menepuk pelan pundak sang anak.
Zero kembali menggeleng pelan. "Aku sedih karena sebentar lagi akan meninggalkan keluarga" gumamnya pelan.
"Jangan bersedih hanya kar— Wait.. ini maksudnya bagaimana?"
Pertanyaan Andra mengundang gelak tawa keluarganya sehingga ruang keluarga dipenuhi dengan gelak tawa semuanya.
"Aku lulus, Pi.."
__ADS_1
"Puji Tuhan, nak! Papi sudah berpikir yang aneh karena melihat raut wajah Mami dan Zira."
"Aku sudah bisa menebak kalau Papi akan panik padahal belum tau jawabannya apa" ucap Zira tertawa.
Andra terkekeh pelan seraya menggaruk tengkuknya. "Papi melihat raut wajah kalian yang nggak bisa ditebak jadi Papi mengira hasilnya mengecewakan" ucap Andra dengan jujur.
Arra hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan sang suami karena siapapun tau bahwa Andra memang selalu panik jika berhadapan dengan keluarga kecilnya.
"Ah, mumpung semuanya sudah disini aku juga ingin berbicara" ucap Zira tiba-tiba.
"Mami lihat Zira, sepertinya sosok Papi sudah digantikan" ucap Andra dengan wajah memelasnya.
Zira segera menatap Andra dengan wajah bingung lalu sedetik kemudian
"Aw" lirih Andra ketika Zira memukul pahanya.
"Papi memikirkan apa?! Zira ingin membahas kelanjutan pendidikan setelah lulus!"
Ucapan Zira membuat Andra tertawa seketika. "Ah, Papi kira gadis kecil Papi ingin meminta restu."
"Astaga, Mas! Zira aja masih sekolah dan bisa-bisanya Mas Andra sudah memikirkan hal yang jauh disana" ucap Arra seraya menggeleng pelan seolah tidak mengerti jalan pikiran sang suami.
"Oke kembali ke topik, Zira bingung mau lanjut dimana" keluh sang gadis kecil keluarga Dirgantara tersebut.
Arra menatap sang anak dengan tatapan penuh arti. "Zira merasa tertarik dalam bidang apa?"
Pertanyaan Arra membuat Zira menggeleng pelan. Ia sendiri tidak tau bakat yang dimiliki bahkan ia tidak tau pelajaran apa yang ia sukai selama ini. Ralat, kecuali bahasa asing.
Memang benar, tanpa diberitahukan pun baik Andra maupun Arra sudah mengetahui bahwa kedua anak mereka sangat menyukai bahasa asing.
"Bagaimana dengan seni?"
"Ah benar, Zira akhir-akhir ini sangat menyukai seni" ucap Zira tertawa bahagia karena sudah mengingat ketertarikannya.
"Seni yang bagaimana dulu?" tanya Andra memastikan.
"Um, seni rupa?"
Karena tidak ada tanggapan dari keluarganya, Zira kembali membuka suara.
"Zira sangat suka jika melihat Kak Gibran sedang melukis karya seni yang sangat indah. Kak Gibran pernah bilang bahwa lukisan itu bukan hanya sekedar karya, tapi ada perasaan yang dicurahkan dalam setiap garis."
Sepertinya, kehadiran Gibran membuat hidup Zira semakin terarah. Siapa yang pernah menyangka bahwa gadis malam yang suka balap liar dulunya akhirnya takluk dengan ketua OSIS yang terkenal galak dan dingin?
Tanpa ia ketahui bahwa Gibran menyimpan begitu banyak rahasia yang tidak bisa disentuh oleh siapapun.
"Wow, kehadiran Papi memang sudah digantikan" ucap Andra dengan wajah memelasnya.
"Mas, jangan seperti itu. Bukannya itu lebih baik karena berkat Nak Gibran, gadis kecil kita jadi tau ia tertarik di bidang apa?"
"Mami benar, jadi Papi jangan lebay."
__ADS_1
*****
Bugh
Bugh
Bugh
Pukulan di wajah dan perut sudah berkali-kali dilakukan sehingga lelaki tersebut sudah tidak berdaya bahkan untuk menopang dirinya sendiri.
"Sudah ku katakan untuk segera menjebak gadis itu!"
Teriakan seorang wanita terdengar keras hingga memenuhi ruangan tersebut.
"Apa yang kau lakukan selama ini?! Aku meminta mu untuk mencelakainya!"
Lelaki tersebut dengan perlahan mendudukkan dirinya dan menatap wanita dihadapannya.
"A-aku akan melakukannya.."
"Kapan?! Kapan kau akan melakukannya?! Anak sialan! Tidak tau terima kasih! Aku sudah melahirkan mu dan bertaruh nyawa, tapi melakukan itu saja tidak becus! Apa kau mencintai gadis itu?!"
Lelaki tersebut tanpa ragu mengangguk pelan. Ia pun sendiri tidak tau bahwa perasaannya ternyata merusak rencana awal yang sudah ia lakukan. Mencintai seorang gadis yang dulunya hendak ia sakiti hanya karena membalas dendam dari seorang wanita yang ada di hadapannya tersebut.
"Apa?!"
Bugh
"Aku memintamu untuk menghancurkan gadis itu bukan untuk mencintainya! Aku memberikan mu waktu satu bulan atau aku yang akan menghancurkan sendiri gadis yang kau cintai itu! Ingat pesan ku Gibran Agaskara!"
Deg.
*****
Malam ini, entah kenapa perasaan Zira benar-benar tidak terkontrol. Ia merasa sangat takut dan panik walaupun tidak tau apa penyebabnya. Perlahan tangan Zira mengambil sebuah ponsel dan mulai mengetik sesuatu dalam room chatnya.
Who?
Kak Gibran..? Are you okay..?-Zira.
Aku nggak tau kenapa tapi dari tadi aku takut dan terus mikirin Kak Gibran. Kalau Kak Gibran ada waktu, tolong balas ya walaupun cuman satu emoji. Aku harap semuanya baik-baik aja, Kak.-Zira.
Zira terdiam setelah mengirimkan pesan tersebut kepada Gibran karena ponsel Gibran tidak aktif dan pesan tersebut tidak akan sampai kepada lelaki itu.
Kak Gibran, semoga semuanya baik-baik aja.-Zira.
*
*
*
__ADS_1