Cewek ABG & Duda Keren

Cewek ABG & Duda Keren
Bertemu


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Hari berganti hari, bulan berganti bulan hingga tak terasa sekarang sudah tiga bulan perpisahan secara sepihak yang dilakukan Arra tiga bulan yang lalu. Selama tiga bulan terakhir, Andra selalu berusaha untuk menemui Arra namun ternyata selama itu takdir tak berpihak padanya karena akan selalu ada saja halangan ketika ia hampir menemukan gadisnya terlebih sekarang Arra sudah lulus dari SMU tersebut hingga semakin susah untuk Andra menemukannya.


Namun hari ini, ketika Arra sedang mengurus restoran milik Delon, sepertinya hari inilah jawaban dari semua doa-doa Andra. Secara kebetulan atau memang sudah direncanakan takdir, mereka bertemu.


Tatapan cinta yang masih terlihat, detak jantung yang berdebar kencang masih terasa, bahkan rasa rindu yang selama ini ditahan akhirnya tumpah bersamaan dengan air mata yang tak berhenti keluar membasahi wajah cantiknya.


“Arra?” panggil Andra dengan suara yang bergetar seolah menahan tangis.


Arra hanya diam namun detak jantungnya berdetak semakin cepat ketika tatapan mereka bertemu.


“K-kau kemana saja?”. Sungguh, ini momen yang sangat canggung.


Bagaimana tidak? Mereka benar-benar tidak pernah bertemu atau pun sekedar berkirim pesan selama ini. Tiga bulan bukan waktu yang singkat untuk mereka membiasakan semuanya terutama Andra yang setiap harinya seperti orang gila mencari sang kekasih. Zero? Jangan ditanya lagi, ia menjadi bocah yang pendiam sejak saat itu hingga sering demam dan masuk rumah sakit.


“S-selamat datang, tolong sebutkan pesanan anda” ucap Arra yang berusaha tersenyum dan melayani pelanggannya.


“Arra. Saya ingin Arra.”


Jika saja Arra memiliki cukup keberanian, sepertinya Andra sudah dipeluknya. Namun, sekarang rasa egonya lebih tinggi daripada rasa rindu yang selama ini ia pendam.


“Maaf, kami hanya menyediakan makanan dan minuman.”


“Ra? Sampai kapan?!”


Deg.


Lidah Arra bahkan membeku hingga tidak bisa mengeluarkan kata-kata untuk merespon pertanyaan Andra.

__ADS_1


“Sampai kapan kau menghindar? Sunggu—”


“Maaf, Tuan. Anda menghalangi antrian.”


Karena tau gadisnya memang menghindar darinya, Andra menghela nafas berat lalu berbalik.


“Pesanlah sesuka kalian, saya yang akan membayarnya.”


Tentu saja ucapan itu membuat semua pelanggan yang ada disana terkejut terlebih Arra yang tidak menyadari bahwa Andra akan berbicara begitu.


“Mas?!”


Akhirnya, panggilan itu keluar dari mulut gadisnya membuat Andra segera berbalik dan tersenyum.


“Setelah tiga bulan, akhirnya Mas mendengar panggilan itu.”


Arra yang menyadari bahwa dirinya tanpa sadar mengucapkan panggilan itu lagi langsung refleks menutup mulutnya.


“Ayo berbicara” ucap Andra mengajak Arra namun segera tangannya ditepis pelan.


“Jangan menghindar.”


“Tidak, tolong jangan ganggu saya lagi. Kita sudah selesai sejak hari itu, tidak ada yang dibicarakan lagi.”


“Ra, semuanya hanya salah paham, ka—”


“Saya mohon, Tuan” ucap Arra dengan memberanikan diri menegakkan kepalanya seraya menatap Andra yang juga sedang menatapnya.


Andra menghela nafas berat, ia tau kekasihnya memang keras kepala namun ia tak akan menyerah terlebih ia seolah mendapat lampu hijau dari takdir yang mempertemukan mereka bahkan ditempat sang kekasih bekerja.


“Arra, semuanya belum selesai hanya saja kau menghindar sejak hari itu dan belum memberikan kesempatan untuk Mas menjelaskan semuanya. Kau hanya percaya dengan apa yang kau percayai tanpa memberikan ruang untuk Mas.”


“Jadi? Bukankah percuma jika anda menjelaskannya karena saya akan tetap percaya dengan apa yang ingin saya percayai? Tolonglah, Tuan. Berhenti mengganggu saya.”


“Mas merindukanmu, Zero juga.”

__ADS_1


Deg.


Sungguh, hati Arra langsung sakit apalagi ketika mendengar nama anaknya. Tak bisa ia pungkiri bahwa nama Andra masih terukir jelas dihatinya. Namun, lagi-lagi karena berita itu, menyadarkan Arra bahwa tak seharusnya ia mengejar kebahagiaannya karena kebahagiaannya memang diatas rata-rata, seolah tak selevel dengan dirinya.


“Maaf, saya sedang bekerja.”


“Kau sudah berhenti mencintai Mas?”


Pertanyaan itu, seolah keluar secara sengaja dari mulut Andra membuat Arra mengangguk pelan namun tak berani mengangkat kepalanya.


“Tatap mata, Mas. Dan katakan bahwa kau sudah berhenti”. Hening.


Jangankan untuk menatap matanya, untuk berdiri dihadapannya saja Arra merasa tidak mampu. Tubuhnya seketika bergetar karena panik hingga tanpa sadar ia meremas kuat celemek nya.


“Mas sudah menduga jika itu hanya kebohongan. Kau bahkan menunduk dan nggak berani menatap Mas.”


Setelah bertarung dengan pikirannya, Arra menghela nafas berat lalu mengangkat kepalanya menatap Andra. “Ya, semuanya benar. Saya sudah berhenti mecintai anda bahkan— ah tidak, sejak awal saya memang biasa saja dan tidak mempunyai perasaan yang lebih terhadap anda. Sekali pertemuan, dua kali pertemuan hingga hari ini semuanya benar-benar biasa saja.”


Andra terkekeh pelan. “Kenapa Mas merasa bahwa itu adalah ungkapan cinta?”


Tentu saja hal itu membuat Arra segera menatapnya dengan kesal. “Saya memang tidak mencintai anda, Tuan.”


Karena merasa sesak, Arra segera berlari meninggalkan Andra di restoran. Ia pergi melewati pintu belakang seraya memukul dadanya, meremas kepalanya, dan berdoa dalam hati agar penyakitnya tidak kambuh karena sekarang ia tidak membawa obat itu bersamanya.


Arra hanya bisa menangis dan menangis untuk melepaskan semuanya. Hari ini, lagi ia mengucapkan kata-kata yang membuat Andra bahkan membuatnya sakit. Sungguh, hatinya sangat nyeri ketika ia memberanikan untuk mengucapkan kata itu. Ia tau jika akhirnya akan seperti ini namun ia akan tetap mengeluarkan kata-kata yang akan menyakiti Andra dan dirinya dengan tujuan agar Andra bisa lepas darinya dan berpikir bahwa ia gadis jahat yang sudah berkali-kali mencampakkan Andra.


Pertemuan itu, pertemuan yang sudah direncanakan oleh takdir ternyata tidak sesuai dengan harapan semua orang. Harapan yang berisi bahwa mereka sedang mendoakan agar sepasang kekasih itu kembali bersama seperti dulu lagi seperti sebelum berita itu tersebar. Harapan yang berisi doa-doa yang mendoakan Zero akan bisa kembali bertemu dengan Ibu sambung yang sangat ia sayangi. Namun, semuanya benar-benar kacau. Seolah tak ada harapan lagi untuk mereka melihat kebersamaan sepasang kekasih yang selalu membuat semua orang iri sekaligus senang.


Pertemuan yang selalu ia rindukan, ternyata membuatnya semakin sakit. Ia bahkan tak sempat untuk sekedar bertanya kabar atau mengatakan bahwa ia sangat rindu. Sungguh, itu benar-benar menyakitinya.


Semuanya memang sudah berakhir, sejak hari itu.-Arra.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2