
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
"Mami!" teriak Zero dari lantai bawah yang membuat Arra saat itu sedang beristirahat di kamar utama menjadi terkejut.
Dengan segera, Arra beranjak dari tempat tidurnya untuk keluar kamar menemui sang anak yang beberapa saat lalu izin pamit untuk bermain bersama Andre.
"Kenapa, Sayang?" tanya Arra heran.
Zero berlari kearah Arra lalu segera memeluk kaki Mami nya tersebut. "Untel Andle nakal. Zelo da mau teman Untel."
"Zero curang. Kalah bermain game aja langsung mengadu dengan Mami" ucap Andre setengah mengejek.
"Untel yang culang, Zelo cudah bilang mau ambil mimi cokat dulu tapi Untel main telus" ucap Zero tidak mau kalah.
Arra hanya bisa menggeleng pelan melihat kelakuan keduanya.
Tiba-tiba pintu rumah terbuka membuat ketiganya terkejut.
"Kakek" teriak Zero lalu berlari menghampiri Ketua dan Nyonya Besar.
Andre segera mendekatkan dirinya pada Arra. "Hei, siapa yang mengundang mereka?" bisik Andre pelan.
"Jangan seperti itu."
Arra pun segera mendekat dan mencium tangan kedua mertua nya.
"Dimana Andra?" tanya Ketua kepada Arra.
"Mas Andra sedang berada di ruang kerja bersama Kak Leo, Ayah. Akan ku panggilkan sebentar" ucap Arra dengan sopan.
Ketua menggeleng pelan. "Biarkan saja dia."
"Baiklah."
*****
Sekarang, semua orang sudah berkumpul di rumah Andra yang membuat rumah tersebut sangat ramai seperti sedang mengadakan pesta. Bagaimana tidak? Andra juga mengundang semua anak-anak panti asuhan.
"Apakah ada berita bagus?" tanya Ketua saat semuanya sudah berkumpul.
__ADS_1
Mereka baru saja menyelesaikan makan bersama dan sedang duduk santai di ruang keluarga kecuali para anak-anak panti asuhan yang lainnya, yang sudah berhamburan kesana kemari untuk bermain bersama Zero. Yang tersisa hanya sedikit dari mereka yang cukup besar.
"Baiklah karena semuanya sudah berkumpul, disini saya ingin menyampaikan berita yang sangat penting untuk semuanya. Hari ini saya, istri, dan anak saya baru saja kembali untuk memeriksa keadaan istri saya, dan ternyata istri saya sedang hamil sekarang."
"Apa?! Arra hamil?!"
"Puji Tuhan."
"Astaga, terima kasih Tuhan."
"Selamat, Nak."
"Berapa bulan, Nak?"
Dan banyak sekali tanggapan dari semua orang yang turut bahagia mendengar berita dari Andra. Baik Andra maupun Arra tersenyum ketika melihat semua orang yang ikut bahagia.
"Terima kasih semuanya, Arra saat ini sedang hamil empat minggu" ucap Arra tersenyum tipis.
Ibu Dian dan Ibu Rina pun segera mendekati Arra dan menghimpit tubuhnya. Ibu Rina mengelus perut rata Arra dengan air mata yang sudah menetes membasahi wajahnya.
"Nak, berbahagialah sekarang."
"Benar, kau harus menjaga bayi mu."
Nyonya Besar pun ikut mendekat hingga membuat Ibu Dian bergeser untuk memberi ruang untuknya.
"Apa aku boleh mengelusnya juga?" tanya Nyonya Besar ragu.
Arra tersenyum seraya meletakkan tangan Nyonya Besar pada perut rata nya. "Ibu juga boleh mengelusnya" ucap Arra tersenyum tipis.
Melihat kesopanan Arra, Nyonya Besar sontak mengeluarkan air mata. Entah apa yang ia pikirkan dan rasakan sekarang, namun air mata itu semakin lama semakin deras mengalir membuat Arra sedikit panik.
"Ibu, ada apa?" tanya Arra dengan raut wajah khawatir.
Nyonya Besar menggeleng pelan. "Kau memang anak yang baik. Aku yakin anak yang ada di dalam kandungan mu juga akan menjadi anak yang baik seperti mu. Terima kasih sudah memaafkan kesalahan ku.."
"Ibu, Arra sudah memaafkan semuanya. Jangan memikirkan itu lagi. Bukankah kita semua keluarga?"
Nyonya Besar mengangguk pelan. "Terima kasih, Nak."
*****
"Kak Dion, Zelo mau punya adik tau" ucap Zero kepada Dion saat mereka sedang berkumpul di ruang bermain milik Zero.
"Benarkah? Apa adiknya laki-laki atau perempuan?" tanya Beno, salah satu anak panti asuhan yang juga akrab dengan Zero.
__ADS_1
Zero menggeleng pelan. "Kata Doktel nna, adik belum mau kacih iyat dia cuka tobot atau balbie" ucap Zero.
Ucapan Zero memang benar karena saat mereka memeriksa kehamilan Arra saat itu, Zero sempat bertanya kepada Dokter Maureen tentang jenis kelamin sang adik. Namun, karena memang kehamilan Arra masih sangat muda, maka dari itu belum terlihat jenis kelamin bayi tersebut.
"Zero ingin adik seperti apa?"
"Telcelah caja dia cuka tobot atau balbie, yang penting dia cepelti manucia."
*****
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tak terasa sekarang perut Arra sudah terlihat membesar dengan kandungan yang berusia empat bulan.
Selama bulan-bulan kehamilan muda, mood Arra sangat sering berubah-ubah, ia sering menangis, mendiami suami, bahkan sering diam.
Untung saja di rumah selalu ada Zero yang bisa mencairkan suasana dan mengembalikan mood Arra hingga ketika Andra berhalangan karena harus pergi ke kantor, Zero akan menemani Mami nya.
Seperti hari ini, Arra kembali lagi terlihat seperti anak kecil yang menangis karena ditinggal ke kantor oleh sang suami.
"Mami, Papi kan kelja cali duit buat Mami beli baju nna adik" ucap Zero ketika melihat Arra yang menangis sesenggukan.
"Papi nggak sayang sama Mami lagi" ucap Arra disela-sela isak tangisnya.
"No! Papi kan cayang Mami telus, Zelo uga cayang Mami. Ish, adik jannan nakal ya, kacian Mami" ucap Zero seraya menatap perut besar Arra seolah-olah sedang berbicara dengan adiknya.
Setiap Arra selesai menangis karena hal sepele, ia selalu meminta maaf karena hal itu sangat merepotkan Andra dan Zero. Ia sendiri tidak mengerti dengan dirinya, kenapa ia menjadi orang yang gampang menangis. Ia tidak bisa memendamnya sendiri hingga akhirnya akan sering menangis sendiri.
Andra, sebagai suami pun mengerti bahwa hormon kehamilan itu tidak sama setiap ibu hamil termasuk Arra yang menjadi gampang menangis. Andra juga tidak mempermasalahkan itu karena ia sendiri merasa tidak direpotkan oleh sang istri.
Untuk Zero pun, ia sudah diberikan pengertian kepada Andra bahwa jika Arra menangis, pasti sang adik sedang rewel dan menyusahkan Mami nya. Maka dari itu, Zero akan membantu menenangkan Arra agar tidak menangis lagi.
"Maafkan Mami ya.." ucap Arra pelan.
Zero mengangguk seraya menggenggam tangan Arra dengan erat. "Mami, kata Papi itu wajal caja kalena ada adik di pelut Mami. Tapi, Zelo boleh minta cecuatu da? Mami jannan cedih-cedih lagi ya.. nanti ail mata nna bis" ucap Zero dengan gemasnya yang membuat Arra terkekeh pelan.
"Terima kasih, Sayang. Maaf ya Mami selalu merepotkan Zero."
Zero segera memeluk tubuh Mami nya yang sangat ia sayangi. Ketika merasakan pelukan Zero yang hangat, lagi-lagi Arra mengeluarkan air mata hingga menangis terisak karena sangat bersyukur diberikan suami dan anak yang benar-benar mengerti dirinya.
Terima kasih Tuhan.-Arra.
*
*
*
__ADS_1