Cewek ABG & Duda Keren

Cewek ABG & Duda Keren
S2 : Tamparan


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Hari-hari kembali berjalan dengan semakin membaik dimana hubungan Gibran dan Zira yang semakin dekat, pun kedekatan Gibran dengan keluarga Dirgantara.


Saat ini, hanya menunggu sekitar empat sampai lima bulan saja dan Gibran akan lulus dari sekolahnya. Gibran sendiri masih tetap tinggal di sebuah kost yang tidak terlalu besar, dan untunglah bahwa Gladis masih belum menemukan tempat persembunyiannya walaupun beberapa hari ini wanita paruh baya itu selalu mengganggunya saat ia pulang sekolah.


Flashback on


Gibran baru saja berjalan kaki dan keluar dari halaman sekolahnya ketika ada sebuah mobil merah yang sangat ia kenal berhenti tepat didepannya.


Gladis keluar dengan gayanya yang selalu anggun dan elegan.


Plak


Pukulan pertama mendarat tepat di wajah Gibran membuat lelaki tersebut tidak sempat menghindar karena semuanya sangat tiba-tiba.


"Aku tidak pernah mengajarkan mu menjadi kurang ajar seperti ini!" teriak Gladis penuh emosi.


Gibran hanya diam namun kalo ini ia tidak menunduk melainkan menatap Gladis dengan tatapan penuh arti.


"Apa karena kau dekat dengan keluarga Dirgantara, kau berubah menjadi kurang ajar seperti ini?! Sebelumnya, kau selalu menuruti perintah ku!"


Mendengar ucapan Gladis, Gibran terkekeh pelan. "Justru karena aku mengenal keluarga Dirgantara lah, aku merasa seperti manusia."


"Anak kurang ajar!"


Plak


Tamparan itu bukannya mendarat kembali ke wajah Gibran, namun tamparan itu mendarat ke wajah cantik Zira.


"Zira!"


Sebenarnya, Zira sudah pulang sejak beberapa menit yang lalu. Namun, ia baru menyadari bahwa tugas sekolahnya tertinggal di loker kelas sehingga ia segera kembali ke sekolah untuk mengambil tugas sekolahnya tersebut.

__ADS_1


Saat baru keluar gerbang, Zira melihat Gibran yang sedang bersitegang dengan seorang wanita paruh baya yang ia tebak bahwa itu adalah Gladis. Perlahan, Zira memberanikan diri untuk mendekat karena ia menyadari bahwa situasinya semakin lama semakin tidak terkendali. Hingga tiba-tiba tangan Gladis melayang dan untunglah Zira sempat mendorong Gibran agar menjauh sehingga pukulan itu mendarat di wajahnya, bukan wajah Gibran.


Bukan hanya Gibran saja, Gladis pun sama terkejutnya ketika melihat Zira yang sudah berdiri dihadapannya.


"Apa yang kau lakukan anak kurang ajar?!" Gladis benar-benar tidak bisa mengendalikan raut wajah terkejutnya.


"Tolong, jangan menyakiti Kak Gibran lagi.." ucap Zira seraya menatap Gladis dengan tatapan rapuhnya.


Untuk pertama kalinya, Gladis melihat ada orang yang membela Gibran. Hal itu membuat perutnya sedikit tergelitik.


"Kau bodoh? Kenapa mau menyerahkan diri ke dalam lubang singa?" tanya Gladis seraya menatap Zira dengan tatapan remeh.


Zira kembali mendongak agar bisa menatap langsung wanita dihadapannya itu. "Yang anda lakukan itu salah besar, Nyonya! Kak Gibran tidak ada hubungannya dengan semua balas dendam yang anda rencanakan, bahkan Kak Gibran tidak mengetahui apa yang terjadi pada masa lalu anda dan Papi saya. Jika memang niat anda mengganggu Kak Gibran seperti ini hanya untuk membuat saya menderita, silahkan berhadapan langsung dengan saya dan tidak perlu menyangkut Kak Gibran seperti ini apalagi menyakitinya."


Gladis tertawa, menurutnya momen seperti ini benar-benar sangat langka. "Lalu, apa yang harus ku lakukan pada gadis kecil ini?" tanya Gladis seraya berjalan mendekati Zira dan mengelus pelan wajah cantiknya.


Gibran yang melihatnya pun tidak ingin tinggal diam. Segera ia tarik Zira agar berdiri dibelakangnya. "Jika Ibu berani menyakiti Zira, aku tidak akan tinggal diam."


"Oh, jadi kau semakin kurang ajar dengan mengancam Ibu kandung mu sendiri hanya untuk membela gadis yang orang tuanya pernah menyakiti hati Ibu mu?"


Gibran menggeleng pelan. "Aku tidak akan kurang ajar jika aku tidak mempelajari apa yang selama ini aku dapatkan."


Aku tidak akan kalah lagi sekarang.-Gladis.


Flashback off.


*****


Ting.


Ponsel Gibran berdering menandakan sebuah notifikasi pesan masuk ketika ia baru saja pulang ke kost.


Love


Kak Gibran ada kegiatan besok sore?-Zira.


Gibran segera meletakkan belanjaannya lalu membalas pesan sang kekasih.


Mau berkencan?-Gibran.

__ADS_1


Mungkin dengan menikmati matahari terbenam bersama?-Zira.


Oke, love. Jam berapa dan dimana?-Gibran.


Aku yang akan menjemput Kak Gibran.-Zira.


Hei, jangan lakukan itu.-Gibran.


By, maaf jika keadaan ku sekarang membuat hubungan kita menjadi semakin susah. Aku nggak bisa lagi mengantar-jemput bahkan parahnya aku nggak bisa mengajak kencan yang indah.-Gibran.


Kak Gibran diam! Apa salahnya jika perempuan yang menjemput? Jangan pedulikan apa kata orang lain!-Zira.


Gibran tersenyum tipis membaca pesan sang kekasih. Memang, beberapa kali ia selalu meminta maaf karena dirinya sudah tidak bisa selalu mengantar-jemput kemanapun Zira ingin pergi karena terkendala dengan transportasi pribadi yang ia tak punya. Namun, respon Zira memang selalu membuatnya tenang karena walaupun Zira anak orang kaya, ia tak pernah memandang rendah Gibran bahkan tak jarang sesekali Zira akan menjemputnya jika mereka ingin pergi berkencan.


*****


Saat ini Leo sedang pergi ke luar kota karena akan bertemu dengan salah satu klien yang ingin bekerja sama dengan Dirgantara Group.


"Nona Felisha?" tanya Leo memastikan ketika ia sudah sampai di meja yang sudah mereka janjikan.


Seorang wanita yang mungkin umurnya sama dengan Leo pun mengangguk seraya berdiri untuk menyambut kedatangan Leo.


"Maaf menunggu lama, ternyata jalanan sedang macet parah" ucap Leo membuka suara.


Wanita tersebut terkekeh pelan. "Benar, kota ini semakin lama semakin macet saja."


Leo membuka berkas yang ia bawa. "Apakah bisa kita langsung menuju pada topik utama yang akan dibahas?" tanya Leo yang membuat Nona Felisha tersenyum kecut.


Bertahun-tahun tak ada yang bisa menaklukkan hati dingin Leo. Lelaki itu seolah sudah membangun benteng yang sangat tinggi sebelum ada orang yang berani mengetuk pintu hatinya. Tak jarang, beberapa klien wanita yang bertemu dengan Leo pun sudah mengetahui hal itu terlebih dahulu.


Sebenarnya, pesona Leo ini tak kalah dari Andra dan Zero. Lelaki tampan dengan postur tubuh yang sangat ideal namun minusnya hanya di wajah yang tak pernah terlihat senyum itu. Leo benar-benar dingin dimanapun ia berada dan sepertinya lelaki ini juga akan irit bicara jika tidak ada hal yang perlu dibicarakan.


Beberapa tahun terakhir, usaha Andra untuk mencari kekasih untuk asisten sekaligus sahabatnya itu tidak pernah membuahkan hasil. Entah karena Leo tidak tertarik atau memang sudah ada seseorang yang mengisi hatinya terlebih dahulu.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2