
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Beberapa saat kemudian, Arra merasakan bahwa mobil yang membawanya tiba-tiba berhenti hingga ia kembali merasakan dirinya dibawa paksa oleh seseorang keluar dari mobil hingga membuatnya hanya pasrah dan tidak bisa menolak apalagi memberontak karena ia tak bisa melakukan apa-apa dengan tangan dan kaki yang diikat.
Sungguh, Arra masih tidak habis pikir apa yang mereka dapatkan dari menculik dirinya? Uang? Arra bahkan berjuang keras untuk mendapatkannya. Sesaat, terlintas nama Ibu kandung Zero yang membuatnya berpikir apakah mungkin Ibu kandung Zero menculiknya karena mendapat kabar tentang hubungannya dengan Andra. Atau, bagaimana dengan Gladis yang dijodohkan dengan Andra? Mungkin saja ia meminta orang lain untuk menculik Arra karena ingin menyingkirkan semua wanita yang berhubungan dengan Andra.
Tapi.. ia mendengar jelas bahwa seseorang memanggil Pak. Ah, mungkin saja itu orang suruhan atau bisa dibilang tangan kedua dalang dari semuanya.
Saat sedang berpikir keras, Arra merasakan bahwa kain yang menutupi mulut dan matanya dibuka hingga membuatnya sempat tercengang melihat pemandangan di hadapannya.
Apa ini? Aku kira aku akan dibawa ke gudang kosong atau rumah kosong, tapi ternyata? Ini bahkan memenuhi syarat untuk disebut istana.-Arra.
Ia benar-benar tidak tau bagaimana bisa penculiknya membawanya ke rumah yang sangat besar dan mewah seperti ini. Rumah dengan desain klasik dan modern bertingkat dua membuatnya benar-benar mematung. Sesaat kemudian ia sadar bahwa dirinya sedang berada di ruang keluarga.
Hingga seorang pengawal menariknya menuju lantai dua dan membawanya ke sebuah kamar besar dengan segala fasilitas yang lengkap. “Tunggu disini.”
Lagi-lagi Arra benar-benar mematung dan tercengang melihat kamar yang sangat luas dengan berbagai macam fasilitas yang sangat lengkap bahkan sempat terpikir olehnya bahwa kamar ini hampir serupa dengan kamar Andra.
Arra berjalan menyusuri setiap sudut kamar untuk mencari tau siapa yang menculiknya namun nihil, tak ada satu pun petunjuk yang mengarah ke penculik tersebut hingga tatapannya tertuju pada rak buku yang ada di sudut ruangan.
Ia menatap buku-buku yang ada yang membuatnya tiba-tiba memikirkan Zero. Ah, Zero suka membaca buku dan setiap malam harus dibacakan buku dongeng agar ia tertidur.
Arra rindu anaknya.
*****
__ADS_1
Malam hari pun tiba, namun tak ada tanda-tanda dari penculik untuk mendatanginya bahkan ia masih heran kenapa ia dijamu seperti tamu yang spesial. Lihatlah sekarang, berbagai macam makanan sudah ada dihadapannya memenuhi trolley yang dibawa oleh seseorang.
Apa harus diberikan makanan enak dulu baru aku dibunuh?-Arra.
Tiba-tiba pikiran itu muncul membuat Arra bergidik ngeri menatap makanan enak dihadapannya. Namun, perutnya tak bisa diajak kerja sama hingga akhirnya ia pun menyantap makan malamnya.
*****
Andra baru saja menyelesaikan semua pekerjaannya hingga beberapa hari ke depan yang membuatnya baru sadar ketika menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul 01.47 WIB, ternyata sudah tengah malam.
Dengan segera, ia membereskan meja kerjanya lalu mengambil jas dan pergi meninggalkan ruangan Presdir dengan Leo yang ternyata sudah menunggunya di luar ruangan.
“Aku akan pulang sendiri” ucap Andra seraya mengambil kunci mobil yang ada di saku jas Leo membuat sang asisten hanya menatapnya heran.
Apa yang direncanakannya?-Leo.
Leo akan mencari tau apa yang direncanakan Andra hingga membuatnya seharian ini mengurus pekerjaan sampai larut malam karena asistennya sungguh penasaran.
Setelah melemparkan kunci mobil, Andra pun dengan segera berlari masuk ke dalam rumah.
“Apa dia sudah tidur?” tanya Andra pada salah satu pelayan yang ada disana.
Pelayan tersebut menjawab dengan sopan. “Sudah, Tuan.”
Andra pun segera berlari menuju lantai dua dan membuka pintu kamar. Terlihatlah Arra yang sedang tertidur dengan nyenyak membuat Andra tersenyum tipis lalu berjalan mendekatinya.
“Selamat tidur, Sayang” ucap Andra tersenyum tipis seraya mengelus pucuk kepala Arra dengan penuh kasih sayang.
Ternyata, penculiknya adalah Andra.
*****
__ADS_1
Pagi hari pun tiba dimana Arra terbangun dari tidur nyenyaknya ketika sinar matahari masuk melewati jendela hingga membuatnya terbangun.
“Astaga, bagaimana aku bisa tidur nyenyak sementara aku nggak tau sekarang sedang ada dimana?” ucap Arra pada dirinya sendiri.
Saat sedang mengutuki dirinya, pintu kamar terbuka yang membuat Arra sangat terkejut. Ternyata masuklah seorang pelayan yang mengatakan agar Arra secepatnya bersiap-siap karena akan sarapan pagi bersama.
Arra masih berpikir keras ada apa dengan penculiknya yang meminta para pelayan untuk melayaninya dengan sangat baik sejak ia diculik kemarin.
“Apa setelah sarapan pagi, aku akan dibunuh?” gumamnya bergidik ngeri.
Beberapa menit kemudian, Arra yang sudah siap pun ternyata sudah ditunggu oleh pelayan yang akan membawanya menuju meja makan. Dengan segala rasa khawatirnya, Arra pun keluar dari kamar dan turun menuju lantai bawah untuk sarapan bersama.
Di perjalanan, Arra hanya menunduk takut karena ia tidak tau dirinya sedang berada dimana. Namun, saat sudah sampai di meja makan Arra benar-benar terkejut melihat siapa yang sudah menunggunya disana.
“Loh?! Mas Andra?!” ucap Arra terkejut sedangkan Andra hanya tersenyum tipis seolah tidak terjadi apa-apa membuat Arra benar-benar kesal.
“Apa semua ini?! Kenapa Mas harus menculik Arra?!” gerutu Arra yang memberanikan diri untuk mendatangi Andra dan menatapnya tajam.
Andra terkekeh pelan lalu mengelus pucuk kepala Arra dengan lembut. “Sarapan dulu, Sayang.”
“Nggak, jelaskan dulu ada apa dan kenapa harus dengan cara menculik? Jika ingin berbicara kenapa nggak bertemu saja?” tanya Arra yang masih menatap Andra dengan kesalnya sedangkan Andra hanya terkekeh melihat wajah kesal sang kekasih.
“Ya mau bagaimana lagi? Arra kan nggak mau bicara dengan Mas jadi Mas harus pakai cara yang jahat”
“Apa akhir-akhir ini para duda memang aneh? Bagaimana bisa ingin berbicara dengan orang harus diculik paksa?”
“Astaga, Sayang.”
*
*
__ADS_1
*