
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Arra menatap sang suami dengan kesal. Ia benar-benar marah karena Andra menghabiskan uang seperti itu. Sedangkan Andra hanya diam mendengarkan semua ocehan dan omelan istrinya karena memang dia sangat menyukai itu.
Flashback on
Sore itu Andra sedang duduk di meja kerjanya seolah berpikir keras ingin membelikan apa untuk hadiah ulang tahun sang anak. Leo yang melihat majikannya sedang berpikir pun membuka suara.
"Apa ada yang mengganggu pikiran Pak Andra?" tanya Leo seraya tangannya sibuk memilah berkas.
Andra mengangguk pelan. "Aku tidak tau harus membelikan hadiah apa untuk ulang tahun Zero."
"Kenapa tidak belikan mainan saja?"
Pertanyaan Leo membuat Andra menggeleng. "Mainan Zero sudah sangat banyak."
"Buku?". Hampir memenuhi satu ruangan.
"Perlengkapan sekolah?". Ah, Zero juga sudah punya itu.
"Sepeda?". Bahkan sudah terparkir rapi di garasi mobil yang luas.
Luas?! Garasi mobil?! Sebentar! Andra tau harus membeli apa.
Muncul senyum kemenangan yang terlukis dalam wajah Andra membuat Leo menatapnya aneh.
"Sudah mendapat jawabannya?" tanya Leo yang membuat Andra mengangguk.
"Empat mobil untuk ulang tahun yang keempat."
"****! Zero bahkan tidak bisa mengemudikan mobil."
Zero tersenyum. "Hanya ingin mengisi garasi yang kosong."
"Jangan mengibarkan bendera perang pada Arra" ucap Leo memperingati.
Andra hanya tersenyum tipis menanggapi.
Flashback off.
"Mas tau nggak harga satu mobil itu berapa?! Ini empat mobil?! Empat, Mas! Zero aja belum bisa mengemudi, kenapa Mas tiba-tiba kepikiran mau beli mobil sih?! Ya Tuhan, Arra nggak habis pikir, ini orang kaya apa udah habis idenya mau ngabisin duit atau gimana sih?!"
Arra menatap Andra seolah hendak menerkam pria itu sedangkan yang ditatap hanya senyum-senyum sendiri karena benar-benar gemas melihat Arra yang marah-marah.
Plak
"Arra sedang marah ngapain senyum-senyum?!"
__ADS_1
Andra terkekeh pelan. "Cantik."
"Nggak mempan! Mas, ini Arra masih marah loh. Mas Andra tidur sendiri aja, Arra malas dekat-dekat Mas."
Tentu saja ucapan Arra membuat pria tua itu panik setengah mati. "Mami, no!" Andra segera menahan tangan Arra yang hendak pergi.
"Mami! Kan mau nyusu, masa ditinggal?!"
Plak
"Mas, diem nggak?! Astaga, adik ayo tutup telinga jangan dengerin kata Papi" ucap Arra seraya mengelus perut buncitnya.
Andra terkekeh pelan. "Ya? Ya? Ya? Tidur bareng Mas ya..?"
"Nggak."
"Sayanggggggg, Mas teriak nih."
Arra harus bisa menahan tawa melihat wajah panik Andra. "Teriak aja, nggak mempan."
"Mami..? Ya? Ya? Sleep with me, please.."
Akhirnya, Andra menggunakan satu-satunya cara yang pasti akan membuat Arra mengiyakan ucapannya.
"Mas?! Ih curang banget. Kok gemesin?!"
Benar, kan? Arra tidak pernah bisa tahan untuk tidak menghiraukan Andra jika pria itu sudah berubah menjadi bayi besar.
"Mami please, sleep with me.. I can't sleep without Mami.." ucap Andra dengan wajah yang benar-benar membuat Arra ingin memakannya sekarang.
"Ish pacalan aja" ucap Zero yang melewati keduanya membuat Andra dan Arra tertawa seketika.
*****
Hari ini Andra sudah berjanji akan mengantarkan Arra periksa kandungan namun sudah hampir satu jam berlalu, Andra belum juga sampai dari kantornya membuat Arra benar-benar kesal dengannya.
"Mas dimana sih? Kok ponselnya juga nggak aktif" gumam Arra seraya menelepon Andra berkali-kali namun ponsel pria itu diluar jangkauan.
Akhirnya, Arra memutuskan untuk pergi ke dokter kandungan hanya berdua dengan Zero dan akan diantar oleh supir mereka.
Tak butuh waktu lama, Arra pun sampai di rumah sakit dan segera berjalan menuju ruangan Dokter Maureen. Di sepanjang jalan, ada begitu banyak wanita hamil yang juga sama sepertinya namun bedanya mereka pergi memeriksa kandungan bersama sang suami.
Arra menatap sekelilingnya dengan tatapan sendu terlebih saat melihat para suami yang selalu mengelus perut buncit istri mereka membuat Arra tanpa sadar mengekus pelan perutnya.
"Mami thenapa?" tanya Zero mendongak.
Arra tersenyum tipis. "Mami nggak kenapa-kenapa, Sayang. Ayo."
Mereka pun segera menuju ke ruangan Dokter Maureen.
"Selamat pagi Nyonya Andra" ucap Dokter Maureen dengan sopan.
Arra tersenyum tipis. "Selamat pagi, Dok."
__ADS_1
"Berdua saja, Nyonya?" tanya Dokter Maureen yang membuat Arra mengangguk.
"Baiklah, mari kita periksa adik sekarang."
Mendengar ucapan Dokter Maureen, Zero pun mengangguk bersemangat. "Doktel, nanti iyat ya adik cuka tobot atau balbie kalena Zelo da bica beli baju adik kalau da tau itu."
Dokter Maureen tersenyum mendengar ucapan Zero yang benar-benar pintar. "Baiklah, kita akan lihat apakah adik bersembunyi atau tidak."
Tak butuh waktu lama, Dokter Maureen pun mempersiapkan semuanya tentu dengan bantuan kedua perawat yang siap membantu Arra untuk memeriksa kandungan.
"Wah, si adik tidak bersembunyi karena mau bertemu Zero" ucap Dokter Maureen yang membuat Zero loncat-loncat kegirangan.
"Yeyeye adik da nakal agi. Adik nna cuka apa?" tanya Zero tidak sabaran.
"Selamat, Nyonya. Seperti yang terlihat di monitor bahwa bayinya berjenis kelamin perempuan."
"Adik cuka balbie?!" tanya Zero heboh sedangkan Arra hanya tertawa melihat anaknya.
Dokter Maureen mengangguk seolah menjawab ucapan Zero. "Apa Zero suka adik suka barbie?"
"Hu'um Zelo cuka cemua nna, yang penting adik nna cehat dan manucia."
"Astaga."
*****
Arra berjalan beriringan bersama sang anak dengan wajah berbinar-binar karena mereka ingin memberikan kejutan kepada Andra dengan pergi ke kantornya tanpa pemberitahuan.
"Mami, apa nanti kita bica beli baju dan mainan adik?" tanya Zero sepanjang jalan yang membuat Arra terkekeh pelan.
"Tentu, kita akan membeli keperluan adik setelah ini. Zero suka adik perempuan?"
Zero mengangguk mantap. "Nanti kalau ada olang yang cakiti adik, Zelo akan malah."
"Oh ya? Marah seperti apa?"
"Membuat olang nna bonyok."
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di kantor Andra. Namun, Zero tiba-tiba meminta ice cream yang membuat mereka harus menyeberang jalan menuju ke restoran di seberang sana. Restoran tempat Arra bekerja dulunya.
"Mami, maaf ya" ucap Zero yang merasa tidak enak karena membuat Arra yang hamil besar harus menemaninya menyeberang jalan.
Arra tersenyum tipis. "Adik kan mau menemani Zero."
Saat hendak masuk ke dalam restoran, Arra melihat jelas bahwa punggung Andra sedang membelakanginya. Andra sedang berdiri dengan seorang wanita dihadapannya. Wanita itu adalah Gladis.
Deg.
Saat tatapan Arra dan Gladis bertemu. Dengan segera, Gladis mencium Andra.
*
*
__ADS_1
*