
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
"A—aku mencintai Zira, Kak.."
Zero benar-benar kehilangan keseimbangan ketika mendengar lirihan kecil Gibran yang sangat terdengar jelas di telinganya.
"A—apa?!"
Gibran perlahan memberanikan diri untuk menatap mata Zero. "Aku sungguh mencintai Zira.."
Flashback on
Saat itu Gibran baru saja menyelesaikan les dan sedang berjalan menyusuri jalanan yang basah akibat hujan beberapa jam yang lalu.
Ketika kakinya melangkah mendekati minimarket, tatapan Gibran tertuju pada gadis kecil yang sedang memberi makan seekor kucing jalanan yang sepertinya sedang sakit.
Entah kenapa, Gibran pun seolah tersihir untuk terus memperhatikan gadis itu. Dari tempatnya berdiri, Gibran bisa mendengar suara gadis itu ketika ia sedang mengajak kucing jalanan mengobrol. Ada senyum tipis yang muncul di wajah Gibran, terlebih karena menurutnya gadis itu sangat unik karena mengajak hewan yang tak bisa berbicara untuk mengobrol.
Hanya karena pertemuan itulah, sosok gadis itu selalu muncul di pikiran Gibran hingga tanpa sadar ia diam-diam menyukai sosok itu. Ya, dia adalah Zira Leorra Dirgantara.
Sejak pertemuan itu, tanpa sadar setiap harinya Gibran selalu memberikan makan kucing jalanan dengan harapan agar bisa bertemu kembali dengan gadis yang berhasil mengetuk pintu hatinya.
Satu tahun telah berlalu dan ia pun tidak pernah lagi bertemu dengan sosok Zira, hingga ketika penerimaan siswa baru di sekolahnya, tanpa sadar Gibran kembali menemukan gadis pujaan hatinya.
Ikat rambut kelinci berwana peach dan gelang hitam menjadi pertanda bahwa gadis itu benar-benar gadis si pemberi makan kucing jalanan yang dicari oleh Gibran selama ini.
Gibran benar-benar senang ketika mengetahui bahwa gadis itu masuk di sekolah yang sama dengannya sehingga ia tak perlu susah-susah lagi mencari Zira.
Sudah cukup lama bagi Gibran untuk selalu memperhatikan gadis itu bahkan mungkin ia sudah menghafal banyaknya kebiasaan Zira saat berada di sekolah. Ya benar, Gibran hanya bisa memandangi dari jauh dan tidak berniat untuk mendekatinya karena memang saat pertama kali masuk sekolah saja Zira sudah dikelilingi oleh begitu banyaknya lelaki yang juga menyukai sosok ini. Melihat hal itu, Gibran pun hanya bisa memendam perasaannya karena tau bahwa dirinya tak lebih hebat dari banyaknya lelaki yang mendekati Zira.
Saat itu, Gibran baru saja pulang dari sekolah dan terlihatlah mobil merah milik Gladis terparkir rapi di halaman rumahnya.
"Ada apa lagi?" gumam Gibran pelan karena ia tau bahwa Gladis tak akan mau menemuinya jika tidak ada urusan penting.
__ADS_1
Klek
Pintu rumah terbuka dan Gibran melihat Gladis, Ibu kandungnya sedang duduk di ruang tamu seperti sedang menunggu kedatangannya.
"Duduk."
Mendengar hal itu, Gibran pun segera mendudukkan dirinya di hadapan wanita paruh baya tersebut.
Setelah melihat anaknya yang duduk manis dihadapannya, Gladis pun membuka sebuah amplop berwarna cokelat dan memperlihatkan beberapa foto.
Deg.
Itu, itu foto Zira.
"Kau pasti mengenal gadis ini" ucap Gladis memulai pembicaraan.
Gibran hanya diam karena tidak tau harus merespon apa.
"Dia, putri tunggal Dirgantara yang harus membayar semua rasa sakit yang pernah aku alami. Dekati dia, buat gadis itu mencintai mu, dan tinggalkan."
"Apa?"
"Ada masalah apa?". Untuk pertama kalinya, Gibran menanyakan hal yang tak boleh ia tanyakan.
"Tidak perlu banyak tanya. Kau harus melakukan tugas mu dengan baik."
Setelah memberikan tanda tanya besar pada sang anak, Gladis pun pergi meninggalkan Gibran yang sudah terdiam.
Gibran bingung, ia tidak tau harus melakukan apa karena gadis itu adalah cinta pertamanya. Namun, jika ia tidak melakukan seperti yang diucapkan oleh sang Ibu, maka Gibran pun tidak tau apa yang akan terjadi pada hidupnya setelah ini.
Malam itulah Gibran memutuskan untuk menyakiti dirinya dan menyakiti Zira hanya demi melakukan perintah Gladis.
Flashback off.
*****
Zero terdiam mendengar cerita Gibran yang baru saja selesai ia ceritakan dan ditutupi oleh isak tangis lelaki itu. Entah kenapa, rasanya Gibran sudah tidak bisa menahan semua itu sehingga tanpa sadar ia menceritakan tentang perasaannya untuk Zira.
"Aku terpaksa melakukan semua itu, karena jika bukan aku yang melakukannya maka Ibu akan memerintahkan orang lain dan aku takut jika itu akan menyakiti Zira lebih lagi.. Maafkan aku karena belum bisa menjaga Zira dengan baik.. Setelah ini, aku berharap Zira bisa menemukan orang yang lebih baik dari ku.."
__ADS_1
Ucapan Gibran refleks membuat Zero menatap kearahnya. "Kau merelakan adikku begitu saja?" tanya Zero seraya mengerutkan keningnya heran.
Gibran mengangguk pelan walaupun dalam hatinya, ia tak pernah bisa merelakan sosok Zira. "Aku harus melepaskan Zira, Kak."
"Bodoh! Kau bisa meminta bantuan ku untuk menyelesaikan semuanya. Kau dan Zira itu sama-sama korban disini."
"Jangan lakukan apapun, aku akan menyelesaikan semuanya sendiri. Tolong jaga Zira saja."
Gibran menolak bantuan Zero karena menurutnya, bermusuhan dengan Gladis itu tidak semudah yang mereka bayangkan. Gladis tetaplah wanita yang sangat licik yang bisa saja membahayakan Zira, tentu Gibran tidak menginginkan hal itu.
Ketika satu-satunya cara agar Zira tidak terluka dengan dirinya harus menjauh, maka Gibran harus melakukan itu. Menjauhi Zira dan merelakan semua perasaan yang selama ini ia pendam.
*****
"Loh?! Abang?!"
Zira benar-benar terkejut ketika melihat sosok Zero yang sudah duduk manis di ruang tamu seolah menunggu kedatangannya yang memang saat itu baru saja pulang dari rumah Maudy.
"Kenapa pulang nggak bilang-bilang?! Abang kapan pulang?! Ada urusan apa?! Papi dan Mami tau?! Kok—"
Ribuan pertanyaan yang keluar dari mulut Zira tiba-tiba terhenti ketika ia melihat Zero yang mendekat lalu merengkuh tubuh mungilnya dengan sangat erat.
"Abang, kenap—"
"Aku disini untuk menjaga mu, lalu ketika kau ada masalah dan enggan menceritakannya pada ku, apa aku masih berguna?" lirih Zero pelan yang membuat Zira terdiam.
Zira merasakan bahwa pelukan tersebut semakin lama semakin mengerat seolah tidak ingin dilepaskan oleh sang kakak.
"Abang, aku baik-baik aja" ucap Zira tersenyum tipis.
Ada rasa hangat yang Zira rasakan ketika mendengar ucapan Zero tersebut. Ia tidak menyangka bahwa kakaknya akan langsung terbang ke Indonesia untuk menemuinya ketika mendengar masalahnya dengan Gibran.
"Aku bahagia karena punya Papi, Mami, dan Abang."
*
*
*
__ADS_1