
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH yaa😘!!!
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_ 😘
Author sayang Readers🥰!!!
Happy Reading!!!
*****
Kamar Andra
Arra menggeliat saat merasakan ada tangan yang mengelus pucuk kepalanya hingga dia tersadar bahwa sedang berada di kamar Andra
Cepat-cepat Arra membuka mata bahkan bangun dari tidurnya membuat Andra tertawa melihatnya
"Mas" ucap Arra terkejut
"Mas baru saja mengelus kepala mu. Kenapa terbangun?"
"Eum, aku sudah cukup lama tidur, Mas" ucap Arra lalu mendekati Zero yang masih tertidur nyenyak
"Panas nya sudah menurun sebaiknya aku pulang ya, Mas"
"Sayang, kamu tega sama Mas?" tanya Andra yang membuat Arra menoleh seketika
Tawa Arra tidak bisa ditahan lagi karena melihat wajah memelas Andra yang sangat lucu menurutnya
"Mas ih, kenapa suka ngambek sih? Udah tua juga"
"Sayang, kamu nggak lihat pakaian itu?" tanya Andra yang membuat tatapan Arra terpaku pada begitu banyaknya pakaian gantung yang berada di ujung ruangan
"Ya Tuhan" pekik Arra lalu tersadar jika teriakannya bisa membuat Zero terbangun hingga dia menutup mulutnya rapat-rapat
"Mas sudah gila?" bisik Arra pelan
"Mas sudah bilang kan kamu kalo bangun nanti bisa ada toko pakaian di kamar"
"Mas mau buka toko pakaian, ya?"
"Astaga, tidak Sayang. Ini semua pakaian untukmu jadi pilihlah mana yang kau suka"
"Mas Andra benar-benar gila? Pakaian sebanyak ini mau diapakan, Mas? Apa perlu aku buka toko pakaian?"
"Jika kamu mau, Mas bisa membuatkannya untukmu"
"Emangnya Mas Andra Bapak peri ya? Bisa gitu mengabulkan semua permintaan?"
"Apapun untukmu, Sayang"
"Jangan bercanda deh, Mas. Ini semua pakaian mau diapakan? Aku juga cuma pakai satu dua saja. Mas Andra boros banget sih"
"Pilih yang kamu suka, Sayang"
"Eum, ini pakaian istri Mas dulu ya?" tanya Arra memberanikan diri
"Heh, untuk apa Mas memberikanmu pakaian bekas? Ini semua milikmu dan diantar langsung oleh pemilik toko"
"Mas Andra jangan marah dong, kan aku cuma nanya baik-baik" ucap Arra mendengus kesal
"Maaf ya, Sayang. Mas nggak marah" ucap Andra lembut lalu mengelus pucuk kepala Arra
"Tapi Mas ini semua nggak muat masuk ke kamar aku"
"Bawa sebagian dan sisanya akan disimpan di lemari untukmu nanti setelah kita menikah"
"Kenapa ya di setiap perbincangan kita itu Mas Andra selalu bahas pernikahan? Emang yakin banget ya aku nerima Mas?"
"Sayang" rengek Andra yang membuat Arra tertawa
"Duh bayi siapa ini?" ucap Arra tergelak sedangkan Andra terdiam menatap tawa Arra yang begitu mempesona
"Cantik"
__ADS_1
"Eh--Mas ngomong apa?"
"Kamu tertawa tadi cantik sekali, Sayang"
"Ya iyalah Mas kan aku cewek masa iya ganteng"
"Jangan tertawa seperti itu sama lelaki lain"
"Mas ngomong apa sih?"
"Kalau kamu tertawa sama cowok lain, Mas marah ya"
"Sama Zero juga nggak boleh gitu?"
"Zero dan Mas pengecualian, Sayang"
"Tapi di panti asuhan kan banyak anak-anak cowok, Mas. Masa iya aku nggak ketawa juga sama mereka?"
"Astaga, ya ya baiklah sama mereka boleh saja. Tapi nggak dengan lelaki seumuran mu dan dewasa"
"Emangnya kenapa ya, Mas?"
"Nanti mereka tergoda sama tertawa mu, Sayang" ucap Andra gemas lalu mencubit hidung Arra
"Mas ih sakit tau"
"Cup cup cup" ucap Andra lalu mengelus pipi gadis polos dihadapannya
"Mas? Bisa keluar sebentar nggak?"
"Emangnya kenapa Sayang? Kamu mau apa? Kenapa nyuruh Mas keluar?" tanya Andra beruntun membuat Arra menghela nafas berat
"Aku mau mandi, Mas. Pinjam kamar mandi ya"
"Emangnya Mas nggak boleh ya disini aja?"
"Heh, nggak boleh" ucap Arra cepat dan tanpa sadar refleks memukul lengan Andra
Arra pun langsung mengelus-elus lengan pria dihadapannya ini sedangkan Andra hanya tersenyum tipis
"Ya udah Mas keluar. Itu kamar mandinya disana" ucap Andra lalu menunjuk pintu kamar mandi lalu pamit keluar
Setelah Andra keluar, Arra beranjak dari tempat tidur menuju banyaknya pakaian gantung yang ada di ujung ruangan dan mulai memilih pakaian yang akan dipakainya malam ini karena tidak mungkin dia tidak mandi dan berganti pakaian
"Aku pusing milihnya, semua bagus banget" gumam Arra pelan lalu tanpa sengaja matanya menangkap harga dari pakaian-pakaian tersebut
"Ya Tuhan" pekiknya lalu menutup mulut
"Kenapa bisa harga pakaian tidur ini seperti gaji ku bekerja lima tahun? Apa Mas Andra sangat kaya? Kenapa mau membuang duit untuk membeli semua ini?" gumam Arra lalu menjauh dari sana dan keluar kamar mencari Andra setelah memastikan bahwa Zero masih tidur nyenyak.
*****
Baru saja Arra keluar kamar, dia tidak tau harus kemana dan hanya mematung saja menatap rumah yang begitu mewah namun terlihat sangat sepi bahkan Arra tidak tau siapa saja yang ada di rumah ini
Lamunan Arra terhenti saat dia menangkap sosok seseorang yang sedang berjalan di lantai bawah
Dengan cepat Arra mendatanginya
"Eum, permisi"
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" ucap wanita paruh baya tersebut sopan membuat Arra menatapnya heran
"Ibu tolong jangan memanggil ku Nona. Panggil saja aku Arra" ucap Arra yang merasa tidak enak
"Tidak, Nona. Itu sudah kewajiban kami disini untuk memanggil anda begitu"
"Tidak, jangan lakukan itu. Aku sangat merasa tidak enak"
"Tapi Tuan Andra meminta kami untuk memanggil anda seperti itu, Nona"
"Aku akan bicara pada Mas Andra. Jadi Ibu tolong berhenti memanggil ku Nona karena telinga ku tidak bisa menerimanya" ucap Arra yang membuat wanita tersebut tanpa sadar terkekeh
"Jika boleh tau, aku harus memanggil Ibu siapa?"
__ADS_1
"Nama saya Leli, panggil saja Ibu Leli"
"Berhenti berbicara formal padaku, Bu. Aku benar-benar merasa tidak enak melihat orang yang lebih tua dariku malah menghormati ku bahkan memanggilku Nona"
"Kau benar-benar baik, Nak. Tuan Andra begitu beruntung memiliki mu"
"Oh iya, Ibu Leli ada melihat Mas Andra?" tanya Arra yang kembali sadar dengan tujuan utamanya memanggil Ibu Leli
"Tuan Andra sedang berada di ruang kerja bersama Tuan Leo"
"Ruangan kerjanya dimana ya, Bu?"
"Di lantai atas, pintu kedua dari kanan"
"Oh baiklah, Bu. Terima kasih banyak ya, maaf merepotkan"
"Itu sangat tidak merepotkan, Nak" ucap Ibu Leli terkekeh
"Ibu permisi dulu ya, Nak. Kau bisa mencari Ibu di dapur jika kau tersesat di rumah ini" ucap Ibu Leli terkekeh pelan membuat Arra tergelak
"Pasti, Bu"
Arra pun kembali ke lantai atas dan menuju ruangan kerja Andra sesuai arahan dari Ibu Leli tadi. Baru saja rasanya Arra mengetuk pintu, terdengar suara berat Andra yang memintanya untuk masuk. Arra masuk ke dalam ruangan Andra dengan gugup karena dirinya benar-benar belum terbiasa dengan rumah mewah ini
Terlihatlah disana Andra sedang berbicara dengan Leo yang bisa dipastikan bahwa mereka membahas sesuatu yang penting
"Mas, sibuk ya? Maaf ya Mas ngerepotin" ucap Arra pelan membuat Leo menatapnya heran karena mendengar Arra memanggil Andra dengan panggilan Mas
"Nggak Sayang, Mas nggak repot kok cuma bahas pekerjaan saja. Kenapa? Kamu mau perlu apa?"
Lagi-lagi Leo menatap Andra dan Arra secara bergantian karena mendengar panggilan terbaru mereka
"Eum, masalah pakaian, Mas" ucap Arra menunduk
"Ya? Kenapa dengan pakaiannya? Nggak ada yang kamu suka? Nanti Mas beli yang lain kalau gitu"
"Eh--nggak Mas. Nggak gitu, maksud aku pakaiannya terlalu mahal, Mas. Mas nggak bisa ya kembalikan aja semuanya? Sayang duit Mas"
Tentu saja ucapan Arra membuat Andra tertawa bahkan tanpa sadar Leo pun tersenyum tipis melihat Arra yang begitu polos
"Hei, kata siapa mahal? Itu masih murah, Sayang. Mas bisa belikan yang lebih mahal kalau kamu mau"
"Mas, itu aja bisa jadi gaji aku selama lima tahun kerja. Jangan aneh-aneh deh, Mas"
"Sayang, Mas serius. Itu semua Mas belikan buat kamu jadi terima ya"
"Tapi mahal banget, Mas. Mas Andra kok buang-buang duit?"
"Itu namanya nggak buang-buang duit, Sayang. Kalau kamu nggak mau pake baru itu bisa dibilang buang-buang duit"
"Tapi Mas--"
"Nggak ada tapi-tapian. Kamu terima ya dan jangan mempermasalahkan harga"
"Eum, baiklah" jawab Arra pasrah lalu pamit kembali ke kamar meninggalkan Andra dan Leo
"Pak, Bapak sama Arra sudah jadian?"
"Kenapa kepo, O?"
"Mas dan Sayang" ucap Leo meniru panggilan mereka
"Ceh" desis Andra tertawa
"Oh iya O, telpon pemilik toko dan katakan untuk melepaskan label harga di barang sebelum dikirimkan ke rumah. Terlebih jika dikirimkan untuk Arra"
"Astaga, perkara pakaian" gumam Leo pelan lalu menuruti ucapan majikannya.
*
*
*
__ADS_1