Cewek ABG & Duda Keren

Cewek ABG & Duda Keren
Perkara Beef Teriyaki


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Saat ini Andra sedang sibuk memeriksa beberapa berkas yang menunduk di atas meja kerjanya dengan Leo yang masih tetap setia menemani.


"Pak?" panggil Leo yang masih sibuk membolak-balikkan berkas.


Andra menoleh sebentar namun tidak bersuara.


"Apakah menikah itu enak?" tanya Leo tiba-tiba.


Tentu saja hal itu membuat Andra sangat panik.


"Siapa pacar mu, O?"


"Saya hanya bertanya, Pak" jawab Leo dengan wajah kesalnya.


"Aku kira saja kau sudah mendapatkan wanita menyedihkan yang akan menghabiskan hidupnya dengan mu."


"Seperti Arra yang sangat menyedihkan itu? Ah, kasihan sekali dia harus menghabiskan waktunya untuk duda seperti Pak Andra."


"Heh."


Sepertinya hanya Leo di kantor ini yang berani menghadapi Andra yang dikenal dingin dan arogan. Ah, mereka tidak tau saja jika Leo akan lebih garang saat sedang marah.


"Menikah itu tidak selalu tentang bahagianya. Jangan memikirkan untuk menikah jika hanya bahagia dan senang yang dipikirkan."


"Bagaimana bisa memikirkan bahwa kita sudah siap untuk menikah?"


Andra menoleh saat mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut Leo. "Entahlah, tergantung kesiapan diri dan hati. Kau harus mempersiapkan hati, mental, pikiran, dan semuanya karena kau akan mengambil anak gadis dari keluarga lain. Jangan hanya berpikir tentang bagaimana cara membahagiakan dan mencukupi segala keperluannya, tapi pikirkan juga bagaimana cara menjaga hubungan yang tetap harmonis."


Leo terdiam mendengar wejangan dari Andra yang cukup serius.


"Ah, sepertinya kau salah bertanya padaku yang pernah gagal dalam membangun keluarga" ucap Andra tertawa.


"Ternyata memang benar bahwa kita tidak bisa memprediksi hari esok."


"Mengapa bertanya seperti itu, O? Ini bukan dirimu" ucap Andra seraya terkekeh pelan.


Leo tersenyum tipis. "Sepertinya saya sudah bosan hidup sendiri, Pak. Setiap harinya yang saya lakukan hanya itu-itu saja. Bangun tidur, sarapan pagi, pergi bekerja, lembur, dan pulang ke rumah."


"Fase seperti itu memang ada dan kau sedang merasakannya. Jangan memikirkan untuk menikah langsung jika hanya karena bosan. Kau bisa mulai mencari pasangan sekarang, tapi ingat jangan terburu-buru."


Ucapan Andra membuat Leo tertawa. "Bagaimana jika saya menikah dengan anak yang ada di dalam kandungan Arra saja, Pak?" tanya Leo dengan santainya.


"Heh! Kau itu sudah tua dan jangan macam-macam."


"Saya juga tidak bisa membayangkan jika itu benar terjadi."


"Astaga, bagaimana aku harus memanggilmu? Menantu ku?"

__ADS_1


"Sial."


*****


Arra baru saja selesai makan siang bersama Zero karena memang hanya mereka saja yang ada di rumah saat ini. Andre sedang pergi ke kampus karena ada kelas siang dan Andra yang masih berada di kantor.


"Mami, apa adik da nakal?" tanya Zero saat melihat Arra yang tenang-tenang saja.


Arra terkekeh pelan. "Kenapa Zero merasa heran melihat Mami yang hanya diam saja?"


"Mungkin adik capek dibilang nakal cama Zelo" ucap Zero seraya memperlihatkan gigi rapinya.


"Mami, apa Mami da bocan?"


Arra menoleh sebentar. "Zero sedang merencanakan apa hayo?"


"Mau ke tamjon" ucap Zero terkekeh pelan.


Arra tersenyum tipis karena memang Andra belum menepati janjinya untuk membawa istri dan anaknya berjalan-jalan keluar karena terlalu sibuk di kantor.


"Bagaimana kalau kita pergi tanpa Papi?"


"Hu'um ide bagus, Papi da pellu dibawa kalena da penting. Kita kan butuh duit nna Papi caja."


Tentu saja ucapan Zero mengundang gelak tawa Arra hingga ruangan tersebut dipenuhi oleh gelak tawanya.


Arra pun segera meminta tolong kepada salah satu supir yang ada di rumah utama untuk mengantarkannya dan Zero menuju ke salah satu mall terbesar di kota tersebut tanpa memberitahukan terlebih dahulu kepada Andra.


"Ayo, siap-siap dulu" ucap Arra mengajak sang anak untuk kembali ke kamar.


"Mami, ayo kita mam ikim nanti" ucap Zero merencanakan.


Ah, mereka benar-benar seperti anak yang lepas kandang sekarang.


"Tentu. Kita akan makan ice cream yang banyak" ucap Arra tertawa.


"Hu'um catu cup becal ya."


*****


"Pak, apa kita pergi sekarang?" tanya Leo saat ia baru saja membereskan beberapa berkas.


Andra mengangguk pelan. Sebenarnya, ia cukup lelah untuk beraktivitas sekarang mengingat sudah beberapa jam berhadapan dengan komputer dan berkas yang membuat kepalanya hampir pecah. Namun, namanya juga Presdir di sebuah perusahaan yang besar, Andra harus tetap bertanggung jawab dengan janji yang dibuatnya. Hari ini memang ia akan bertemu dengan salah satu klien di sebuah restoran seraya makan siang.


Keduanya pun segera keluar dari kantor menuju mobil agar bisa cepat sampai ke lokasi yang sudah dijanjikan.


Tak butuh waktu lama untuk mobil Andra sampai di restoran yang ternyata sudah ditunggu oleh kliennya.


"Sorry for making you wait long, Sir" ucap Andra seraya bersalaman dengan kliennya tersebut.


"I also just got here."


"Alright, should we order some food first?" tanya Andra terkekeh pelan.


"Sure."

__ADS_1


Mereka pun dengan segera memesan makan siangnya seraya ditemani dengan obrolan-obrolan singkat sebelum membahas pekerjaan.


Saat sedang menikmati makanan, tiba-tiba ponsel Andra berdering menandakan sebuah panggilan video masuk dari sang istri.


"I'm sorry, sir. My wife called me" ucap Andra seraya permisi untuk mengangkat panggilan sang istri sedangkan klien tersebut kembali menikmati makan siangnya bersama Leo.


"Hei? Sayang dimana?" tanya Andra sedikit panik ketika melihat background Arra yang terlihat seperti sedang berada di sebuah cafe.


"Papi, um enak cekali" ucap Zero seraya memamerkan cup ice cream yang sedang ia makan.


"Loh? Sayang di mall?" tanya Andra mengerutkan keningnya heran.


Arra pun mengangguk pelan. "Mas sih nggak ingat janji."


"Kenapa nggak kasih kabar ke Mas dulu? Di antar supir kan kesana?" tanya Andra yang membuat Arra mengangguk.


"Mas Andra sibuk ya?"


"Hanya bertemu klien, Sayang."


"Sekalian makan siang? Menu nya apa?"


"Beef teriyaki" jawab Andra singkat.


"Mas, Kak Leo juga ikut? Menu makanannya apa?" tanya Arra yang membuat suaminya mengerutkan kening.


"Kenapa menanyakan Leo?"


"Kan Arra hanya bertanya."


"Menunya sama, Sayang."


"Arra boleh nggak ngobrol dengan Kak Leo sebentar?"


Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Arra, Andra pun mau tak mau harus menurutinya dan kembali ke meja makan seraya memberikan ponselnya kepada Leo.


"Excuse me, Sir. Sorry, my wife wants to talk to Leo" ucap Andra tersenyum canggung yang membuat kliennya tertawa.


"Of course, don't be so awkward like that Mr.Andra."


"Kenapa, Ra?" tanya Leo seraya memakan makan siangnya.


Arra mengerutkan keningnya heran ketika melihat Leo yang sedang menikmati menu makanannya.


"Kak, apa Kak Leo nggak pernah membayangkan?"


"Membayangkan apa?"


"Bagaimana jika daging sapi yang Kak Leo makan itu adalah ibu sapi yang sedang mencari makan untuk anak-anaknya..? Lalu, tiba-tiba Kak Leo malah memakan ibu sapi yang membuat bapak sapi menjadi duda dan anak-anaknya menjadi yatim. Terus, ketika ditanya oleh anaknya, bapak sapi hanya bisa menjawab bahwa istrinya sudah berada di perut Kak Leo.."


"Hah?!"


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2