
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH yađ„°đ...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guysđ„°đ!!!!
*****
âSayangggâ
Teriakan pagi Andra sudah terdengar saat ia tidak melihat Arra di kamar mereka.
Andra tidak ingin meninggalkan Arra hanya berdua dengan Zero dan jadilah ia dengan sukarela tidur di sofa karena dirinya dan Arra masih belum sah jika harus tidur bersama di tempat tidur.
âAda apa, Mas?â tanya Arra yang hanya terlihat kepalanya saja di balik pintu yang tersambung dengan kamar Zero
âTolong pasangkan dasi, Masâ
âPapi itu cudah becalâ. Teriakan Zero terdengar dari kamarnya yang membuat Andra mendengus kesal
Arra pun kembali masuk ke kamar Zero karena pamit untuk memasangkan dasi kepada bayi besar yang sudah menunggunya.
âThenapa Mami halus memacangkan daci buat Papi?â gerutu Zero dengan kesalnya
Arra yang melihatnya pun hanya terkekeh pelan. âAgar Papi secepatnya bekerja dan meninggalkan Mami bersama Zero disiniâ bisik Arra dengan wajah usilnya
âAh, leally? Yes akhil nna da ada yang ganggu Zelo peyuk Mamiâ. Zero yang mendengarnya langsung meloncat kegirangan
âSayangggggâ. Lagi. Teriakan tidak sabaran bayi besar di kamar sebelah terdengar
Zero pun berjinjit dengan tujuan ingin membisikkan sesuatu kepada Mami nya. Karena melihat sang anak yang sedikit kesusahan, akhirnya Arra pun berjongkok di hadapan Zero.
âPapi pasti cepat tua cepelti Kakek kalena da bica cabal hihiâ
Arra terkekeh pelan mendengar bisikan sang anak yang juga jahil sepertinya
âMami kesana sebentar ya. Anak Mami pintar kan bisa memasang pakaian sendiri?â
âHuâum Zelo kan hebat da cepelti Papi yang manja cekaliâ. Deretan gigi susu seorang bocah terlihat ketika dirinya menyebutkan bahwa Andra sangat manja.
Arra pun berjalan menuju kamar utama dengan Andra yang sejak tadi menunggunya. Karena tak ingin calon suaminya terlambat bekerja, Arra pun langsung mendekat dan mulai memasangkan dasi kepada Andra.
âCantik sekaliâ gumam Andra tersenyum tipis saat melihat Arra sedang fokus memasangkan dasi untuknya.
Arra memang mendengarnya tapi sengaja tidak menghiraukannya karena jika ia meladeni Andra pagi ini, bisa-bisa calon suaminya akan telat berangkat ke kantor.
âHei, Mas sedang berbicara denganmuâ ketus Andra kesal karena merasa sedang tidak dihiraukan.
__ADS_1
Jari telunjuk Arra tepat menempel pada bibir sang calon suami. âNggak diizinkan untuk berbicaraâ
Seketika, Andra sedikit terkejut melihat respon Arra yang di luar dugaannya. âSayanggg, kan--â
âJam sudah menunjukkan pukul 07.30 WIB, Pak Andra. Apa karena Bapak seorang Presdir, Bapak bisa seenaknya terlambat bekerja?â
Ada senyum tipis yang terlihat ketika Andra sedang fokus menatap wajah calon istrinya yang sedang serius memarahinya.
Cup.
âHei, itu pelanggaranâ
âDan Arra mau melaporkan Mas?â
âHmm, tergantung. Kalau Arra diberikan uang tutup mulut sepertinya sedikit bergunaâ
Andra tertawa mendengarnya. Memang, jika ada yang mendengar pembicaraan mereka akan menganggap Arra sebagai gadis matre karena selalu membahas uang atau bahasa kasarnya meminta uang kepada Andra. Namun, itu hanya omongan semata karena Arra hanya bercanda dan tidak ada niat untuk serius menerima uang walaupun yang sedang berdiri dihadapannya itu adalah calon suaminya.
Menurut Arra, ketika Andra menetapkan dirinya sebagai donatur tetap pada panti asuhan tempatnya pun sudah menjadi hal yang lebih dari cukup untuknya. Ia tidak pernah meminta apapun kepada Andra selama ini bahkan ketika dirinya mendapatkan hadiah dari Andra, mereka akan berdebat cukup lama untuk masalah harga hadiahnya.
Arra sangat menggemaskan, bukan? Tapi sayang, dirinya terjebak dalam hidup seorang duda. Ah, tidak apa-apa, Arra. Andra itu kaya haha.
*****
âMas berangkat, yaâ pamit Andra kepada calon istri dan anaknya yang sedang mengantarnya menuju mobil dimana Leo sudah menunggunya
Setelah baik Arra maupun Zero sudah mencium tangan Andra, mobil pun melaju dan mulai menjauh dari halaman rumah pemilik Dirgantara Group tersebut.
Leo yang mendengarnya hanya diam tanpa ekspresi seperti biasa.
âMelihat calon istriku dan anakku mengantarku pergi bekerja, rasanya benar-benar mimpiâ
âDan Pak Andra akan merasakan hal yang sama setiap harinya nantiâ. Sedikit tanggapan dari asisten sekaligus sekretaris dingin itu.
Andra sedikit membenarkan letak dasinya. âDan kau? Bagaimana?â
âSaya akan terus bekerja sampai pensiunâ
âKau tau bukan itu jawaban yang ku maksud, Oâ
âSilahkan pikirkan kehidupan Pak Andra sajaâ
âKau juga berhak untuk menikah. Jika seperti ini terus, akan ada berita yang tersebar bahwa aku melarang mu untuk menikahâ
âPikiran Pak Andra sangat jauhâ
âO, yang pernah gagal menjalin hubungan itu aku. Kenapa harus kau yang trauma?â
__ADS_1
Leo hanya diam tanpa tau harus merespon bagaimana.
Andra menghela nafas sebentar lalu senyum tipis terukir di wajahnya. âDua tahun sepertinya cukup untukku menghukum diri sendiri. Dan sekarang? Aku bahkan tidak pernah memikirkan bahwa akan kembali menikah dengan gadis SMU yang usianya jauh dibawah kuâ
âPak Andra sudah menderita selama ini, dan ini saatnya untuk Pak Andra mengejar kebahagiaan Bapakâ. Hanya tanggapan seperlunya yang keluar dari mulut sang asisten sekaligus sekretaris tersebut.
âDan itulah sebabnya aku memintamu untuk memikirkan kebahagiaanmu juga, O. Aku ingin kau merasakan hal yang sama dengan apa yang aku rasakan sekarangâ
âMenikahi Arra juga?â
âHeiâ. Tidak sopan memang tapi Andra langsung menendang kursi Leo.
âBukannya Pak Andra sendiri yang mengatakan bahwa Pak Andra ingin saya merasakan hal yang sama?â
Andra menghela nafas berat. âKau tau bukan itu yang aku maksudkan. Aku tidak bodoh dengan menyetujui bahwa kau akan menikahi Arra jugaâ
âSiapa tau Pak Andra ingin berbagi istriâ. Lagi, Andra menendang kursi Leo.
âBerjuanglah ketika kau merasakan hatimu pantas berlabuh pada seseorangâ
âSaya akan memikirkannya nantiâ. Sepertinya Leo memang menghindari percakapan tentang pernikahan.
âJangan takut gagal sepertiku. Ketika gagal, hanya perihal waktu untuk kembali membangkitkan mu dan kau pasti bertemu dengan orang yang tepat.â
Benar, kan? Leo memang menghindari percakapan tentang ini bahkan ia menanggapinya dengan malas.
âKetika kau sudah menemukannya, jangan lupa untuk berbagi cerita dengankuâ
âAkan saya lakukan hanya ketika dalam keadaan tidak sadarâ
Tepat, mereka akan berbagi cerita dengan tidak tau malunya hanya ketika mereka tidak sadar. Seperti beberapa tahun yang lalu ketika Andra menceritakan semua rasa sakit dan traumanya kepada Leo saat mereka sedang minum bersama, dan berakhir dengan Leo yang menyimpan rahasia tersebut rapat-rapat.
âApa hanya ketika minum kita bisa berbagi cerita?â tanya Andra terkekeh pelan
âKarena kita mempunyai ego yang sangat tinggi untuk berbagi tentang kelemahan.â
Andra membenarkan apa yang diucapkan Leo karena memang ia juga berpikir bahwa ketika dirinya diangkat menjadi Presdir suatu perusahaan besar, ia harus membuktikan bahwa dirinya tidak mempunyai kelemahan apapun sehingga ia berhak memimpin perusahaan.
Begitu pun dengan Leo yang merasa dirinya menjadi kepercayaan keluarga Dirgantara, membuatnya menjadi seseorang yang harus sempurna dengan tidak ingin menunjukkan kelemahannya karena ia memiliki sebuah tanggung jawab yang besar.
âO, aku ingin mengenalkan Arra pada mediaâ
âApa?!â
Ucapan itu, sungguh tiba-tiba.
*
__ADS_1
*
*