Cewek ABG & Duda Keren

Cewek ABG & Duda Keren
Wejangan Untuk Leo


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH yađŸ„°đŸ˜...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading GuysđŸ„°đŸ˜˜!!!!


*****


“Sayanggg”


Teriakan pagi Andra sudah terdengar saat ia tidak melihat Arra di kamar mereka.


Andra tidak ingin meninggalkan Arra hanya berdua dengan Zero dan jadilah ia dengan sukarela tidur di sofa karena dirinya dan Arra masih belum sah jika harus tidur bersama di tempat tidur.


“Ada apa, Mas?” tanya Arra yang hanya terlihat kepalanya saja di balik pintu yang tersambung dengan kamar Zero


“Tolong pasangkan dasi, Mas”


“Papi itu cudah becal”. Teriakan Zero terdengar dari kamarnya yang membuat Andra mendengus kesal


Arra pun kembali masuk ke kamar Zero karena pamit untuk memasangkan dasi kepada bayi besar yang sudah menunggunya.


“Thenapa Mami halus memacangkan daci buat Papi?” gerutu Zero dengan kesalnya


Arra yang melihatnya pun hanya terkekeh pelan. “Agar Papi secepatnya bekerja dan meninggalkan Mami bersama Zero disini” bisik Arra dengan wajah usilnya


“Ah, leally? Yes akhil nna da ada yang ganggu Zelo peyuk Mami”. Zero yang mendengarnya langsung meloncat kegirangan


“Sayanggggg”. Lagi. Teriakan tidak sabaran bayi besar di kamar sebelah terdengar


Zero pun berjinjit dengan tujuan ingin membisikkan sesuatu kepada Mami nya. Karena melihat sang anak yang sedikit kesusahan, akhirnya Arra pun berjongkok di hadapan Zero.


“Papi pasti cepat tua cepelti Kakek kalena da bica cabal hihi”


Arra terkekeh pelan mendengar bisikan sang anak yang juga jahil sepertinya


“Mami kesana sebentar ya. Anak Mami pintar kan bisa memasang pakaian sendiri?”


“Hu’um Zelo kan hebat da cepelti Papi yang manja cekali”. Deretan gigi susu seorang bocah terlihat ketika dirinya menyebutkan bahwa Andra sangat manja.


Arra pun berjalan menuju kamar utama dengan Andra yang sejak tadi menunggunya. Karena tak ingin calon suaminya terlambat bekerja, Arra pun langsung mendekat dan mulai memasangkan dasi kepada Andra.


“Cantik sekali” gumam Andra tersenyum tipis saat melihat Arra sedang fokus memasangkan dasi untuknya.


Arra memang mendengarnya tapi sengaja tidak menghiraukannya karena jika ia meladeni Andra pagi ini, bisa-bisa calon suaminya akan telat berangkat ke kantor.


“Hei, Mas sedang berbicara denganmu” ketus Andra kesal karena merasa sedang tidak dihiraukan.

__ADS_1


Jari telunjuk Arra tepat menempel pada bibir sang calon suami. “Nggak diizinkan untuk berbicara”


Seketika, Andra sedikit terkejut melihat respon Arra yang di luar dugaannya. “Sayanggg, kan--”


“Jam sudah menunjukkan pukul 07.30 WIB, Pak Andra. Apa karena Bapak seorang Presdir, Bapak bisa seenaknya terlambat bekerja?”


Ada senyum tipis yang terlihat ketika Andra sedang fokus menatap wajah calon istrinya yang sedang serius memarahinya.


Cup.


“Hei, itu pelanggaran”


“Dan Arra mau melaporkan Mas?”


“Hmm, tergantung. Kalau Arra diberikan uang tutup mulut sepertinya sedikit berguna”


Andra tertawa mendengarnya. Memang, jika ada yang mendengar pembicaraan mereka akan menganggap Arra sebagai gadis matre karena selalu membahas uang atau bahasa kasarnya meminta uang kepada Andra. Namun, itu hanya omongan semata karena Arra hanya bercanda dan tidak ada niat untuk serius menerima uang walaupun yang sedang berdiri dihadapannya itu adalah calon suaminya.


Menurut Arra, ketika Andra menetapkan dirinya sebagai donatur tetap pada panti asuhan tempatnya pun sudah menjadi hal yang lebih dari cukup untuknya. Ia tidak pernah meminta apapun kepada Andra selama ini bahkan ketika dirinya mendapatkan hadiah dari Andra, mereka akan berdebat cukup lama untuk masalah harga hadiahnya.


Arra sangat menggemaskan, bukan? Tapi sayang, dirinya terjebak dalam hidup seorang duda. Ah, tidak apa-apa, Arra. Andra itu kaya haha.


*****


“Mas berangkat, ya” pamit Andra kepada calon istri dan anaknya yang sedang mengantarnya menuju mobil dimana Leo sudah menunggunya


Setelah baik Arra maupun Zero sudah mencium tangan Andra, mobil pun melaju dan mulai menjauh dari halaman rumah pemilik Dirgantara Group tersebut.


Leo yang mendengarnya hanya diam tanpa ekspresi seperti biasa.


“Melihat calon istriku dan anakku mengantarku pergi bekerja, rasanya benar-benar mimpi”


“Dan Pak Andra akan merasakan hal yang sama setiap harinya nanti”. Sedikit tanggapan dari asisten sekaligus sekretaris dingin itu.


Andra sedikit membenarkan letak dasinya. “Dan kau? Bagaimana?”


“Saya akan terus bekerja sampai pensiun”


“Kau tau bukan itu jawaban yang ku maksud, O”


“Silahkan pikirkan kehidupan Pak Andra saja”


“Kau juga berhak untuk menikah. Jika seperti ini terus, akan ada berita yang tersebar bahwa aku melarang mu untuk menikah”


“Pikiran Pak Andra sangat jauh”


“O, yang pernah gagal menjalin hubungan itu aku. Kenapa harus kau yang trauma?”

__ADS_1


Leo hanya diam tanpa tau harus merespon bagaimana.


Andra menghela nafas sebentar lalu senyum tipis terukir di wajahnya. “Dua tahun sepertinya cukup untukku menghukum diri sendiri. Dan sekarang? Aku bahkan tidak pernah memikirkan bahwa akan kembali menikah dengan gadis SMU yang usianya jauh dibawah ku”


“Pak Andra sudah menderita selama ini, dan ini saatnya untuk Pak Andra mengejar kebahagiaan Bapak”. Hanya tanggapan seperlunya yang keluar dari mulut sang asisten sekaligus sekretaris tersebut.


“Dan itulah sebabnya aku memintamu untuk memikirkan kebahagiaanmu juga, O. Aku ingin kau merasakan hal yang sama dengan apa yang aku rasakan sekarang”


“Menikahi Arra juga?”


“Hei”. Tidak sopan memang tapi Andra langsung menendang kursi Leo.


“Bukannya Pak Andra sendiri yang mengatakan bahwa Pak Andra ingin saya merasakan hal yang sama?”


Andra menghela nafas berat. “Kau tau bukan itu yang aku maksudkan. Aku tidak bodoh dengan menyetujui bahwa kau akan menikahi Arra juga”


“Siapa tau Pak Andra ingin berbagi istri”. Lagi, Andra menendang kursi Leo.


“Berjuanglah ketika kau merasakan hatimu pantas berlabuh pada seseorang”


“Saya akan memikirkannya nanti”. Sepertinya Leo memang menghindari percakapan tentang pernikahan.


“Jangan takut gagal sepertiku. Ketika gagal, hanya perihal waktu untuk kembali membangkitkan mu dan kau pasti bertemu dengan orang yang tepat.”


Benar, kan? Leo memang menghindari percakapan tentang ini bahkan ia menanggapinya dengan malas.


“Ketika kau sudah menemukannya, jangan lupa untuk berbagi cerita denganku”


“Akan saya lakukan hanya ketika dalam keadaan tidak sadar”


Tepat, mereka akan berbagi cerita dengan tidak tau malunya hanya ketika mereka tidak sadar. Seperti beberapa tahun yang lalu ketika Andra menceritakan semua rasa sakit dan traumanya kepada Leo saat mereka sedang minum bersama, dan berakhir dengan Leo yang menyimpan rahasia tersebut rapat-rapat.


“Apa hanya ketika minum kita bisa berbagi cerita?” tanya Andra terkekeh pelan


“Karena kita mempunyai ego yang sangat tinggi untuk berbagi tentang kelemahan.”


Andra membenarkan apa yang diucapkan Leo karena memang ia juga berpikir bahwa ketika dirinya diangkat menjadi Presdir suatu perusahaan besar, ia harus membuktikan bahwa dirinya tidak mempunyai kelemahan apapun sehingga ia berhak memimpin perusahaan.


Begitu pun dengan Leo yang merasa dirinya menjadi kepercayaan keluarga Dirgantara, membuatnya menjadi seseorang yang harus sempurna dengan tidak ingin menunjukkan kelemahannya karena ia memiliki sebuah tanggung jawab yang besar.


“O, aku ingin mengenalkan Arra pada media”


“Apa?!”


Ucapan itu, sungguh tiba-tiba.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2