
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
"Oh, Arra pasti hamil."
"Apa?! Kak Galuh berbicara apa?!"
"Kau tuli?" cibir Galuh yang bisa dipastikan sedang kesal diseberang sana.
"Ulangi perkataan Kak Galuh tadi."
"ARRA PASTI HAMIL."
Dengan segera, Andra menjauhkan ponsel dari telinganya ketika mendengar Galuh yang berteriak.
"Seperti anak kecil saja berteriak-teriak."
"Sial."
"Cepatlah kemari dan periksa istriku."
"Aku sudah mengatakan bahwa Arra hamil" ucap Galuh santai.
"Ku rasa Kak Galuh bukan cenayang yang bisa mengetahui tanpa memeriksanya terlebih dahulu. Aku menunggu."
Tak butuh waktu lama, Andra segera memutuskan panggilan.
"Ada apa, Mas?" tanya Arra seraya mengerutkan keningnya.
Andra mendengus kesal. "Kak Galuh selalu membuat Mas emosi."
"Apa yang Kak Galuh katakan?"
"Sayang, Arra hamil?!" tanya Andra tiba-tiba.
"Hah?! Kata siapa, Mas? Arra nggak hamil" ucap Arra heran.
"Kak Galuh kekeh mengatakan itu."
Ah, jika dipikir-pikir bulan ini Arra telat datang bulan. Apakah pertanda baik?
"Tapi, jika dipikir-pikir lagi, Arra sedikit terlambat datang bulan" ucap Arra memberitahukan sang suami.
Mendengar hal itu tentu saja raut wajah Andra berubah senang. "Arra serius?!"
"Mas, Arra takut hasilnya mengecewakan.. Jangan terlalu dipercaya dulu, ya.."
Arra tidak ingin membuat raut wajah bahagia Andra seketika berubah jika hasil pemeriksaan tidak sesuai dengan ekspektasi pasangan suami istri ini.
Andra tersenyum tipis seraya mengelus pelan pucuk kepala sang istri. "Jika masih belum diberikan kepercayaan untuk menjaga anak, kita masih bisa bekerja dengan sangat keras lagi, bukan?"
Plak
"Dasar mesum!"
Melihat istrinya yang malu, Andra seketika tertawa.
__ADS_1
"Memangnya ucapan Mas itu salah? Kan Mas hanya mengatakan bahwa kita harus bekerja lebih keras lagi untuk memberikan adik kepada Zero" ucap Andra disela-sela gelak tawanya.
"Mas.."
"Hm?"
"Bagaimana jik—"
Andra langsung membungkam mulut sang istri dengan ciuman. Melihat wajah Arra yang sedikit ragu membuat Andra langsung sadar arah pembicaraannya kemana. Maka dari itu, sebelum Arra berbicara yang tidak-tidak, Andra langsung memotong ucapannya.
Tok tok tok
Klek
"Pap— Oh My God My Eyes!"
Brak
Dengan segera, Zero membanting pintu dan berlari keluar ketika melihat kedua orang tuanya sedang berciuman.
Bukan hanya Arra, Andra saja terkejut mendengar suara sang anak yang tiba-tiba terdengar.
"Mas! Tuh kan Zero lihat lagi" gerutu Arra dengan kesalnya saat Andra melepaskan ciuman.
Andra hanya bisa tertawa canggung karena ia juga merasa malu dipergoki sang anak beberapa kali. "Mas nggak dengar Zero mengetuk pintu" jawab Andra jujur.
"Lagian, Mas Andra sih" ucap Arra yang masih kesal.
Tok tok tok
Terdengar, suara pintu kamar yang diketuk dari luar membuat Arra segera beranjak dan membuka pintu.
Ternyata, Zero yang mengetuk pintu.
Zero mendongak. "Apa Mami dan Papi cudah celecai? Om Galuh cudah menunggu di bawah" ucap Zero pelan.
Mendengar hal itu, Andra yang masih duduk di tempat tidur pun segera beranjak mendekati anak dan istrinya.
"Sejak kapan Om Galuh datang?"
"Cejak Zelo ke kamal tadi. Zelo bilang Mami dan Papi cedang cibuk" ucap Zero yang membuat Arra semakin malu.
"Baiklah. Terima kasih, Son."
*****
"Kak Galuh?! Langsung ke kamar saja!" teriak Andra kepada Galuh yang sedang menunggu di lantai bawah.
Galuh yang mendengarnya pun menatap Andra yang berada di dekat tangga dengan kesal. "Sebentar" ucap Galuh dengan suara yang tidak kalah nyaring.
Tak lama kemudian, Galuh pun sudah berada di kamar utama dengan Andra dan Arra yang juga sedang menunggunya. Sedangkan Zero memilih untuk pergi karena ia tau itu adalah obrolan para orang tua saja.
"Bagaimana?"
"Kau bisa diam? Aku belum melakukan apa-apa."
Galuh benar-benar selalu emosi ketika bersama Andra bahkan tak jarang dirinya selalu berbicara dengan ketus.
"Hei! Jangan marah-marah dong, jomblo tua."
"Sialan."
__ADS_1
Galuh kembali memeriksa keadaan Arra agar Andra bisa diam kembali.
"Ra, coba gunakan ini" ucap Galuh seraya memberikan sebuah test pack kepada Arra.
Arra hanya bisa menerima benda tersebut dengan tatapan heran. "Maaf, Kak. Arra belum mengerti cara menggunakannya" ucap Arra jujur.
Galuh yang mendengarnya pun hanya terkekeh pelan. "Kau bisa mencelupkan ini ke dalam wadah yang berisi urine. Tunggu saja beberapa detik baru diangkat kembali. Setelah itu, bawa kemari dan akan Kak Galuh jelaskan lebih lanjut."
Penjelasan yang singkat dan jelas membuat Arra segera menurutinya walaupun dalam hatinya, Arra cukup takut untuk mengetahui hasilnya. Arra takut membuat suaminya kecewa karena raut wajah senang Andra sejak tadi tidak bisa ditutupi. Arra tau jika Andra sangat menginginkan sang adik untuk Zero.
Beberapa menit kemudian, Arra keluar dengan memegang test pack di tangan kanannya. Raut wajah Arra yang tidak bisa ditebak membuat Andra dan Galuh semakin penasaran dibuatnya.
"Bagaimana?" tanya Galuh dengan super excited.
Arra menghela nafas berat membuat kedua pria itu semakin penasaran. "Arra kan nggak ngerti, Kak" ucap Arra pelan.
Mendengar hal itu, Andra dan Galuh tertawa seketika. Mereka lupa bahwa wanita mungil itu sangat polos.
"Ah iya, kemarikan. Kak Galuh akan menjelaskan padamu" ucap Galuh seraya menjulurkan tangannya meminta benda tersebut.
Arra pun segera memberikan benda tersebut kepada Galuh.
Raut wajah Galuh membuat Andra semakin penasaran karena ia tidak bisa menebaknya hanya dari wajah.
"Bagaimana?" tanya Andra tidak sabaran.
Galuh menghela nafas berat membuat Andra juga Arra semakin penasaran dibuatnya.
"Maaf, aku tidak bermaksud untuk memberikan harapan kepada kalian" ucap Galuh pelan.
Mendengar hal itu, Andra hanya bisa menghela nafas dan tersenyum tipis seraya mengelus pinggang sang istri seolah mengatakan bahwa mereka bisa mencoba lagi.
"Andra, kau harus menjaga istrimu karena ia sedang mengandung anakmu."
"Tentu saja aku akan menja— Apa?! Kak Galuh mengatakan apa?!"
Galuh tertawa ketika melihat raut wajah Andra. "Selamat, kau akan memiliki anak lagi" ucap Galuh tersenyum tipis.
Andra benar-benar tidak percaya mendengar ucapan Galuh sehingga ia merebut test pack tersebut dari tangan sang kakak, walaupun ia sendiri tidak mengerti dengan benda itu.
"Sebaiknya periksa ke dokter kandungan yang ada di rumah sakit agar hasilnya akurat dan kau bisa diberikan ilmu-ilmu baru terutama Arra yang masih kehamilan pertama" ucap Galuh memberi saran.
Andra segera memeluk sang istri yang sudah menangis haru. "Terima kasih, Sayang. Terima kasih" ucap Andra berkali-kali seraya mencium pucuk kepala istrinya.
"Ayo kita ke rumah sakit" ajak Andra tiba-tiba.
Plak
Galuh segera memukul kepala Andra dengan cukup keras.
"Biarkan istri mu istirahat dahulu atau kau bisa panggilkan dokter saja kemari" ketus Galuh dengan kesalnya.
Andra mengerutkan keningnya heran. "Bukannya Kak Galuh yang meminta ku untuk mengantar Arra ke rumah sakit?"
"Bodoh! Maksud ku bukan sekarang juga. Istri mu baru saja mual dan ingin kau ajak menggunakan mobil saja."
"Sayang, apa kita harus menggunakan jet pribadi?" usul Andra dengan raut wajah serius.
Baik Arra maupun Galuh hanya bisa menghela nafas berat mendengar usulan dari pria tua tersebut.
*
__ADS_1
*
*