
Ameena nampak tak percaya ketika menemukan mantan suaminya tengah berdiri tepat di belakangnya saat ini, sontak saja Ameena hendak berdiri namun Hanif segera menahannya dan mengatakan kalau memang Ameena
masih ingin di sini maka ia tak perlu pergi. Ameena kemudian tetap di tempatnya sementara Hanif menaburkan bunga di atas pusara mendiang istrinya kemudian memanjatkan doa dengan sangat khusyuk yang membuat Ameena bisa merasakan betapa besar dan tulusnya cinta yang diberikan oleh Hanif pada mendiang sang istri
walaupun sudah lama meninggal dunia.
“Kamu tahu rasanya baru kemarin Salsabila pergi namun ternyata dia sekarang sudah pergi untuk selama-lamanya,” ujar Hanif.
“Iya Mas, aku juga merasa waktu berlalu begitu dengan cepat,” ujar Ameena.
“Kamu sendiri bagaimana kabarmu? Aku dengar dari mama bahwa sekarang kamu sedang tinggal di rumah mama, ya?”
“Nyonya mengatakan itu pada Mas Hanif?”
“Iya, mama mengatakan itu padaku dia juga mengatakan kalau Richi sudah ditangkap oleh polisi akibat laporan darimu.”
“Sebenarnya aku tidak mau melaporkan masalah KDRT itu ke polisi namun tuan Boy dan nyonya memaksaku untuk melakukan itu maka aku tidak memiliki kuasa untuk menolak.”
“Sejujurnya aku tidak mengerti kenapa kamu memertahankan rumah tanggamu dengan pria yang suka main tangan seperti Richi itu?”
“Sebelumnya dia bukanlah pria yang kasar Mas, dia
berubah semenjak tahu kalau Alysa bukanlah anak kandungnya.”
“Jadi semua itu benar Ameena? Alysa memang bukanlah
anak kandung Richi melainkan Boy?”
Ameena tidak dapat menjawab pertanyaan dari Hanif barusan menurut pengakuan Boy dan surat tes DNA yang diberikan oleh pihak rumah sakit memang mengatakan kalau Alysa adalah anak kandungnya dan Boy namun
sejujurnya sampai saat ini Ameena masih belum dapat memercayai hal tersebut seratus persen.
“Rasanya seperti sebuah mimpi buruk, ketika aku mendapatkan kenyataan ini rasanya duniaku runtuh seketika dan aku tidak memiliki semangat untuk melanjutkan hidup.”
“Kamu jangan mengatakan itu Ameena, Alysa membutuhkanmu.”
__ADS_1
****
Ameena nampak terenyuh walaupun Hanif dan dirinya sudah berpisah namun rupanya Hanif masih memerlakukannya dengan baik bahkan di saat seperti ini Hanif justru mendengarkan semua keluh kesahnya tanpa menghakiminya yang bukan-bukan, bahkan Hanif sendiri meminta maaf pada Ameena atas apa yang pernah ia lakukan di masa lalu mereka.
“Sudahlah Mas, Mas Hanif tak perlu membahas masa lalu lagi karena aku sudah memaafkan Mas Hanif.”
“Kamu memang wanita yang baik Ameena, andai saja aku mencintaimu sejak dulu maka aku rasa kita tidak akan pernah bercerai sampai kapan pun.”
Ameena hanya diam mendengarkan apa yang dikatakan oleh Hanif barusan hingga akhirnya Hanif pun menanyakan sebuah pertanyaan yang membuat Ameena terkejut bukan main.
“Ameena, apakah kamu masih mencintaiku sampai detik ini?”
“Kenapa Mas Hanif menanyakan itu?”
“Jawab saja pertanyaanku barusan, Ameena.”
Ameena tidak langsung menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Hanif barusan melainkan ia hanya diam dan cenderung menghindari pertanyaan Hanif yang sepertinya membuatnya tidak nyaman saat ini.
“Apakah pertanyaanku barusan membuatmu merasa tidak nyaman, Ameena?”
“Aku harus pergi sekarang Mas, permisi.”
menyimpulkan sendiri bahwa sepertinya memang Ameena masih memiliki perasaan padanya.
****
Ameena tiba di rumah dan ia langsung bertemu dengan Nandhita, Nandhita sendiri nampak terkejut dan tak percaya melihat Ameena ada di rumah ini. Seketika Nandhita menjadi marah pada Ameena karena ia pernah memergoki Ameena dan Hanif berbicara dan mereka berdua masih sangat dekat seperti masih menjadi pasangan suami-istri.
“Apa yang kamu lakukan di rumah ini, Ameena?”
“Aku ke sini karena nyonya yang memintaku untuk tinggal di sini.”
“Apakah kamu pikir aku akan memercayai apa yang kamu katakan barusan?”
Boy tiba dan menghentikan perdebatan yang sengaja Nandhita perbuat barusan, Boy mengatakan pada Nandhita untuk jangan mengusik Ameena seperti ini dan tentu saja Nandhita geram bukan main karena Boy sepertinya
__ADS_1
begitu membela Ameena.
“Aku hanya tidak suka wanita ini berkeliaran di rumah ini apalagi dia membuat sebuah alasan yang dibuat-buat.”
“Apa maksudmu? Ameena memang diizinkan tinggal di rumah ini oleh mamaku.”
Nandhita nampak tak percaya dengan apa yang Boy katakan barusan, ia menganggap bahwa Boy mengatakan hal tersebut untuk membuatnya marah namun Boy sama sekali tidak peduli dengan apa yang Nandhita katakan dan meminta Ameena untuk segera pergi ke kamarnya.
“Baik Tuan.”
Nandhita tentu saja tidak terima karena Ameena langsung pergi begitu saja padahal ia belum selesai bicara namun sebelum Nandhita melakukan hal yang buruk pada Ameena, Boy sudah mencegahnya terlebih dahulu.
****
Nandhita tidak habis pikir kalau Luluk mengizinkan Ameena tinggal di rumah ini padahal ia tahu kalau Luluk sangat membenci Ameena, Luluk mengatakan pada Nandhita bahwa ia mengizinkan Ameena untuk tinggal di sini sementara waktu untuk memulihkan trauma yang Ameena alami akibat kekerasan yang pernah ia alami dari Richi.
“Kenapa Tante berubah begini?”
“Nandhita, tolong kamu hargai keputusanku kalau memang kamu tidak suka maka silakan kamu pergi dari rumah ini dan tinggal di hotel saja.”
Nandhita sontak terdiam mendengar ucapan Luluk dan ia tidak berani berkomentar lebih jauh mengenai apa yang terjadi di sini, Alysa nampak menghampiri Luluk dan menunjukan gambar yang ia buat barusan pada neneknya, Luluk nampak memberikan apresiasi atas apa yang cucunya gambar di kertas itu sementara Nandhita menatap tajam Alysa karena ia menganggap bahwa Alysa juga bertanggung jawab dalam masalah ini. Nandhita pergi dan menunggu di balik dinding hingga Alysa berjalan tiba-tiba saja tangannya langsung ditarik oleh Nandhita untuk ikut bersamanya.
“Tante ini siapa?”
“Kamu tidak perlu tahu aku ini siapa, karena ibumu hidupku begini dan aku tidak akan pernah memaafkannya!”
“Tante kenapa berteriak padaku? Memangnya aku ini salah apa?”
“Kamu bertanya salahmu apa? Salahmu adalah kamu itu anaknya Ameena!” jerit Nandhita.
****
Boy langsung mengajak Alysa untuk pergi ke kamarnya dan selepas Alysa pergi kini giliran Boy yang bicara pada Nandhita, Boy sama sekali tidak mau bersikap ramah pada Nandhita selepas apa yang sudah wanita ini lakukan pada anaknya barusan.
“Berani sekali kamu membentak anakku, memangnya kamu pikir siapa dirimu, hah?!”
__ADS_1
“Aku tidak suka pada anak itu karena anak itu mengingatkanku pada Ameena dan Ameena yang bertanggung jawab atas hancurnya rumah tanggaku dengan Hanif!”
“Kamu menyalahkan Ameena atas hancurnya rumah tanggamu dengan mas Hanif? Nandhita kamu sungguh sangat menyedihkan, harusnya orang yang perlu kamu salahkan adalah dirimu sendiri, mas Hanif pergi darimu bukan karena Ameena tapi karena perbuatanmu sendiri!”