
Ameena merasa tidak nyaman dengan tatapan yang diberikan oleh penumpang pria yang duduk di sebelahnya ini, ia ingin cepat-cepat pesawat ini mendarat supaya ia bisa bebas dari situasi yang sangat tidak menyenangkan ini. Akhirnya pesawat pun mendarat di bandara Oslo dan Ameena bisa bernapas lega karena ia bisa lepas dari situasi ini, Ameena turun belakangan supaya ia tidak bertemu lagi dengan pria aneh itu namun sepertinya doa Ameena
tidak terkabul karena pria itu masih menunggunya di garbarata, Ameena pura-pura tidak melihat pria itu dan terus berjalan menjauhi pria tersebut.
“Tunggu dulu.”
Namun Ameena tetap saja berjalan mengikuti penumpang lain di depannya menuju pos imigrasi, ini pertama kalinya Ameena menghadapi petugas imigrasi negara lain dan ia berharap semoga saja petugas imigrasi itu tidak bertanya yang aneh-aneh padanya pada saat gilirannya maju ke depan.
“Kamu dari mana?” tanya pria asing itu yang berdiri di belakang Ameena.
Ameena tahu apa yang ditanyakan oleh pria asing itu namun Ameena memilih untuk tak menjawabnya, bukannya karena ia sombong namun karena ia takut pada pria ini.
“Aku bicara denganmu, Nona.”
Ucapan pria itu membuat penumpang lain yang tengah menunggu paspor dan visa mereka dicek pun menoleh ke arah pria itu namun pria tersebut sama sekali tidak merasa malu namun ia malah menunjuk Ameena bahwa ia
sedang berbicara dengan wanita ini. Petugas imigrasi yang melihat tindakan aneh pria itu segera memintanya untuk ikut dengan mereka ke kantor untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Ameena dapat menghela napasnya lega karena setidaknya ia bisa terbebas dari pria asing yang mengganggunya barusan. Akhirnya giliran Ameena untuk maju dan menunjukan paspor serta visa yang ia miliki pada petugas imigrasi, petugas imigrasi pria itu nampak berekspresi dingin ketika menerima paspor Ameena, ia nampak membolak balikan paspor milik Ameena seolah berusaha menemukan sesuatu di sana.
“Ini kali pertamamu datang?”
“Apa?”
****
Ameena bisa bersyukur karena petugas imigrasi itu hanya bertanya hal tersebut padanya dan untungnya Ameena bisa menjawabnya hingga kini ia bisa keluar imigrasi dan menunggu kopernya. Ameena tidak menyangka
bahwa akhirnya bisa menginjakan kaki di benua Eropa yang selama ini ia pikir akan mustahil untuk dapat dijamah olehnya. Koper milik Ameena sudah ditangan dan kini wanita itu segera keluar dari pintu kedatangan internasional bersama ratusan orang lain yang telah selesai mengambil koper mereka, kini Ameena nampak kebingungan harus pergi ke mana karena ia tidak menemukan sosok Hanif di sekelilingnya.
“Mas Hanif ke mana, sih? Tidak mungkin kan kalau dia pergi tanpa diriku?”
Ameena ingin menelpon Hanif namun ia lupa kalau sekarang ia sudah tidak dapat menghubungi Hanif lewat kartu Indonesia karena ini sudah berada di luar negeri, ia juga tadi tidak sempat membeli kartu sim yang berlaku di sini saking buru-burunya keluar dari terminal kedatangan, ia tak mau membuat Hanif marah karena menunggunya terlalu lama namun sekarang justru dirinya yang tak tahu di mana Hanif berada.
__ADS_1
“Ameena, cepat ke sini!”
Hanif muncul di dekatnya dan memberikan kode bagi Ameena untuk menghampirinya di sana, sontak saja Ameena segera pergi menghampiri Hanif yang telah menunggunya itu.
“Kenapa lama sekali?”
“Aku minta maaf Mas, tapi tadi aku kesulitan menemukanmu.”
****
Luluk berusaha bicara dengan Boy mengenai Cassandra yang menjadi calon istrinya namun Boy sama sekali tidak tertarik dengan hal tersebut, Boy mengatakan bahwa ia sama sekali tidak tertarik dengan mengurus perusahaan dan ia lebih tertarik untuk menjadi seorang musisi di Amerika.
“Kalau kamu tak meneruskan perusahaan ini maka siapa yang akan menjadi Presiden Direktur selepas papamu pensiun nanti?”
“Papa bisa memegang jabatan itu hingga dia meninggal dunia kan? Selepas itu bisa serahkan pada om Wirawan, mudah kan?”
Luluk nampak tak percaya dengan apa yang Boy katakan barusan, Luluk mengatakan bahwa perushaan yang suaminya bangun itu sangat berarti untuk suaminya dan ia ingin penerusnya yang kelak akan meneruskan usaha
“Om Wirawan bukan orang lain Ma, dia kan adik kandung papa.”
“Mama tahu namun papamu ingin supaya garis keturunannya langsunglah yang menjadi penerus perusahaan.”
“Tapi aku tak tertarik dengan semua itu.”
“Boy ….”
“Tidak bisakah Mama menghargai keputusanku?”
Selepas mengatakan itu Boy langsung pergi meninggalkan Luluk, wanita itu nampak menghela napasnya panjang, sejujurnya ia paham dengan impian Boy namun ia juga tahu keinginan suaminya supaya perusahaan diwariskan
untuk keturunan mereka kelak, kalau Boy tak mau meneruskan perusahaan maka suaminya pasti sangat kecewa sekali.
__ADS_1
****
Boy masuk ke dalam kamarnya dan di sana nampak tergantung beberapa poster band favoritnya dan juga ada beberapa alat musik yang ia kuasai seperti drum, gitar dan piano. Boy memasang juga foto ia bersama
band-nya di Amerika ketika mereka melakukan konser di beberapa negara bagian dan ia merindukan moment seperti itu.
“Aku menghabiskan hidupku untuk belajar binis di Amerika dan aku merasa tertekan untuk itu padahal aku ingin mengikuti kata hatiku,” lirihnya.
Boy kemudian teringat untuk menghubungi Ameena, ia coba menghubungi Ameena melalui jaringan internet namun sayangnya Ameena tak menjawab panggilan darinya.
“Apakah tidak ada wifi di sana?”
Boy kemudian memutuskan untuk mengirim pesan saja pada Ameena dan kemudian berharap kalau Ameena bisa membalas pesannya barusan.
“Ameena, sepertinya memang aku tertarik padanya.”
Boy nampak tersenyum ketika membayangkan Ameena, pertemuan pertama mereka, bagaimana cara wanita itu menatap lawan jenis dan bagaimana wanita itu begitu menjaga dirinya supaya tidak disentuh sembarangan
oleh orang lain membuatnya kagum.
“Dia benar-benar berbeda dengan wanita yang pernah aku temui sebelumnya, Ameena andai saja aku menemukanmu terlebih dahulu sebelum mas Hanif dan kak Salsabila maka mungkin aku akan menikahimu waktu itu.”
Diam-diam Nandhita mencuri dengar apa yang Boy sedang bicarakan itu karena kebetulan pintu kamar Boy tidak tertutup dengan rapat hingga Nandhita bisa mencuri dengar apa yang dikatakan oleh pria itu.
****
Sepanjang perjalanan dari bandara menuju rumah, Hanif sama sekali tidak mengajak Ameena bicara dan Ameena pun sungkan untuk memulai pembicaraan dengan suaminya sendiri itu. Hubungan Hanif dan Ameena benar-benar
kembali dingin seperti dulu namun Ameena bertekad untuk tidak melanggar janjinya pada mendiang Salsabila yang telah memintanya menjaga Hanif walau ia sudah tidak ada di dunia ini. Sepanjang perjalanan Ameena menatap keluar jendela mobil dan ia nampak terkagum dengan pemandangan yang disajikan oleh kota ini, akhirnya mobil berhenti di sebuah rumah dua lantai yang terletak jauh dari pusat kota Oslo. Hanif meminta Ameena untuk turun dari dalam mobil, Ameena melihat rumah ini dengan agak terkagum, rumah bergaya Skandinavia yang
sebelumnya hanya ia lihat lewat internet atau televisi kini berada tepat di depannya.
__ADS_1
“Masuk ke dalam, tunggu apa lagi!”