Cinta Ameena

Cinta Ameena
Sikap Mama Mertua


__ADS_3

Ameena nampak masih terdiam di depan rumah seperti terkagum dengan rumah yang berada di depannya ini hingga Hanif menyadarkannya untuk masuk ke dalam. Ameena pun dengan segera mengikuti apa yang Hanif


perintahkan padanya barusan dengan menarik kopernya masuk ke dalam rumah dan mengikuti perginya pria itu. Ameena masih nampak terkagum dengan arsitektur rumah ini hingga akhirnya Hanif membawanya ke ruang tengah di mana keluarganya berkumpul.


“Hanif, akhirnya kamu datang juga, Nak.”


Hanif dipeluk oleh seorang wanita yang tidak lain adalah mamanya, Hanif membalas pelukan sang mama dan kemudian ia memeluk papanya yang duduk di sebelah sang mama. Hanif dan kedua orang tuanya nampak


sedang bercerita hingga akhirnya mamanya itu menyadari kalau Hanif membawa Ameena.


“Hanif, siapa dia?”


Hanif sontak saja baru menyadari kalau ia datang ke sini tidak sendirian karena bersama dengan Ameena, Hanif pun kemudian memperkenalkan Ameena pada kedua orang tuanya.


“Pa, Ma, dia adalah Ameena.”


“Halo, Tuan, Nyonya.”


“Kenapa kamu mengajaknya ke sini, Nak?”


Hanif nampak bingung harus menjelaskan apa pada kedua orang tuanya namun kemudian Hanif meminta Ameena untuk pergi dulu sebentar dan jangan mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Ameena menuruti apa yang Hanif perintahkan padanya dan selepas Ameena pergi barulah Hanif menceritakan semua pada kedua orang tuanya mengenai siapa itu Ameena. Tentu saja kedua orang tuanya nampak terkejut ketika tahu bahwa Ameena adalah istri Hanif.


“Apa maksudmu kalau wanita itu adalah istrimu, Hanif? Bukankah


kamu sudah menikah dengan Salsabila?”


“Iya Ma, aku memang sudah menikah dengan Salsabila dan hubungan kami juga baik-baik saja hanya saja saat itu Salsabila yang memintaku untuk mau menikah lagi dengan wanita itu karena usianya sudah tidak lama lagi.”


Kedua orang tua Hanif awalnya nampak tak percaya dengan apa yang Hanif katakan namun pada akhirnya mereka berdua pun memercayai apa yang Hanif katakan karena merasa Hanif mengatakan yang sejujurnya.


****


Selepas bicara dengan kedua orang tuanya, Ameena diminta untuk kembali menemui kedua orang tua Hanif. Kini giliran Ameena yang menjadi gelisah dan takut karena untuk pertama kalinya ia bertemu dengan kedua mertuanya, kedua orang tua Hanif menatapnya dengan tatapan yang sama dengan Luluk dan Pamungkas ketika ia bertemu dengan kedua orang tua Salsabila itu. Ameena sudah pasrah jika dirinya akan diperlakukan tidak baik oleh kedua orang tua Hanif ini.


“Jadi namamu Ameena?”

__ADS_1


“Iya Nyonya, nama saya Ameena.”


“Nyonya? Bukankah kamu istri Hanif? Kenapa memanggilku Nyonya?”


“Saya tidak ingin bersikap tidak sopan pada anda.”


Wanita yang menjad mamanya Hanif itu nampak tersenyum mendengar jawaban dari Ameena, ia kemudian merangkul Ameena yang membuat Ameena terkejut dengan apa yang dilakukan oleh mamanya Hanif ini.


“Kamu kan sekarang sudah menjadi istrinya Hanif, kenapa harus memanggilku Nyonya? Panggil aku Mama.”


Ameena nampak terkejut karena mamanya Hanif meminta dirinya memanggilnya mama, sebuah hal yang tak pernah Ameena bayangkan sebelumnya terjadi namun kini benar-benar terjadi.


“Apakah kamu dapat melakukannya?”


“Apa?”


“Memanggilku dengan sebutan Mama.”


“Mama?”


“Itu kamu bisa melakukannya, kalau begitu mulai sekarang kamu harus membiasakan dirimu memanggilku dengan sebutan Mama.”


Hanif kemudian meminta Ameena untuk ikut dengannya ke kamar, Ameena kemudian berpamitan pada kedua orang tua Hanif dan mengikuti perginya sang suami ke kamar.


****


Sementara itu Cassandra didatangi oleh Luluk ketika ia tengah berada di salon miliknya, Luluk meminta maaf pada Cassandra akibat kelakuan Boy yang membuat wanita ini sedih namun Cassandra mengatakan bahwa ia


baik-baik saja, ia yakin bahwa Boy mengatakan itu karena ia belum mengenalnya saja.


“Lagi pula aku juga bersalah dalam hal ini Tante,


seharusnya aku tak perlu melaporkan masalah spele seperti itu pada kalian.”


“Oh tidak apa-apa Cassandra, justru Tante senang karena kamu menceritakan bagaimana sikap Boy padamu saat pertemuan pertama kalian, Boy memang orangnya seperti itu. Dia bersikap dingin pada semua orang karena papanya memintanya kembali ke Indonesia untuk meneruskan bisnis keluarga kami padahal dia ingin sekali menjadi seorang musisi di Amerika.”

__ADS_1


“Musisi, Tante?”


“Iya, kami juga baru mengetahuinya secara tak sengaja saat secara tak langsung melihat konser sebuah band indie di sebuah negara bagian ketika suami Tante ada perjalanan dinas ke Amerika. Kami benar-benar tak menyangka bisa melihat Boy bersama band-nya di atas panggung itu.”


“Sekarang aku paham kenapa Boy bisa bersikap seperti itu, Tante.”


“Iya Cassandra, jadi tolong kamu jangan salah paham dulu dengan Boy, ya? Tante yakin bahwa dia adalah pria yang baik hanya saja saat ini dia masih kecewa karena disuruh kembali ke Indonesia.”


****


Nandhita sedang melajukan mobilnya secara perlahan dan ia tak sengaja menabrak seseorang yng tengah menyebrang jalan namun untungnya saja luka yang dialami oleh orang tersebut tidaklah parah namun orang itu tetap saja misuh-misuh menuntut Nandhita bertanggung jawab atas apa yang sudah ia lakukan padanya.


“Kamu harus bertanggung jawab.”


“Berapa yang kamu inginkan?”


“Apa katamu?”


“Aku tahu bahwa ini hanya trik murahan orang-orang seperti kalian jadi dari pada membuang waktuku lebih baik katakan berapa yang kamu minta dariku.”


Orang yang ditabrak oleh Nandhita itu nampak tersinggung dengan ucapan wanita ini, ia mengatakan pada Nandhita tidak seharusnya ia menanyakan soal hal tersebut padanya namun Nandhita tak peduli sekarang juga ia harus segera pergi karena ada urusan sangat penting.


“Ambil semua uang itu dan menyingkir dari jalanku.”


Nandhita melemparkan sejumlah uang kertas ke wajah orang yang ditabrak olehnya dan kemudian buru-buru masuk ke dalam mobilnya hendak pergi namun orang yang ditabrak oleh Nandhita itu malah menghalangi jalannya.


“Astaga, apa sih keinginannya? Kenapa membuatku kesal saja.”


Nandhita membunyikan klakson namun orang itu tetap saja tak mau menyingkir dari jalan Nandhita hingga akhirnya Nandhita mengeluarkan kepalanya dari dalam mobil dan berteriak meminta orang tersebut untuk menyingkir atau ia akan laporkan ini pada polisi.


****


Hanif mengatakan pada Ameena untuk jangan terlalu senang dulu karena sikap kedua orang tuanya padanya hangat karena Hanif mengatakan pada Ameena bahwa mereka tidak akan tinggal di sini.


“Kita akan tinggal di Oslo, di apartemenku dan aku pastikan kamu akan melihat neraka dunia di sana, Ameena.”

__ADS_1


Ameena tak menanggapi ucapan Hanif barusan dan kemudian pria itu pergi meninggalkan Ameena sendirian di dalam kamar, Ameena berjalan menuju jendela yang mana di luar sana banyak sekali daun yang sudah berguguran menandakan saat ini sudah memasuki musim gugur dan tidak lama lagi musim dingin akan segera tiba dan salju pasti akan turun.


“Dingin sekali,” gumam Ameena yang baru merasakan hawa dingin di dalam kamar ini karena ia mengenakan jaket yang tidak terlalu tebal.


__ADS_2