
Ameena menghela napasnya panjang karena ia telah menduga bahwa pria ini akan mengatakan hal itu, Pamungkas sendiri merasa penasaran dengan reaksi yang akan Ameena berikan selepas ia mengatakan hal
tersebut akan tetapi justru Ameena mengatakan bahwa ia akan mengganti seluruh biaya perawatan Alysa namun tentu saja Pamungkas menolak hal tersebut.
“Memangnya saya mengatakan kamu harus mengganti semua biaya yang telah saya berikan, Ameena?”
“Akan tetapi anda barusan mengatakan semua tidak gratis.”
“Iya, memang semua tidak gratis namun bukan berarti kamu harus menggantinya dengan uang, Ameena.”
Ameena tahu ke mana arah pembicaraan mereka ini dan Ameena sendiri nampak mencari alasan supaya dapat menghindari pria ini akan tetapi tentu saja Pamungkas tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi, ia menahan Ameena karena dirinya belum selesai bicara.
“Kenapa kamu ingin pergi begitu saja padahal aku belum selesai bicara, Ameena?”
“Maaf akan tetapi saya harus menegok Alysa dulu, saya takut kalau dia membutuhkan sesutu.”
“Kalau saya sudah selesai bicara denganmu, maka kamu bebas untuk menemui anakmu lagi Ameena, akan tetapi yang menjadi masalahnya adalah saya belum selesai dan kamu ingin melarikan diri begitu saja, apakah menurutmu tindakanmu ini sopan?”
Ameena menghela napasnya dan meminta maaf pada Pamungkas dan pria itu tersenyum mendengar ucapan permintaan maaf Ameena barusan, Pamungkas mengatakan pada Ameena apa yang harus wanita itu lakukan
untuk menembus semua ini yaitu menikah dengannya. Ameena tidak terkejut dengan apa yang diinginkan oleh Pamungkas darinya namun Ameena menolak dengan sopan apa yang menjadi keinginan Pamungkas tersebut.
“Maaf Tuan, akan tetapi sepertinya untuk hal tersebut saya tidak dapat melakukannya.”
“Kenapa kamu tidak bisa melakukannya, Ameena? Kalau kamu menikah denganku maka seluruh kehidupanmu akan terjamin dan kamu bisa melihat Alysa tumbuh dengan jauh lebih baik jika dibandingkan dengan kehidupan kalian sekarang.”
“Terima kasih atas kebaikan hati anda dan perhatiannya, akan tetapi saya benar-benar tidak dapat melakukannya, maaf sekali lagi akan tetapi saya harus pergi.”
****
Ameena tidak habis pikir pada Pamungkas karena pria itu memintanya untuk menikah dengannya, tentu saja Ameena menolak permintaan Pamungkas tersebut karena baginya sampai kapan pun ia tidak akan pernah mau
menikah dengan Pamungkas. Boy datang ke rumah sakit ini untuk menjenguk Alysa, Ameena sendiri nampak bimbang apakah ia harus mengatakan masalahnya dengan Pamungkas pada Boy atau tidak. Boy sendiri nampak memerhatikan kalau ada sesuatu hal yang salah dalam diri Ameena, wanita itu seperti tengah memikirkan sesuatu dan sepertinya ada sesuatu yang hendak ia sampaikan padanya namun Ameena seperti ragu untuk mengatakan hal tersebut padanya.
“Kalau memang ada sesuatu yang ingin kamu katakan padaku, maka katakan saja.”
__ADS_1
Ameena terkejut mendengar ucapan Boy barusan yang rupanya menyadari sikapnya, Boy sendiri menanti apa yang hendak Ameena katakan padanya namun Ameena memint supaya mereka berdua bicara diluar saja karena takut didengar oleh Alysa dan tentu saja hal tersebut tidaklah menjadi sebuah masalah untuk Boy.
“Jadi apa yang hendak kamu bicarakan denganku, Ameena?” tanya Boy yang nampak begitu sudah tak sabar mendengar apa yang sebenarnya hendak Ameena katakan padanya.
“Begini Tuan Boy, saya bingung harus memulai dari mana.”
“Tidak apa, kamu dapat mengatakan semuanya padaku.”
“Anu…sebenarnya… sebenarnya ….”
****
Boy terkejut bukan main saat mendengar cerita Ameena mengenai sang papa yang ingin menikahi wanita yang ia cintai, Boy tentu saja tidak dapat memercayai begitu saja cerita Ameena ini dan Ameena sendiri tidak memaksakan
Boy untuk memercayainya. Boy dapat melihat bahwa Ameena sama sekali tidak berbohong akan ceritanya barusan bahwa memang papanya mengatakan hal itu pada Ameena, akan tetapi di sisi yang lain Boy sendiri nampak heran sekaligus bingung kenapa papanya meminta Ameena untuk menikah dengannya? Boy tentu saja tidak dapat tinggal diam begitu saja saat ini, ia harus mencari tahu kebenarannya sekarang juga. Boy kemudian menelpon Pamungkas untuk menanyakan di mana keberadaan papanya tersebut.
“Kenapa memangnya kamu menanyakan Papa ada di mana?”
“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan Papa kalau Papa ada waktu.”
“Baiklah, aku akan menunggu.”
“Tempatnya nanti akan Papa berikan padamu.”
Selepas pembicaraan singkat itu, Boy menantikan kabar dari Pamungkas apakah papanya itu dapat bertemu dengannya nanti malam atau tidak dan untungnya saja Pamungkas dapat bertemu dengannya nanti malam dan
papanya itu telah mengirimkan alamat di mana mereka harus bertemu nanti malam.
“Baiklah, aku harus mencari tahu kebenarannya mengenai apa yang Ameena ucapkan barusan,” lirih Boy yang kemudian segera bersiap untuk pergi menemui sang papa.
****
Luluk datang ke rumah Nandhita yang ada di kota lain, kedatangan Luluk yang sama sekali tidak disangka oleh Nandhita itu tentu saja membuat wanita itu terkejut, ia mempersilakan Luluk untuk duduk dan membuatkan
Luluk minuman. Nandhita dan Luluk kemudian saling mengobrol sebentar sambil minum teh yang dibuat oleh Nandhita hingga akhirnya Nandhita kemudian bertanya pada Luluk mengenai kenapa Luluk datang ke sini.
__ADS_1
“Aku memang sengaja datang menemuimu karena aku rindu padamu.”
“Benarkah Tante?”
“Tentu saja, kamu kan sudah aku anggap seperti anakku sendiri, Nandhita.”
Nandhita hanya tersenyum saja mendengar ucapan Luluk barusan hingga akhirnya Luluk pun bertanya pada Nandhita apakah ada sesuatu hal yang ingin Nandhita katakan padanya, tentu saja ucapan Luluk barusan membuat
Nandhita terkejut bukan main karena ia tidak menyangka kalau Luluk akan mengatakan hal tersebut.
“Kenapa Tante menanyakan hal itu?”
“Mungkin ini hanya perasaanku saja namun aku merasa kalau waktu kamu datang ke rumah waktu itu, sepertinya kamu sedang ada masalah namun sayangnya karena saat itu tidak kondusif maka kamu tidak jadi bercerita
padaku dan memilih pulang, apakah yang aku katakan barusan adalah benar?”
“Iya Tante, sebenarnya apa yang Tante katakan tadi adalah benar.”
“Kalau begitu, apa sebenarnya yang ingin kamu sampaikan padaku, Nandhita?”
****
Boy telah menanti di restoran tempat di mana ia dan sang papa sudah janjian bertemu, Boy menunggu dengan sabar hingga akhirnya Pamungkas pun datang dan duduk di kursi yang berhadapan dengan Boy.
“Selamat malam, Nak.”
“Selamat malam, Pa.”
“Jadi kita langsung masuk pada intinya saja, sebenarnya kenapa kamu mengajakku untuk bicara di sini.”
Boy nampak tidak langsung menjawab pertanyaan dari Pamungkas barusan, ia nampak memerhatikan Pamungkas terlebih dahulu hingga akhirnya Boy pun mengatakan apa yang sebenarnya ingin ia sampaikan pada Pamungkas.
“Pa, bisakah Papa mengatakan kejujurannya padaku?”
“Kamu ini sedang bicara apa? Apa maksudmu soal kejujuran?”
__ADS_1
“Ameena mengatakan padaku bahwa Papa memintanya untuk menikah dengan Papa, apakah semua yang dikatakan oleh Ameena itu benar?”