
Ameena merasa sangat tidak nyaman dengan kedatangan Pamungkas ke rumahnya dan apalagi pria ini seperti sangat mengintimidasi dirinya dengan beberapa pertanyaan yang merujuk pada pernikahan yang sangat ia inginkan. Ameena sudah berusaha menjawab semua pertanyaan yang Pamungkas ajukan dengan sopan akan
tetapi Pamungkas sepertinya tidak dapat menerima semua itu dan mencecar Ameena kenapa wanita ini menolaknya.
“Apakah kamu tidak ingin uang, Ameena? Dengan banyak uang maka kamu tidak perlu memikirkan bagaimana nasib Alysa ke depannya.”
“Saya dapat menghidupi Alysa, Tuan.”
“Benarkah? Kamu yakin selamanya dapat menghidupi Alysa padahal biaya hidup di sini mahal?”
Ameena tahu ke mana arah pembicaraan Pamungkas ini namun Ameena berusaha menolak dengan sopan permintaan Pamungkas yang memang saat ini seolah-olah ingin sekali memaksanya supaya dapat menikah dengannya. Pamungkas akhirnya menyerah karena tidak dapat membujuk Ameena supaya dapat menerima dirinya hari ini namun pria itu bersumpah akan membuat Ameena menjadi miliknya bagaimanapun jadinya.
“Kamu tunggu dan lihat saja Ameena, kamu pasti akan berakhir denganku.”
Mendengar ucapan Pamungkas barusan tentu saja membuat Ameena merinding, ia sama sekali tidak menyangka kalau Pamungkas akan sebegitu gigihnya untuk memperjuangkan dirinya, akan tetapi alih-alih Ameena terharu
dengan yang dilakukan oleh Pamungkas ini justru malah Ameena menjadi tidak nyaman dibuatnya, Ameena berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak perlu terlalu memikirkan apa yang Pamungkas katakan padanya barusan. Keesokan paginya ketika ia tiba di rumah Luluk nampak wanita itu sudah menantinya dan meminta
Ameena untuk bicara dengannya sebentar di belakang karena ada sesuatu hal yang ingin ia bahas. Ameena tentu saja tidak dapat menolak permintaan dari Luluk itu hingga akhirnya mereka berdua pergi ke belakang dan saat mereka tiba di belakang, Luluk pun langsung menanyakan sesuatu pada Ameena.
“Apakah kamu tertarik menikah dengan mantan suamiku, Ameena?”
“Tidak Nyonya, saya sama sekali tidak berniat untuk melakukan itu.”
“Baguslah karena kalau sampai kamu berani melakukannya, maka aku tidak akan tinggal diam.”
****
Ameena tahu bahwa Luluk tentu saja tidak akan setuju jika dirinya menikah dengan Pamungkas dan Ameena sendiri pun juga tidak mau menikah dengan pria itu sekalipun Ameena dijanjikan oleh kemudahan hidup dan
uang yang banyak namun Ameena tidak mau jika dipaksa untuk menikah dengan pria yang tidak ia cintai dan berakhir dengan hidupnya layaknya dipenjara. Boy nampak menghampiri Ameena selepas pembicaraan Ameena dengan Luluk karena rupanya Boy diam-diam memerhatikan Luluk dan Ameena tadi, pria itu nampak begitu penasaran dengan apa yang Ameena dan Luluk bicarakan barusan.
“Ameena, tadi apa yang kamu dan mama bicarakan?”
__ADS_1
“Kami tidak sedang bicara apa pun, Tuan.”
Boy tentu saja tidak memercayai apa yang Ameena katakan barusan karena jelas-jelas ia melihat bahwa tadi Ameena dan Luluk bicara, akan tetapi Ameena tidak mau mengatakan apa pun pada Boy dan wanita itu
memilih untuk pergi meninggalkan Boy. Boy sendiri nampak begitu kesal karena hubungannya dengan Ameena tidak dapat berjalan seperti dulu lagi walaupun ia sudah berusaha sebisa mungkin untuk membuat semuanya seperti semula. Luluk bertanya pada Boy mengenai apa yang terjadi pada putranya ini dan Boy pun menceritakan apa yang membuatnya menjadi seperti ini.
“Boy, saran Mama adalah lebih baik kamu lupakan saja Ameena dan lanjutkan hidupmu.”
“Bagaimana bisa Mama mengatakan itu lagi padaku? Mama tahu sendiri kan kalau aku mencintai Ameena?”
“Namun dia sama sekali tidak mencintaimu, kamu harus mengerti hal itu.”
****
Cassandra dipaksa oleh papanya untuk jangan menemui Boy lagi namun tentu saja Cassandra tidak mau melakukan hal itu, Cassandra tetap saja mau menemui Boy dan bertekad akan membuat pria itu menjadi suaminya apa pun yang terjadi.
“Cassandra, apakah kamu tidak mau mendengarkan Papa?”
“Pa, aku sudah mengatakan bahwa hanya Boy satu-satunya pria yang aku cintai, tidak bisakah Papa memahami itu?”
“Papa mengatakan itu karena Papa tidak menyetujui hubunganku dengan Boy kan? Papa tidak tahu bagaimana perasaanku pada Boy, aku sangat mencintainya dan aku sangat ingin sekali dia menjadi suamiku!”
“Nak, tolong dengarkan Papamu ini sekali saja, tolong hentikan semua ini sekarang, Papa sangat memohon sekali padamu.”
Namun Cassandra menggelengkan kepalanya dan mengatakan pada papanya bahwa ia tidak akan pernah berhenti sebelum Boy menikah dengannya.
“Tolong Papa jangan menghalangiku lagi karena ini adalah keputusanku,” ujar Cassandra yang langsung pergi selepas mengatakan itu.
****
Hanif mendapatkan kabar dari Luluk bahwa Ameena ingin menikah dengan mantan suaminya dan tentu saja Hanif terkejut ketika mendapatkan kabar itu, Hanif pun meminta bertemu dengan Ameena nanti malam dan Ameena
untungnya saja mau menyetujui akan hal tersebut. Hanif bergegas pergi ke rumah di mana Ameena tinggal selepas ia pulang bekerja, Ameena sendiri menyambut mantan suaminya itu dengan ramah dan mempersilakan Hanif untuk duduk di ruang tamu dan ia membuatkan minuman untuk mantan suaminya itu.
__ADS_1
“Jadi kenapa Mas Hanif datang ke sini?”
“Tentu saja karena ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu, Ameena.”
“Sesuatu seperti apa, Mas?”
“Aku dengar dari mama bahwa kamu dekat dengan papanya Salsabila, apakah itu benar?”
Ameena menghela napasnya panjang, Ameena mengatakan sejujurnya pada Hanif mengenai apa yang sebenarnya terjadi di antara dirinya dan Pamungkas, Hanif sendiri menyimak semua cerita Ameena tanpa memotong cerita
tersebut hingga akhirnya Ameena pun selesai bercerita mengenai semua keluh kesahnya belakangan ini.
“Seperti itulah ceritanya.”
“Aku sama sekali tidak menyangka kalau ternyata papa juga menyukaimu.”
“Aku juga sama sekali tidak memercayai ini, akan tetapi memang seperti itulah kenyataannya.”
“Lalu bagaimana keputusanmu selepas ini, Ameena?”
“Tentu saja aku akan menolaknya Mas, aku tidak akan mau menikah dengan tuan Pamungkas walau apa pun yang coba ia tawarkan padaku.”
****
Pamungkas kembali datang menemui Ameena namun sayangnya sekarang Ameena sedang bekerja di rumah Luluk maka Pamungkas pun mengirimkan sesuatu untuk Ameena dan menitipkannya pada satpam di rumah Luluk. Ameena yang tengah bekerja di rumah Luluk begitu terkejut ketika mendapatkan paket hadiah dari satpam yang berjaga di depan pagar rumah, ketika Ameena bertanya pada satpam itu mengenai siapa yang mengirimkan semua ini untuknya, satpam tersebut menolak memberitahu Ameena mengenai siapa yang telah mengirimkan semua
ini.
“Beliau sama sekali tidak ingin disebutkan namanya.”
“Baiklah kalau begitu, terima kasih banyak Pak.”
Ameena pun kemudian meletakan paket hadiah tersebut dan kembali melanjutkan pekerjaannya, di saat itulah Luluk muncul di dapur dan matanya langsung tertuju pada hadiah yang diterima oleh Ameena barusan.
__ADS_1
“Apa itu?”