Cinta Ameena

Cinta Ameena
Aku Bertahan


__ADS_3

Luluk nampak terkejut ketika melihat berita ada sebuah video viral yang memerlihatkan Hanif dan Nandhita tengah melakukan sebuah hal yang menurutnya tidak pantas. Ia tentu saja menutup mulutnya dan menggelengkan


kepala tanda tak percaya dengan berita yang menjadi perbincangan publik ini dan ketika Nandhita kembali ke rumah, buru-buru Luluk langsung menahan Nandhita untuk mereka berdua dapat bicara sebentar.


“Ada apa Tante?”


“Sejujurnya Tante ingin bertanya sesuatu padamu, Nandhita.”


“Memangnya apa yang ingin Tante tanyakan padaku?”


Luluk pun memerlihatkan berita yang tadi ia baca dan menanyakan apakah memang benar apa yang ada di dalam berita tersebut, Nandhita nampak menghela napasnya berat, ia mengatakan bahwa apa yang ditulis dan diperlihatkan oleh video itu memang benar adanya. Selepas Nandhita mengatakan itu, tentu saja Luluk tak dapat menahan dirinya untuk tak terkejut dan bertanya bagaimana bisa hal seperti itu terjadi.


“Ceritanya panjang Tante.”


“Siapa yang memulainya?”


“Saat itu Hanif sedang ada dalam pengaruh minuman beralkohol dan Tante tahu sendiri bagaimana pada akhirnya.”


“Benarkah itu?”


“Tante, aku lelah sekali, aku mau pergi ke kamar dulu.”


Nandhita nampak berusaha untuk menghindari pembahasan ini lebih lanjut dan tentu saja hal tersebut membuat Luluk menjadi penasaran dan curiga bahwa sebenarnya Nandhita adalah dalang di balik semua ini.


“Kenapa aku jadi curiga bahwa dia memang merencanakan semua ini, ya?” lirih Luluk.


Luluk kemudian menghela napasnya panjang seraya tidak mau terlalu memikirkan hal tersebut sementara di sisi yang lain nampak Nandhita telah masuk ke dalam kamarnya dan menghela napasnya lega karena dapat segera


menghindari pertanyaan dari Luluk karena kalau ia meladeni apa yang tengah Luluk bicarakan barusan maka mungkin saja dirinya dalam masalah besar walaupun ia sendiri juga tidak yakin bahwa Luluk akan marah padanya.


“Maafkan aku tante akan tetapi untuk saat ini aku tidak dapat mengatakan apa pun pada Tante mengenai kebenarannya, kelak Tante pasti akan mengetahuinya sendiri.”


****


Hanif merasa frustasi dengan pemberitaan yang dibuat oleh Nandhita yang mana akibat pemberitaan itu saham perusahaan yang dikelola oleh keluarganya anjlok secara drastis, dewan direksi perushaan meminta supaya


Hanif segera memberikan klarifikasi atas pemberitaan buruk yang berseliweran di media baik nasional maupun internasional.

__ADS_1


“Ma, sepertinya aku harus menemui Nandhita,” ujar Hanif saat ia bicara dengan sang mama.


“Iya, kamu memang harus segera menemui Nandhita dan selesaikan masalah ini karena Mama khawatir kalau masalah ini dibirkan saja maka ini akan semakin membesar dan berlarut-larut.”


“Iya Ma, aku juga memikirkan itu, aku akan segera mengemasi barang-barangku dan pergi ke Indonesia besok pagi.”


“Baiklah Nak, hati-hati di jalan.”


“Tentu saja Ma.”


Hanif kemudian segera masuk ke dalam kamarnya untuk mengemasi semua pakaiannya dan memasukannya ke dalam koper, ia tidak akan lama di Indonesia karena masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan di sini.


“Semoga saja masalah ini bisa segera selesai.”


Selepas selesai mengemasi semua pakaiannya, Hanif tidur beberapa jam sebelum ia pergi ke bandara untuk mengejar pesawat yang akan membawanya ke Indonesia pada pagi ini. Sebelum pergi ke bandara ia sempat


berpamitan pada kedua orang tuanya dan meminta doa semoga saja dengan ia menemui Nandhita di Indonesia maka masalah ini dapat segera terselesaikan dengan baik.


****


Richi mendatangi rumah Luluk yang baru dan ia dihadang oleh satpam yang berjaga di depan pagar, satpam tidak memberikan izin untuk Richi masuk ke dalam apalagi menemui Ameena walaupun ia sudah meminta dengan


“Maaf, akan tetapi orang yang tidak berkepentingan dilarang untuk masuk.”


“Apa maksud anda sebagai orang yang tidak berkepentingan? Saya ada kepentingan krena ingin menemui Ameena.”


“Maaf, akan tetapi saya tidak dapat memberikan anda izin masuk ke dalam karena ini atas dasar perintah dari Nyonya.”


“Apa maksud anda, Pak?”


Tidak lama kemudian sebuah mobil berhenti di depan pagar rumah dan satpam membukakan pintu gerbang untuk mobil tersebut, akan tetapi selepas mobil tersebut masuk tentu saja satpam langsung menutup kembali pintu gerbang tersebut untuk menghalau kalau Richi ingin masuk ke dalam.


“Tolong anda izinkan saya masuk ke dalam, Pak.”


“Saya sudah mengatakan bahwa anda tidak boleh masuk ke dalam, kenapa anda ini keras kepala sekali?”


Seseorang turun dari dalam mobil tersebut dan rupanya orang yang turun dari mobil tersebut adalah Luluk, ia berjalan menuju pos satpam untuk menghampiri satpam tersebut seraya bertanya siapa pria yang tengah berada

__ADS_1


di depan pagar itu.


“Anu Nyonya, pria ini mengatakan bahwa ia ingin bertemu dengan Ameena.”


“Begitu rupanya.”


“Nyonya, tolong izinkan saya bertemu dengan Ameena.”


****


Luluk mengatakan bahwa Richi tidak bisa bertemu dengan Ameena namun Richi tetap memohon pada Luluk untuk memberikannya izin masuk. Luluk bergeming, ia berbalik badan dan langsung pergi meninggalkan Richi yang


memohon padanya, selepas Luluk pergi meninggalkannya kini satpam pun meminta Richi untuk pergi saja karena percuma kalau Richi menunggu di sini, ia tidak akan dapat menemui Ameena.


“Tidak, saya akan bertahan di sini sampai kalian semua mengizinkan saya bertemu dengan Ameena.”


“Terserah anda saja.”


Satpam tersebut nampaknya sudah sangat malas berdebat dengan Richi dan membiarkan apa yang ingin Richi lakukan di sini namun tentu saja satpam ini akan selalu mengawasi Richi dari dalam pos satpamnya kalau-kalau


pria ini hendak melakukan perbuatan yang nekat maka ia akan segera melaporkannya pada polisi. Richi terus bertahan di depan pagar rumah berharap Ameena mau menemuinya dan sesekali ia berteriak memanggil nama Ameena namun tidak ada jawaban dari dalam, awan sudah menghitam dan petir menyambar pertanda


sebentar lagi hujan akan turun namun Richi masih bertahan di sana sambil berharap Ameena akan menemuinya sekarang juga.


“Kamu masih akan bertahan di sana?” tanya satpam pada Richi.


“Saya akan terus bertahan,” tekad Richi.


“Dasar keras kepala, terserah sajalah.”


****


Ameena diam-diam memerhatikan Richi dari jendela lantai dua rumah, awan di atas sana sudah menghitam dan petir menyambar pertanda hujan sebentar lagi akan turun namun belum ada tanda-tanda kalau Richi akan pergi dari rumah ini padahal ia sudah berulang kali diusir oleh satpam dan tadi juga sempat diusir oleh Luluk untuk pergi namun sayangnya ia tidak mau melakukan hal tersebut.


“Ya Allah, kenapa Richi masih bertahan di sana? Sebentar lagi kan hujan akan turun.”


Ameena nampak gelisah ketika apa yang dikatakannya terjadi, hujan turun dengan lebatnya disertai dengan angin kencang dan petir namun Richi masih bertahan tanpa payung di depan pagar rumah yang membuat Ameena menjadi kasihan padanya.

__ADS_1


“Ya Allah, apa yang harus aku lakukan sekarang?”


__ADS_2