Cinta Ameena

Cinta Ameena
Rencana Mama


__ADS_3

Nandhita merasa lega ketika Jose mengatakan bahwa ia bertelepon bukan dengan kekasihnya melainkan temannya, Nandhita sendiri nampak begitu antusias ketika bertelepon dengan Jose hingga tak menyadari kalau


diam-diam Untari menguping pembicaraannya. Sebagai seorang ibu mertua, tentu saja Untari penasaran dengan siapa orang yang bertelepon dengan menantunya dan kalau Untari perhatikan sepertinya Nandhita begitu bahagia sekali ketika bertelepon dengan orang tersebut.


“Aku harus menanyakan itu.”


Setelah Nandhita bertelepon dan ia serta Jose sudah janjian untuk bertemu, Untaeri langsung menghadang Nandhita yang sudah bersiap untuk pergi.


“Mau ke mana kamu?”


“Aku mau bertemu dengan temanku.”


“Bertemu dengan temanmu? Benarkah?”


“Kalau Mama tak percaya, maka aku tak masalah.”


“Nandhita, apakah kamu tengah menyembunyikan sesuatu dariku?”


“Mama ini bicara apa? Memangnya apa yang saat ini tengah aku sembunyikan dari Mama?”


“Mungkin saat ini kamu masih bisa berkelit akan tetapi aku akan mencari buktinya.”


Selepas mengatakan itu Untari langsung pergi meninggalkan Nandhita. Nandhita sendiri nampak tak mau terlalu ambil pusing dengan yang dikatakan oleh sang ibu mertua, Nandhita langsung pergi menuju mobilnya dan pergi menuju lokasi tempat di mana ia dan Jose sudah janjian untuk bertemu.


“Perasaanku mengatakan bahwa ada sesuatu hal yang terjadi padanya,” lirih Untari.


Untari kemudian menelpon seseorang yang mana Untari menugaskan orang tersebut untuk mengikuti ke mana pun perginya Nandhita dan ia ingin segera mendapatkan laporan akan hal tersebut.


“Aku benar-benar penasaran sebenarnya siapa orang yang ia temui itu,” gumam Untari.


Tidak lama kemudian Untari mendapatkan pesan dari orang suruhannya dan ia terkejut ketika mendapati sebuah foto di mana Nandhita tengah berada di sebuah café bersama Jose, Untari tentu saja segera mengirimkan foto


tersebut pada Hanif supaya putranya tahu apa yang Nandhita lakukan. Hanif langsung menelpon Untari dan bertanya kenapa mamanya mengirimkan foto tersebut.


“Kenapa Mama mengirimkan foto itu?”


“Nak, apakah kamu tahu kalau istrimu diam-diam berselingkuh?”


“Kita akan bicarakan nanti selepas aku sampai di rumah.”


****

__ADS_1


Untari menunggu Hanif kembali ke rumah dengan raut wajah cemas sekaligus jengkel akibat kelakuan Nandhita, ia tentu saja tak terima Hanif diduakan begitu saja oleh menantunya itu dan Untari bersumpah akan membuat pembalasan pada Nandhita. Akhirnya yang ditunggu oleh Untari muncul juga yaitu Hanif, Untari tanpa membuang waktu langsung bertanya pada Hanif mengenai apa saja yang ia ketahui soal hubungan Nandhita dan Jose.


“Kamu tahu kalau mereka berdua berselingkuh kan?”


“Mama ini bicara apa? Mereka bukan berselingkuh.”


“Kenapa kamu mengatakan seperti itu? Jelas-jelas mereka berselingkuh, Nak.”


“Aku sudah bertemu dengan pria itu secara langsung dan ia sudah menjelaskan semuanya padaku jadi Mama jangan menanggapinya terlalu berlebihan.”


“Namun apakah kamu tidak lihat dari tatapan Nandhita pada pria itu? Nandhita sepertinya tertarik padanya?”


“Aku tak peduli soal itu yang jelas Arsen harus di bawah pengasuhanku.”


“Tentu saja, Mama tak sudi jika cucu Mama berada di bawah pengasuhan wanita itu, jangan-jangan nanti Arsen malah ditelantarkan.”


Nandhita tiba di rumah dengan raut wajah girang karena ia baru saja bertemu dengan Jose, akan tetapi ia tak menyangka ketika tiba di rumah nampak Hanif dan Untari yang tengah memerhatikannya.


“Hanif? Kamu kok jam segini sudah pulang?”


“Kita perlu bicara sekarang,” tegas Hanif yang kemudian berjalan menuju kamar mereka.


****


“Katakan padaku, apakah kamu tertarik pada pria itu?”


“Kamu ini bicara apa, Hanif? Aku sama sekali tidak tertarik pada pria itu.”


“Benarkah? Kalau memang kamu tak tertarik pada pria itu, kenapa wajahmu begitu bahagia sekali ketika bertemu dengannya?”


“Hanif, kenapa kamu menanyakan hal yang aneh-aneh? Dan siapa pria yang kamu maksud?”


“Aku tahu bahwa Jose sudah menceritakan semuanya padamu jadi kamu tak perlu berpura-pura tidak tahu apa yang sedang aku bicarakan ini, Nandhita.”


Nandhita menghela napasnya panjang, ia tak dapat lagi membendung kekesalannya pada Hanif yang menuduhnya memiliki hubungan spesial dengan Jose, padahal tentu saja hal tersebut tidaklah benar.


“Kamu sudah salah dalam menilaiku Hanif, aku tidak mungkin mengkhianatimu.”


“Iya tentu saja karena kalau sampai kamu melakukan itu maka kita bercerai dan Arsen akan ada dalam pengasuhanku.”


“Apa maksudmu?”

__ADS_1


“Keputusanku sudah bulat, kalau memang kita berpisah maka Arsen akan ada dalam pengasuhanku dan kamu tak boleh menemuinya sepanjang hidupmu.”


“Bagaimana bisa kamu begitu kejam padaku Hanif? Aku ibunya.”


“Kamu bahkan tak mau bertanggung jawab pada anakmu, untuk apa aku harus mengizinkanmu bertemu dengan Arsen?!”


****


Semakin hari sikap Nandhita semakin aneh dan Untari juga beberapa kali memergoki Nandhita dan Jose jalan bersama, tentu saja bagi Untari hal tersebut sudah tak dapat dibenarkan lagi. Untari pergi ke kantor Hanif dan membawa sejumlah bukti bahwa Nandhita dan Jose selalu jalan bersama dalam beberapa waktu terakhir yang membuatnya yakin kalau mereka berdua memang memiliki hubungan khusus.


“Sepertinya memang tidak ada jalan lain kecuali kalian berpisah, Nak.”


“Aku belum mau mengambil keputusan itu Ma sebelum ada bukti jelas kalau mereka berselingkuh.”


“Apakah semua bukti ini belum cukup untukmu? Mama saja yang melihatnya sudah tahu bahwa mereka pasti memiliki hubungan khusus.”


“Tidak Ma, mereka belum melampaui batas kecuali kalau memang mereka sampai tidur bersama di belakangku maka aku tidak akan menahan diri untuk menceraikannya.”


Untari memikirkan apa yang Hanif katakan barusan, Untari pun kemudian pamit pulang dari kantor anaknya dan sepanjang perjalanan apa yang dikatakan oleh Hanif terngiang terus di dalam kepalanya dan sebuah ide


pun terlintas di dalam benaknya. Untari menelpon seseorang dan mengajak orang itu untuk bertemu saat ini juga.


“Kita ke lokasi yang sudah aku kirimkan lokasinya, Pak,” ujar Untari pada sopirnya.


“Baik Nyonya.”


****


Jose sudah sampai di restoran tempat di mana ia diundang bertemu oleh seseorang yang tidak lain adalah Untari, di restoran itu tidak banyak orang dan Untari langsung melambaikan tangan ke arahnya yang membuat Jose pun menghampiri wanita itu.


“Kamu yang bernama Jose itu kan?”


“Iya, saya yang bernama Jose.”


“Sialakn duduk.”


Jose pun kemudian duduk di kursi yang berhadapan dengan Untari, ia masih belum paham apa yang diinginkan oleh Untari darinya karena sejak tadi Untari hanya memerhatikannya saja.


“Nyonya, sebenarnya anda tahu nomor saya dari mana dan kenapa anda meminta saya datang ke sini?”


“Karena aku ingin menawarkan sesuatu padamu.”

__ADS_1


“Menawarkan sesuatu?”


“Iya, aku akan memberikanmu kemewahan kalau kamu mau menuruti apa yang aku perintahkan ini.”


__ADS_2