
Cassandra memaksa supaya Boy tidak pergi darinya namun tentu saja Boy sama sekali tidak memedulikan apa yang Cassandra katakan padanya barusan karena memang saat ini ada pertunjukan yang harus ia tampilkan di café tersebut. Cassandra pun kemudian pergi ke café tempat di mana Boy menunjukan bakatnya sebagai seorang musisi. Cassandra nampak duduk tenang dan menikmati semua lagu yang Boy bawakan dan mengagumi bagaimana kemampuan pria itu dalam memainkan alat musik yang tentu saja makin membuat Cassandra makin jatuh hati padanya. Selepas penampilannya di café tersebut, Boy hendak pulang namun Cassnadra langsung menghadangnya.
“Boy, penampilanmu tadi sangat luar biasa sekali.”
“Terima kasih atas pujiannya.”
Boy hanya mengatakan itu dan kemudian hendak pergi meninggalkan Cassandra akan tetapi wanita itu nampak tak kehabisan akal supaya dapat menahan Boy tetap di sini, ia berusaha mengajak Boy bicara namun Boy mengatakan bahwa ia harus segera pulang sekarang.
“Kenapa sih kok kamu sepertinya buru-buru sekali?”
“Karena aku tidak memiliki alasan harus bicara denganmu.”
Jawaban dari Boy itu tentu saja membuat Cassandra terkejut akan tetapi wanita itu bukanlah tipe waanita yang akan dengan mudah menyerah begitu saja hanya dengan dipatahkan oleh kalimat seperti barusan. Cassandra masih berusaha menggaet Boy dan mengajaknya untuk menghabiskan waktu bersama akan tetapi Boy masih pada keputusannya yang membuat Cassandra harus gigit jari karena rencananya untuk bisa membuat Boy bersamanya tidaklah cukup berhasil.
“Ya ampun, apa-apaan dia itu? Kenapa dia berani sekali menolak ajakanku?” geram Cassandra.
Sementara itu Boy nampak tak memedulikan apa yang Cassandra katakan dan ia segera masuk ke dalam mobilnya untuk pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan pulang ke rumah Boy hanya memikirkan bagaimana Ameena saja
karena wanita itu satu-satunya orang yang ia cintai dan ia harap bahwa menjelang hari pernikahannya dengan Ameena semua dapat berjalan dengan lancar tanpa ada halangan sedikit pun.
****
Nandhita begitu bahagia menjalani hari-harinya sebagai seorang istri dari Hanif, walaupun Hanif masih bersikap dingin dan tak peduli padanya namun Hanif sebenarnya peduli padanya bukan karena Hanif mencintai Nandhita melainkan karena adanya anak yang sedang dikandung oleh Nandhita saat ini. Nandhita mengatakan pada Hanif bahwa mereka harus tinggal di Indonesia saja dan jangan ikut kedua orang tua Hanif kembali ke Norwegia tentu saja Hanif penasaran dengan kenapa Nandhita menolak untuk tinggal di sana.
“Karena aku rasa mau di Indonesia maupun Norwegia sama saja, bukankah kamu bisa bekerja di kantor cabang di Indonesia?”
“Iya memang aku bisa melakukannya akan tetapi kamu sepertinya memiliki alasan lain untuk tetap tinggal di sini kan?”
Hanif curiga bahwa ada sesuatu hal yang tengah Nandhita sembunyikan darinya saat ini akan tetapi Nandhita mengatakan pada Hanif bahwa dirinya sama sekali tidak memiliki alasan lain selain karena memang ia menyukai Indonesia lagi pula sekarang di Norwegia masih musim dingin dan cuacanya cenderung ekstrem.
“Aku takutnya mengalami hipotermia di sana selama mengandung anak kita, bukankah itu akan membahayakan?”
Hanif pun kemudian tak bertanya banyak lagi dan hal tersebut membuat Nandhita bisa bernpas lega karena sepertinya alasan yang ia kemukakan bisa diterima oleh akal Hanif, sementara itu tentu saja alasan Nandhita ingin tetap di Indonesia tentu tidak lain dan tidak bukan karena Ameena.
__ADS_1
“Ameena, aku akan selalu menyiksamu, tunggu dan lihat saja.”
****
Untari memutuskan untuk bicara dengan menantunya selepas acara pernikahan antara Hanif dan Nandhita memang Untari tidak terlalu banyak bicara dengan menantunya itu karena ia merasa bahwa Nandhita bukanlah
orang yang baik dan sepertinya Nandhita begitu terobsesi dengan putranya.
“Nandhita.”
“Iya Ma, ada apa?”
“Bolehkah kita bicara sebentar?”
“Tentu saja, apa yang ingin Mama katakan padaku?”
Untari pun kemudian bertanya pada Nandhita apakah memang Nandhita mencintai Hanif dan Nandhita tentu saja mengatakan bahwa ia memang benar-benar mencintai Hanif dan Untari tak perlu meragukan hal tersebut.
“Lalu apakah kamu masih takut ada bayang-bayang Ameena dalam hati Hanif?”
“Kamu takut kan kalau Hanif sebenarnya masih mencintai Ameena?”
Nandhita sejujurnya tak nyaman dengan pertanyaan dari mama mertuanya ini akan tetapi ia berusaha tetap bersikap sopan di depannya dengan mengatakan bahwa sejak dulu hingga saat ini Hanif tak pernah mencintai
Ameena.
“Orang yang dicintai oleh Hanif adalah Salsabila dan bukannya Ameena.”
“Nah, kamu mengetahui hal tersebut. Orang yang dicintai oleh anakku satu-satunya adalah mendiang istrinya Salsabila lantas kenapa kamu sangat berambisi untuk menikah dengan anakku sampai rela melakukan
semua sejauh ini?”
Nandhita nampak berusaha menahan emosinya di depan Untari, ia tak mau mengumpat atau memaki dengan kata-kata kasar hingga Nandhita hanya tersenyum saja menanggapi pertanyaan dari Untari barusan.
__ADS_1
****
Cassandra mendatangi Luluk dan meminta bantuan wanita itu untuk mendekatkannya kembali dengan Boy akan tetapi Luluk mengatakan bahwa ia tidak dapat melakukan semua itu. Cassandra pun mengatakan bahwa Ameena
tidaklah cocok bersanding dengan Boy dan kenapa Luluk begitu saja membiarkan Ameena dekat dengan Boy.
“Seperti yang sudah aku katakan padamu sebelumnya, aku tidak ingin memaksa Boy untuk menjauhi Ameena karena dia menyukai Ameena, dia begitu bahagia dengan wanita itu dan sebagai orang tua tentu saja ingin melihat
anaknya bahagia dengan keputusan yang sudah ia ambil lagi pula menurut Tante, Ameena adalah wanita yang baik dan sopan.”
Cassandra menggelengkan kepalanya tanda bahwa ia tak percaya dengan apa yang Luluk katakan barusan, ia yakin bahwa sebenarnya ada sesuatu hal yang Luluk tengah coba sembunyikan darinya mengenai kenapa Luluk
memberikan izin pada Boy dan Ameena menjadi sedekat ini.
“Tante pasti memiliki sebuah rencana kan?”
“Kamu ini bicara apa, Cassandra?”
“Aku tahu bahwa Tante tidak mungkin menyukai Ameena dan Tante melakukan semua ini karena ada sesuatu yang ingin Tante lakukan hanya saja Tante tak mau memberitahuku kan?”
****
Boy tiba di rumah dan ia melihat Cassandra tengah bicara dengan mamanya, Cassandra sendiri nampak bahagia ketika melihat Boy sudah kembali ke rumah dan wanita itu langsung menghampiri Boy namun Boy nampak sama sekali tidak menyukai interaksi yang dilakukan oleh Cassandra padanya.
“Boy, kok kamu menghindariku begini, sih?”
“Aku lelah dan butuh istirahat.”
Ketika Boy hendak pergi, Cassandra menahan lengan pria itu dan ia mengatakan betapa merindukan Boy namun Boy sama sekali tidak memedulikan apa yang Cassandra katakan barusan dan meminta wanita itu untuk
pergi saja.
“Boy, tolong jangan usir aku begini, aku datang ke sini untuk menemuimu.”
__ADS_1
Ameena yang kebetulan melintas melihat Boy yang lengannya ditahan oleh Cassandra dan di saat yang bersamaan Boy melihat ke arah Ameena.