Cinta Ameena

Cinta Ameena
Sedih Saat Ijab Kabul


__ADS_3

Ameena nampak tidak terlalu terkejut dengan apa yang hendak dikatakan oleh Boy ini namun untuk membahas pernikahan merupakan sesuatu hal yang tidak terlalu ingin Ameena bicarakan saat ini akan tetapi Ameena tidak


dapat menolak pembicaraan ini. Alhasil sepanjang pembicaraan itu Ameena hanya mendengarkan dan beberapa kali menjawab pertanyaan dari Boy ketika pria itu bertanya. Boy sendiri bukan tidak merasa bahwa Ameena kurang begitu bersemangat untuk membahas perihal pernikahan mereka akan tetapi Boy memilih untuk berpura-pura


tidak mengetahui hal itu.


“Baiklah, hanya itu saja yang ingin aku katakan padamu.”


“Iya Tuan.”


“Ameena.”


“Iya, ada apa?”


“Kamu tidak menyesal dengan keputusan yang sudah kamu ambil ini kan?”


“Saya tidak akan menyesalinya.”


Boy menganggukan kepalanya dan kemudian ia pamit untuk masuk ke dalam rumah sementara Ameena masih berada di tempatnya, ia menghela napasnya berat. Selepas ia meredakan kegundahan hatinya, ia pun masuk ke dalam rumah akan tetapi ia tidak langsung menuju kamar melainkan menuju dapur karena takutnya di dapur masih ada pekerjaan yang harus ia selesaikan akan tetapi rupanya tidak ada pekerjaan yang perlu diselesaikan karena semua sudah beres.


“Baiklah, saatny aku untuk tidur.”


Ameena pun segera pergi ke kamarnya untuk tidur akan tetapi ketika berada di dalam kamar nampak Ameena tidak dapat memejamkan matanya karena memikirkan pembicaraannya dengan Boy tadi.


“Ya Allah, keputusan yang sudah aku ambil ini apakah benar?” lirihnya.


Ameena tetap tak dapat memejamkan matanya dan ia pun memutuskan untuk mengambil air wudhu dan kemudian melaksanakan salat tahajud, ia nampak memanjatkan doa pada Tuhan untuk memberikan kemudahan untuk


menyelesaikan semua masalah dalam hidupnya yang datang secara silih berganti dan selepas melaksanakan salat itu Ameena kemudian mencoba untuk tidur sebentar sebelum akhirnya kumandang adzan subuh terdengar dan buru-buru Ameena bangun untuk melaksanakan ibadah salat subuh. Rupanya diam-diam ketika Ameena tengah


melaksanakan ibadah salat subuh itu nampak Boy mengintip dari balik pintu kamar Ameena yang terbuka sedikit.


****


Nandhita begitu bahagia sekali karena hari ini adalah hari pernikahannya dengan Hanif, wanita itu sudah tidak sabar untuk prosesi ijab kabul sampai ia sah menjadi istri dari Hanif sementara di tempat yang lain Hanif nampak sama sekali tidak bersemangat untuk pergi ke tempat di mana pernikahannya dengan Nandhita diselenggarakan akan tetapi tentu saja ia harus datang ke acara itu karena tak mau membuat kedua orang tuanya malu di hari yang

__ADS_1


penting ini. Apalagi kedua orang tuanya sudah mengundang beberapa orang terkenal yang berpengaruh di negara ini.


“Hanif.”


“Mama?”


“Kamu sudah siap kan?”


“Iya Ma, aku sudah siap.”


Untari tahu bahwa Hanif melakukan semua ini dengan terpaksa karena memang ia dijebak saat itu oleh Nandhita namun sekarang tentu bukan waktunya untuk mundur karena kalau Hanif mundur maka keluarga mereka pasti akan menanggung malu yang sangat besar sekali setelah banyak undangan yang mereka sebar untuk pernikahan kilat ini.


“Kalau begitu mari kita berangkat sekarang, papamu sudah menunggu.”


“Iya Ma.”


Hanif dan kedua orang tuanya berangkat menuju gedung tempat di mana acara pernikahan akan berlangsung dan ketika mereka sampai di sana nampak awak media sudah menunggu di depan dan langsung mengambil foto


seraya ingin melakukan wawancara dengan Hanif sebelum prosesi ijab kabul berlangsung namun Hanif dan keluarganya mendapatkan pengawalan ketat yang membuat awak media tak dapat mendekat.


****


secara resmi pada Ameena yang mewajibkan wanita itu untuk datang ke acara pernikahannya.


“Bukankah hukumnya kamu harus wajib datang ke acara pernikahan saat aku mengundangmu?”


Ucapan Nandhita itu membuat Ameena jadi mau tak mau harus datang ke acara pernikahan mantan suami dan juga wanita yang membuat batinnya tersiksa sejak pertama kali berjumpa.


“Ameena, apakah kamu bersiap?” tanya Luluk dari luar kamar.


“Sudah Nyonya,” jawab Ameena.


Ameena pun kemudian keluar dari dalam kamarnya untuk menghampiri Luluk yang sudah siap dengan pakaian terbaiknya karena ia akan mendampingi Nandhita sebagai wakil keluarga, Luluk memuji penampilan Ameena


yang cantik hingga membuat Ameena agak tersipu mendapatkan pujian itu. Luluk harus berangkat lebih awal karena ia harus didandani terlebih dahulu dan Luluk meminta nanti Ameena datang bersama dengan Boy.

__ADS_1


“Iya Nyonya.”


“Kalau begitu, aku pergi dulu.”


Luluk kemudian pergi duluan menuju acara pernikahan Nandhita dan Hanif sementara tak lama kemudian Boy muncul dari lantai dua dengan mengenakan pakaian formal yang membuatnya terlihat semakin tampan.


“Kamu cantik sekali dengan pakaian itu Ameena,” puji Boy.


“Terima kasih banyak, Tuan.”


Tanpa membuang banyak waktu lagi maka Boy pun mengajak Ameena untuk segera bergegas menuju acara pernikahan Nandhita dan Hanif.


****


Acara ijab kabul berjalan dengan lancar dan Nandhita tak dapat menahan diri untuk tersenyum setelah saksi mengatakan bahwa pernikahan mereka sudah sah di mata agama dan hukum, untuk pertama kalinya Nandhita


mencium tangan Hanif sebagai suaminya dan Nandhita memberikan sebuah senyum kemenangan pada Hanif seolah ia mengejek pria itu bahwa ia pada akhirnya bisa mendapatkan apa yang ia inginkan selama ini. Hanif sendiri nampak tak tersenyum bahagia sama sekali walaupun ia baru saja mengucap janji pada Tuhan untuk


menjadikan wanita ini sebagai istrinya di lain sisi nampak Ameena yang menyaksikan ijab kabul itu tak dapat menahan rasa sakit yang ia derita akibat melihat pemandangan ini. Ia tak dapat memungkiri bahwa dirinya masih begitu mencintai Hanif hingga masih belum sepenuhnya dapat merelakan kalau pria itu sudah menikah dengan wanita lain.


“Ameena.”


“Iya, Tuan?”


“Kamu nampaknya tidak baik-baik saja.”


“Maaf, saya harus pergi ke toilet sebentar.”


Buru-buru Ameena pergi meninggalkan acara ijab kabul tersebut dengan menahan air matanya supaya tidak tumpah, Nandhita yang melihat itu nampak menyeringai karena rencananya berhasil.


****


Ameena tak dapat menahan tangisnya di dalam toilet, ia mengeluarkan semua air mata yang sejak tadi ia tahan untuk tidak tumpah, butuh beberapa saat sampai Ameena dapat meredakan tangisnya dan menguasai kembali


dirinya yang tadi begitu emosional ketika melihat Nandhita dan Hanif di acara ijab kabul tersebut. Ameena menghapus air mata yang tadi sempat membasahi kedua pipinya dan menatap dirinya pada cermin untuk memastikan dirinya sudah baik-baik saja saat ini sebelum ia memutuskan untuk keluar dari dalam toilet ini namun ia dibuat terkejut oleh sosok Nandhita yang tiba-tiba saja muncul di toilet ini sambil memberikan seringai jahatnya.

__ADS_1


“Bagaimana rasanya melihat orang yang kamu cintai menikah dengan orang lain, Ameena?”


__ADS_2