
Boy nampak tak percaya dengan apa yang Richi katakan barusan, ia meminta penjelasan pada mamanya terkait hal tersebut dan Luluk pun mengajak putranya itu untuk ikut dengannya ke dalam sebuah ruangan sementara
itu Ameena sendiri masih nampak begitu shock dengan kedatangan Boy yang sama sekali tidak ia duga sebelumnya.
“Kenapa kamu nampak terkejut begitu, Ameena? Apakah kamu ingin bermain api dengan pria itu padahal kamu sudah menikah denganku?” tanya Richi.
“Kamu ini bicara apa? Tentu saja aku tidak akan melakukan hal itu,” jawab Ameena yang kemudian memutuskan untuk pergi meninggalkan Richi.
Sementara itu di dalam ruangan itu nampak Boy tak ingin mengulur waktu lagi untuk bertanya pada sang mama mengenai apa yang terjadi, kenapa tiba-tiba saja Ameena dan Richi bisa tinggal di rumah ini.
“Kamu sudah tahu kan kalau Ameena dan Richi telah menikah?”
“Iya aku tahu kalau mereka sudah menikah, Ma. Tapi bukankah seharusnya Mama tak mengizinkan Richi untuk tinggal di sini seperti apa yang aku inginkan?”
“Bukan Mama yang menginginkan ini semua, Nak akan tetapi Ameena yang menginginkannya.”
“Apa maksud Mama? Ameena yang menginginkannya?”
Luluk kemudian mengarang sebuah cerita yang seolah-olah Ameena adalah dalang kenapa Richi bisa masuk ke rumah ini tentu saja mendengar cerita sang mama membuat Boy geram bukan main, dendamnya pada Richi semakin menjad-jadi dan ia bersumpah akan menghancurkan rumah tangga Richi dan Ameena seperti yang pria itu lakukan padanya dulu.
“Aku tidak akan membiarkan pria itu bahagia, Ma. Tidak akan pernah.”
“Iya Nak, pria itu memang harus kita lenyapkan dan Mama memiliki rencana untuk itu.”
“Benarkah?”
“Iya, pokoknya tugasmu adalah menggoda Ameena, buat dia tertarik padamu dan berpaling dari Richi selebihnya Mama yang akan mengatur semuanya.”
“Baiklah, aku akan percayakan semuanya pada Mama.”
Selepas itu Boy pun pergi dari ruangan tersebut, Luluk nampak menyeringai karena di dalam kepalanya sudah tersusun rencana jahat untuk membuat hubungan Ameena dan Richi menjadi berantakan.
****
Ameena nampak terkejut ketika secara tiba-tiba Boy mendekatinya dan pria itu berdiri tepat di sebelahnya, tentu saja Ameena langsung menjaga jarak dengan pria itu namun Boy seperti tidak ingin memberikan batasan antara dirinya dan Ameena.
“Ameena, apakah kamu tahu aku benar-benar menyesal sudah meninggalkanmu dan sekarang kamu malah harus berakhir dengan pria itu?”
“Sudahlah Tuan, anda tak perlu menyesal.”
“Kenapa? Apakah karena kamu memang mencintai Richi?”
__ADS_1
“Saya tidak mencintainya, hanya saja saya tidak mau ada fitnah yang terjadi setelah apa yang dia lakukan pada saya.”
“Lalu kalau boleh aku tahu, apakah sampai saat ini Richi sudah menyentuhmu?”
“Apa?”
“Apakah kamu sudah kembali tertarik padanya?”
“Tuan, sepertinya pertanyaan itu terlalu personal untuk saya jawab sekarang.”
“Tapi aku memintamu untuk menjawab semua pertanyaan yang tadi aku ajukan, Ameena.”
Ameena tentu saja menolak dengan halus apa yang diinginkan oleh Boy ini akan tetapi Boy semakin mendekati Ameena dan memohon Ameena untuk mengatakan padanya, saat itulah sosok Richi muncul dan nampak murka saat istrinya didekati oleh Boy.
“Apa yang hendak kamu lakukan pada istriku?”
Ameena langsung berlindung di balik tubuh suaminya sementara Boy hanya tersenyum dan mengatakan kalau mereka tadi hanya mengobrol biasa saja.
“Apakah itu benar, Ameena?”
****
Hanif dan Nandhita tiba di rumah Luluk, entah kenapa Hanif sepertinya ingin sekali melihat bagaimana keadaan Ameena selepas ia menikah dengan Richi dan ia dibuat terkejut ketika Boy sudah kembali dari Amerika.
“Iya Mas, kok sepertinya Mas Hanif terkejut kalau aku sudah kembali dari Amerika?” tanya Boy.
“Tidak, hanya saja aku pikir kamu akan menetap selamanya di Amerika.”
“Bagaimana mungkin aku akan menetap di Amerika sementara belahan jiwaku ada di sini, Mas?”
Nandhita nampak mengerutkan keningnya heran mendengar ucapan Boy barusan, Nandhita pun bertanya pada Boy bahwa orang yang sedang dibicarakan oleh Boy itu apakah Ameena.
“Kamu tahu dengan pasti siapa yang sedang aku bicarakan, Nandhita.”
“Ya ampun Boy, kamu tahu kan kalau Ameena itu sudah menikah dengan Richi,” ujar Nandhita tak percaya.
“Aku tak peduli kalau dia sudah menikah atau belum, aku akan mendapatkan apa pun yang aku inginkan.”
Hanif nampak tak suka dengan apa yang Boy katakan barusan dan Nandhita bisa melihat perubahan ekspresi suaminya yang membuatnya curiga mengenai jangan-jangan Hanif masih menyimpan rasa pada Ameena.
“Boy, kami masuk dulu ingin menemui tante Luluk,” ujar Nandhita yang kemudian menggandeng tangan suaminya untuk masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
****
Nandhita dan Hanif nampak terkejut saat tahu Richi tinggal di rumah ini, Nandhita pun meminta bicara dengan Luluk sebentar untuk membahas hal ini karena ia yakin kalau sang tante merencanakan sesuatu hingga
membuat Richi masuk ke dalam rumah ini.
“Sebenarnya apa yang Tante rencanakan sampai-sampai membuat Richi masuk ke rumah ini?”
“Kamu sepertinya memiliki insting yang tajam, ya?”
“Tentu saja aku tahu kalau ada sesuatu hal yang tidak beres di sini, pasti Tante ingin melakukan sesuatu pada Ameena dan Richi kan?”
“Kamu benar sekali Nandhita, Tante memang sedang merencanakan sesuatu dan tentu saja kamu tak perlu tahu apa yang akan Tante lakukan pada mereka berdua.”
“Apa pun itu semoga saja Tante bisa menghancurkan Ameena, aku benci sekali pada wanita itu karena sepertinya Hanif memang diam-diam menyukainya.”
“Apa maksudmu Hanif menyukainya? Hanif itu hanya mencintai Salsabila bukan wanita itu.”
“Iya Tante, aku tahu kalau Hanif memang hanya mencintai mendiang Salsabila namun ketika tahu Richi tinggal di rumah ini, ekspresi wajahnya berubah seperti orang yang cemburu.”
“Astaga Nandhita, bisa saja itu hanya pikiran burukmu saja, Hanif tak mungkin mencintai Ameena.”
“Aku harap begitu Tante, kalau memang Hanif mencintai Ameena maka aku tidak akan segan-segan membuat Ameena menghilang selamanya dari muka bumi ini.”
****
Hanif diam-diam mendekati Ameena yang sedang melakukan tugasnya membersihkan rumah, Ameena nampak terkejut dengan kedatangan Hanif ini dan ia hendak melarikan diri namun tangannya ditahan oleh Hanif. Sontak saja Ameena meminta Hanif untuk melepaskan tangannya.
“Aku minta maaf karena sudah lancang memegang tanganmu, hanya saja kalau aku tidak melakukan itu maka aku yakin kamu akan melarikan diri.”
“Apa yang ingin Mas Hanif katakan padaku?”
“Ameena, kenapa kamu mengizinkan Richi tinggal di sini?”
“Itu bukan karena aku, akan tetapi nyonya yang mengizinkan Richi tinggal di sini.”
“Lalu apakah kamu mencintai pria itu? Siapa sebenarnya yang kamu cintai Ameena? Boy atau Richi?”
Namun Ameena tak menjawab pertanyaan Hanif barusan yang membuat Hanif perlahan mencondongkan kepalanya hingga dekat sekali dengan wajah Ameena yang membuatnya terkejut setengah mati.
“Mas Hanif, apa yang hendak Mas lakukan?”
__ADS_1
“Atau justru kamu masih mencintaiku, Ameena?”