
Untari menanyakan pada putranya mengenai keputusannya untuk berpisah dengan Ameena dan Hanif mengatakan bahwa ia sama sekali tidak akan menyesal setelah memutuskan untuk berpisah dengan Ameena. Untari menghela
napasnya panjang, ia dapat merasakan bahwa Hanif mengatakan hal yang sejujurnya, Hanif memang tidak mencintai Ameena dan kalau memaksakan diri untuk bersama maka mereka berdua hanya akan saling menyakiti.
“Mama harap apa pun keputusan yang telah kamu ambil, tidak akan kamu sesali dikemudian hari.”
“Tentu saja aku tidak akan menyesalinya, Ma.”
Untari menganggukan kepalanya dan kemudian menyerahkan semua keputusan pada Hanif, walaupun sejujurnya berat sekali untuknya membiarkan Hanif dan Ameena berpisah karena ia sudah terlanjur menyayangi Ameena dan menganggapnya sebagai anaknya sendiri namun ia tak dapat memaksa Hanif memertahankan rumah tangganya kalau memang tidak saling mencintai.
“Mama pulang dulu, Nak.”
“Iya Ma, hati-hati di jalan.”
“Kalau memang keputusanmu seperti itu, maka alangkah baiknya kamu segera hubungi Ameena dan bicara dengannya.”
“Tentu saja, aku akan melakukan itu.”
Selepas itu Untari meninggalkan kamar hotel tempat Hanif menginap, Hanif sendiri menghela napasnya panjang dan duduk di tepi kasur memikirkan apa yang barusan mamanya katakan padanya. Hanif meraih ponselnya dan
mencoba menghubungi Ameena, ia harus segera mengambik keputusan supaya masalah ini tidak berlarut-larut yang akhirnya akan malah menyakiti semua orang.
“Ameena, aku ingin bicara denganmu, kamu di mana?”
“Aku ada di apartemen, Mas.”
“Kalau begitu jangan pergi ke mana pun.”
Selepas mengatakan itu Hanif segera menutup sambungan telepon dan bergegas menuju apartemennya, tidak lama kemudian Hanif tiba juga di apartemen dan langsung masuk ke dalam unit apartemennya, ia menemukan Ameena tengah duduk di sofa sendirian dengan eskpresi wajah yang sulit untuk ditebak.
“Ameena, ada sesuatu hal yang ingin aku bicarakan padamu.”
“Ada apa, Mas?”
“Aku ingin kita berpisah dan kali ini aku yakin dengan keputusanku.”
“Jadi Mas benar-benar ingin berpisah denganku?”
__ADS_1
“Iya, kurasa ini adalah jalan terbaik untuk kita.”
****
Ameena menghela napasnya berat, ia menganggukan kepalanya mendengar ucapan Hanif barusan dan respon yang Ameena berikan itu membuat Hanif merasa heran karena Ameena bisa bersikap seperti itu padahal biasanya ketika ia menyinggung soal mereka berpisah maka Ameena akan mengungkit soal janji mereka pada mendiang Salsabila.
“Kalau memang itu yang menjadi keputusan Mas Hanif, maka aku tidak dapat memaksanya.”
“Apa yang sebenarnya terjadi padamu?”
Ameena tak langsung menjawab pertanyaan yang Hanif ajukan barusan, akan tetapi ia memberikan jeda sebentar sebelum mengatakan sesuatu pada Hanif yang membuat pria itu terkejut setengah mati.
“Aku harap kamu bahagia dengan wanita itu, Mas.”
“Apa maksudmu Ameena?”
“Waktu itu kamu menghabiskan waktu dengan Nandhita sampai kalian tidur bersama kan?”
Hanif nampak terkejut dengan ucapan Ameena barusan, sontak saja ia bertanya Ameena tahu dari mana mengenai hal itu namun Ameena mengatakan pada Hanif bahwa suaminya itu tidak perlu tahu ia tahu dari mana karena Ameena sekarang akan berusaha untuk mengikhlaskan semua.
segera menggantinya setelah aku mendapatkan pekerjaan di Indonesia.”
****
Ameena dengan berat hati mengemasi semua pakaiannya kembali masuk ke dalam koper, ada rasa sedih ketika mengemasi semua pakainnya ini, ia berpikir akan mendapatkan kehidupan bahagia di Norwegia namun yang ada
justru perpisahan yang datang menghampiri. Ameena berusaha untuk tegar menghadapi semua ini namun ia tak kuasa menangis karena memang batinnya saat ini merasa sakit, ia sudah mulai mencintai Hanif dan berharap rumah tangga mereka dapat bertahan selamanya namun ternyata ia sudah salah dalam menaruh harapan karena pada akhirnya Ameena harus menerima kenyataan bahwa ia dan Hanif memang tidak ditakdirkan untuk bersama.
“Maafkan aku kak, aku tidak dapat memenuhi janjimu, aku minta maaf.”
Ameena menangis sendirian di dalam kamarnya dan Hanif diam-diam mengintip dari balik pintu yang terbuka sedikit, perasaan Hanif bergejolak saat melihat Ameena menangis seperti itu namun berusaha menguatkan
dirinya bahwa ini adalah jalan terbaik untuk mereka dan Ameena memang harus kembali ke Indonesia dari pada harus tersiksa begini. Hanif segera bergegas dari pintu tersebut sebelum Ameena mengetahui keberadaan dirinya, saat ia duduk di sofa nampak ponselnya berdering dan ketika melihat layar ponselnya tertera nama Nandhita di sana.
“Mau apa lagi dia menelponku?”
Hanif menjawab telepon dari Nandhita dan menanyakan apa yang diinginkan oleh Nandhita dan wanita itu mengatakan bahwa ia merindukan Hanif.
__ADS_1
****
Cassandra tetap saja mendatangi Boy untuk meluluhkan hati pria itu, alih-alih dapat meluluhkan hati Boy justru kelakuan wanita itu malah membuat Boy merasa kesal padanya. Boy mengatakan bahwa ia tidak akan mau
lagi bertemu dengan Cassandra lagi namun wanita itu tidak peduli dengan apa yang Boy katakan.
“Aku akan selalu mendatangimu, Boy. Sekuat apa pun kamu mencoba bersembunyi maka aku pasti akan selalu menemukanmu.”
“Kamu sudah tidak waras Cassandra, lebih baik segera temui dokter spesialis kejiwaan untuk memeriksakan kondisimu.”
Ucapan Boy barusan membuat Cassandra marah sekaligus sedih, ia tak menyangka bahwa Boy akan mengatakan hal yang jahat seperti itu padanya.
“Bagaimana bisa kamu mengatakan hal buruk seperti itu padaku, Boy?”
“Sudahlah Cassandra, aku tak mau memulai drama denganmu, aku harus pergi bekerja sekarang juga.”
“Boy, tidak bisakah kamu ikut pulang denganku? Aku mohon padamu, kita bisa menciptakan kebahagiaan kita berdua jika kamu ikut pulang denganku.”
“Rasanya aku sudah berulang kali mengatakan hal ini padamu, Cassandra. Apakah ucapanku itu tidak juga kamu dengarkan?”
“Tidak, pokoknya aku ingin kamu kembali ke kota dan kita bisa memulai kembali semua dari awal.”
Boy menghela napasnya panjang, percuma saja ia bicara dengan Cassandra, ia melepaskan cengkraman tangan Cassandra dan pergi meninggalkan wanita itu.
“Boy, aku belum selesai bicara!”
****
Pamungkas terkejut mendapati surat gugatan cerai yang dilayangkan oleh Luluk, ia tak menyangka kalau Luluk benar-benar ingin berpisah dengannya. Pamungkas langsung mencoba menelpon istrinya itu namun sayangnya Luluk tak menjawab telepon darinya hingga membuat Pamungkas merasa geram bukan main,
“Bagaimana bisa dia tidak menjawab telepon dariku?”
Pamungkas menghela napasnya berusaha untuk menenangkan dirinya yang kesal akibat ulah Luluk ini, setelah jam kerja usai dirinya langsung pergi ke hotel tempat di mana Luluk menginap untuk bicara dengan istrinya itu. Akan tetapi Luluk mengatakan bahwa keputusannya berpisah dengan Pamungkas sudah ia pikirkan baik-baik dan ia tak akan menyesalinya.
“Kamu yakin tidak akan menyesalinya?”
“Tentu saja tidak, aku akan bersyukur kalau memang aku bisa segera berpisah darimu.”
__ADS_1