
Hanif hanya memerhatikan tingkah Boy yang mendekati Ameena, tidak ada rasa cemburu sedikit pun pada Boy saat pria itu mendekati Ameena dan bicara dengannya, sebenarnya Hanif sama sekali tidak mau mencampuri urusan mereka namun karena waktu untuk check in sudah tiba maka Hanif segera menghampiri Ameena dan mengatakan sudah saatnya mereka masuk ke dalam bandara.
“Ameena, ayo masuk ke dalam.”
“Iya Mas.”
“Tolong jaga Ameena, Mas,” pinta Boy.
“Aku tahu apa yang aku lakukan,” ujar Hanif singkat sebelum mereka berdua masuk ke dalam area terminal keberangkatan internasional.
Boy sendiri masih berdiri di tempatnya menatap Ameena yang masuk ke dalam terminal bandara, wanita itu sama sekali tidak berbalik badan dan terus berjalan hingga tubuhnya menghilang di antara banyaknya penumpang pada malam hari ini. Boy menghela napasnya panjang sebelum akhirnya melangkahkan kakinya menuju mobilnya untuk pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan pulang ke rumah nampak Boy memikirkan bahwa sepertinya ada sesuatu
yang berbeda dari Hanif.
“Kenapa aku merasa kalau mas Hanif seperti berubah sikapnya pada Ameena?”
Namun Boy tidak mau terlalu berspekulasi dan akhirnya ia tiba di rumah, nampak Luluk dan Pamungkas telah menantinya di sana.
“Kamu dari mana Boy?”
“Bandara.”
“Melepas Ameena dan Hanif pergi?”
“Iya Ma.”
“Boy, ada sesuatu yang ingin Papa bicarakan denganmu.”
“Ada apa lagi, Pa?”
“Papa dengar kalau kamu menyukai Ameena, apakah itu benar?”
“Apakah itu menjadi sebuah masalah untuk Papa?”
“Tentu saja itu menjadi sebuah masalah, Ameena sama sekali bukan berasal dari keluarga terpandang seperti kita.”
__ADS_1
Boy sudah tahu bahwa kedua orang tuanya pasti akan mengatakan hal tersebut, akan tetapi Boy sama sekali tak mau mengambil pusing apa yang kedua orang tuanya katakan dan ia berniat untuk pergi ke kamarnya namun Pamungkas mengatakan bahwa ia belum selesai bicara dengan Boy.
“Papa belum selesai bicara, Boy.”
Boy menghela napasnya panjang dan kemudian meminta papanya segera mengatakan apa yang ingin dikatakan sekarang juga.
****
Ameena nampak duduk seorang diri di kursi kelas ekonomi karena Hanif duduk di kursi kelas bisnis seorang diri, awalnya Ameena tak mengerti akan hal itu namun setelah masuk ke dalam pesawat justru ia malah diarahkan oleh awak pesawat untuk duduk di kelas ekonomi karena di boarding pass yang ia miliki memang Ameena seharusnya duduk di kursi kelas ekonomi. Ameena tidak bisa protes karena memang Hanif yang membelikan tiket pesawat ini
jadi ia duduk di kursi kelas ekonomi dan pesawat pun tinggal landas meninggalkan Indonesia. Tidak ada yang dapat Ameena lihat dari dalam pesawat karena memang di luar sana sudah gelap dan ketika mereka melakukan transit di Dubai nampak Ameena bingung mencari Hanif yang tidak terlihat.
“Mas Hanif di mana, ya?”
Ameena benar-benar bingung karena bandara Dubai begitu besar dan luas serta banyak sekali manusia yang berlalu lalang di bandara itu sementara Hanif sama sekali tidak terlihat batang hidungnya. Ameena kemudian
mencoba menanyakan pada petugas maskapai yang ada di meja transfer untuk melanjutkan perjalanannya untung saja petugas itu ramah dan mengantarkan Ameena sampai ke gate dan di sana nampak Hanif sibuk dengan ponselnya tanpa menoleh padanya. Ameena berterima kasih pada petugas maskapai dan menghampiri Hanif, ia
bertanya kenapa Hanif tidak menunggunya tadi dan malah langsung ke sini padahal Ameena masih buta akan bepergian ke luar negeri.
“Kamu harus terbiasa mulai sekarang karena aku tidak akan mau menunggu siapa pun kalau kamu tertinggal pesawatnya maka bukan urusanku.”
****
papa Cassandra ini dekat dengan beberapa orang pemerintahan hingga pasti papanya akan mendapat kemudahan untuk mengembangkan bisnis perusahaan ke depannya.
“Halo, kamu Boy kan?”
Boy melihat wanita ini dari ujung rambut hingga ujung sepatu yang dikenakan olehnya, Boy sama sekali tidak tertarik dengan wanita ini dan hanya menganggukan kepalanya. Cassandra nampak terpesona pada Boy karena
memang Boy itu memiliki wajah yang tampan dan tubuh yang indah, ia sudah lama mengikuti Boy di akun media sosial pria ini dan tentu saja ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menjadi istri pria ini.
“Dengar aku tidak tertarik padamu.”
Cassandra nampak terkejut dengan ucapan Boy barusan yang langsung mengatakan bahwa ia tak tertarik padanya, wanita itu nampak tak percaya kalau ia baru saja ditolak oleh pria bahkan sebelum ia mengatakan apa
__ADS_1
pun untuk menggoda pria ini.
“Maaf? Apakah aku salah dengar?”
“Kamu bisa mencari pria lain yang lebih dariku, aku tidak tertarik padamu. Alasan kenapa aku datang ke sini adalah karena orang tuaku yang memaksaku menemuimu jadi aku tidak ingin membuang waktuku untuk berbincang sesuatu hal yang tidak berguna denganmu.”
****
Boy tiba di rumah dan langsung disambut oleh kemarahan kedua orang tuanya yang mana Cassandra sudah memberitahu mereka bahwa Boy memperlakukannya dengan tidak baik, Pamungkas mengatakan pada Boy seharusnya anaknya itu tidak memperlakukan Cassandra dengan buruk dan dapat membuat citranya buruk di depan calon besannya.
“Apakah kamu sengaja ingin membuat Papamu ini malu pada calon besan, hah?”
“Aku menemui wanita itu bukan karena aku menginginkannya namun Papa dan Mama yang menginginkannya, setelah aku menemui wanita itu maka kalian marah padaku? Yang benar saja.”
Ucapan Boy barusan membuat Pamungkas naik pitam dan hendak memukul Boy namun Luluk menahan tangan suaminya itu dan berusaha untuk menenangkannya.
“Tenanglah sayang.”
“Anak ini benar-benar kurang ajar, berani sekali dia membantah apa yang aku katakan.”
“Aku tidak pernah tertarik untuk kembali ke Indonesia asal Papa tahu, andai saja aku bisa memilih maka aku memilih untuk hidup sebagai seorang musisi di Amerika dari pada meneruskan binis perusahaan.”
Setelah mengatakan itu Boy langsung pergi meninggalkan mereka, Pamungkas nampak masih kesal dengan apa yang Boy katakan sementara Luluk menenangkan suaminya itu.
****
Ameena masuk ke dalam pesawat dengan tujuan Oslo, kali ini ia duduk tidak sendiri di kelas ekonomi karena ia duduk bersama seorang pria asing yang mana sepertinya pria asing itu tertarik padanya namun Ameena
berusaha untuk menjaga jarak dengannya.
“Hai,” sapa pria asing itu namun Ameena sama sekali tidak menanggapinya.
Pria asing itu tidak kehabisan akal, ia menyodorkan tangannya pada Ameena dan menyebutkan namanya namun Ameena tidak membalas jabat tangan pria itu hingga pria itu merasa heran.
“Aku bicara denganmu.”
__ADS_1
“Saya tidak tahu apa yang anda bicarakan.”
Ameena memang tidak mengerti apa yang pria asing itu bicarakan karena mereka menggunakan bahasa yang berbeda namun pria itu nampak tersenyum pada Ameena yang membuat Ameena kembali memalingkan wajah ke jendela pesawat.