
Nandhita tentu saja tidak mengerti apa yang sedang Hanif bicarakan ini hingga akhirnya Hanif mengatakan pada Nandhita soal wanita ini yang menyelamatkan Ameena yang tercebur ke danau dan nyaris tenggelam. Nandhita pun mengatakan bahwa apa yang Ameena katakan itu memang benar namun respon yang diberikan oleh Hanif sungguh membuatnya begitu sakit.
“Aku berterima kasih atas apa yang sudah kamu lakukan pada Ameena, setidaknya itu membuktikan bahwa kamu masih memiliki hati nurani akan tetapi kalau hal tersebut dapat membuat pikiranku berubah untuk membuat
kita bercerai maka maaf saja, aku tidak akan melakukannya.”
Nandhita tidak memiliki tenaga untuk mendebat apa yang Hanif katakan barusan, selepas mengatakan itu Hanif kemudian segera pergi meninggalkan Nandhita untuk menuju rumahnya. Di rumah nampak Untari sudah menantinya dan wanita itu sungguh sangat khawatir mengenai keadaan Ameena.
“Bagaimana keadaan Ameena sekarang, Nak?”
“Ameena baik-baik saja, Ma.”
“Syukurlah kalau begitu, Mama ingin segera menjenguknya.”
“Lebih baik besok saja Ma, hari sudah malam.”
Untari dapat melihat kalau raut wajah Hanif seperti memerlihatkan sebuah masalah, Untari pun kemudian bertanya pada Hanif mengenai masalah apa yang tengah putranya hadapi itu namun Hanif mengatakan pada Untari bahwa dia baik-baik saja.
“Mama tahu kalau kamu sedang ada masalah.”
Hanif pun menghela napasnya, sekuat apa pun ia mencoba untuk menyembunyikan fakta dari Untari bahwa saat ini ia sedang tidak baik-baik saja tentu saja sang mama dapat langsung mengetahui hal tersebut. Hanif pun akhirnya menceritakan apa yang membuatnya menjadi kepikiran yaitu mengenai tindakan Nandhita yang menyelamatkan Ameena di danau, tentu saja mendengar cerita Hanif itu membuat Untari tidak percaya, yang ia ketahui adalah Nandhita begitu membenci Ameena dan bagaimana mungkin Nandhita melakukan hal tersebut?
“Kamu pasti berbohong, Nandhita tidak mungkin melakukan hal itu.”
“Respon yang Mama berikan barusan sungguh sama seperti respon yang aku berikan saat Ameena menceritakannya padaku. Apakah menurut Mama Ameena hanya berbohong saja untuk menutupi semuanya?”
****
Seperti apa yang dikatakan sebelumnya oleh Untari, hari ini wanita itu pergi untuk menemui Ameena di rumah sakit, Ameena sendiri sudah diizinkan pulang oleh dokter siang ini dan untungnya saja Untari datang tepat sebelum Ameena pulang.
“Mama?”
“Syukurlah aku sempat bertemu denganmu.”
__ADS_1
Untari langsung memeluk Ameena dan Boy yang ada di ruangan itu pun memutuskan untuk pergi sejenak untuk memberikan waktu mereka berdua bicara, selepas Boy pergi kini Untari mengajak Ameena untuk bicara sebentar.
“Aku dengar apa yang sudah terjadi padamu, kamu didorong oleh Nandhita hingga jatuh ke danau kan?”
“Tidak Ma, Nandhita tidak sengaja melakukan itu.”
“Ameena, kamu tidak perlu berbohong padaku, katakan saja yang sejujurnya,” ujar Untari yang memegang tangan Ameena berharap kalau saat ini Ameena mau mengatakan hal yang sejujurnya padanya.
“Kejujuran apa yang ingin Mama dengar? Apakah barusan menurut Mama bukanlah jawabaku yang jujur?”
Jawaban yang diberikan oleh Ameena barusan justru malah membuat Untari tertegun, ia tentu saja dapat yakin bahwa yang dikatakan oleh Ameena adalah kejujuran karena Untari dapat melihat itu semua dari kedua mata Ameena.
“Aku tahu bahwa Mama dan mas Hanif tidak memercayai hal tersebut akan tetapi aku berani bersumpah bahwa memang Nandhita tidak sengaja melakukannya dan dia bertanggung jawab atas apa yang terjadi padaku.”
****
Boy mengatakan pada Ameena untuk sementara waktu lebih baik Ameena tinggal dulu di rumah ini, Ameena tentu saja keberatan dengan saran dari Boy tersebut akan tetapi Boy memaksanya hingga Ameena pun tidak dapat
“Ketika dia tahu aku hendak pergi ke rumah sakit untuk menemuimu sebenarnya dia ingin ikut hanya saja aku tidak memberikannya izin karena takut tidak boleh masuk oleh petugas, dia sangat sedih sekali.”
Ameena terenyuh mendengar penjelasan Boy barusan mengenai Alysa yang begitu khawatir padanya namun sekarang Alysa boleh kembali tersenyum karena Ameena sudah diizinkan pulang oleh dokter dan ia baik-baik
saja.
“Sejujurnya aku masih penasaran apa yang membuat Nandhita mau menolongmu,” ujar Boy.
“Dia kan tidak sengaja mendorong saya ke danau itu, Tuan.”
“Tapi tetap saja aku tidak dapat menerima itu, maksudku wanita itu begitu membencimu namun secara tiba-tiba saja dia bersikap baik padamu dengan mau menolong bahkan membawamu ke IGD sungguh sangat diluar dugaan.”
“Sepertinya Tuan Boy harus mulai berhenti untuk berpikiran buruk padanya, siapa tahu memang Nandhita adalah orang yang baik selama ini hanya saja kalian semua sudah salah paham padanya.”
****
__ADS_1
Richi dibebaskan dari penjara berkat campur tangan Cassandra, tentu saja Richi bahagia sekali ia dapat keluar dari penjara dan kembali ke rumahnya namun yang membuatnya terkejut adalah kabar dari tetangga sebelah yang mengatakan bahwa Ameena dan Alysa sudah pindah dari rumah ini selepas Richi ditetapkan menjadi tersangka oleh polisi. Richi yang mendengar itu tentu saja geram bukan main, ia kemudian mencoba menghubungi nomor ponsel Ameena namun sayangnya ponsel tersebut tidaklah aktif.
“Ameena, berani sekali dia mencoba melarikan diri dariku setelah apa yang ia lakukan,” geram Richi.
Richi pun kemudian mengetahui harus mencari di mana Ameena berada, ia kemudian pergi menuju rumah keluarga Luluk, ketika tiba di depan pagar nampak satpam sudah langsung menghadangnya.
“Mau apa kamu datang ke rumah ini?”
“Ameena ada di sini kan? Aku mau bertemu dengannya sekarang.”
“Maaf akan tetapi kamu tidak boleh masuk, ini adalah perintah tuan Boy.”
Mendengar nama Boy tentu saja membuat Richi meradang, ia tak mempedulikan apa yang dikatakan oleh satpam itu dan Richi langsung menerobos masuk ke dalam rumah seraya berteriak-teriak memanggil nama Ameena.
****
Keributan yang ditimbulkan oleh Richi membuat Boy dan Luluk keluar rumah, Boy dan Luluk nampak terkejut menemukan Richi sudah keluar penjara saat ini dan tengah berdiri di depan pintu rumah mereka.
“Bagaimana bisa kamu bebas padahal seharusnya kamu masih menjalani hukumanmu di penjara?”
“Itu sama sekali bukan urusanmu, di mana Ameena.”
“Dia tidak ada di sini, sekarang juga pergilah.”
“Aku tidak mau pergi sebelum membawa Ameena dan Alysa pulang bersamaku.”
“Jangan keras kepala, Richi, pergi selagi aku masih sabar menghadapimu.”
“Aku sudah mengatakannya padamu barusan bahwa aku tidak akan pernah pergi sebelum membawa Ameena dan Alysa pulang bersamaku!”
Tidak lama kemudian satpam muncul dan menyeret Richi untuk pergi dari rumah ini walaupun Richi melawan dan berteriak supaya ia dilepaskan.
“Bagaimana bisa dia dibebaskan dari penjara?” gumam Luluk.
__ADS_1