Cinta Ameena

Cinta Ameena
Rasa Sedih dan Bahagia


__ADS_3

Hanif nampak terkejut dengan sebuah kiriman foto yang dikirim oleh Nandhita barusan yang mengatakan bahwa wanita itu positif hamil, tentu saja Hanif tak percaya begitu saja dengan hasil test pack yang dibuat oleh Nandhita barusan dan ia langsung menelpon wanita tersebut.


“Halo Hanif?”


“Apa maksudmu mengirim foto itu padaku?”


“Aku hanya ingin berbagi kabar gembira mengenai calon anak kita, sayang.”


“Kamu pikir aku akan percaya begitu saja dengan hasil test pack itu?”


“Silakan saja kalau kamu mau membuktikan apakah aku memang hamil atau tidak karena sejujurnya aku pun juga belum memeriksakan diri ke dokter, alangkah baiknya kalau kita langsung memeriksakan diriku ke dokter supaya kita dapat mengetahui apakah diriku ini benar-benar hamil atau tidak.”


“Iya, tentu saja, aku memang akan melakukan itu dan aku yakin bahwa kamu pasti sedang mengada-ngada saja!”


Selepas itu Hanif langsung menutup sambungan teleponnya dengan kasar, ia menghela napasnya untuk meredakan amarah yang barusan menguasai dirinya hingga setelahnya ia mengirimkan alamat rumah sakit tempat di mana mereka akan melakukan tes dan Nandhita mengatakan bahwa ia akan segera datang ke sana.


“Tenangkan dirimu Hanif, wanita itu tidak mungkin


sedang hamil, dia pasti sedang mengada-ngada saja.”


Hanif segera pergi menuju rumah sakit tersebut namun disepanjang perjalanan menuju rumah sakit dirinya nampak begitu khawatir sekali takut kalau memang Nandhita saat ini sedang mengandung anaknya.


“Tidak, kamu jangan berpikiran seperti itu dulu Hanif, wanita itu bisa saja tidak sedang hamil.”


Hanif akhirnya tiba di rumah sakit tempat di mana ia dan Nandhita akan memeriksakan diri wanita itu ke dokter kandungan, Hanif sudah membuat janji bertemu dengan seorang dokter kandungan di rumah sakit ini dan untungnya saja dokter itu bisa menerimanya dan Nandhita.


“Ke mana wanita itu? Apakah dia takut untuk memeriksakan diri ke dokter?” gumam Hanif yang gelisah menantikan kedatangan Nandhita namun tidak lama kemudian Nandhita muncul di hadapannya dengan senyum sumringah.


****


Hasil yang tidak diinginkan oleh Hanif terjadi juga, Nandhita rupanya memang positif mengandung anaknya dan Nandhita begitu bahagia sekali, ia berterima kasih pada dokter karena sudah memeriksakan kandungannya sementara Hanif nampak tidak bahagia sama sekali dengan kabar bahwa tidak lama lagi dia akan menjadi seorang ayah.


“Kamu kenapa Hanif? Kok sepertinya kamu tidak menyukai bahwa sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah?” tanya Nandhita selepas mereka keluar dari ruangan dokter tersebut.


“Aku memang tidak menyukainya Nandhita, kamu sakit, kamu sengaja menjebakku malam itu supaya kita berhubungan!”

__ADS_1


“Bukankah sejak dulu kamu mendambakan seorang anak? Sekarang tidak lama lagi kamu akan memiliki seorang anak yang merupakan anak kandungmu sendiri.”


“Namun aku tidak menyukainya.”


“Jadi kamu memintaku untuk menggugurkan anak ini? Maaf saja namun aku tidak akan mau melakukan itu karena bagiku anak ini adalah sesuatu hal yang aku inginkan.”


Hanif tentu saja tidak akan tega menggugurkan anak yang anak di dalam kandungan Nandhita, ia tidak cukup kejam untuk melakukan hal tersebut walaupun ini semua karena perbuatan Nandhita yang sengaja menjebaknya


malam itu agar mereka berdua dapat berhubungan namun bagaimanapun juga ia tidak akan menyuruh Nandhita menggugurkan kandungannya.


“Terserah kamu saja,” lirih Hanif yang kemudian pergi meninggalkan Nandhita.


****


Nandhita pulang ke rumah dengan hati riang gembira, Luluk yang melihat itu tentu saja penasaran dengan apa yang terjadi pada Nandhita sampai-sampai keponakannya ini sepertinya bahagia sekali saat ini.


“Nandhita, apa yang terjadi padamu, Nak?”


“Tante, aku memiliki berita bahagia.”


“Berita bahagia apa? Coba kamu beritahu Tante.”


“Apa katamu?”


“Iya, aku sedang mengandung anaknya Hanif.”


Ameena yang kebetulan melintas di dekat mereka nampak terkejut bukan main, ia sampai terdiam beberapa saat untuk memproses apa yang barusan ia dengar, Nandhita yang melihat Ameena sedang mencuri dengar pembicaraannya dengan Luluk pun dengan sengaja mengeraskan suaranya supaya Ameena mengetahui bahwa dirinya memang sedang mengandung anaknya Hanif.


“Kamu serius, Nak?”


“Tentu saja Tante, aku dan Hanif baru saja memeriksakan diri ke dokter kandungan dan hasilnya memang sekarang aku sedang mengandung.”


Ameena yang mendengar itu nampak tak sanggup lagi menahan dirinya dan langsung pergi menjauh dari Luluk dan Nandhita sementara melihat raut wajah hancur dan terlukanya Ameena membuat Nandhita begitu puas.


“Tante, aku mau masuk ke kamar dulu, ya?”

__ADS_1


“Iya sayang.”


Nandhita pun kemudian berjalan menuju kamarnya namun sebelum itu ia nampak mencari keberadaan Ameena karena ia masih ingin membuat Ameena tersiksa dengan berita bahagia ini.


“Kamu pasti saat ini sedih kan Ameena? Sudah aku katakan bahwa Hanif hanya milikku sekarang dan tidak ada seorang pun yang dapat memilikinya.”


****


Ameena menangis di halaman belakang selepas mendengar percakapan antara Nandhita dan Luluk barusan, ia tak menyangka bahwa hasil perbuatan mereka pada saat itu akhirnya membuahkan hasil juga. Walaupun Ameena dan Hanif sudah berpisah namun rasa cinta wanita itu pada Hanif masih tetap sama, ia masih belum dapat sepenuhnya menerima bahwa Hanif tidak lama lagi akan memiliki seorang anak namun bukan darinya melainkan wanita lain.


“Ameena, kamu menangis?” tanya Luluk yang menghampiri Ameena.


“Tidak Nyonya,” jawab Ameena seraya buru-buru menghapus air matanya supaya Luluk tak melihat tangisannya.


“Kamu jangan berdusta padaku Ameena, aku tahu bahwa kamu saat ini sedang hancur dengan kenyataan kan?”


Ameena kemudian tak dapat menahan diri untuk tidak menunjukan bahwa dirinya tidak baik-baik saja di depan Luluk, ia meminta maaf karena sudah menangis namun Luluk mengatakan bahwa Ameena jangan meminta maaf


karena menangis itu adalah hal yang wajar.


“Kalau kamu sudah lebih baik, maka kamu bisa melanjutkan pekerjaanmu.”


“Iya Nyonya, terima kasih banyak.”


Luluk pun kemudian segera bergegas meninggalkan Ameena yang masih menangis untuk beberapa saat hingga akhirnya Ameena pun mulai dapat kembali menguasai dirinya dan meredakan tangisnya.


****


Boy tiba di rumah dan Luluk langsung menghampiri Boy, ia menceritakan pada Boy bahwa saat ini Ameena sedang bersedih hati dan tentu saja Boy penasaran dengan apa yang membuat Ameena sampai bersedih hati begitu.


“Dia baru saja mendapatkan kabar bahwa Hanif menghamili Nandhita.”


“Apa maksud Mama?”


“Nandhita sendiri yang bercerita pada Mama bahwa tadi mereka baru saja datang ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Nandhita dan rupanya dia memang positif tengah mengandung.”

__ADS_1


Boy nampak terkejut saat tahu Nandhita saat ini tengah mengandung anaknya Hanif namun yang membuatnya sedih adalah Ameena yang sepertinya masih sangat mencintai Hanif hingga ia begitu hancur dan terluka saat tahu


Nandhita hamil akibat perbuatan pria itu.


__ADS_2