Cinta Ameena

Cinta Ameena
Meminta Bantuan


__ADS_3

Ameena nampak terkejut dengan pertanyaan yang diajukan oleh suaminya itu, tentu saja Ameena membantah kalau ia menyukai Boy seperti yang dituduhkan oleh Hanif. Ameena mengatakan kalau ia tidak pernah berpikir untuk diam-diam melakukan perselingkuhan dengan pria lain selain Hanif dan hal tersebut membuat Hanif bertanya pada Ameena.


“Kamu yakin ingin bertahan denganku walaupun sikapku dingin seperti ini padamu?”


“Aku akan bertahan dan aku tidak akan pernah berkhianat dengan siapa pun.”


“Karena kamu menyikaiku?”


“Apa?”


Hanif nampak menyeringai dan kemudian meminta Ameena untuk jujur padanya apakah memang sejak awal Ameena sudah tertarik padanya dan pertanyaan yang diajukan oleh Hanif barusan membuat Ameena jadi terdiam dan menundukan kepalanya.


“Kenapa hanya diam saja? Kamu ingin memertahankan rumah tangga ini karena kamu menyukaiku kan?”


“Mas ….”


“Jawablah dengan jujur Ameena.”


“Baiklah, sejujurnya aku memang menyukaimu.”


“Lalu kamu tahu bahwa hanya ada Salsabila di dalam hatiku dan tidak akan ada seorang pun yang dapat menggantikannya di dalam sini? Kamu hanya menyakiti dirimu sendiri bertahan dengan seseorang yang sama sekali tidak mencintaimu.”


“Aku akan bertahan walaupun Mas tidak mencintaiku, aku tidak berharap kalau Mas Hanif akan menyukaiku juga namun aku sudah berjanji pada mendiang kak Salsabila untuk menjadi istrimu selamanya selepas dia pergi.”


“Bisakah kamu tidak perlu mengatakan itu?”


“Apa?”


“Kamu seolah senang sekali ketika tahu bahwa istriku sudah meninggal dunia sekarang hingga kamu tak perlu bersaing dengannya.”


“Tidak, bukan seperti itu maksudku Mas.”


“Sudahlah Ameena, rupanya kamu wanita yang jahat, di balik penampilanmu yang polos dan tidak berbahaya rupanya kamu jauh lebih mengerikan dari yang aku pikirkan.”


Selepas mengatakan itu Hanif langsung pergi dari meja makan meninggalkan Ameena yang berusaha memanggil namanya namun Hanif sama sekali tidak menggubris ucapan Ameena dan menuju kamar.


“Ya Allah, kenapa sekarang jadi seperti ini?” gumam Ameena sedih.


Sementara itu di dalam kamar nampak Hanif menatap foto mendiang Salsabila, ia memeluk foto tersebut dan mengatakan tidak seorang pun yang dapat menggantikan posisinya.


****


Luluk kembali datang ke tempat Boy bekerja dan hal tersebut membuatnya sama sekali tidak nyaman apalagi mamanya itu selalu mengajaknya untuk bicara padahal ia tahu kalau saat ini ia harus bekerja.

__ADS_1


“Mama akan bicara dengan bosmu.”


“Bukan seperti itu, Ma.”


Namun Luluk tak peduli dengan hal tersebut, ia bicara dengan pemilik restoran ini supaya ia dapat bicara dengan Boy saat ini dan sikap Luluk ini membuat Boy merasa tak nyaman.


“Ma, bisakah Mama tak perlu datang lagi ke sini saat aku sedang bekerja?”


“Kamu kok jad marah pada Mama?”


“Aku begini karena Mama mengganggu waktuku bekerja.”


“Mama hanya merindukanmu, Nak.”


“Aku tahu kalau Mama rindu namun setidaknya bisa kan temui aku saat aku sedang tidak bekerja?”


“Mama minta maaf karena sudah membuatmu tidak nyaman, Mama hanya kesepian saja, semenjak Salsabila pergi sekarang Mama merasa benar-benar sendirian di dunia ini.”


Luluk nampak begitu sedih saat ini hingga membuat Boy sedikit melunak, ia mau menyentuh mamanya dan membiarkan mamanya memeluknya saat ini. Luluk nampak tak dapat menahan dirinya untuk menangis karena ia teringat sosok Salsabila saat ini, ia masih belum sepenuhnya dapat menerima kalau putrinya itu harus pergi terlebih dahulu dibandingkan dirinya


****


Ameena membersihkan seluruh apartemen ini selepas Hanif pergi bekerja, perkataan Hanif semalam masih terngiang di dalam kepalanya dan hal tersebut cukup mengganggunya untuk bisa fokus melakukan pekerjaannya.


Ameena memutuskan untuk duduk terlebih dahulu dan memikirkan apa yang harus ia lakukan selepas ini, ia sudah berjanji pada mendiang Salsabila untuk tetap bertahan dengan Hanif walau apa pun yang terjadi dan akan mewujudkan impian wanita itu yang belum sempat terwujud yaitu memiliki seorang anak namun bagaimana mereka bisa memiliki anak kalau Hanif saja enggan menyentuhnya sejak pertama kali mereka menikah.


“Kak Salsabila, apa yang harus aku lakukan saat ini? Apakah aku harus menyerah sekarang?” lirih Ameena.


Ameena kemudian teringat ibunya, ia sudah cukup lama tidak memberi kabar pada ibunya semenjak ia sampai di Norwegia, ia kemudian segera mencoba melakukan video call dengan sang ibu dan tidak lama kemudian


ibunya menjawab video call tersebut.


“Assalamualaikum, Bu.”


“Waalaikumsallam, Nak, bagaimana kabarmu di sana?”


“Aku baik, Bu.”


“Ibu sangat merindukanmu, Nak.”


“Aku juga merindukan Ibu.”


“Tapi kok sepertinya kamu sedang sedih sekarang?”

__ADS_1


“Apa? Masa sih, aku tidak sedang sedih, kok.”


“Ameena, walaupun hanya melihat dari layar ponsel begini namun Ibu tahu kalau saat ini kamu sedang ada masalah.”


Ameena nampak terdiam mendengar ucapan ibunya barusan namun kemudian ia segera mengalihkan topik pembicaraan supaya ibunya tidak bertanya lebih jauh mengenai masalahnya.


****


Cassandra datang ke kantor papanya dan kedatangan wanita itu nampak menarik perhatian papanya yang merasa tak biasa ketika melihat putrinya datang ke kantornya seperti ini.


“Tumben kamu datang ke kantor Papa.”


“Memangnya aku tidak boleh datang ke sini?”


“Kamu datang kalau ada maunya saja.”


“Kenapa Papa mengatakan itu?”


“Karena seperti yang sudah-sudah memang selalu seperti itu, kamu pikir Papa tidak belajar dari apa yang sudah kamu lakukan selama ini?”


Cassandra nampak tersenyum mendengar ucapan papanya barusan, ia kemudian sengaja bersikap manis karena memang ada maunya.


“Sudah jangan bersikap seperti ini, katakan saja apa yang kamu inginkan.”


Cassandra kemudian menceritakan mengenai masalah yang sedang dialami oleh Boy, papanya nampak menyimak cerita Cassandra hingga tuntas dan ia tahu apa yang diinginkan oleh putrinya ini.


“Papa sudah dapat menangkap apa yang kamu inginkan.”


“Benarkah?”


“Kamu ingin supaya Papa memberikan Boy pekerjaan di sini bukan?”


“Ayolah Papa pasti bisa melakukan itu kan? Boy kan calon menantu Papa.”


“Tapi sebelumnya Papa harus memastikan terlebih dahulu ada masalah apa antara Boy dengan papanya, takutnya kalau Boy bekerja di sini maka itu akan menjadi bumerang untuk bisnis Papa.”


****


Bukanlah hal yang sulit untuk Cassandra mengetahui di mana Boy tinggal, berkat koneksi papanya yang merupakan orang kaya raya tentu saja Cassandra bisa dengan mudah menemukan tempat tinggal Boy. Nampak wanita itu terkejut ketika melihat rumah kontrakan yang disewa oleh Boy karena rumah kontrakan itu berada di permukiman padat penduduk yang sangat jauh dari kata mewah seperti kehidupan Boy sebelumnya.


“Ya ampun Boy benar-benar tinggal di tempat mengerikan seperti ini? Memangnya dia tidak memiliki cukup uang untuk menyewa apartemen?” lirihnya.


Ketika Cassandra menunggu di depan pintu rumah sambil mengamati tempat ini nampaklah orang yang sejak tadi ia tunggu muncul juga.

__ADS_1


“Mau apa kamu ke sini?”


__ADS_2