
Ameena didorong dengan kasar oleh Nandhita dan ketika wanita itu hendak melakukan sesuatu hal yang buruk padanya, seseorang melihat dan membuat Nandhita tidak jadi melakukan hal yang buruk pada Ameena.
“Nandhita, apa yang hendak kamu lakukan?”
Sontak saja Nandhita terkejut dan menoleh ke arah sumber suara, di sana ia melihat Hanif tengah menatapnya tajam dan Nandhita pun kemudian memberikan alasan bahwa ia hendak membantu Ameena yang tadi terjatuh
akan tetapi dari raut wajahnya nampak Hanif tidak memercayai apa yang dikatakan oleh Nandhita barusan.
“Kenapa? Sepertinya kamu tak memercayai apa yang aku katakan barusan, ya?”
“Bukannya aku tak percaya, hanya saja aku meragukannya.”
Jawaban dari Hanif barusan sontak saja membuat Nandhita kesal bukan main, ia pun meminta Ameena untuk mengatakan sesuatu pada Hanif namun tentu saja Ameena diberikan ancaman oleh Nandhita dari kedua sorot
matanya.
“Iya Mas tadi Nandhita hendak membantuku yang jatuh.”
Nandhita yang mendengar jawaban Ameena sontak saja bahagia bukan main, ia pun memamerkan hal itu pada Hanif namun sepertinya Hanif masih tak memercayai apa yang Nandhita dan Ameena katakan.
“Ngomong-ngomong, kenapa kamu ke sini?” tanya Nandhita yang berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Aku ke sini karena aku mencarimu sejak tadi, rupanya kamu ada di sini,” jawab Hanif.
“Oh begitu rupanya, maaf kalau sudah membuatmu mencariku.”
Perhatian yang diberikan oleh Hanif pada Nandhita membuat Ameena agak cemburu namun wanita itu berusaha untuk tidak menampakan hal tesebut di depan Hanif dan Nandhita, selepas itu Nandhita dan Hanif pun pergi dari tempat ini meninggalkan Ameena yang berusaha berdiri sendiri karena tadi didorong oleh Nandhita ketika ia melakukan kembali pekerjaannya, tiba-tiba saja Hanif muncul di belakangnya dan menanyakan sesuatu padanya.
“Ameena, katakan saja yang sejujurnya padaku.”
“Mas Hanif?”
“Aku tahu bahwa tadi Nandhita melakukan sesuatu hal yang buruk padamu kan?”
“Mas Hanif, aku… aku ….”
“Kamu jangan coba membohongiku, Ameena.”
Ameena pun menundukan kepalanya, ia benar-benar bingung harus mengatakan apa pada Hanif saat ini.
****
Hanif tak memercayai apa yang Nandhita katakan padanya barusan dan oleh sebab itu ia mendatangi Ameena secara langsung untuk bertanya pada wanita itu apa yang sudah Nandhita lakukan padanya sebelumnya namun sepertinya Ameena enggan menjawab pertanyaannya atau mungkin ia takut karena Nandhita sudah mengancamnya tadi.
__ADS_1
“Kamu tak perlu ragu untuk mengatakannya padaku, Ameena.”
“Bukankah aku sudah mengatakannya pada Mas Hanif tadi.”
“Tapi aku merasa bahwa kamu tidak mengatakan yang sejujurnya.”
“Aku mengatakan yang sejujurnya, tolong Mas Hanif jangan menanyakan ini lagi.”
“Kenapa kamu mencoba membohongiku, Ameena?”
“Mas Hanif aku ….”
“Bukankah kamu seharusnya mengatakan hal yang sejujurnya padaku? Bukankah tidak baik berbohong?”
Ameena terdiam mendengar pertanyaan dari Hanif barusan namun Luluk muncul yang membuat Hanif pun tidak melanjutkan misinya untuk mendesak Ameena mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
“Ada apa ini? Kenapa kalian di sini?”
“Bukan apa-apa Ma, aku permisi dulu.”
Hanif bergegas pergi meninggalkan Ameena dan Luluk, sementara selepas Hanif pergi kini Luluk menatap tajam Ameena dan menanyakan pada wanita itu apa yang sudah mereka berdua bicarakan barusan akan tetapi
nampak Ameena tak mau menjawab pertanyaan dari Luluk yang membuat wanita itu kesal bukan main.
****
Hari ini Richi datang ke rumah untuk menjenguk Ameena dan ia mencoba membuat Ameena berhenti dari pekerjaannya di rumah ini namun rupanya obrolan mereka didengar oleh Luluk yang langsung mengatakan pada Richi bahwa pria itu harus menghormati keputusan yang sudah Ameena berikan.
“Tapi dia istriku sekarang, Nyonya.”
“Aku tak peduli apakah dia istrimu atau bukan, yang jelas Ameena harus bekerja di rumah ini dan tinggal di sini. Lagi pula Ameena sendiri tak keberatan dengan semua itu.”
“Itu semua karena anda menekannya kan?”
“Berani sekali kamu lancang menuduhku yang bukan-bukan?”
Ameena berusaha mengingatkan Richi untuk jangan bicara yang tidak-tidak pada Luluk namun pria itu sudah kepalang kesal dan meluapkan kekesalannya pada Luluk sekarang juga. Luluk yang juga sudah benci pada Richi
pun kemudian memanggil satpam untuk mengusir Richi dari rumah ini dan jangan pernah membiarkan Richi masuk lagi.
“Nyonya tolong jangan lakukan ini padanya,” pinta Ameena.
“Salah sendiri kenapa dia mencari gara-gara denganku,” ujar Luluk.
__ADS_1
Richi pun dipaksa keluar oleh satpam yang berjaga di depan pagar rumah Luluk, Richi berusaha melawan namun tentu saja ia tetap berhasil dibawa keluar oleh satpam itu dan tidak diizinkan lagi masuk oleh Luluk.
“Kurang ajar sekali wanita itu,” geram Richi.
****
Nandhita begitu penasaran dengan perasaan Hanif yang sebenarnya pada Ameena, walaupun Hanif mengatakan bahwa ia tidak tertarik pada Ameena hingga saat ini namun entah kenapa dari sorot mata Hanif ketika menatap
Ameena ada sesuatu hal yang membuatnya curiga.
“Mau apa kamu datang ke sini? Kenapa tidak memberitahuku dulu?” tanya Hanif saat Nandhita muncul di ruangan kerjanya.
“Memangnya aku harus memberitahumu kalau aku mau datang ke sini? Aku kan istrimu,” ujar Nandhita santai dan duduk di meja kerja Hanif.
“Nandhita, aku tak memiliki waktu untuk meladenimu, apakah kamu tidak lihat banyak sekali pekerjaan yang harus aku selesaikan di sini?” tanya Hanif.
“Aku akan pergi sekarang juga akan tetapi kamu harus menjawab pertanyaanku secara jujur terlebih dahulu,” ujar Nandhita.
“Baiklah, kalau begitu cepat katakan supaya kamu bisa langsung pergi.”
“Apakah kamu mencintai Ameena?”
Hanif nampak tak percaya bahwa Nandhita bertanya hal konyol seperti itu lagi, Hanif menghela napasnya panjang dan ia mengatakan pada Nandhita bahwa dirinya sudah berulang kali mengatakan pada wanita ini mengenai
apa yang ia rasakan pada Ameena dan sudah seharusnya Nandhita mengerti akan hal itu.
“Baiklah, kamu memang selalu mengatakan bahwa tidak tertarik pada Ameena akan tetapi sorot matamu itu benar-benar membuatku curiga.”
“Apa maksudmu?”
****
Luluk tentu saja bisa dengan mudah menghancurkan hidup seseorang, Richi yang merupakan seorang photographer lepas kini tidak mendapatkan pekerjaan yang biasanya selalu saja ada klien yang mendatanginya
dan memintanya memotret namun tiba-tiba saja tidak ada satu pun orang yang datang padanya hingga akhirnya Luluk muncul di depan studio fotonya dan menyeringai puas melihat tempat ini begitu sepi.
“Mau apa anda datang ke sini?”
“Bagaimana rasanya tidak ada seorang pun yang datang ke sini dan kamu tidak mendapatkan panggilan pekerjaan lebih dari satu pekan? Apakah kamu sudah kehabisan uang untuk bertahan hidup?”
“Jadi anda yang melakukan semua ini?” tanya Richi tak percaya.
“Tentu saja aku yang melakukan semua ini, asal kamu tahu Richi aku dapat melakukan apa pun yang aku inginkan termasuk menghancurkan orang sombong sepertimu.”
__ADS_1