
Ameena nampak ragu pada awalnya dengan niat baik yang diberikan oleh Luluk dan Boy, bukannya Ameena mau berburuk sangka pada Luluk namun dengan sikap wanita itu yang selalu memusuhinya beberapa waktu belakangan
membuatnya agak sedikit takut kalau semua ini hanya sebuah permainan jahat yang coba Luluk berikan padanya.
“Ameena, kenapa kamu hanya diam saja?” tegur Luluk.
“Iya, Nyonya?”
“Kamu mau kan ikut tinggal bersama kami?” tanya Luluk lagi.
“Anu… Nyonya ….”
“Ayolah Ameena, kalau memang kamu tidak tinggal bersama kami, lantas kamu akan tinggal di mana?” tanya Boy yang membuat Ameena bingung harus menjawab pertanyaan Boy barusan.
“Boy, jangan paksa Ameena begitu, kalau memang Ameena tidak mau maka biarkan saja,” ujar Luluk.
Ameena menghela napasnya sebelum ia memutuskan untuk menjawab pertanyaan dari Luluk ini, akan tetapi sebelumnya ia perlu meyakinkan dirinya sendiri dulu bahwa keputusan yang ia ambil ini adalah sebuah keputusan
yang sudah tepat.
“Nyonya, apakah tidak masalah kalau saya benar-benar tinggal bersama kalian?”
“Tentu saja tidak apa-apa, Ameena.”
“Iya Ameena, kamu bisa tinggal bersama kami,” ujar Boy.
“Jadi bagaimana Ameena? Kamu mau kan ikut tinggal bersama kami?”
“Iya Nyonya, saya mau.”
Luluk dan Boy tersenyum mendengar jawaban yang Ameena berikan barusan, Boy sangat berterima kasih pada Ameena yang telah memberikan jawaban barusan sementara Ameena sendiri merasa ragu apakah keputusan yang ia ambil ini adalah sebuah keputusan yang tepat atau tidak namun ia sudah terlanjur mengucap keputusannya dan tentu saja tidak dapat ia tarik kembali.
“Jadi sekarang juga ayo kita pulang,” ajak Luluk.
Ameena pun tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti Boy dan Luluk karena sekarang ia sudah tidak memiliki tempat tinggal lagi dan kedua orang tuanya pun juga sudah pergi meninggalkannya. Baru pertama kali
Ameena melihat rumah yang dihuni oleh Boy dan Luluk, dirinya nampak terkagum dengan bangunan ini.
“Bibi, bisakah tolong antarkan Ameena menuju kamarnya?”
“Iya Nyonya, silakan ikuti saya.”
****
Ameena nampak terkejut ketika melihat asisten rumah tangga mengantarkannya ke kamar yang akan ia huni, Ameena menanyakan apakah ini benar kamarnya dan sang asisten rumah tangga mengatakan bahwa memang ini
kamarnya.
__ADS_1
“Ya Allah, ini bagus sekali.”
“Bagaimana Ameena? Apakah kamu menyukainya?” tanya Luluk.
“Iya Nyonya, terima kasih banyak,” jawab Ameena.
“Syukurlah kalau kamu menyukainya, oh iya sekarang kamu sudah tidak memiliki pakaian ganti lagi kan karena semua pakaianmu sudah habis terbakar oleh kebakaran itu, kamu tenang saja di dalam lemari itu banyak pakaian
dan kamu bisa memilih pakaian mana yang akan kamu gunakan.”
“Terima kasih banyak, Nyonya.”
“Sama-sama Ameena, semoga saja kamu bahagia tinggal bersama kami.”
Selepas itu Luluk pergi meninggalkan Ameena di dalam kamar itu, selepas kepergian Luluk nampak Ameena menghela napasnya panjang, ia sejujurnya sangat bersyukur dengan sikap Luluk yang baik hati padanya ini namun
di sisi yang lain dirinya merasa heran sekaligus takut kalau semua ini hanya tipu muslihat Luluk untuk membuatnya menderita dikemudian hari.
“Apa yang aku pikirkan ini? Tidak seharusnya aku berpikiran buruk pada nyonya Luluk.”
Ameena kemudian segera keluar dari dalam kamar untuk menuju dapur, ia tidak boleh tidak melakukan apa pun di rumah ini selepas Luluk mengizinkannya tinggal di sini.
****
Nandhita tiba di Indonesia dan ia menelpon Luluk, ia bertanya pada Luluk di mana gerangan Luluk tinggal sekarang dan Luluk pun memberikan alamat rumah yang ia tempati ini pada Nandhita, dengan segera wanita itu menuju alamat yang sudah Luluk berikan padanya barusan dan ia begitu terkejut ketika mendapati Ameena tinggal di rumah ini.
“Tante, kok ada wanita itu?”
“Lho? Memangnya kenapa? Ameena mulai sekarang akan tinggal bersama Tante.”
“Apa? Bagaimana bisa?”
“Nandhita, kamu sendiri akan tinggal di mana?”
“Aku tidak tahu, mungkin akan kembali ke apartemen.”
“Hei, jangan kembali ke apartemen, tinggallah di sini bersama kami.”
“Apa? Memangnya tidak masalah Tante?”
“Tentu saja tidak masalah, memangnya kenapa harus menjadi masalah?”
Nandhita nampak memikirkan ucapan Luluk barusan hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk menyetujui ide Luluk yang memintanya untuk tinggal di sini bersama mereka. Nandhita diantar menuju kamarnya oleh Luluk dan
saat itu Nandhita bertanya pada Luluk apa maksud dan tujuan Luluk membawa Ameena tinggal di rumah ini.
“Aku yakin pasti Tante memiliki rencana kan?”
__ADS_1
“Iya, kamu benar kalau Tante memiliki rencana.”
“Apa itu?”
“Kamu tidak perlu tahu, nanti juga kamu akan mengetahuinya sendiri.”
Selepas mengatakan itu, Luluk kemudian pergi meninggalkan Nandhita di kamarnya. Ternyata dugaan Nandhita benar bahwa Luluk sengaja mengundang Ameena tinggal di sini karena sebuah alasan.
****
Untuk pertama kalinya Ameena makan malam satu meja dengan Luluk, Boy dan Nandhita, dirinya masih nampak begitu canggung dengan semua ini. Boy sendiri meminta Ameena untuk jangan bersikap canggung begitu karena mereka semua kini tinggal di satu rumah yang sama.
“Apa yang Boy katakan itu benar Ameena, kamu jangan canggung begitu.”
“Iya Nyonya.”
Ameena pun mulai mencoba membiasakan diri dengan keadaan yang sekarang, sementara itu Nandhita msih saja menampakan raut wajah tidak sukanya dengan keberadaan Ameena hingga membuat Ameena merasa kurang
nyaman. Selepas makan malam berlangsung, Ameena mencuci piring di dapur dan sosok Nandhita muncul di sana dan mengajak Ameena untuk berbincang.
“Aku tidak menyangka kalau kita akan bertemu lagi di sini.”
Namun Ameena tidak menanggapi ucapan Nandhita barusan hingga membuat Nandhita kesal setengah mati.
“Hei Ameena, kamu ini tuli, ya? Aku ini sedang bicara denganmu.”
“Maaf, tapi sekarang aku sedang mencuci piring.”
Jawaban yang Ameena berikan tersebut nampak sama sekali tidak memuaskan Nandhita, ia masih begitu kesal pada Ameena karena sudah berani mengacuhkannya namun tentu saja tidak lama kemudian ia tahu bagaimana
cara membuat Ameena tertarik pada obrolannya.
“Apakah kamu tidak ingin mendengar kabar mengenai Hanif?”
****
Ameena tidak tahan ketika Nandhita menceritakan soal dirinya dan Hanif yang melakukan itu, selepas mencuci piring Ameena hendak pergi meninggalkan Nandhita namun sayangnya wanita itu menahan tangan Ameena
supaya jangan melarikan diri darinya.
“Kenapa kamu ingin melarikan diri, Ameena? Apakah kamu tidak sanggup menerima kenyataan bahwa nyatanya Hanif tidak mencintaimu?”
Ameena tak menjawab pertanyaan Nandhita, ia tetap pergi ke kamarnya dan mengurung diri di dalam sana sementara Nandhita nampak menyeringai, ia tahu bahwa Ameena mencintai Hanif namun sayangnya Hanif tidak
mencintainya karena sampai kapan pun cintanya hanya untuk mendiang Salsabila.
“Ameena, harusnya kamu itu tahu diri, tidak mungkin Hanif akan jatuh cinta pada wanita sepertimu.”
__ADS_1