
Nandhita tentu saja kesal dengan ucapan mama mertuanya barusan yang berusaha untuk menghasut suaminya untuk menceraikannya dan Nandhita sama sekali tidak dapat menerima itu, maka ketika Hanif tiba di rumah
tanpa membuang waktu lagi Nandhita meluapkan semua kekesalannya pada mama mertuanya.
“Apakah kamu akan mendengarkan apa yang mamamu katakan, Hanif? Kamu akan menceraikanku?”
“Aku belum tahu namun kalau memang menurutku ada sesuatu hal yang tidak dapat aku terima maka aku tidak akan segan untuk menceraikanmu.”
“Apakah kamu tidak percaya padaku bahwa antara aku dan Jose tidak memiliki hubungan khusus? Apakah kamu sudah termakan ucapan mama, Hanif?”
“Astaga Nandhita, apa yang terjadi padamu? Kenapa sih kamu membuat kepalaku bertambah pusing saja?”
Hanif kemudian memutuskan untuk tidur di kamar Arsen dibanding di kamarnya sendiri akibat ulah Nandhita, Nandhita sendiri nampak geram bukan main karena Hanif tidak mau mengerti apa yang ia rasakan ini.
“Semua karena mama, kenapa sih Hanif selalu mengikuti apa yang mamanya inginkan?”
Nandhita tidak dapat menyembunyikan kekesalannya pada Untari maka ia pun menelpon Jose untuk berkeluh kesah pada pria itu, untungnya Jose mau menjadi tempat berkeluh kesahnya dan ia dapat sedikit merasa tenang setelah mendengar suara Jose.
“Aku merindukanmu.”
“Aku juga merindukanmu.”
Mereka bertelepon cukup lama hingga akhirnya Nandhita ketiduran di atas kasur sementara itu diam-diam rupanya sejak tadi Hanif mencuri dengar apa yang Nandhita bicarakan dengan Jose lewat telepon, Hanif pun kemudian kembali ke kamar Arsen dan mengetikan sesuatu di ponselnya sebelum tidur di sebelah putranya. Keesokan paginya Nandhita tidak ikut sarapan dan Hanif sama sekali tidak mau mencari Nandhita dan mengajak istrinya itu untuk sarapan bersama.
“Di mana wanita itu? Kenapa tidak ikut sarapan dengan kita?” tanya Untari.
“Sudahlah Ma, kita tidak perlu menunggunya,” ujar Hanif.
Untari nampak menghembuskan napasnya kesal, ia bersumpah akan membuat perhitungan dengan Nandhita dan membuat wanita itu bercerai dengan Hanif.
__ADS_1
****
Selepas sarapan, Untari kemudian membereskan meja makan bersama dengan asisten rumah tangga dan barulah Nandhita turun dari lantai dua namun wanita itu sudah memakai pakaian yang sangat rapih sekali hingga membuat Untari curiga pada sang menantu.
“Mau ke mana kamu dengan pakaian seperti itu?”
“Aku mau menemui temanku.”
“Teman katamu? Apakah maksudmu adalah selingkuhanmu?”
“Aku tidak mengerti apa yang Mama bicarakan ini, aku sudah terlambat, aku pergi dulu.”
Nandhita kemudian pergi meninggalkan rumah walaupun Untari masih belum selesai bicara, Untari nampak tak percaya dengan kelakuan menantunya yang sangat kurang ajar padanya itu.
“Ya ampun, bagaimana bisa putraku terjebak dalam hubungan rumah tangga bersama dengan wanita kurang ajar seperti itu?”
Untari tidak mau berpangku tangan saja, ia langsung mengganti pakaiannya dan langsung pergi mengikuti ke mana Nandhita hendak pergi, untungnya saja ia sempat mengikuti perginya mobil sang menantu yang berjalan menuju sebuah tempat yang tidak lain adalah sebuah restoran.
Untari kemudian memfoto mereka dan mengirimkan foto tersebut pada Hanif supaya Hanif tahu apa yang dilakukan oleh Nandhita saat ini, tidak lama kemudian Hanif menelpon dan mengatakan akan mengurus semua itu.
****
Boy nampak tak mau menyerah begitu saja dengan datang lagi ke rumah Richi dan berusaha untuk mengambil Alysa dari tangan Ameena dan Richi, tentu saja kedatangan Boy kembali mendapatkan penolakan dari Richi bahkan Richi hendak menyerang Boy namun Boy sama sekali tidak gentar dengan hal tersebut.
“Kamu siap untuk masuk penjara, Richi?”
“Beraninya kamu menggunakan uang dan kekuasaan untuk menindasku.”
“Aku hanya memanfaatkan apa yang aku miliki, jadi tolong jangan buat ini semakin sulit, mamaku merindukan cucunya dan aku datang ke sini untuk menjemput anakku.”
__ADS_1
Richi nampak kesal dengan ucapan Boy barusan dan untungnya sebelum sebelum suatu hal yang buruk terjadi pada Boy, Ameena kembali melerai perbuatan Richi yang hendak mencelakai Boy.
“Kamu ini apa-apaan, Ameena? Kenapa kamu terus saja membela pria ini? Apakah kamu masih mencintainya? Aku ini suamimu!”
“Kamu jangan bicara yang bukan-bukan Richi, aku bukannya membela tuan Boy namun kalau kamu melakukan hal yang buruk pada tuan Boy maka kamu akan berurusan dengan polisi, aku tidak mau kamu dipenjara akibat perbuatanmu.”
“Aku tidak bisa tenang sebelum memberikan pelajaran pada pria kurang ajar ini, aku tidak akan membiarkannya lolos kali ini.”
Richi mendorong Ameena menjauh darinya hingga Ameena jatuh ke lantai dan Richi hendak memukul Boy namun teriakan Alysa membuat Richi berhenti.
****
Alysa nampak menangis melihat pertengkaran kedua orang tuanya di depan rumah, Ameena berusaha menangkan Alysa dengan membawanya masuk ke dalam rumah, momentum itulah yang digunakan oleh Boy agar ia dapat mendekati Alysa. Boy segera masuk ke dalam rumah saat Richi lengah dan tentu saja Richi kesal dan hendak menyeret Boy untuk keluar dari rumah ini namun ketika ia masuk ke dalam rumah nampak Boy tengah memeluk dan menenangkan Alysa dan perlahan Alysa menjadi tenang, ia tidak lagi menangis.
“Kamu mau ikut dengan Papa, Nak?”
Alysa menganggukan kepalanya dan kemudian setelah mendapatkan persetujuan dari Alysa maka Boy pun membawa Alysa untuk ikut bersamanya, Richi sempat menghalangi mereka dan membujuk Alysa untuk tidak ikut
dengan Boy namun Alysa tetap mau ikut dengan Boy.
“Dia sudah memilih dan tolong kamu hargai keputusannya,” ujar Boy.
Richi nampak geram dengan ucapan Boy barusan yang seolah sedang menyindirnya, andai saja tidak ada Alysa di sini maka Richi tidak akan segan untuk memukul Boy. Kini Boy dan Alysa sudah masuk ke dalam mobil pria itu dan Boy pun melajukan kendaraannya perlahan meninggalkan rumah Richi. Selepas kepergian Boy dan Alysa, kini Richi menatap tajam pada Ameena yang nampak masih begitu sedih akibat putrinya pergi bersama Boy.
****
Ameena nampak tak percaya ketika untuk pertama kalinya Richi melampiaskan kekesalannya padanya dengan bertindak kasar padanya, Richi seperti sudah gelap mata dan melampiaskan semuanya pada Ameena. Ia masih kecewa pada Ameena yang sudah melakukan hal yang tidak pantas dengan pria lain walaupun saat itu Ameena tidak menyadari itu karena dibuat tak sadar oleh Boy.
“Pokoknya awas saja kalau kita tidak dapat membawa Alysa kembali ke sini, aku akan membuatmu lebih menderita dari ini!”
__ADS_1
Ameena hanya dapat menangis diperlakukan tidak pantas oleh suaminya, selama ini Richi adalah orang yang sabar dan baik namun untuk pertama kalinya setelah 6 tahun pernikahan mereka, Richi memerlakukannya dengan buruk bahkan sampai bermain fisik.
“Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?”