Cinta Ameena

Cinta Ameena
Mama Tak Berubah


__ADS_3

Untari menghampiri Ameena yang tak menyadari kalau rupanya Untari tahu keberadaannya dan seketika setelah Untari memanggil namanya sontak saja Ameena terkejut dan tak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini.


“Kenapa kamu memanggilku, Nyonya?”


“Karena sekarang saya sudah bukan istri mas Hanif lagi.”


Untari nampak menghela napasnya panjang, ia mengusap wajah Ameena dengan lembut yang membuat Ameena jadi teringat dengan mendiang ibunya yang sudah meninggal dunia, maka di saat itulah Ameena jadi tak kuasa


menahan air matanya untuk tidak tumpah.


“Maafkan saya, Nyonya.”


“Kamu jangan meminta maaf padaku Ameena dan tolong kamu jangan memanggilku Nyonya, panggil saja aku tetap Mama seperti dulu.”


Aura keibuan yang dipancarkan oleh Untari rupanya berhasil membuat Ameena tak kuasa membendung air matanya dan langsung memeluk Untari karena ia merindukan sosok ibunya yang sudah tiada. Untari sendiri


nampak tak mempermasalahkan hal tersebut, ia membalas pelukan Ameena itu dan membiarkan Ameena untuk mengeluarkan semua hal yang dipendamnya selama ini.


“Keluarkan semuanya Ameena, tidak apa.”


Ameena pun mengeluarkan semua emosi yang selama ini ia pendam dan selepas ia melakukannya, ia merasa jauh lebih baik dan perlahan Ameena melerai pelukannya dengan Untari seraya ia kembali meminta maaf karena


sudah membuat baju yang Untari kenakan basah akibat terkena air matanya.


“Sudah aku katakan jangan meminta maaf Ameena, bagaimana perasaanmu sekarang?”


“Sudah jauh lebih baik.”


“Syukurlah kalau begitu, aku sangat senang mendengarnya.”


Rupanya diam-diam Luluk memerhatikan Untari dan Ameena dari jauh, ia merasa bahwa Untari begitu menyayangi Ameena dengan tulus dan cara memerlakukan wanita itu sangat baik selayaknya Ameena adalah anak


kandungnya sendiri.


“Rupanya kamu di sini,” ujar Luluk yang menginterupsi kebahagiaan mereka.


“Saya permisi dulu,” ujar Ameena yang buru-buru pergi dari sana untuk memberikan waktu kedua wanita itu saling bicara.


“Iya tadi kebetulan saja aku bertemu dengan Ameena, rasanya aku rindu sekali dengannya.”


“Bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu?”

__ADS_1


****


Luluk dan Nandhita mengantarkan Hanif serta Untari sampai ke depan rumah, selepas pembicaraan itu akhirnya Nandhita dan Hanif sudah menentukan kapan hari pernikahan mereka dan tentu saja Nandhita sudah


sangat tidak sabar sampai hari bahagia itu datang.


“Tante memikirkan apa?” tanya Nandhita saat menyadari kalau Luluk sejak tadi seperti tengah memikirkan sesuatu.


“Bukan apa-apa, mari masuk ke dalam,” jawab Luluk.


Nandhita nampak tak percaya dengan apa yang Luluk katakan barusan karena sejujurnya ia merasakan ada sesuatu hal yang tengah coba Luluk sembunyikan darinya akan tetapi ia memutuskan untuk tidak memaksa mencari tahu gerangan apa itu karena bisa saja itu berakibat fatal dan malah membuat hubungan mereka menjadi renggang. Nandhita segera pergi ke kamarnya sementara Luluk mencari di mana keberadaan Ameena di seluruh penjuru rumah hingga akhirnya ia menemukan Ameena yang tengah sendirian di halaman belakang rumah.


“Ameena.”


“Nyonya?”


“Kok kamu sendirian saja di sini? Aku pikir kamu ingin mengantarkan Hanif dan mamanya ke depan tadi bersama kami.”


“Tidak Nyonya, saya merasa bahwa hal itu tidak perlu terjadi.”


Luluk nampak tersenyum dan kemudian ia bertanya pada Ameena mengenai perilaku Untari selama Ameena tinggal di Norwegia dulu.


“Beliau orang yang baik, memperlakukan saya layaknya anak sendiri.”


“Iya Nyonya, saya bersumpah akan hal tersebut.”


****


Boy nampak tak sabar untuk membicarakan soal hari pernikahannya dengan Ameena dan ia pun mencari mamanya untuk bicara mengenai hal ini, akan tetapi ketika ia menemukan mamanya nampak sang mama tengah bicara dengan Ameena dan itu membuatnya menjadi penasaran, Boy pun kemudian dengan sengaja menguping pembicaraan mereka berdua.


“Jika Hanif memerlakukanmu dengan baik dan tidak mengajukan cerai maka apakah kamu tidak akan mau bercerai dengannya?”


“Tidak Nyonya, saya tidak akan menceraikan dia karena saya sudah berjanji pada mendiang kak Salsabila untuk menjadi istri yang baik untuk mas Hanif akan tetapi kenyataannya tidak seperti itu.”


“Kamu jangan bersedih Ameena, aku yakin bahwa Salsabila pasti akan paham kenapa kamu pada akhirnya memilih untuk menikah dengan Boy. Lagi pula menurutku Boy adalah pria yang baik untukmu dan dia sangat tulus dan


mencintaimu.”


“Saya tahu akan hal itu Nyonya.”


Ameena tidak sengaja menoleh ke arah di mana Boy berada dan hal tersebut membuat Boy terkejut karena tak menyangka bahwa Ameena akan menoleh ke arahnya dan menemukan keberadaannya di sana.

__ADS_1


“Kamu melihat siapa Ameena?”


Luluk pun ikut menoleh ke arah Ameena menoleh dan akhirnya Boy pun ketahuan sedang menguping pembicaraan mereka sejak beberapa saat yang lalu.


“Boy, apa yang kamu lakukan di sana?”


****


Hanif dan mamanya sudah sampai di rumah selepas tadi mereka menemui Nandhita dan Luluk untuk membicarakan soal pernikahan yang akan digelar tidak lama lagi. Hanif pun bertanya pada mamanya apakah tadi mamanya itu bicara dengan Ameena.


“Kenapa kamu menanyakan hal itu?”


“Tidak, sejujurnya aku hanya penasaran saja,” ujar Hanif.


“Benarkah? Apakah kamu ingin tahu apa yang kami bicarakan?”


“Sejujurnya iya, akan tetapi aku tidak akan memaksa ingin tahu kalau memang Mama tak berkenan.”


“Apakah kamu mencintai Ameena, Nak?”


“Ma, bukankah sebelumnya kita sudah pernah membahas mengenai hal ini?”


“Iya, Mama paham akan tetapi apakah sekarang rasa cinta itu juga tidak tumbuh di hatimu?”


“Ma, sampai kapan pun rasa cintaku hanya untuk Salsabila saja, bukan untuk wanita lain dan aku harap Mama paham akan hal ini.”


Selepas mengatakan itu Hanif langsung pergi meninggalkan sang mama menuju kamarnya, di dalam kamarnya itu nampak Hanif duduk di tepian kasur dan mengingat semua kenangan yang sudah ia dan Ameena buat dalam waktu yang singkat itu. Hanif nampak merasakan ada sesuatu hal yang berbeda saat mengingat kejadian demi kejadian yang pernah ia dan Ameena lalui namun ia menampik itu semua.


“Tidak, aku sama sekali tidak tertarik pada wanita itu, rasa cintaku hanya untuk Salsabila seorang.”


****


Boy mengajak Ameena untuk bicara selepas makan malam, Ameena tidak memiliki alasan untuk menolak apalagi Luluk mendukung supaya mereka bisa bicara empat mata. Kini Ameena dan Boy tengah berada di halaman


belakang rumah dan tidak ada pembicaraan di antara mereka dalam beberapa waktu terakhir hingga akhirnya Boy pun buka suara dan menyapa Ameena.


“Apakah kamu tidak tahu kenapa aku mengajakmu untuk bicara sebentar di sini?”


“Saya tidak tahu.”


“Kalau begitu, supaya kamu tahu maka aku akan mengatakannya padamu, alasan kenapa aku memintamu untuk bicara di sini adalah karena aku ingin membicaraka soal hari pernikahan kita, Ameena.”

__ADS_1


“Tuan ….”


__ADS_2