Cinta Ameena

Cinta Ameena
Berkenalan Dengan Orang Asing


__ADS_3

Nandhita turun dari mobilnya untuk mengecek kondisi orang yang tadi tidak sengaja ia tabrak, Nandhita sendiri berharap luka yang dialami oleh orang tersebut tidaklah parah dan membuatnya tidak perlu bertanggung jawab membawa ke rumah sakit, akan tetapi justru kini Nandhita dibuat terkejut ketika melihat sosok yang ditabraknya secara tak sengaja itu justru adalah orang yang pernah ia temui di mall waktu itu.


“Kamu?”


“Bukankah kita pernah bertemu sebelumnya?”


“Iya, bukankah waktu itu kita bertemu di mall?”


Nandhita terlalu bersemangat hingga melupakan apa yang baru saja ia lakukan pada pria ini, tersadar dengan apa yang barusan ia lakukan, Nandhita pun bertanya apakah orang ini baik-baik saja atau tidak dan orang ini mengatakan bahwa ia ia baik-baik saja.


“Kamu yakin?”


“Iya, aku baik-baik saja.”


Namun Nandhita seperti tidak ingin melepaskan kesempatan ini, ia kemudian menawarkan pria ini untuk dibawa ke klinik terdekat namun pria ini tetap menolaknya.


“Kamu yakin baik-baik saja?”


“Bukankah aku sudah mengatakan kalau aku baik-baik saja, terima kasih atas perhatiannya akan tetapi aku harus pergi sekarang.”


Nandhita tidak membiarkan pria itu pergi karena ini adalah sebuah kesempatan yang langka, ia tak mau menyia nyiakan kesempatan ini. Nandhita kemudian menawarkan sebuah tumpangan untuk pria ini untuk membuat mereka tidak berpisah sekarang.


“Ayolah, katakan saja kamu mau ke mana dan aku akan mengantarkanmu.”


“Tidak perlu, aku bisa sendiri.”


Namun Nandhita terus saja memaksa dan akhirnya pria ini pun luluh dan mau menerima tawaran darinya, tentu saja Nandhita bahagia bukan main akan tetapi ia berusaha menjaga ekspresinya supaya tidak terlihat begitu bahagia ketika pria ini akhirnya luluh juga dan bersedia untuk ia antar. Nandhita dan pria itu kemudian masuk ke dalam mobilnya, pria itu memberikan alamat pada Nandhita ke mana ia akan pergi dan Nandhita tanpa banyak bicara langsung menuju alamat yang diberikan oleh pria ini.


“Terima kasih sudah mau mengantarkanku,” ujar pria itu


saat mereka tiba di tujuan.


****


Nandhita melupakan misinya untuk datang ke rumah Luluk karena bertemu dengan pria yang menarik perhatiannya semenjak pertama kali mereka berjumpa secara tak sengaja di mall waktu itu. Nandhita tentu saja tidak ingin waktu seperti ini berlalu begitu saja, Nandhita berusaha menahan pria ini supaya jangan dulu turun dari dalam mobilnya.


“Tunggu dulu, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu.”


“Apa?”


“Siapa namamu?”


“Nama? Kenapa kamu ingin tahu namaku?”


“Tidak, hanya saja aku ingin berkenalan denganmu, aku suka berteman.”


Pria itu nampak memerhatikan wajah Nandhita dengan tatapan yang sulit untuk Nandhita artikan, tentu saja tatapan itu membuat Nandhita jadi salah tingkah namun kemudian pria itu mengatakan sesuatu hal yang membuatnya terkejut.

__ADS_1


“Sepertinya wajahmu tidak asing, sepertinya aku pernah melihat wajahmu di suatu tempat namun aku lupa di mana.”


“Benarkah? Mungkin saja kamu salah lihat, wajahku ini kan pasaran.”


“Tidak, sepertinya aku sungguh pernah melihat wajahmu akan tetapi aku lupa di mana, sepertinya kamu publik figur kan?”


Nandhita berusaha menyembunyikan identitasnya dari pria ini dengan terus saja mengelak, Nandhita pun akhirnya mendapatkan nama pria ini.


“Namaku Jose.”


“Nandhita, senang bertemu denganmu.”


“Iya, senang bertemu denganmu juga.”


****


Jose adalah pria yang ramah dan membuat Nandhita nyaman berlama-lama dengan pria itu, bagaimana cara ia memerlakukannya ketika menjamunya di rumah dan caranya dia bertutur kata dengan sopan dan lembut membuat Nandhita makin terpesona dibuatnya.


“Kenapa melihat wajahku begitu?”


“Apa? Oh tidak, hanya saja wajahmu seperti seorang model, apakah pekerjaanmu seorang model?’


“Benarkah? Kamu mengatakan bahwa wajahku ini seperti seorang model? Mustahil, aku bukan seorang model aku hanya mahasiswa tingkat akhir yang bekerja paruh waktu di kedai kopi yang ada di mall waktu itu.”


“Oh jadi kamu bekerja paruh waktu di mall tersebut dan kamu masih mahasiswa?”


“Oh tidak justru wajahmu menarik sekali dan tampan.”


“Kamu baru saja memujiku? Eh, tapi sepertinya aku tidak sopan bicara seperti ini pada orang yang lebih tua dariku.”


“Tidak, jangan begitu, aku suka bicara begini denganmu Jose.”


“Sepertinya kamu sudah lebih dewasa dariku, ya?”


“Kenapa memangnya?”


“Kamu juga pasti sudah menikah kan?”


“Bagaimana bisa kamu mengetahui hal itu?”


“Ada cincin pernikahan di jarimu.”


Reflek saja Nandhita menoleh ke arah jarinya dan benar saja di sana ada cincin yang terpasang, Nandhita pun kemudian mau tak mau mengatakan apa yang dikatakan oleh Jose itu memang benar.


“Kamu benar, aku memang sudah menikah.”


“Lantas kenapa kamu malah ada di sini?”

__ADS_1


****


Hanif tiba di rumah namun ia tidak menemukan di mana keberadaan istrinya, Untari mengatakan pada Hanif bahwa istrinya itu pergi ke rumah Luluk dan sampai saat ini dia belum juga kembali. Mendengar ucapan sang mama barusan membuat Hanif segera menelpon Luluk untuk mencari tahu apakah Nandhita masih ada di sana atau tidak.


“Ada apa Hanif?”


“Ma, apakah Nandhita ada di sana?”


“Nandhita? Dia tidak ada di sini.”


“Apakah barusan dia ke sana?”


“Tidak, seharian ini dia tidak datang ke sini.”


“Baiklah kalau begitu, terima kasih banyak.”


Selepas perbincangan singkat itu Hanif langsung menutup sambungan teleponnya, Hanif mengatakan pada sang mama bahwa Nandhita tadi tidak ke rumah Luluk yang artinya Nandhita telah berbohong.


“Ya ampun, Mama benar-benar tidak menyangka kalau dia berbohong.”


“Ke mana sebenarnya dia? Bagaimana bisa dia pergi begitu saja dan meninggalkan Arsen?!” geram Hanif.


Hanif kemudian mencoba menghubungi Nandhita namun sebelum ia melakukan itu, Nandhita sudah tiba di rumah dan sontak saja kedatangannya disambut tatapan tajam Hanif dan Untari.


“Kenapa kalian menatapku begitu?”


Hanif langsung menarik tangan Nandhita menuju kamar mereka, ia tak peduli dengan permintaan Nandhita yang memintanya untuk melepaskan cengkraman tangan ini karena ia merasa kesakitan.


“Lepaskan Hanif.”


****


Ameena memikirkan hubungannya dengan Richi yang tidak berjalan dengan baik belakangan ini lantaran Ameena begitu kecewa dengan sikap Richi yang menutupi bahwa ia dan Cassandra pernah saling mengenal sebelumnya


dan parahnya lagi Richi dan Cassandra bekerja sama untuk menghancurkan rumah tangganya dengan Hanif di masa lalu. Akan tetapi bukan hal itu yang membuat Ameena sedih melainkan Richi yang tak mau jujur padanya mengenai apa yang terjadi di masa lalu.


“Ameena, kenapa hanya diam saja?” tanya Boy yang membuat Ameena terkejut.


“Maaf Tuan.”


“Tidak masalah, aku dengar hubunganmu dengan Richi tidak baik belakangan ini.”


“Kami baik-baik saja.”


“Jangan bohong Ameena, Richi menghubungiku dan ia menyalahkanku karena sudah memberitahu semua itu padamu.”


“Benarkah? Apakah suamiku melakukannya?”

__ADS_1


“Iya Ameena, aku sudah menjelaskannya bahwa aku melakukan ini bukan karena aku benci kebahagiaan kalian melainkan aku ingin kamu tak selamanya ditipu olehnya.”


__ADS_2