Cinta Ameena

Cinta Ameena
Sosok yang Tidak Asing


__ADS_3

Luluk nampak masih tak percaya dengan tempat yang ditunjukan oleh suaminya ini, ia kembali bertanya pada suaminya apakah memang Boy tinggal di sini dan suaminya mengatakan bahwa Luluk harus mengetuk pintu rumah ini kalau memang ia tak percaya. Luluk pun melakukan seperti apa yang dikatakan oleh suaminya, ia menunggu beberapa saat sampai pintu rumah terbuka dana memang di sana nampak putranya, Boy sendiri nampak terkejut karena kedua orang tuanya ada di depan pintu rumah kontrakannya saat ia bangun tidur.


“Nak.”


Luluk langsung memeluk tubuh Boy dengan erat, sementara Boy masih agak terkejut dengan kedatangan kedua orang tuanya yang mendadak ini, Luluk kemudian melerai pelukannya dan mengusap wajah Boy dengan haru,


dirinya sama sekali tidak menyangka kalau Boy akan tinggal di tempat seperti ini.


“Kenapa kamu tinggal di tempat seperti ini, Nak?”


“Memangnya ada yang salah jika aku tinggal di sini? Lagi pula kenapa Papa dan Mama datang ke sini?”


“Memangnya kamu tidak suka kalau kami berdua datang ke sini?” tanya Pamungkas.


Namun Luluk mengingatkan suaminya untuk jangan memancing keributan karena mereka sedang bicara dengan putra mereka.


“Nak, kedatangan kami berdua ke sini adalah untuk memintamu kembali ke rumah.”


“Sudah aku duga kalau Papa dan Mama pasti datang ke sini untuk hal itu.”


“Papa sudah berusaha bicara pada mamamu namun dia berkeras bahwa ingin kembali ke rumah kalau kamu kembali juga.”


“Nak, tolonglah kamu kembali ke rumah, Mama sangat memohon padamu,” pinta Luluk.


Boy nampak menghela napasnya dan kemudian ia mengatakan pada Luluk bahwa ia tak dapat untuk kembali ke rumah dan ia memohon pada Luluk untuk memahami hal tersebut.


“Nak, tolong jangan seperti ini, Mama sudah tidak memiliki siapa pun lagi di rumah itu, tolong kamu kembali ya?”


“Mama kan masih memiliki Nandhita, dia akan membuat Mama tak kesepian.”


“Nak ….”


“Ma, aku menghargai kedatangan Mama ke sini namun tolong Mama juga menghargai keputusanku untuk tidak kembali ke rumah.”


****


Sekuat apa pun Luluk membujuk Boy untuk pulang ke rumah, ia tetap tidak dapat melakukan itu dan tentu saja hal itu membuatnya sedih. Pamungkas kini mengatakan pada Luluk bahwa saatnya istrinya itu untuk pulang namun Luluk menolaknya.


“Mau sampai kapan kamu bersikap seperti ini Luluk? Anak kita sudah besar dan dia sudah memilih jalan hidupnya sendiri.”


“Ini semua karenamu, karena kamu maka Boy pergi dari rumah dan tinggal di rumah yang menyedihkan itu.”

__ADS_1


Pamungkas nampak tak percaya dengan yang dikatakan oleh Luluk barusan, ia menghela napasnya berusaha untuk meredakan emosi yang sedang menguasai dirinya akibat ucapan sang istri yang menyudutkannya.


“Luluk, kita masih pasangan suami istri dan tidak seharusnya pasangan yang sudah menikah seperti ini tinggal berbeda rumah.”


“Bukankah kamu tidak pernah mencintaiku? Kenapa kamu tidak menceraikanku saja?”


“Apa maksudmu aku tidak pernah mencintaimu?”


Luluk nampak tertawa mendengar ucapan suaminya barusan, Luluk kemudian mengingatkan suaminya bahwa dulu ia pernah memergoki sang suami sedang bermesraan dengan asisten pribadinya saat ia mengandung Boy.


Pamungkas mengatakan bahwa itu hanya masa lalu dan Luluk tak perlu mengungkit hal tersebut lagi.


“Siapa ada yang menjamin bahwa kamu dan wanita itu tidak memiliki anak?”


“Luluk!”


“Sudahlah, aku tak mau berdebat denganmu.”


****


Untari tahu apa yang Ameena rasakan ini, ia menggenggam tangan Ameena dan mengatakan bahwa Ameena adalah orang yang sangat baik sekali karena mau berkorban untuk Salsabila dan ingin menepati janji yang


“Tapi Ma ….”


“Mama bisa paham kalau pada akhirnya kamu memilih untuk menyerah dan Mama sama sekali tidak akan menyalahkanmu jika memilih hal tersebut.”


“Tidak Ma, aku tidak akan menyerah, aku sudah berjanji pada mendiang kak Salsabila dan aku harus menepati janji yang sudah aku buat padanya sebelum ia mengembuskan napas terakhir.”


“Baiklah Ameena jika memang keinginanmu seperti itu maka Mama tak dapat memaksanya, semoga saja Hanif bisa berubah dan sikapnya bisa jadi lebih baik padamu. Lebih baiknya lagi semoga saja dia dapat menerimamu sebagai istrinya dan tak lagi menyakitimu seperti ini.”


“Terima kasih banyak doa baiknya, Ma.”


“Kalau memang kamu membutuhkan seseorang untuk bercerita, kamu bisa mengunjungi Mama atau menelpon Mama, kamu jangan sungkan atau ragu, ya?”


“Iya Ma, terima kasih banyak.”


“Baiklah kalau begitu, Mama pergi dulu karena masih ada urusan lain.”


****


Nandhita baru saja keluar untuk makan siang dari kantor, ia masih memikirkan sosok Hanif yang ia cintai namun sayangnya ia malah menikah dengan Ameena karena permintaan Salsabila. Nandhita sudah mencoba

__ADS_1


beberapa kali untuk menghubungi Hanif namun sayangnya pria itu sama sekali tidak mau menjawab telepon darinya hingga membuat Nandhita kesal.


“Kenapa sih Hanif ini tak mau menjawab telepon dariku?”


Nandhita menghela napasnya panjang, ia kemudian tiba di sebuah restoran yang menjadi langganannya kalau jam makan siang tiba. Suasana restoran itu tidak cukup ramai pada jam makan siang saat ini, ia duduk di


tempatnya biasa dan seorang pelayan datang ke mejanya untuk menanyakan apa yang akan ia pesan. Nandhita menyebutkan pesanannya pada pelayan itu dan sembari menanti pesanannya datang, Nandhita menatap keluar jendela restoran yang mana di luar sana ada seorang pria yang menarik perhatiannya, sepertinya ia pernah


bertemu dengan pria itu namun ia tidak ingat lebih tepatnya di mana mereka pernah bertemu.


“Pria itu nampak tidak asing,” lirih Nandhita.


Nandhita terus memerhatikan sosok pria itu dan rupanya pria itu masuk ke restoran ini dan Nandhita pun masih terus memerhatikan gerak-gerik pria itu yang tengah duduk di kursi yang tidak jauh darinya.


****


Richi merasa bahwa ada seseorang yang tengah memerhatikannya saat ini dan ia pun menoleh ke arah orang yang tengah memerhatikannya itu, ia melihat seorang wanita asing tengah menatapnya dan ketika wanita itu ditatap


balik olehnya nampak wanita itu mengalihkan pandangan. Richi nampak memerhatikan penampilan wanita itu yang sepertinya dari kelas menengah atas dan Richi mencoba untuk menghampiri wanita itu.


“Permisi.”


“Iya?”


“Anda tadi memerhatikan saya?”


“Iya, sejujurnya sepertinya saya pernah melihatmu sebelumnya.”


“Oh benarkah? Di mana?”


“Itu dia, saya tidak ingat namun sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya.”


“Kalau begitu, apakah saya boleh duduk di sini?”


“Silakan saja.”


“Terima kasih.”


Richi menarik kursi yang berhadapan dengan wanita yang tak lain adalah Nandhita dan tidak lama kemudian pesanan Nandhita tiba di meja.


“Tunggu sebentar, kamu… bukannya pria yang pernah bicara dengan Ameena kan?”

__ADS_1


__ADS_2