
Ameena nampak terdiam dengan apa yang Nandhita ucapkan karena memang benar adanya bahwa ia menyimpan perasaan cinta pada Hanif namun sayangnya perasaan cinta itu tidak terbalas dan pada akhirnya justru ia harus
menanggung rasa sakit akibat cinta tersebut. Ameena kemudian memutuskan pergi meninggalkan Nandhita yang puas sudah membuat Ameena merasa lemas seperti tadi dan tak lama kemudian Luluk muncul untuk bertanya apa yang sudah Nandhita lakukan pada Ameena.
“Aku hanya memberi pelajaran pada wanita itu supaya dia tidak berharap lebih pada Hanif, Tante.”
“Oh benarkah? Baguslah kalau begitu.”
“Iya dan sejujurnya aku merasa puas sekali karena dapat melihat raut wajah sedihnya barusan.”
“Tapi sejujurnya Tante masih penasaran dengan perasaanmu pada Hanif yang sesungguhnya.”
Ucapan Luluk barusan tentu saja membuat Nandhita terkejut apalagi sepertinya Luluk memintanya untuk mengatakan yang sejujurnya padanya mengenai apakah Nandhita menyukai Hanif.
“Kamu jangan berkelit lagi Nandhita, Tante tahu bahwa ada sesuatu hal yang tidak kamu katakan sejujurnya pada Tante.”
Nandhita nampak terdiam untuk sejenak untuk menenangkan diri akibat pertanyaan yang barusan dilontarkan oleh Luluk hingga akhirnya ia pun memilih untuk mengatakan yang sejujurnya pada Luluk bahwa ia menyukai
Hanif.
“Apa yang Tante katakan memang benar, sejujurnya aku memang menyukai Hanif.”
“Apa katamu?”
“Aku minta maaf jika hal ini membuat Tante menjadi tidak nyaman, akan tetapi aku tidak dapat menahannya lagi, aku memang menyukainya.”
“Dan apakah kamu menyukai Hanif sejak Hanif masih menikah dengan Salsabila?”
“Iya Tante, aku memang menyukai Hanif sejak dia masih menikah dengan mendiang Salsabila.”
Luluk menutup mulutnya tak percaya dengan kejujuran yang dikatakan oleh Nandhita ini, akan tetapi Nandhita mengatakan bahwa selama Hanif menjadi suami dari Salsabila, dirinya tidak pernah sekalipun berniat
untuk merebut Hanif dari Salsabila.
“Tolong Tante percayalah padaku, Tante dapat melihat sendiri bagaimana ketika Salsabila masih ada kan? Aku tidak berniat untuk merebut apa yang sudah dimiliki oleh orang lain.”
“Iya Nandhita, Tante dapat melihatnya, kok.”
“Syukurlah kalau begitu.”
****
Ameena menjadi murung selepas percakapan singkatnya dengan Nandhita tadi dan rupanya Boy menyadari bahwa ada sesuatu hal yang tidak beres dengan Ameena, ia mendatangi Ameena dan menanyakan apa yang terjadi pada
Ameena saat ini.
__ADS_1
“Saya baik-baik saja.”
“Ameena, kamu jangan mencoba menipuku, aku tahu bahwa ada sesuatu hal yang coba kamu tutupi dariku.”
Ameena nampak menghela napasnya namun ia tak mau memberitahu apa yang sedang menimpanya ini karena ketika ia memikirkan hal tersebut maka bisa saja Boy menjadi sedih.
“Ameena, kenapa kamu tidak mau mengatakan yang sejujurnya padaku?”
“Saya baik-baik saja Tuan Boy, sungguh.”
Namun Boy tentu saja tak memercayai apa yang Ameena katakan karena ia dapat merasakan kalau saat ini Ameena dalam kondisi yang sangat tidak baik-baik saja.
“Tolong kamu katakan yang sejujurnya padaku Ameena, apa yang sebenarnya terjadi padamu karena aku dapat merasakan bahwa kamu sedang tidak baik-baik saja saat ini.”
Ameena menggelengkan kepalanya dan mengatakan bahwa Boy terlalu berlebihan, ia malah mencoba untuk menghindari pertanyaan Boy tersebut yang makin membuat Boy lebih penasaran lagi.
“Aku yakin sekali bahwa Ameena pasti memikirkan sesuatu, hanya saja sepertinya dia tak mau berkata terus terang.”
Boy pun kemudian mengikuti ke mana perginya Ameena yang mana rupanya ia pergi ke meja makan yang mana di sana sudah ada Nandhita dan Luluk.
****
Selepas acara makan berlangsung, Boy mengajak Luluk untuk bicara sebentar di ruangan perpustakaan dan tentu saja Luluk penasaran dengan apa yang hendak Boy katakan padanya saat ini.
“Ma, sepertinya aku merasakan ada sesuatu hal yang tidak beres dengan Ameena.”
“Tidak beres? Apa maksudmu dengan mengatakan bahwa ada yang tidak beres dengan Ameena, Nak?”
“Sepertinya Ameena tengah menyembunyikan sesuatu dariku, Ma. Ketika aku menanyakan apakah ada sesuatu hal yang terjadi padanya dia memilih untuk menghindar.”
“Oh begitu rupanya.”
“Apakah Mama tak mengetahui sesuatu mengenai hal tersebut?”
“Tidak, Mama sama sekali tidak mengetahuinya.”
“Kalau begitu bisakah Mama yang bertanya pada Ameena? Soalnya sepertinya dia seperti tidak nyaman untuk bicara denganku.”
“Oh tentu saja, nanti Mama akan mencoba untuk bicara dengannya, kamu jangan khawatir, ya?”
“Terima kasih banyak, Ma.”
Luluk hanya tersenyum sebelum akhirnya Boy pergi meninggalkan ruang perpustakaan itu dan selepas Boy pergi nampak Luluk menghela napasnya kesal, ia tentu saja tidak suka Boy terlalu peduli dengan Ameena namun
demi misinya ini maka ia harus berpura-pura baik di depan Ameena.
__ADS_1
“Ameena, tunggu saja pembalasanku.”
****
Ameena nampak terkejut ketika Luluk mendatanginya dan mengajaknya untuk bicara sebentar, Ameena tidak dapat menolak ajakan Luluk tersebut dan ia bertanya apa yang sebenarnya ingin Luluk sampaikan padanya dan
Luluk pun mengatakan hal tersebut.
“Tadi aku dan Boy sempat berbicara dan katanya ada sesuatu hal yang terjadi padamu.”
“Ah soal itu, bukan apa-apa, Nyonya.”
“Kamu jangan berbohong padaku, aku tahu bahwa ada sesuatu hal yang kamu tutupi sekarang.”
“Tidak Nyonya, saya baik-baik saja.”
Namun Luluk menggenggam Ameena dan tindakan Luluk tersebut membuat Ameena terkejut, ia tak menyangka bahwa Luluk akan menggenggam tangannya selembut ini dan membuatnya memiliki berbagai perasaan yang tak
karuan di dalam dirinya.
“Kita sama-sama wanita dan aku dapat merasakannya, Ameena.”
Maka Ameena pun tidak dapat menahan dirinya lagi, ia menceritakan semuanya pada Luluk mengenai Ameena yang mencintai Hanif namun sayangnya Hanif tidak dapat membalas cintanya karena ia hanya mencintai
Salsabila seorang, selain itu juga Ameena merasa bersalah pada mendiang Salsabila karena tidak dapat memenuhi janjinya sebelum ia meninggal dunia.
“Sudahlah Ameena, kamu sudah melakukan yang terbaik.”
“Iya Nyonya, tapi saya meminta maaf karena saya tidak dapat memenuhi keinginan terakhir kak Salsabila.”
“Kalau Salsabila masih ada, rasanya dia sama sekali tidak akan marah padamu dan dia pasti dapat memahami apa yang kamu rasakan ini.”
****
Ketika Ameena hendak masuk ke dalam kamarnya nampak Nandhita menghampirinya dan menghadangnya sebelum pintu masuk.
“Maaf, tapi aku ingin masuk ke dalam.”
Nandhita nampak geram dan mendorong Ameena hingga terjatuh ke lantai, Nandhita menunjuk Ameena bahwa Ameena adalah wanita tidak tahu diri karena menjelek-jelekannya di depan Luluk. Ameena mengatakan bahwa ia
tidak menjelek-jelekan Nandhita di depan Luluk seperti apa yang wanita tadi tuduhkan namun Nandhita sama sekali tidak memercayai apa yang Ameena katakan hingga Boy datang untuk menyelamatkan Ameena dari amukan Nandhita.
“Apa yang kamu lakukan pada Ameena?”
“Aku hanya memberi sedikit wanita ini pelajaran supaya jangan memfitnah diriku di depan tante Luluk.”
__ADS_1