
Cassandra nampak tak mau menyerah begitu saja selepas mendapatkan penolakan dari Boy, ia terus saja mengikuti ke mana pun Boy pergi hingga membuat pria itu merasa jengah dengan yang Cassandra lakukan ini. Boy
meminta Cassandra untuk berhenti mengikutinya namun wanita itu tetap tak mau melakukan seperti apa yang Boy inginkan karena Cassandra mengatakan bahwa ia ingin menghabiskan waktu dengan pria ini.
“Lakukan apa yang kamu inginkan namun aku tetap tidak akan melakukan apa yang kamu katakan barusan.”
“Kamu pikir aku akan menyerah begitu saja? Kamu salah Boy, aku akan mendapatkan apa pun yang aku inginkan!”
Boy sama sekali tidak memedulikan apa yang wanita itu katakan, Boy memilih untuk segera masuk ke dalam mobilnya dan membuat Cassandra menghela napasnya kesal namun seperti yang wanita itu katakan barusan bahwa ia tidak akan menyerah begitu saja, ia akan mendapatkan apa pun yang ia inginkan.
“Aku tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkanmu Boy, tidak akan pernah.”
Cassandra pergi ke rumah di mana Boy tinggal namun seperti yang sudah-sudah ia ditahan oleh satpam dan tidak diizinkan untuk masuk ke dalam walaupun Cassandra sudah memohon namun tetap saja ia tidak dapat masuk ke dalam.
“Silakan anda pergi saja dari sini.”
Cassandra benar-benar kesal dengan semua ini karena lagi-lagi ia sudah gagal dalam mendapatkan apa yang ia inginkan, Cassandra tiba di rumah dan rupanya ada sang papa yang telah menantinya sejak tadi.
“Cassandra, ada sesuatu yang ingin Papa bicarakan denganmu.”
Cassandra nampak heran dengan apa yang barusan papanya katakan karena kalau dari raut wajahnya saat ini sepertinya ada sesuatu hal yang sangat serius sekali ingin papanya katakan padanya saat ini.
“Apa yang sebenarnya hendak Papa katakan padaku?”
“Papa ingin kamu berhenti mengejar-ngejar Boy, Nak.”
“Apa maksud Papa mengatakan itu? Bukankah Papa merestui hubunganku dengan Boy?”
“Iya, akan tetapi Papa tidak mau kalau kamu memaksakan kehendakmu.”
****
Ameena tetap menjaga jarak dengan Boy walaupun hubungan mereka sudah jauh lebih baik namun Boy tetap tak mau begitu saja menjaga jarak dengan Ameena karena bagi Boy ini adalah sebuah kesempatan untuknya dapat menikah dengan Ameena.
“Ameena, aku ingin membicarakan sesuatu denganmu.”
“Apa yang hendak Tuan bicarakan dengan saya?”
__ADS_1
“Aku sudah memikirkan ini sejak lama dan aku pikir ini adalah saatnya aku mengatakannya.”
“Apa itu?”
“Aku ingin menikahimu Ameena.”
Ameena terkejut dengan apa yang Boy katakan padanya barusan, ini bukan pertama kalinya setelah 6 tahun lalu Boy mengatakan hal yang sama padanya dan bahkan mereka juga sudah dalam tahap mendekati pernikahan namun sayangnya pernikahan 6 tahun yang lalu tidak pernah terjadi karena sebuah kesalah pahaman yang terjadi di antara mereka dan kini setelah 6 tahun berlalu Boy kembali mengutarakan perasaannya pada Ameena.
“Kenapa kamu diam saja Ameena?”
“Tidak apa Tuan, akan tetapi rasanya hal itu tidak mungkin dapat terjadi sampai kapan pun.”
“Mengapa demikian Ameena?”
“Karena saya ingin hidup sendiri membesarkan Alysa.”
Boy tentu saja tidak dapat menerima begitu saja apa yang Ameena katakan barusan karena baginya ia tidak boleh membiarkan Ameena bekerja seorang diri untuk menghidupi dirinya dan Alysa.
“Tidak Ameena, walau bagaimanapun Alysa adalah anakku dan aku sebagai ayahnya harus bertanggung jawab memberikan nafkah padanya.”
****
Walaupun Ameena sudah menolak ajakan Boy untuk mau menikah dengannya namun rupanya Boy tetap saja keras kepala dan mengikuti ke mana pun Ameena pergi serta ia membujuk supaya Ameena mau menikah dengannya. Keputusan Ameena masih belum dapat diubah yaitu ia tetap tidak mau menikah dengan Boy walaupun sudah diiming-imingi berbagai hal yang menyilaukan mata.
“Maaf Tuan namun saya sama sekali tidak tertarik dengan semua itu.”
Boy sendiri nampak takjub karena Ameena sendiri tidak silau oleh harta dan memilih untuk menjadi seorang ibu tunggal untuk anaknya namun tentu saja Boy tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
“Tapi aku ingin membiayai kalian berdua, kalian adalah tanggunganku.”
Ameena mengatakan bahwa jika Boy ingin membiayai Alysa untuk sekolah dan kehidupan sehari-hari ia tidak mempermasalahkan hal itu namun untuk menikahinya maka Ameena menolaknya.
“Tolong Tuan memahami apa yang menjadi keputusan saya.”
“Apakah kamu kecewa denganku setelah kejadian 6 tahun yang lalu?”
“Itu semua sama sekali tidak ada hubungannya dengan semua ini, Tuan.”
__ADS_1
Namun Boy sama sekali tidak dapat memercayai hal itu begitu saja, ia meminta Ameena untuk mengakui saja kalau Ameena masih kecewa karena sikapnya 6 tahun yang lalu namun Ameena tetap tak mau mengakuinya.
****
Hanif membawa Arsen untuk menemui Nandhita di rumahnya yang ada di kota sebelah setelah ia menanyakan pada anak itu untuk menghabiskan waktu libur sekolah dengan Nandhita. Arsen setuju untuk liburan di tempat
Nandhita dan tentu saja Nandhita bahagia sekali dengan keputusan yang Arsen buat tersebut.
“Ini rumahnya sayang,” ujar Hanif ketika memarkirkan mobilnya di depan rumah Nandhita.
Arsen nampak memerhatikan sekeliling sebelum turun dari dalam mobil bersama dengan papanya, Hanif menggandeng tangan Arsen untuk masuk ke dalam rumah tersebut dan mengetuk pintunya sebelum akhirnya pintu
terbuka dan menampakan Nandhita di sana.
“Masuklah ke dalam.”
Hanif dan Arsen masuk ke dalam rumah tersebut yang mana di sana Nandhita sudah menyiapkan semua yang Arsen perlukan selama berlibur di rumah ini. Hanif sendiri berpesan pada Arsen kalau ada apa-apa bisa segera menghubunginya dan anak itu menganggukan kepalanya.
“Aku harus segera kembali ke kota.”
“Kok buru-buru sekali? Perjalanan kan jauh dari kotamu ke sini.”
“Aku masih ada pekerjaan, tolong jaga Arsen baik-baik, jangan sampai sesuatu hal yang buruk terjadi padanya atau aku akan memberikan perhitungan padamu.”
Selepas mengatakan itu Hanif pun pamit pada Arsen dan Nandhita, mereka berdua mengantarkan Hanif sampai ke depan pintu, Arsen nampak melambaikan tangan pada papanya yang sudah masuk ke dalam mobil.
****
Luluk yang mendengarkan ucapan Boy yang mengatakan ingin menikahi Ameena tentu saja kesal setengah mati, ia harus mencari cara supaya Boy tidak menikah dengan Ameena walaupun Ameena adalah ibu dari cucunya namun
sampai kapan pun Luluk tidak boleh membiarkan Ameena menikah dengan anaknya.
“Tidak, ini tidak boleh terjadi, aku tidak boleh membiarkannya,” gumam Luluk.
Ketika Luluk tengah memikirkan bagaimana cara yang harus ia tempuh untuk membuat Ameena tidak menjadi menantunya, ponsel yang ada di dalam genggaman tangannya berdering, Luluk melihat siapa orang yang menelponnya saat ini dan ia pun kemudian menjawab telepon ini.
“Siapa ini?”
__ADS_1