
Cassandra tentu saja tidak akan membiarkan Boy pergi begitu saja padahal ia sudah lelah datang ke sini namun dengan mudahnya pria itu malah menyuruhnya untuk pergi saja.
“Kamu tidak dapat melakukan ini padaku, Boy.”
“Memangnya kenapa aku tidak dapat melakukannya? Aku sudah mengatakannya dengan jelas padamu sebelumnya kan?”
“Tapi Boy… mau sampai kapan kamu begini? Ameena tidak mencintaimu, buktinya dia menikah dengan pria lain dan parahnya kamu memergoki dirinya tengah melakukan hal yang buruk bersama pria itu di kamar hotel jelang hari pernikahan kalian.”
“Tutup mulutmu, Cassandra dan jangan ikut campur dalam masalah pribadiku.”
“Aku hanya tidak ingin kamu terlarut dalam cinta masa lalumu itu Boy, kamu harus sadar bahwa sampai kapan pun Ameena tidak akan pernah mencintaimu!”
“Dan kalau memang Ameena tidak akan pernah mencintaiku maka aku pun tidak akan pernah mencintaimu, jadi sekuat apa pun usahamu untuk membuatku tertarik padamu, maka itu percuma saja.”
Cassandra ingin mendebat Boy namun pria itu sudah keburu masuk ke dalam rumah, Luluk yang kebetulan melintas melihat Cassandra dan menyapanya.
“Cassandra, kamu tidak bilang kalau mau ke sini, sayang.”
“Iya Tante, aku sendiri datang ke sini karena ingin bertemu dengan Boy akan tetapi sikap Boy seperti itu padaku.”
Luluk pun mengatakan pada Cassandra bahwa memang Boy belum dapat move on dari Ameena, tentu saja Cassandra membujuk Luluk untuk mendekatkan mereka kembali akan tetapi Luluk tidak dapat melakukan hal itu.
“Kenapa Tante tidak dapat menolongku? Apakah Tante masih mengharapkan Ameena untuk menjadi menantu Tante?”
“Setelah apa yang sudah dia lakukan pada anakku maka aku akan menerimanya sebagai menantuku? Kamu pasti bercanda Cassandra, tentu saja aku tidak akan menerimanya sebagai menantuku.”
“Lalu kenapa Tante tidak mau membantuku untuk dekat kembali dengan Boy? Aku yakin dapat menyembuhkan luka di hatinya yang dibuat oleh Ameena.”
“Tante mengatakan itu karena semua keputusan ada di tangan Boy, Tante tidak berhak mendikte apa yang Boy lakukan karena dia sudah dewasa.”
****
Cassandra begitu kecewa dengan apa yang Luluk katakan akan tetapi tidak ada hal yang dapat ia lakukan sekarang kecuali pulang ke rumah dengan perasaan kecewa luar biasa, selepas Cassandra pulang barulah Boy
menemui mamanya untuk berterima kasih karena sudah mengusir wanita itu dari rumah ini.
“Mama sama sekali tidak mengusirnya, dia pergi sendiri.”
“Iya tapi setidaknya Mama bisa membuatnya pulang.”
“Mama melakukan ini bukan karena Mama tak menyukai Cassandra akan tetapi Mama melakukan ini karena rencana kita.”
__ADS_1
“Aku tahu Ma, akan tetapi Ameena sulit sekali untuk aku dekati apalagi dia sepertinya memang sejak awal tidak memiliki perasaan padaku.”
“Gunakan akalmu Boy, kamu dapat melakukan apa pun supaya Ameena berpaling padamu, apakah kamu pikir Ameena mencintai Richi?”
“Kalau memang dia tidak mencintai Richi, kenapa dia sampai melakukan itu, Ma? Lagi pula Richi adalah kekasih masa lalunya.”
“Itu kamu tahu kalau Richi adalah kisah masa lalunya dan sekarang semua sudah berubah walaupun mereka telah menikah, Ameena saat ini perasaannya masih bimbang dan ini adalah saatnya kamu menghancurkan dia, Nak.”
Boy menganggukan kepalanya, ia bersumpah akan menghancurkan Ameena dan Richi untuk membayar rasa sakit hatinya akibat apa yang telah mereka berdua lakukan padanya di masa lalu sementara Luluk begitu bahagia karena rencananya menggunakan Boy sebagai alat menghancurkan Ameena dapat berjalan mulus.
****
Boy makin intens mendekati Ameena dan tentu saja Ameena menjadi tidak nyaman dibuatnya akan tetapi Boy sama sekali tidak peduli akan hal tersebut, ia terus saja mendekati Ameena dan mengatakan bahwa ia masih
mencintai Ameena seraya meminta wanita itu untuk bercerai saja dengan Richi.
“Saya tidak mungkin bercerai dengan Richi, Tuan.”
“Kenapa demikian?”
“Karena kami berdua baru saja menikah, lagi pula dia orang yang baik.”
“Tidak, bukan seperti itu Tuan.”
“Ameena, apakah selama ini kamu hanya membodohiku saja? Apakah sikap polosmu selama ini hanya kepalsuan belaka yang kamu tunjukan supaya aku tertarik padamu?”
“Tidak Tuan, tolong anda jangan berpikiran buruk seperti itu karena semuanya tidak benar.”
“Maka dari itu, tolong kamu pertimbangkan apa yang aku katakan barusan, kalau kamu menikah denganku maka kamu tak perlu kesulitan soal ekonomi dan lagi kamu juga tak perlu bekerja di dapur seperti ini.”
Aksi Boy yang menggoda Ameena ini rupanya diketahui oleh Richi dan pria itu menghampiri Boy untuk memberikan peringatan pada Boy jangan mendekati istrinya.
“Kamu sendiri kenapa masih berkeliaran di rumah ini dan bukannya bekerja?” tanya Boy sinis.
****
Luluk memanggil Richi pergi menemuinya di belakang rumah, Richi tentu saja mengikuti apa yang Luluk perintahkan barusan hingga akhirnya kini pria itu berada di belakang rumah mengikuti apa yang Luluk perintahkan
barusan.
“Apa yang Nyonya hendak katakan pada saya?”
__ADS_1
“Aku ingin mengatakan bahwa kamu dapat kembali ke tempat kerjamu yang lama.”
“Apa?”
“Aku tak perlu mengulangnya lagi kan?”
“Apakah Nyonya serius?” tanya Richi yang nampak girang.
“Iya, tentu saja, ini aku berikan kuncinya,” ujar Luluk memberikan kunci studio foto yang selama ini Richi sewa untuk
pekerjaannya.
“Terima kasih banyak, Nyonya,” jawab Richi yang kemudian menerima kunci tersebut tanpa rasa curiga sedikit pun sementara itu Luluk masih tersenyum penuh arti saat ini.
“Tunggu apa lagi? Apakah kamu tidak mau melihat bagaimana tempat kerjamu?”
“Iya Nyonya, saya akan pergi ke sana.”
Setelah itu Richi kemudian pergi meninggalkan rumah ini untuk menuju studio foto yang selama ini menjadi tempat kerjanya, saat Richi pergi itulah ia memberikan kode pada Boy untuk melakukan aksinya. Boy pun menganggukan kepalanya dan kemudian diam-diam menghampiri Ameena yang tengah membersihkan meja, Boy membekap Ameena dari belakang yang membuat Ameena tak sadarkan diri.
“Bagus sekali, ini adalah kesempatanmu, jangan sampai kamu menyia-nyiakannya,” ujar Luluk.
“Tentu saja Ma, tenang saja aku akan melakukannya,” seringai Boy.
****
Ameena terbangun dari pingsannya di atas ranjang tempat tidurnya, ia masih mengenakan pakaiannya dan tidak terjadi apa pun padanya padahal ia ingat sebelumnya ada seseorang yang membekap mulutnya dari
belakang dan kemudian membuatnya tak sadarkan diri.
“Ya Allah, apakah tadi aku hanya mimpi saja?” lirih Ameena.
Buru-buru Ameena beringsut turun dari atas kasur menuju pintu dan ketika pintu ia buka nampak Luluk yang telah menatapnya tajam.
“Bagus sekali, rupanya kamu ada di sini dan bukannya melakukan pekerjaanmu di dapur,” geram Luluk.
“Maaf Nyonya, saya akan kembali ke dapur.”
Buru-buru Ameena berjalan menuju dapur sebelum Luluk semakin marah padanya namun Luluk nampak menyeringai puas karena rencananya berhasil.
“Ameena, bagaimana rasanya kamu akan membesarkan anak yang ayahnya bukanlah suamimu?”
__ADS_1